Kehilangan atas sesuatu yang tidak dimiliki, ternyata sama kecewanya
Rencananya malam ini saya ingin membacakan puisi terjemahan Aan Mansyur, dari penulis luar yang saya lupa namanya. Pokoknya saya menemukan puisi itu dalam sebuah tulisan Aan Mansyur di Medium beberapa tahun lalu.
Ketika mencari, saya menemui “404″, alias Not Found. Halaman Aan Mansyur di Medium sudah tidak ada. Dan jejak digital untuk puisi yang diterjemahkannya itu juga tidak saya temukan. Saya hanya ketemu beberapa tulisan terjemahan puisi dan sajak di blog Aan Mansyur, namun tidak ada puisi yang saya maksud. Jalan terakhirnya, saya bertanya langsung melalui Twitter kepada penulisnya. Berharap menemukan jawaban.
Puisi itu, kalau saya tidak salah ingat, bercerita tentang seorang anak yang menguburkan ayahnya. Saya lupa detailnya, tapi ketika membacanya dulu, terasa personal untuk saya. Sepuluh tahun lalu, saya juga menguburkan ayah saya. Tapi kayaknya memang ada bagian-bagian lain yang menarik dari puisi itu. Semoga masih bisa bertemu. Haha
Yang jelas, setelah pencarian yang tidak panjang-panjang amat dan sampai kepada kesimpulan bahwa saya tidak bisa menemukan apa yang saya cari selain memintanya kepada penciptanya, saya cukup berkecewa diri tadi.
Kini saya hanya bisa berharap, semoga pinta saya didengar dan sang pencipta berkenan menurunkannya sekali lagi.










