娘への手紙 (6) : Not All SuperHeroes Wear Capes | Wael al Dahdouh 👨🏼🚀
Pontianak. 21:12. 17122023
Musume e no tegami (surat untuk anak perempuanku) ini adalah rangkaian cerita yang saya tulis sebenarnya untuk diri sendiri, tapi kok ya dirasa-rasa lebih lepas ya ceritanya kalau seolah ada pendengarnya, semacam self talk ke sisi kecil diri.
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Alhamdulillahilladzi bini'matihi tattimush shalihaat.
Sini deh Nak, Umma ada cerita pahlawan yang kereeeeeen sekali.
Bagi Umma, inilah representasi muslim yang dibanggakan Rasulullah SAW di hadapan para sahabat. Representasi muslim yang diminta oleh Nabi Musa untuk menjadi ummatnya namun diberi kemewahan oleh Allah AzzawaJalla untuk jadi ummatnya Rasulullah SAW.
Namanya Pakde Wael al Dahdouh. Kenapa pake Pakde nih Umma, padahal kan beliau bukan orang Jawa? Inilah Nak, bagian yang ingin Umma kenang lekat, ia bukan orang Jawa, bukan orang Indonesia, tapi begitu lekat rasanya seperti keluarga. Bolehlah kita mengaku dekat, karena kalau dekat, tentu tak akan lupa kita doakan. Bukankah apa yang kita sayang, kita minta Allah jaga? Sesungguhnya tidak kita minta pun sudah Allah jaga, tapi kan ndak ada doa baik yang sia-sia, Nak.
Beberapa hari lalu, tengah malam ada yang sampai mengadukan hal ini ke Umma, ketika Pakde ditembak zionis dengan sengaja.
Karena Umma mau cerita sama kamu, Umma jadi googling biografi singkat tentang Pakde Wael. MashaAllaah Nak, ternyata memang benar ya pelaut tangguh itu berasal dari gelombang besar, makanya kepada Allah AzzawaJalla kita bersandar. Percaya deh sama Umma. 🧏🏻♀️
Bayangkan Nak, umur 18 tahun Pakde ini dipenjara zionis hingga 7 tahun. Umma baru tahu pagi ini. Umma jadi diingatkan lagi ya Nak, hal yang seriiiiing sekali dilupakan: "Kemerdekaan untuk belajar." Kita sungguh diajarkan, untuk membalas perlakuan yang dirasa buruk, adalah jangan ketularan jadi buruk juga. Perlakuan-perlakuan tidak menyenangkan dari manusia yang Allah takdirkan kita terima, semoga jadi motivasi untuk membentuk versi terbaik diri kita. Umma ndak bisa bayangkan Nak, kehidupan penjara seperti apa yang dilalui Pakde Wael ini. Tapi sungguhlah, resiliensi dan kehangatan hatinya ini Nak... mesti kita tiru-tiru. Atas kebesaran Allah, Umma bisa nonton beberapa video tentang Pakde Wael, dan video-video favorit Umma adalah interaksinya bersama anak-anak korban genosida. Karena interaksi dengan anak-anak itu ndak bisa bohong-bohong Nak, fitrahnya kalian itu kan bisa merasakan siapa saja yang hangat hatinya.
Umma ndak tau, berapa tahun Allah akan perkenankan Umma mendampingimu, sesungguhnya Umma pun tak tau apakah kita akan bertemu 🥹? Tapi kan Umma harus khusnudzon sama Allah ar Rohmaan. Tugasnya Umma sekarang yaaa belajar banyak-banyak, memungut-mungut hikmah sebagai bekal. Umma ndak tau apakah Umma bisa melihat momen tertawamu, berjalanmu, apakah Umma bisa mengantar di hari pertama sekolahmu, apakah Umma bisa menghadiri wisudamu, apakah Umma bisa menyaksikan pernikahanmu. Waaaaaahhh, Umma tersipu-sipu lagi. Ayo Umma harus fokus Umma, belajar sama Pakde Wael yang sudah berjihad sehari setelah keluarganya meninggal. Umma harus belajar sama Pakde yang sudah berjihad sehari setelah sahabat perjuangannya syuhada meninggal.
Sebenarnya, Umma tuh pernah ingin jadi penyiar radio juga, yaaaa walau takdirnya Umma adalah...
...jadi MC acara pensiunan kantor tadi pagi 🧏🏻♀️🧏🏻♀️🧏🏻♀️ Umma memang bukan jurnalis, tapi ternyata Allah berikan Umma bersentuhan dengan banyak dimensi hidup manusia. Mirip-mirip kan Nak?
Tenang aja Nak, begitu penyayangnya Allah ar Rahmaan tuh, Umma diperkenankan banyaaaaak belajar nulis gratis dari Bang Fauzan Mukrim, wartawan senior di CNN Indonesia. Umma sukaaa sekali gaya menulisnya. Ini Umma pungut dari akun instagramnya. Tentang Masjid favoritnya Umma di Jogja. Masjid dalam kampung biasa aja Nak kalau kata Ketua Pengurusnya. Makanya beliau berpesan, Jogokariyan itu dibangun di mana saja. Senyum-senyum hangaaaatttt hati Umma berharap Aba punya impian menghidupkan masjid yang sejalan dengan Umma.
Urusan pertemanan, di sinilah juga berkah rejekinya Umma. Lebih dari 10 tahun, alhamdulillaah Umma berteman dengan Om Shanta Curanggana, senior di CNBC Indonesia. Om Shanta sekampung dengan leluhurnya kita. Pernah kuliah di Jogja juga. Dari Om Shanta, Umma tau Bang eh Om Fauzan Mukrim.
Nah karena mereka Om-Om jurnalis, Umma hanya memandang dari jauh. Tapi ada ni 1 yang Umma pepet terus, pernah Umma ceritakan di sini... Tante Azel namanya, semoga Allah merahmatinya. Nanti deh kapan-kapan kisah lengkapnya. Kan ini tadinya mau cerita tentang Pakde Wael.
Pada akhirnya, apapun cita-cita kamu nanti, jadilah apapun dengan tetap menjadi representasi Islam. Karena apapun status kita di dunia, sebagai anak, saudara, istri, ibu, status kita yang paling utama dan pertama kan... hambaNya Allah AzzawaJalla, makhluk milik Ar Rohmaan. Seperti ilustrator gambar-gambar yang Umma pakai nih, ikhtiarnya menjadi Pembebas al Quds adalah dengan memberikan link unduh gratis ilustrasinya. MashaAllaah.
Mesti semangat ya... jatuh, bangun, marah, sedih... kita seperti Pakde Wael ya. Berikhtiar berjuang di jalan yang baik dan benar pada setiap tarikan napas, tentuuu ndak mudah. Semoga Allah bantu, Allah pasti bantu.
Episode sebelumnya: Musume e no Togami (5)
Bisa dibaca juga kisah sayangnya Pakde Wael dengan keluarga pada web al Jazeera ini.