Sang Ibu dan Sang Ayah sedang duduk-duduk di teras rumah menikmati hari Minggu pagi yang menenangkan. Tiba-tiba lewatlah Si Pemberi Berita Keliling yang seringkali lewat depan rumah di waktu yang tidak tentu.
“Lusa akan ada meeting sama vendor! Lusa akan ada meeting sama vendor!” Teriaknya sambil berjalan menyusuri perumahan.
Tidak lama setelah itu, pintu rumah mendadak terbuka. Keluarlah Si Cemas sambil berlari-lari di pekarangan rumah.
“Aaaaaaah meeting sama vendor! Gimana ini, gimana ini!”
Sang Ibu dan Sang Ayah tersenyum dan tertawa geli melihat tingkah anaknya ini.
“Ahaha gemes banget Si Cemas ini.” Sahut Sang Ibu.
Si Cemas kemudian berlari ke arah Sang Ibu dan Sang Ayah yang sedang menonton Si Cemas berlarian. “Ibu, Ayah! Kok ngga ikut lari sama aku! Aku lagi panik gini kok Ibu sama Ayah ngga ikut temenin aku!”
Sang Ibu dengan senyumnya yang hangat membelai rambut Si Cemas. “Iya, Nak. Ibu sama Ayah ngga ikut kamu berlarian karena Ibu sama Ayah ngga mendukung perasaan cemas. Tapi kalau kamu mau merasakan perasaan itu dan berlarian kayak sekarang, boleh kok. Ibu dan Ayah bolehin kamu, dan kita akan tetep duduk di sini ngeliatin kamu. Ngga apa-apa, Nak, kalau kamu mau lari-lari. Kita bolehin, tapi Ibu sama Ayah ngga ikut ya. Kita temenin kamu dan ngeliatin kamu dari sini aja. Oke?”
Mendengar penjelasan Sang Ibu yang begitu tenang dan hangat, Si Cemas turut merasakan perasaan tenang sesaat. Sampai-sampai dia pun duduk di antara Sang Ibu dan Sang Ayah sambil berpikir.
“Kenapa Ibu sama Ayah ngga dukung perasaan cemas, Bu?” Tanya Si Cemas penasaran.
“Nak, Ibu ngerti kalau kamu lagi cemasin apa yang Om Pembawa Berita tadi kasih tau. Itu kan tentang masa depan ya, meetingnya masih di hari lusa. Yaa, Ibu juga cemas sih. Karena itu kan di masa depan, jadi kita belum tau apa yang akan terjadi.” Jelas Sang Ibu.
“Bener, kan, Bu!” Si Cemas semangat dan merasa Sang Ibu berada di pihaknya.
Sang Ibu terkekeh. “Iya, Nak. Yang kamu rasain itu memang betul. Tapi Ibu sama Ayah juga tau kalau kita terus mikirin itu, ngga akan ada selesainya. Jadinya Ibu sama Ayah memilih untuk ngelakuin yang bisa kita lakuin. Untuk meeting itu, nanti kita pikirin agendanya sebelum meeting, kita siapin meetingnya pas pagi sebelum meeting dimulai. Tapi ngga sekarang, sekarang kan masih hari Minggu. Nanti aja pas kita udah masuk kerja. Ya kan, Yah?”
“Iya bener, Bu. Kalau mikirinnya dari sekarang, hmmm, kayaknya ngga deh. Kita mau menikmati libur dulu aja. Nanti pas udah masuk kerja, baru deh kita atur lagi prioritasnya. Kan di pagi hari itu kita bisa pilih, prioritas apa aja yang mau kita kerjakan di hari itu.” Jawab Sang Ayah.
Sang Ibu pun tertawa karena teringat sesuatu. “Walaupun itu juga kita masih belajar ya, Yah, untuk nentuin prioritas dan target setiap harinya.”
“Hahaha iya bener, Bu. Tapi ngga apa-apa, kita kan tahu itu yang betul mau kita lakuin. Kita masih sambil belajar juga, Nak.” Kata Sang Ayah sambil membelai kepala putranya.
Mendengar penjelasan Sang Ibu dan Sang Ayah yang mulai menyebut-nyebut meeting, Si Cemas kembali mulai merasakan perasaan cemasnya. Sekujur tubuhnya perlahan menegang dan tidak tenang kembali.
“Tapi, Bu, tapi, Bu. Jadi takut banget nih!”
Sang Ibu dan Sang Ayah terkekeh pelan.
“Iya, ngga apa-apa, Nak. Kamu mau lanjut lari-lari lagi?” Tanya Sang Ibu lembut.
Dengan muka cemas dan takutnya, Si Cemas mengangguk pada Sang Ibu.
“Gih, sana.” Sahut Sang Ibu sambil menggosok-gosok punggung anaknya dengan lembut.
Si Cemas kembali berlarian di pekarangan rumah.
“Aaaaaaaaaaah, gimana iniiii”
Si Cemas mulai kembali teriak-teriak di pekarangan rumah, menumpahkan isi hatinya.