KISAH YANG USANG (bagian 2)
Ariana bolak balikkan halaman di buku yang sedang ia pegang. Ia bosan, hanya ini yang biasa ia lakukan untuk melepas kesepian. Pandangan mata Ria teralihkan ke arah meja dimana handphonenya berada kemudian ia meletakkan novelnya begitu saja dan bangkit dari kasur berjalan menuju meja yang terletak sedikit jauh dari jangkauannya.
Kelap kelip cahaya dari layar handphonenya mengganggu pandangan mata. Ia sengaja membuat cahayanya terang benderang agar ia tau ketika ada yang menghubunginya. Ria sangat membenci bunyi alarm tapi ia sangat tidak menyukai sepi.
Diraihnya benda persegi panjang itu di atas meja kemudian ia matikan alarm yang dari tadi hidup yang menyebabkan layarnya kelap kelip mengganggu pemandangan matanya.
‘Ah sudah waktunya,’ batinnya berkecamuk.
‘Hari ini tidak ada rembulan?’ tengok Ria ketika ia menutup gorden jendela kamarnya.
Ria berjalan menuju pintu tapi sebelum itu ia raih gelas, sendok, dan kopi beserta susu kental manis sachetan yang ada di rak dekat meja belajarnya.
‘Terlalu sunyi, tumben sepi,’ Ria kembali bergumam sendiri.
Ia melangkahkan kakinya menuju koridor kosan yang diujungnya terdapat dapur bersama. Sesampainya ia di dapur segera ia panaskan air di dalam ceret yang sudah tersedia. Kopi yang tadi diambil dari rak ia tuangkan ke dalam gelas dan tidak lupa susu kental manisnya. Ia suka kopi susu, ini kesukaannya yang tidak akan ia tinggalkan walau minuman tersebut merupakan salah satu yang menjadi pantangan baginya. Ria tidak peduli.
Hembusan nafas yang begitu terasa berat. Iya benci menunggu tapi ia harus menunggu.
‘Haruskah aku besarkan apinya? Tapi nanti terlalu boros gas.’ Bathinnya kembali berkecamuk.
‘Baik aku tunggu saja,’ dirinya mengalah kepada sisi lain dirinya sendiri.
Seraya ia mengaduk-aduk isi gelasnya tanpa air ia mulai menerawang masa lalu. Masa dimana ia bisa sampai berada disini dengan kondisi yang bahkan ia tidak menyangka akan bisa berhasil bertahan.
‘Tidak-tidak! Aku tidak mau mengingatnya. Enyah kalian!’ Ria mulai berbicara sendiri dengan tangan menutup kedua telinganya.
Ia berusaha mengenyahkan suara dari dalam dirinya dan hantu-hantu masa lalu yang tiba-tiba saja menyeruak kepermukaan. Ia berusaha dan berusaha, ia harus bisa. Bukankah ia sudah bisa mengendalikannya kenapa kembali lagi.
Nafasnya terengah-engah, terlalu aneh untuk seseorang yang sedang menunggu air yang ia godok mendidih. Syukurnya keadaan sekitar sepi, entah mengapa malam ini suasana kosan terlalu sunyi.
Beberapa saat kemudian air di dalam ceret mendidih membuat bunyi yang lumayan nyaring untuk menyadarkan gadis muda itu dari lamunan yang sebenarnya ia bangun sendiri dari alam bawah sadarnya.
Hai cerita update setiap weekend ya. Antara Sabtu ya Minggu..
Terimakasih sudah mampir.