Tadi gue nonton film Posesif dan masih berasa shock. Dari film itu, gue jadi ngerti kenapa ada banyak orang yang memilih bertahan dalam Toxic Relationship. Ada ibu-ibu yang tetep bertahan dalam KDRT karena takut kehilangan. Ada temen-temen gue yang ga mau pisah sama pacarnya meskipun hubungan mereka creepy banget mirip Lala sama Yudhis di film posesif.
Dalam novel 9 dari Nadhira, Leila S Chudori, kita menemukan sosok Nadhira dan Utara Bayu. Dua orang yang sama-sama independen dan mungkin saking independennya sampai nggak sanggup memperjuangkan orang yang dicintainya.
Nadhira menikah dengan Niko dan kisahnya berakhir dengan perceraian meskipun sebenernya masih saling mencintai. Bagi orang yang independen, cinta aja kadang nggak cukup. Sama kayak Utara Bayu yang endingnya menikahi orang lain meskipun dia sebenarnya mencintai Nadhira. Menyedihkan karena di novel, diceritakan kalo di hari pernikahannya, tatapan mata Tara tidak bercahaya.
Baik Posesif ataupun 9 dari Nadhira sama-sama menceritakan kisah cinta yang banyak terjadi di dunia nyata, meskipun sebagiannya mungkin agak di luar jangkauan kita.
Posesif menggambarkan kisah cinta orang-orang yang tumbuh di lingkungan yang menciptakan lubang di hati masing-masing (entah itu bullying, keluarga yang over demanding, keluarga broken home, etcâŠetcâŠ). Sehingga mereka memaklumi sikap saling menyakiti karena mereka takut kehilangan orang yang terlanjur dicintai dan terlanjur mengisi lubang di hatinya.
Meanwhile 9 dari Nadhira menggambarkan kisah cinta manusia independen yang terlanjur menganggap dirinya lengkap sehingga cinta dan kebersamaan dengan orang yang dia cintai tidak lagi menjadi prioritas. Orang-orang semacam ini biasanya agak susah invest banyak waktu dan tenaga demi cinta doang. Bukan karena takut disakiti. Tapi lebih karena takut attached dengan perasaannya sehingga mereka tidak lagi merasa bebas mengejar apa yang mereka cita-citakan.
Dulu pas masih kuliah, gue suka ngomentarin kisah hidup banyak orang. Sok tau ngasih advice macem-macem. Tapi semakin kesini gue semakin sadar bahwa kita nggak bisa sok tahu dalam menanggapi kisah orang lain.
Sebab dalam sebuah kisah tentang seseorang, yang terlibat bukan cuma orang tersebut. Tapi juga budaya, background keluarganya, masa lalunya, sifatnya, wawasan yang dia miliki, pengalaman dan banyak hal yang semuanya membentuk alur dan ritme dalam sebuah kisah.
Maka nggak heran kalo ada orang-orang yang lancar banget. Taâaruf hari ini, tiga hari kemudian langsung nikah. Ada juga yang rumit macem Lala-Yudhis, ato Niko - Nadhira - Utara Bayu.
Gue sebenernya ga lagi bahas tentang kisah cinta sih. Tetapi lebih ke gimana budaya, background keluarga, masa lalu, wawasan, dan pengalaman bisa mempengaruhi kepribadian seseorang beserta jalan hidupnya.
Manusia itu menarik sekaligus rumit. Mereka punya banyak sisi yang tak bisa diamati dengan utuh hanya dalam sekali pandang. Pun juga sebenernya bukan tugas kita untuk memaksa orang lain menampakkan sisi yang tidak ingin mereka perlihatkan.
Gue punya temen macem-macem. Ada yang coming out sebagai LGBT, ada yang kena KDRT berkali-kali dari suaminya, ada juga temen gue yang semangat banget cerita tentang konsep open marriage dan polyamorous. Sesuatu yang sebenernya menurut nurani gue udah jahiliyah. Dan sialnya, ini realita yang ada di hadapan gue.
Ga gampang buat kita kalo udah kejebak dalam situasi kayak gini. Tapi balik lagi bahwa kisah tentang seseorang nggak cuma melibatkan orang tersebut, tapi juga segala hal yang membentuk kepribadiannya. Maka menyelesaikan kisah yang rumit dan abnormal seperti yang gue sebut sebelumnya, nggak cukup hanya dengan pendekatan âdosa dan pahalaâ, kita perlu sedikit berempati pada apa yang menyebabkan seseorang berperilaku demikian.
Kemarin, gue baca artikel yang ditulis ustadz Fauzil Adhim tentang Paradoks Pernikahan. Kita sering banget bicara tentang nikah muda, memperbaiki diri demi jodoh yang baik, dll, dsb. Tapi tak banyak yang berbicara tentang bagaimana mempersiapkan kematangan. Bagaimana kita berusaha selesai dengan ego masing-masing. Bagaimana kita berusaha lepas dari hantu masa lalu, dll, dsb.
Sebab pernikahan yang tidak diawali dengan kematangan, nantinya bakal menghadirkan pernikahan yang toxic dan menghasilkan anak-anak yang toxic juga. Fenomena kisah cinta di film Posesif, 9 dari Nadhira dan kisah cinta temen gue yang aneh-aneh, umumnya di awali dengan lingkungan dan keluarga yang nggak sehat.
Serem banget kalo misal indonesia beneran punya bonus demografi tapi toxic semua :(
Harapan gue sih kalo misal temen-temen nulis perkara nikah dan jodoh, selain tulisan tentang pengendalian perasaan yang menye-menye, ada tulisan-tulisan yang membahas bagaimana untuk mematangkan diri bagi orang-orang yang kehidupan masa lalunya terlanjur tidak ideal. Biar lingkaran setan antara keluarga toxic, anak-anak toxic dan kisah cinta toxic bisa terputus.
Keluarga itu pilar peradaban, sebuah lingkungan kecil yang harus kita bangun dengan sehat