Biarkan terjadi apa yang di luar kendalimu. Mari tenangkan apa yang ada dalam kendalimu; kesal, amarah, ego, persepsi, pertimbangan dan caramu menjawab apa-apa yang sedang terjadi padamu. Menjadi hebat butuh proses yang hebat juga.
@terusberanjak
occasionally subtle
Stranger Things
noise dept.

tannertan36
Cosimo Galluzzi
styofa doing anything
Misplaced Lens Cap
d e v o n

JBB: An Artblog!
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

祝日 / Permanent Vacation
Monterey Bay Aquarium
dirt enthusiast
todays bird
trying on a metaphor

Kaledo Art
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

No title available
will byers stan first human second

JVL
seen from United States
seen from Thailand
seen from United States
seen from Panama

seen from Malaysia

seen from Singapore
seen from Norway
seen from Iraq
seen from Iraq
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Australia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Chile
seen from United States
seen from United States
@alfinurasyifa
Biarkan terjadi apa yang di luar kendalimu. Mari tenangkan apa yang ada dalam kendalimu; kesal, amarah, ego, persepsi, pertimbangan dan caramu menjawab apa-apa yang sedang terjadi padamu. Menjadi hebat butuh proses yang hebat juga.
@terusberanjak
Tidak semuanya bisa disembuhkan oleh waktu, beberapa luka baru bisa sembuh saat kita memaksakan diri untuk menikmati setiap sakitnya. Para ahli hikmah mengatakan bahwa luka itu memberi pelajaran dan memaafkan itu memberikan kedewasaan.
Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja.
@jndmmsyhd
Tetaplah Hidup
Pengorbananmu begitu besar, bahkan terlalu besar. Lebih dari yang pernah kubayangkan hingga nalarku tak mampu memahami kenapa itu bisa terjadi, dan terjadinya kepadamu. Orang yang paling ku kenal sepanjang waktu.
Kamu sudah sekeras itu pada dirimu sendiri. Sampai-sampai, aku tak lagi merasakan kelembutanmu yang dulu. Kerasnya kepalamu, kerasnya hatimu, dan kerasnya tatap matamu yang tak seceria dulu. Kamu menatap sinis kehidupan ini yang seolah tak berpihak, tapi aku sangka bukan hidup yang tak berpihak, tapi kamu pun tak berpihak pada hati dan jiwamu sendiri.
Tak berani membuat keputusan untukmu sendiri.
Tak berani untuk melawan kerasnya hidup.
Tak berani untuk keluar dari masalah yang jelas-jelas kamu hadapi.
Tak berani mengambil keputusan, padahal jalan keluar di depan mata.
Tak berani mengatakan yang sebenarnya.
Tak berani untuk menjadi dirimu sendiri, yang kukenal
Tetaplah hidup, jangan kamu bunuh jiwamu sendiri. Hingga ragamu harus menjalani kehidupan hari demi hari tanpa arti. Tatap mata yang kosong. Hati yang kering dan sepi. Tetaplah hidup. Kamu begitu berarti, hanya orang-orang yang menyayangimu yang benar-benar menghargai mimpimu, tujuanmu, dan dirimu.
Mereka takkan membunuh semua itu.
Tetaplah hidup. Untuk dirimu, ©kurniawangunadi
Tetap Menginspirasi tanpa Mengumbar Privasi.
Kembali ke beberapa tahun lalu, ketika scrolling explore menemukan unggahan seseorang yang menggerakkan jempol untuk mengkliknya sebab saking indahnya pemandangan yang tertangkap dari hasil jepretannya.
Begitu tahu username atas nama siapa, “Oh, ternyata beliau.” Lanjut scrolling dan heran, “Ada nih yang begini.”
“Kenapa tidak pernah selfie di instagram?” “Saya lebih senang posting yang saya lihat.”
Orang-orang yang mengenalnya dari dulu pasti tahu bahwa beliau sangat menjunjung tinggi privasi dan menjaga itu tetapi banyak orang tidak mengerti atau menyetujuinya dan justru mempertanyakan, “Mengapa?”
“Dari diri sendiri, kita bisa menjaga apa saja yang kita ingin sampaikan secara publik karena dampaknya bisa menjadi bola liar yang ke mana-mana.”
Beliau ingin dikenal melalui karya-karyanya. Baginya yang penting untuk dibagikan kepada publik adalah karyanya. Dan memutuskan untuk tidak membagikan kehidupan pribadinya.
“Bukan ditanggapi tetapi perlu disiasati bagaimana caranya supaya tidak menjadi korban stalking. Berdasarkan pengalaman dan beberapa kejadian yang memang mengajarkan saya untuk bagaimana supaya menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, yang tidak saya inginkan.”
“Ketika bersosial media, saya selalu mengunggah foto atau feed biasanya tidak ketika saya berada di tempat itu, latepost dan bisa acak-acakan supaya tidak terdeteksi saya sama siapa? Di mana? Jam berapa? Karena ini sebuah informasi dan informasi ini bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin bukan untuk tujuan baik, salah satu caranya.”
“Kedua, saya harus merelakan. Ketika orang mengajak foto bersama, saya harus menolak karena biasanya itu berkaitan dengan identitas tempat dan waktu, misalnya saya mau naik pesawat, saya tidak mau.”
Beliau rela dianggap sombong.
“Saya harus merelakan karena orang akan berpikir seperti itu. Yaudah saya ikhlas saja kalau memang orang mau berpikir seperti itu tetapi sebetulnya saya melindungi diri saya sendiri dari hal-hal yang bisa terjadi dan memang sudah pernah terjadi.”
“Sering dijudesin orang karena tidak mau foto bareng atau dianggap sombong. Menurut saya itu untuk kebaikan, saya melindungi diri saya sendiri dengan cara seperti itu.”
Maa syaa Allah, sebuah kesadaran yang patut diteladani sebab kini begitu mudah mendapatkan informasi mengenai seseorang hanya dengan stalking media sosialnya (Kapan nikah, kapan anak ulang tahun, dsb), pun sudah banyak pula kasus tentang foto yang disalahgunakan.
Setiap keputusan menimbulkan pro-kontra itu pasti, seperti yang dikatakan Masgun, “Sepanjang kita tahu ada tujuan yang kita kejar dan itu sangat berharga buat kita, tahu jalan yang kita tempuh, kenal sama konsekuensi. Jalani aja, kenapa enggak.”
Begitulah Orang Dewasa
Bagaimana caranya?
Bagaimana kalau? adalah dua pertanyaan yang paling sering kutemui setiap kali berada dalam sebuah ruang seminar, dua pertanyaan yang salah satunya ingin menemukan jalan pintas dan yang satunya ingin mengeyangkan asumsi. Dua hal yang seringkali membuat orang dewasa gelisah tak karuan.
Keinginannya untuk bisa mencapai hasil seperti orang lain dengan jalan yang lebih mudah.
Ketakutan-ketakutannya yang hidup dalam pikirannya hingga seolah-olah semuanya adalah kenyataan yang telah terjadi. Padahal, selanmgkah kaki aja belum diambil.
Tak ada lagi jiwa anak kecilnya yang dulu begitu berani, tanpa berpikir terlalu banyak tentang risiko, yang berani menjadi apapun yang ada dalam pikirannya, yang tidak peduli bagaimanapun caranya - bahkan tidak tahu caranya sama sekali, tetap saja dijalani.
Orang dewasa yang sering berkejaran dengan waktu hingga lupa menikmatinya, dan lupa kalau waktu itu tidak bisa dikejar, dia terus sejajar, tidak pernah lebih lambat maupun lebih cepat. Dia sejajar dengan langkah kakinya sendiri.
Orang dewasa yang tenggelam dalam asumsi, takut ini dan itu, membuat keputusan-keputusan yang tak berdasar, tidak membangun komunikasi, berharap dimengerti, dan berharap akan ada jalan pintas yang mengantarkannya pada tujuan tanpa risiko. Memang, rumit sekali jalan pikirannya. Pantas saja, rumit sekali hidupnya. ©kurniawangunadi
Membingungkannya Orang Dewasa
Ada sebuah hal yang kalau sampai ada dalam diri kita, mudah-mudahan itu bisa ilang. Salah satunya adalah memiliki pikiran “paling benar”, itu justru adalah hal yang bisa berakibat fatal.
Kehilangan relasi, kehilangan teman, kehilangan kepercayaan, dan banyak sekali yang akan hilang. Apalagi jika pikiran paling benar itu muncul dari asumsi, bukan data. Datang dari pikiran sendiri, bukan dari hasil diskusi. Disimpulkan sendiri, tidak dikonfirmasi.
Hal-hal yang selama ini menjadi hambatan terbesar dalam sebuah relasi adalah pikiran tersebut. Rasanya semua kesalahan itu ada di orang lain, bukan salah kita, bahkan kita tidak merasa memiliki kontribusi pada kesalahan yang terjadi. Lupa untuk mengevaluasi diri sendiri. Apalagi dalam pernikahan, ini adalah pikiran yang bisa menghancurkan pernikahan tersebut.
Itulah kenapa seringkali kita menemukan nasihat; lemesin ego, belajar minta maaf meski gak salah, mengalah, dan banyak hal lainnya sebelum kita menikah.
Karena, meski benar, belum tentu lawan bicara kita tahu bahwa dia salah. Menyalahkan orang lain yang tidak tahu salahnya apa dan tidak juga menjelaskan dengan baik di mana salahnya di momen yang tidak tepat itu sama juga kita berkontribusi salah. Memang, seni dalam berkomunikasi itu sesuatu yang perlu untuk kita pelajari seumur hidup.
Selebihnya, kelapangan hati untuk menerima salah dan khilafnya orang lain. Apalagi jika itu sesuatu yang bisa diperbaiki bersama. Untuk kebaikan bersama adalah hal yang mungkin sudah jarang saat ini.
Jadilah orang yang dihatinya memiliki ruang yang cukup untuk melihat kesalahan sebagai sebuah tanda bahwa “ini akan bertumbuh”. Artinya akan ada perbaikan, artinya akan ada sesuatu yang lebih bermanfaat lagi ke depan, artinya akan semakin baik lagi dengan evaluasi yang dilakukan.
Ini adalah nasihat yang selalu kepegang setiap kali bertemu masalah,”Tenang! Ini pertanda akan bertumbuh jika kita berhasil menyelesaikan masalah ini. Jangan khawatir, hadapi saja.” Bukan justru pergi dan menghindarinya. ©kurniawangunadi
Pada akhirnya, hidup yang kita cari adalah hidup yang bisa dinikmati.
Untuk apa terus menerus berlari tapi akhirnya hanya tersisa renta. Tahu-tahu hari sudah senja. Tak sempat menyertai hari-hari anak, hingga semua berlalu tanpa kenangan yang berkesan.
Aduhai, buah seperti apa yang kita harapkan dari semaian yang diabaikan?
Kita mencari uang untuk makan, tapi lebih sering terlambat mengisi perut. Mencari uang untuk keluarga, tapi lebih akrab dengan kolega.
Entah, apakah kita ini sedang berkarir, atau sebetulnya hanya tawanan atas pekerjaan kita sendiri. Kita menghabiskan waktu, berjerih payah, berkorban, untuk sesuatu yang tidak benar-benar bisa kita nikmati.
Seimbang dan proporsional menjadi barang langka. Seolah semua orang harus mampu mendirikan gedung pencakar langit atau masuk daftar orang terkaya di dunia.
Berlari. Tapi jangan lupa bernafas. Jangan lupa merawat diri sendiri. Jangan bosan menyimak cerita pasangan. Jangan mengabaikan anak yang menunggu di rumah sambil menahan kantuk.
Di dunia ini, ada banyak hal yang bernilai dan berharga selain harta. Terlebih mereka yang ada di sana. Di rumah kita sendiri. Keluarga.
nasihat
Rasanya seperti kita sedang berlomba dengan orang lain, berlomba dengan pencapaian yang sudah mereka raih atau apa yang sudah mereka dapatkan, tapi sebenarnya apa itu yang kita cari?.
Bukankah kita tidak sedang berlomba dengan siapapun, tidak sedang mengalahkan orang lain, namun kita sedang mengalahkan ego, mood kita sendiri
Tidak ada orang lain yang mesti kita kalahkan, kita selalu berjalan di lintasan masing-masing, dan kitalah yang menjadi pemenangnya.
Biasanya ini selalu menjadi Self Rimender kalau lagi insecure ;
Orang lain berhak mendapatkan apa yang sudah mereka usahakan.
Tidak perlu tergesa-gesa mengejar sesuatu di depan, mengapa selalu terburu-buru?,
Banyak orang kehilangan hari ini karna terlalu sibuk memikirkan masa depan. Mari menikmati segala hal yang terjadi, mari hidup di hari ini, mari membuat kesan baik hari ini. Karena hari ini tidak akan bisa terjadi dua kali.
Ada beberapa orang yang menikmati hari-harinya dengan tersenyum. Meskipun setelahnya, dia sesekali menepi untuk menyembunyikan tangisnya.
hal-hal yang menenangkan
lebih baik fokus kpd pelanggan daripada kpd saingan.
bumi Allah sangat luas, rezeki tidak akan tertukar.
tujuan dan dampak lebih penting daripada hasil.
segala hal mudah dan mungkin bagi Allah.
yang penting tekun dan menjadi 1٪ lbh baik.
Pernah.
Perjuangkanlah seseorang yang menurutmu berarti, dengan cara dan upaya yang tidak akan pernah kau sesali seumur hidupmu.
Sebab ngerinya wajah penyesalan mampu mengejar-ngejar hingga ke masa kini dan—memaafkan diri sendiri, adalah urusan rumit yang seringnya memakan waktu lama untuk diselesaikan.
Pada masa lalu, aku pernah menjadi seseorang yang berani menegaskan namun dipatahkan; yang memperjuangkan namun berakhir di persimpangan; yang menunggu namun tak dianggap ada; yang memberi kesempatan namun tidak dihargai; yang mempercayai, namun dikhianati; dan menjadi seseorang yang ditolak dengan penuh penghinaan. Tapi setidaknya, aku pernah memperjuangkan apa yang aku rasa mesti aku perjuangkan semampuku, pada masa-masa itu.
Pada masa lalu, pertanyaan-pertanyaan penuh ketidakpercayaan diri pernah tumbuh subur dan liar dalam diri sendiri. Mungkinkah aku tidak layak diperjuangkan? Diterima? Dihargai?
Pada akhirnya di masa kini; semua kenangan kelabu itu menjadi pengalaman berharga. Seperti kutipan tulisan Masgun dalam buku Menentukan Arah, bahwa:
"Orang baik itu ada banyak sekali, namun hanya ada satu yang tepat, sedangkan selebihnya adalah ujian".
Ujian yang aku syukuri, sebab menjadikanku untuk terus menerus memupuk sabar dan berupaya berbaik sangka.
Ujian yang aku syukuri, sebab menjadikanku menghargai kini dengan sebaik-baiknya kesadaran.
Ujian yang aku syukuri, sebab mengajarkanku memaknai kehadiran dengan lebih hati-hati.
Ujian yang aku syukuri, sebab membuatku mencari, merenungi dan membenahi tujuan hidupku berkali-kali.
Ujian yang aku syukuri, sebab mengantarkanku pada seseorang yang begitu berarti dan menghargaiku tanpa tapi—di masa kini.
Kontemplasi, 15 Agustus 2022 22.59
Membiayai Mimpi
Pada tahun 2022 ini, ada mimpi yang membutuhkan biaya begitu besar. Rasanya, ini lebih besar dari impianku untuk memiliki rumah, kendaraan yang bagus, dan sebagainya. Karena ini akan menjadi belanja terbesar yang dilakukan, rasanya begitu berdebar.
Pikiran tercurah, fokus. Aku tahu, ini tidak mudah, tapi aku sangat tahu akan lebih tidak mudah jika aku menunda-nundanya nanti yang tak tahu kapan. Kuanggap, ini semua adalah biaya belajar.
Aku tahu ini tidak mudah dan aku bersedia menjalaninya. Termasuk jika ternyata mimpi ini bukanlah jalan yang seharusnya kuteruskan, tapi paling tidak, aku tahu jawabannya tak tenggelam dalam penerkaan. Mahal sekali memang untuk menemukan jawaban.
Tapi lebih mahal lagi saat hidup dalam ketidaktahuan. KG
Saat kita merasa gagal dalam menyelesaikan persoalan hidup, terkadang muncul pemikiran negatif yaitu mulai membandingkan diri dengan orang lain.
Terlebih lagi media sosial memudahkan hal tersebut. Kita melihat orang lain sangat beruntung memiliki segudang kesempurnaan.
Padahal kenyataannya, kita tidak pernah tau ujian & cobaan berat apa yg sedang atau pernah mereka lalui.
Namun, mereka tetap berusaha utk tidak memperlihatkan, & memilih untuk menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa berharap belas kasihan dari orang lain.
Bukankah kita ketahui bersama bahwa seseorang yg saat ini terlihat tegar menjulang, pasti pernah terpuruk & terjatuh dalam masalah yg begitu berat.?
Oleh karena itu, berhenti membandingkan diri dengan orang lain.
Teringat ucapan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu'anhu;
"Yakinlah ada sesuatu yg menantimu selepas banyak kesabaran yg kau jalani, yg akan membuatmu terpana sehingga lupa betapa pedihnya rasa sakit."
Jadi, tetaplah semangat & berprasangka baik kepada-Nya dalam menghadapi ujian kehidupan.
Karena sesuai janji-Nya, bahwa Dia tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Jika kita benar² tulus mencintai seseorang, kita akan ikut merasakan apa yg dia rasa.
Masalahnya menjadi masalah kita, air matanya menjadi kesedihan kita, & tawanya membuat kita bahagia.
Begitu juga disaat kita berusaha membahagiakannya, kita tidak akan merasakan lelah.
Sebab, cinta yg tepat tidak mengenal kata lelah & cinta terbaik adalah yg mencintai karena Allah.
Sabar adalah ketika hati tidak meratap dan mulut tidak mengeluh.
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah
Nasihat
Kamu hanya bisa mengendalikan dirimu, tidak bisa mengendalikan orang lain. Kamu hanya bisa mengendalikan isi doamu, bukan hasilnya. Tidak pula bisa mengendalikan isi pikiran, cara pandang, dan perbuatan orang lain kepadamu.
Tapi kamu bisa mengendalikan dirimu. Kamu bisa mengendalikan pilihan dan keputusanmu. Nggak ada yang mudah. Semuanya sulit. Sulit untuk mengendalikan dirimu sendiri, sulit juga jika kamu ingin mengendalikan semua hal. Mana yang akan kamu pilih?
Tapi, tahukah kamu rahasia kecil? Kalau kamu tidak bisa mengendalikan dirimu sendiri, maka hidupmu akan dikenalikan oleh keadaan. ©kurniawangunadi