Betapa hebat kuasa Allah dan rencana-Nya sebab memberikan satu awal yang besar untuk dilihat dan diperhatikan. Awal wahyu yang turun, memberi isyarat akan sebuah kejayaan bersyarat. Isyarat untuk sebuah kemulian dengan melihat. Wahyu awal yang turun melalui Jibril kepada penutup para Nabi, membaca.
Sudah sering didengar pembahasan itu serta tafsirannya, walau belum juga diri menerima, mengolah dan mengamalkannya. Karena seringnya ayat ini dibahas, ia sering terlewatkan tanpa satu diskusi di dalam diri apa sebab itu diturunkan, maksud tujuan Allah mengatakannya.
Tengah malam itu, di kota London segerombolan masyarakat sudah mengantri panjang. Mereka tidak mengantri karena adanya diskon baju atau rumah makan yang baru saja launching. Mereka sedang mengantri di toko-toko buku untuk mendapatkan cetakan pertama buku Harry Potter yang hari itu akan mengeluarkan terbitan pertamanya di Inggris.
Umat Islam tidak membaca. Itu faktanya. Wahyu yang Allah turunkan hanya dibaca tanpa pengamalan. Lihat lah kemudian di kampus-kampus dan perguruan tinggi Islam. Kaum terpelajarnya akan kita dapatkan lebih asyik dengan dunia handphonenya. Perpustakaan tidak didatangi kecuali ada tugas mengharuskan untuk itu. Tugas-tugas yang bisa dikerjakan tanpa melihat buku, dikerjakan dengan mengandalkan mesin pencarian hebat bernama google.
Perpustakaan yang seharusnya menjadi pusat kelimuan kaum terpelajar, terkadang tidak lebih menarik daripada mall-mall yang menawarkan banyak diskon dan harga-harga yang miring. Di sini lain, perpustakaan-perpustakaan kampus tidak mempuyai acara atau kegiatan yang bisa meningkatan minat baca mahasiswa.
Umat ini, umat membaca, tapi kita tidak membaca. Setelahnya, kita mengelu-ngelukan kemajuan dan peradaban yang hebat. Bukan kah itu bak mengingkan sebuah mangga yang telah matang di atas pohon namun tidak mau mengambil galah atau tangga untuk dipanjat dan mengambilnya.
Tak lah usah kita terkejut jika seorang mahasiswa Islam, selasai mendapat gelar sarjana Islam namun tidak pernah membaca buku Sirah Nabawiyah karya Syekh Mubarakfuri. Atau buku Laa Tahzan karya Syekh Aidh al Qarni. Yang menjadi pertanyaan lagi adalah saat mahasiswa Islam, mengambil jurusan Tafsir Hadist tidak pernah membaca Shahih Bukhari atau Tafsir Al Azhar karya Buya Hamka yang masyhur itu.
Adakah yang lebih menyedihkan dari kaum terpelajar yang tidak membaca?
Adakah yang lebih mengherankan dari generasi umat Islam yang lebih rela merogoh koceknya membeli kue artis yang lebih mahal dari dua buku karya Buya Hamka?
Enggan dan malas untuk memiliki buku jadi faktor penghambat pertama hilangnya semangat membaca di tengah-tengah kaum terpelajar hari ini. Dengan alasan harga yang tidak terjangkau, kaum terpelajar menolak untuk membeli buku. Namun disaat yang sama, ia rela membuang uangnya untuk menonton film terbaru yang keluar di bioskop. Jika di hitung, harga sebuah buku sama dengan harga satu tiket nonton di bioskop.
Sampai disini, dapatlah kita menangkap gambaran hasil dari pendidikan kita. Dapat pula kita simpulkan tingkat intelektual kaum terpelajar Islam saat ini.
Adakah pendidikan bermimpi untuk menghasilkan kaum terpelajar yang akan membangun bangsa dan agama, jika waktunya lebih banyak dihabiskan berselancar di media sosial daripada membaca buku atau membaca web-web yang dapat menunjang keimuannya?
Kesadaran untuk membaca seharusnya terus dihidupkan di dalam kampus-kampus Islam. Acara-acara yang bisa menggerakkan minta itu juga harus terus diadakan dengan perencanaan yang tertata dan terus menerus. Hari ini, umat mengeluh akan kemundurannya. Namun ia tidak juga bergerak untuk membaca.
Adakah anda melihat atau merasakan adanya fenomena lemah berpikir di tengah generasi pelajar Islam hari ini? Tidak lain, sebabnya adalah mereka (tidak) membaca.