Perjalanan Menggenapkan Dien
Dalam kamus hidupku selama hampir 1 dasawarsa, aku telah berprinsip untuk menutup erat segala bentuk romantisme yang mungkin hadir di setiap fase hidup yang sedang aku jalani. Tak sedikitpun hatiku memberikannya ruang untuk tumbuh, apalagi sengaja kurawat hingga mekar. Sampai tibalah di suatu masa, di mana aku merasa jenuh dengan segala rutinitas harianku, bibit itu tak sengaja berkecambah. Pelan-pelan ia tumbuh hingga membesar dan merusak pagar pertahananku. Aku akui, aku kalah telak. Ia menyelinap diantara kelengahanku hingga mau tidak mau, aku pun merasakan efek tumbuh mekar meronanya ia dalam hatiku.
Kata orang, aku jatuh cinta, tapi dengan siapa?
Aku mencoba membunuh dengan tega setiap kali rasa itu datang, mencoba tak menghiraukannya, lalu berusaha kembali tenggelam dalam setiap rutinitas harian yang ku jalani. Namun ia bersikeras kembali, meminta belas kasihku untuk memperdulikannya. Seperti salah satu pepatah, tetes air yang terus menerus jatuh di atas batu yang keras, lama kelamaan akan sanggup melubangi batu tersebut bahkan memecahkannya. Begitu pun dengan hatiku yang tiap harinya dibombardir perasaan yang tak menentu, perasaan yang sebelumnya tak pernah terlintas sedikitpun dalam fikiranku, sungguh menyesakan.
Kata orang, yang bisa ku lakukan saat ini hanyalah mengikuti alur perasaan itu. Lalu tugas terberatnya adalah menemukan sosok yang tepat, maka rasa itu kelak akan bermuara.
Lagi-lagi ini membuat rumit. Bagaimana aku bisa menemukan sosok yang tepat itu? Di mana aku menemukannya? dan siapakah sosok itu? sederet pertanyaan bermunculan dan menagih jawaban hingga memenuhi isi fikiranku.
Aku mencoba mencari jawabannya dengan mengikuti banyak kajian keislaman. Aku menguatkan ruhku, memberinya asupan nutrisi terbaik dengan beragam ilmu dan ibadah yang maksimal hingga ia dapat terus terkoneksi pada Rabbku yang menjadi satu-satunya sumber ketenanganku. Aku pun belajar banyak tentang pernikahan, yang merupakan satu-satunya jalan dalam mengobati racun bernama perasaan yang selama ini menjadi sumber kegundahanku. Secara hitungan umur, mungkin ini waktu yang tepat bagiku untuk menemukan partner hidup yang akan membersamai kehidupanku di fase selanjutnya. Hingga akhirnya, aku memantapkan hati untuk berikhtiar menuju jalan itu.
Tentu ada banyak jalan untuk bisa menemukan sosok yang menjadi dambaan hati. Namun, mustahil bagiku mencari sosok yang baik melalui jalan yang tidak baik. Akhirnya aku ikhtiarkan diriku untuk berproses lewat jalan yang InsyaAllah diridhoi oleh-Nya. Ternyata Allah memudahkan aku menemukan platform yang bisa memfasilitasiku untuk berta'aruf sesuai syari'at. Meski sudah difasilitasi, nyatanya menemukan sosok yang sesuai visi misi dan kriteria itu tidak mudah. Jika saja aku gagal dalam memilih, maka aku pun gagal dalam menyiapkan sosok ayah untuk anaku kelak.
Dalam perkara ini, aku tak hentinya melibatkan Allah untuk mengurangi kemungkinan hawa nafsuku yang mengambil alihnya. Aku mengerahkan sepenuhnya diriku untuk mencari menggunakan filter keimanan yang sudah dijelaskan Rasulullah dan menurunkan egoku untuk apa-apa yang sifatnya sementara. Aku hanya tak ingin perkara ini berakhir sesaat, sebab aku ingin ini menjadi jalan taat untuku dan keluarga hingga bisa berkumpul kembali di jannah-Nya kelak.
Dengan menyebut asma-Nya, ku beranikan diri untuk menggerakan jariku memilih sosok itu. Tanpa tahu seperti apa fisiknya, aku hanya tertarik dengan apa yang tertulis dalam cv itu. Aku tau, ini semua di luar kuasaku. Aku tak yakin apakah sosoknya benar-benar seperti yang ia tuliskan dalam cvnya atau tidak. Maka aku pasrahkan sepenuhnya pada yang mengetahui segala-Nya. Tak berjalan lama, doa itu saling bersambut menemukan titik temu untuk berproses pada tahap selanjutnya.
Entah apa yang hatiku rasakan. Penuh keraguan, bimbang, dan takut. Ku habiskan malam-malam yang panjang dengan bermunajat dan mendekatkan diri pada Rabbku dalam dua rakaat istikharah itu. Ku adukan kebimbanganku. Aku meminta diberikan kemantapan hati untuk memilihnya jika memang ia yang terbaik untuk agamaku dan kehidupanku setelahnya.
Kini, ku temukan kecenderungan itu. Terutama saat ia menjadi laki-laki pertama yang menjabat tangan ayahku dan menyatakan keseriusannya. Pada sosok yang tak pernah ku kenal sebelumnya, jika memang kehendak-Nya membawa proses ini berakhir pada terwujudnya kesempurnaan dien, semoga aku bisa menjadi sosok istimewa yang selalu kau sebut dalam doa-doa panjangmu di setiap malamnya.
















