Pelajaran hari ini : terlalu mengejar sempurna malah tidak dapat apa-apa.

Origami Around
Three Goblin Art

❣ Chile in a Photography ❣
d e v o n

No title available
🪼

JVL

Product Placement

@theartofmadeline
Stranger Things
h
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

Love Begins
No title available
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

ellievsbear
Alisa U Zemlji Chuda
noise dept.
I'd rather be in outer space 🛸

#extradirty
seen from Malaysia

seen from Germany
seen from Netherlands
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from China
seen from Italy

seen from Brazil

seen from Japan
seen from United States

seen from Singapore

seen from Germany
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Türkiye
seen from United States

seen from Germany
seen from Malaysia
seen from Maldives
@aiko-sipit
Pelajaran hari ini : terlalu mengejar sempurna malah tidak dapat apa-apa.
Waktu terasa begitu cepat berlalunya. Hidup terasa begitu dinamis. Banyak kebiasaan berubah, terutama pada dua hal yang melatarbelakangi aku menulis ini.
40 hari lalu kedua orang tua sahabat ku menghadap sang pencipta hanya jeda 1 minggu. Kini tak kudapati lagi story receh yang menghibur dari kakaknya yang juga temanku. Akhir pekan ini aku menghabiskan waktu di rumah seperti biasa, namun tak terdengar lagi suara kurir paket di rumah sebelah. Biasanya hampir tiap hari dan dalam sehari bisa lebih dari dua kali. Tetanggaku sudah pindah, karena hendak melahirkan dan menetap bersama orang tuanya.
Terasa ada yang beda, cepat, dan di luar kendali.
Sekarang jalanan mulai macet kembali, resto penuh dengan buka bersama, pusat perbelanjaan ramai, dan tiket mudik mahal (*curcol).
Sekarang rasanya mesti berjuang lagi menghadapi perubahan dunia yang sudah mulai nyaman dengan wfh dan online. Siap-siap bertemu banyak orang lagi, bersalaman, dan nongkrong.
Terima kasih, 2021.
Tahun 2021 memang tidak seperti jalan hidup tahun sebelumnya yang seperti menaiki roller coaster. Tahun 2021 ini seperti naik sepeda, terus mengayuh agar tak terjatuh. Melewati jalanan beraspal, gang sempit, kadang juga jalan kerikil berbatuan. Semua terlewati dengan baik meski kadang hujan di sela terik.
Terima kasih tahun 2021 atas 365 harinya.
Pada akhirnya waktu memampukanku untuk bicara kehilangan dengan biasa saja. Segala kenangan manis aku anggap sebagai gula bagi secangkir kopi kehidupan yang tak tentu pahitnya.
Waktu memang tak sepenuhnya menyembuhkan, tapi waktu memberi jeda untuk menemukan kembali diri kita dengan pelan-pelan.
Bumi, 31 Desember 2021
Minggu pagi sepedaan ke kampus, ketemu satpam di pos jaga.
(S = Satpam, A = aku)
S = pagi mba.. lama gak ketemu
A = iya Pak, masih PPKM.. hehe (sambil nuntun sepeda karna ada portal)
S = mba, kamu udah married belum? (Kenceng banget suaranya)
A = belum Pak, kenapa? (naik sepeda lagi)
S = married lah mba.. ngapain lagi..
A = ya nanti, sepedaan dulu, hehe (sambil gowes)
S = hahaha.. bisa aja.
Betul katanya di dunia ini ada banyak hal yang harus di-gapapa-in. ;)
Kampus, 21 Agustus 2021
Minggu pagi yang dingin, pulang gowes gerimis dong..
Tangan
Semakin dewasa akan semakin paham bahwa saat terjatuh tidak semua orang mengulurkan tangan, beberapa angkat tangan, dan lainnya mungkin justru tepuk tangan.
07 Juli 2021
Peranku
Kadang, aku masih senang mendapati namamu muncul di tab notif whatsapp. Dan hal yang tak kau tau, aku harus mengulur waktu untuk membalas agar aku tak kelihatan terlalu kegirangan dengan pesanmu itu.
Pesan-pesan itu biasa saja, terkesan no effort, aku ngerti, aku terima, aku gak peduli. Aku cuma ingin kau tetap terhubung denganku.
Aku ini menyedihkan, ya? Aku gak punya banyak teman untuk diajak ngobrol, lebih tepatnya aku memangkas mereka agar aku gak perlu repot-repot terlibat dalam frekuensi obrolan yang gak menyenangkan. Aku maunya kau.
Tapi... berharap adalah hal yang sia-sia. Seringkali tiap menerima pesanmu, aku diserang kegelisahan yang menyakitkan. Sudah pasti, aku bukan satu-satunya. Dan mungkin, di saat aku chatting denganmu, kau memang menanti pesan orang lain, atau sedang asyik bertukar pesan tanpa jeda dengan pujaanmu.
Sementara, aku hanya jadi pahlawan kesiangan yang kaubutuhkan saat gak ada yang mempedulikanmu, saat orang yang kautunggu-tunggu tak kunjung membalas pesanmu lalu kau merasa kesepian, dan kau baru tergerak mencariku, memperlakukanku seolah-olah kaulah yang paling membutuhkanku.
Padahal, tidak.
Kau hanya benci sendiri. Dan peranku hanya itu. Penghancur sepimu. Lalu ketika orang yang kautunggu-tunggu datang, kau pergi, membiarkanku bersama sepi-sepi ini, berulang kali.
Pemain di Belakang Layar
Beberapa orang memilih untuk menjadi pemain di belakang layar. Termasuk saya. Karena merasa lebih nyaman dan pas aja gitu.
Pemain di belakang layar akan merasa senang dengan kesuksesan pekerjaannya meskipun tidak diapresiasi secara langsung. Seperti melakukan suatu pekerjaan dengan sungguh-sungguh tanpa perlu diketahui oleh orang lain.
Namun, ada resiko sebagai pemain di belakang layar. Kadang apa yang dikerjakan tidak terlihat oleh audien bahkan oleh atasan. Jadilah muncul kemungkinan dianggap tidak proaktif di dalam suatu pekerjaan.
Nah, perlu untuk menyesuaikan dengan siapa kita bekerja. Karena tidak semua orang sadar bahwa ada pemain di belakang layar.
2021
Aamiin atas segala pinta dalam doa, atas segala semoga yang mengiringi harapan, atas segala ikhtiar dan disegerakan.
2 of 365
Katakan, butuh berapa lama kau bisa berhenti memikirkanku? Atau masihkah kau mengingatku ketika sepi menyerangmu tiba-tiba?
Seringkah kau kembali ke titik-titik yang dulu kita lewati? Atau kau malah memilih menghindari tempat itu agar kau tak tersedu?
Tapi... Apakah kau baik-baik saja, sekarang?
Mungkin, kau saat ini sedang mencintai orang lain dan dia pun mencintaimu. Namun, pernahkah kau tersentil kenangan lalu gusar karena tak bisa mengabaikannya? Katakan, kau pun tersiksa. Katakan, kau pun merasakan betapa letihnya selalu dibayangi oleh kenangan.
Sebab, aku tak ingin merasakan ini sendirian.
Aku masih ingat, malam saat kota mulai terlelap, kita berbagi pandang dengan langit berbintang itu. Jari jemari kita beradu dengan canggung untuk pertama kalinya, dan kita memutuskan untuk berjumpa lagi minggu depan. Aku ingat semuanya, bahkan detail kecilnya, terasa seperti baru hari kemarin terjadi. Sampai aku lupa, kini hanya aku yang ingat kenangan-kenangan itu. Kamu tidak lagi.
Ya, aku marah.
Ya, aku tak baik-baik saja.
Aku belum mau memaafkanmu, nanti saja. Biar. Mungkin lebih baik begitu daripada berpura-pura tegar. Tak lagi aku ambil peduli terhadap kehidupanmu, itu urusanmu. Dan urusanku adalah berdamai dengan diri sendiri.
Namun, kamu tau apa bagian tersedih dari segalanya? Bukan, bukan saat kau memilih dia dan pergi meninggalkanku.
Tapi, waktu kau setengah mati membuatku percaya bahwa kau tak berniat menyakitiku ketika justru aksimu menunjukkan itu semua, saat kau membiarkanku melihatmu mencintai orang baru, seolah-olah aku sanggup tak terluka, dan ketika kau tetap berusaha menjaring perhatianku di saat kau tau aku masih belum bisa tanpamu.
Itu, itu semua yang paling menyakitkanku.
dunia dan semesta
Dunia sedang ingin bercanda sementara semesta memberi banyak pelajaran.
Apa yang kamu lakukan gak salah. Aku aja yang gak (mau) ngerti meski semesta mengajarkan berkali-kali.
Dan bercandanya dunia sering kali kelewatan.
😢
Balam, 11 11 2019
Lebih Bijak
Dalam sebuah hubungan tidak mungkin berjalan mulus. Pastinya ada hambatan di tengah jalan. Semakin ke sini, permasalahan semakin sering muncul. Mungkin yang dulu hanya pasir, kini yang muncul kerikil bahkan batu.
Semakin bertambah usia, terasa sekali ada perbedaan cara dalam menghadapi setiap problematika. Kalau dulu lebih banyak fokus ke masalah dan dampak perasaan. Sekarang lebih fokus ke solusi dan ketenangan pikiran.
Hal lain yang tak kalah penting yaitu sejauh mana kita sama-sama mau belajar. Kemauan untuk saling memahami dan meredam emosi dan ego diri. Rasanya menjadi lebih bijak dan lebih mudah bahagia.
Conference room, April 28, 2019
Merindu
Rindu ini bukan karena lama tak bertemu.
Baru kemaren pagi ku tatap matamu.
Rindu ini bukan perkara jarak yang jauh.
Kita masih di kota yang sama meski tak sepelemparan batu.
Aku merindu karena hari ini kau temui seorang dari masa lalu.
Aku ingin bercerita kepadamu, tentang sesuatu yang mungkin tak ingin kau dengar.. Tentang kata hati yang memilih menutup semua pintu.. Tentang persahabatan yang terkoyak karena ketidakjujuran.. Tentang emosi yang tak pernah tersampaikan.. Tentang praduga yang memutarbalikkan keadaan.. Tentang aku, tentang kamu..
Mari kita perjelas, hari ini…
Aku mengetahui apa2 yang kau sembunyikan dariku. Sejak kapan? Sejak awal. Sejak kau berkata dia lugu. Pradugaku klise. Katamu. Kau berubah. Katamu.
Tapi, biarlah. Waktu berlalu dengan cepat.
Ada banyak surat untukmu, disini. Semua milikmu. Untukmu. Bebas kau membacanya. Kapan saja. Aku menulisnya setiap aku memiliki kenangan bersamamu. Aku bahagia kala itu. Sungguh..
Ah, syukurlah kau sekarang tidak jatuh cinta pada penulis sepertiku. Yang selalu menulis betapa sendunya dikhianati.
Mari kita selesaikan hari ini ya… Kelak, di kemudian hari, kita akan bertemu disela2 aktivitas, seperti biasa. Aku akan menyapamu. Menelponmu. Mungkin juga akan sesekali mengirim beberapa pesan di akhir minggu. Aku tidak akan berubah. Percayalah.
Namun, untuk perasaan yang pernah ada, kenangan yang pernah terlewati, mari kita akhiri sampai di hari ini ya.. Aku tidak menangis. Berusaha tidak menyeka apapun yang jatuh dr mataku. Mulai hari ini, aku menepi.. Dr hiruk pikuk hidupmu. Dr hiruk pikuk duniamu. Dr hiruk pikuk aktivitasmu. Dr apapun itu.
Kita kembali lagi, menjadi teman. Menjadi partner.
Tidak ada luka. Tidak ada kecewa. Tidak ada amarah. Di mataku.
Yang kau lihat hanya satu. Tidak ada percaya di mataku lagi.
Terima kasih tuan, aku beruntung pernah memilikimu..
Selamat berbahagia, dari aku, secangkirkopikita.
Padamu, memberikan kembali kepercayaan berarti memberikan kesempatan dikhianati lagi kemudian.
Ya, aku yang salah karena memberikanmu kesempatan kedua.
Balam, 27012019
Berubah
Apa saja yang di dunia akan berubah. Tak ada yang kekal. Begitupun hati manusia. Berubah lebih baik atau malah sebaliknya. Berubah itu bisa dikatakan semacam hukum alam. Tak bisa dipungkiri, hanya perlu dipahami. Banyak hal yang membuat seseorang berubah. Bisa dari dirinya sendiri maupun lingkungan. Seperti kamu yang berubah, pun aku juga berubah Kita semua berubah. Memilih arah perubahan itu kewajiban. Berubah ke arah positif kah atau arah negatif. Kadang aku harus berubah menjadi aku yang penuh semangat sebelum aku mengerjakan tugas. Namun terkadang aku berubah menjadi begitu manja. Kadang lagi aku mandiri dan kokoh. Berubah iya seperti halnya aku, kamu pun berubah.
Kita tahu kita tidak sedang baik-baik saja. Tapi kita sama-sama memilih diam dengan persepsi masing-masing.
Entah apa yang sebenarnya tengah terjadi. Tak ada kabar darimu. Bukannya aku gengsi untuk bertanya lebih dulu. Lebih dari itu, aku takut akan kemungkinan jawabanmu.