Day 3 Melatih Kemandirian Diri
Sabtu, 03 Oktober 2020
seen from China

seen from United States
seen from Türkiye
seen from Netherlands
seen from United States
seen from Yemen

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Brazil

seen from United States

seen from Germany
seen from Türkiye

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Vietnam
seen from Germany
seen from Estonia

seen from Australia
Day 3 Melatih Kemandirian Diri
Sabtu, 03 Oktober 2020
Memori
Entah dari kapan kita mulai mengingat semua kejadian hidup kita. Kalau aku sadar dengan kejadian hidup pada sata aku berumur 4 tahun. Sebenarnya tidak semua aku ingat, hanya beberapa. Dan diantara itu semua ada kejadian yang menyenangkan dan ada yang tidak.
Aku berpikir keras untuk menulis cerita ini, karena aku rasa memori dalam hidupku banyak.
Ini bertema horor dan komedi.
Siang itu aku mengajar di sebuah sekolah di jawa barat, tapi keadaan aku lagi di kantor tidak ada jam. Kemudian ada anak-anak yang memanggil aku dengan panik "Bu Bin!! Itu sera kesurupan"
Tenang, tenang, sabar. Ini pertama kalinya aku sebagai orang dewasa yang harus berusaha bijaksana di depan anak-anak. Kemudian aku mengikuti mereka. Oh iya kenapa mereka memanggilku? Karena aku wali kelasnya.
Sampai di sana Sera mengamuk melemparkan ini dan itu, entah dia berbohong atau tidak, aku memberinya air asin dan menggisikan lidi pada kelingkingnya mitosnya bakal keluar atau kalau dia ngerasain sakit berati lagi keluar jinnya. Logikanya kalau orang kesurupan dikasih air asin ya diminum bukan disembur dan dia nyemburin itu air.
Badan aku sama dia gedean dia sampai aku ketarik keliling lantai dua sampai ada pak dan bu guru yang ngebantu. Kalau di inget lucu, pak guru ngasih minuman terus di sembur dan diusapin lewat tangan aku, terus akhirnya dia capek sendiri dan diangkat pake tandu.
Kalau horrornya ya ada sih, ntaran aja kita cerita lagi 😉
[Senin, 5 oktober 2020]
#Harike3
#memori
#30haribercerita
JOURNAL DAY #3
=============================
Zona #2: Melatih Kemandirian Anak
Hari #3: 03 Oktober 2020
Nama: Ditha Rahmalia
Regional: Bandung
Bismillahirrahmanirrahim
Temuanku Hari Ini
Hari sabtu-minggu adalah waktunya bermain bersama ayah!. Hari ini saya meminta suami untuk khusus meluangkan waktu bermain bersama. Tiga hari lagi Hafi genap berusia 10 bulan (40 minggu). Stimulasi yang tepat untuk melatih kemandiriannya sesuai perkembangan sensorimotornya saat ini adalah dengan permainan. Permainan hari ini masih sama yaitu Rolling Ball dan ditambah practical life skill berupa latihan minum sendiri.
.
Strong Why?
Permainannya masih sama seperti kemarin menggelindingkan bola, karena evaluasi kemarin saya amati Hafi rasanya belum menguasai permainan ini. Saya juga menambahkan latihan minum sendiri karena melihat bahwa kemarin Hafi ingin makan dengan tangannya sendiri maka saya ingin mencoba melatihkan minum juga sendiri.
.
Strategi Melatih Kemandirian
Permainan yang sama diulang, namun kali ini saya meminta ayahnya Hafi untuk menstimulasi dan mengajaknya bermain. Untuk proses minum strateginya adalah menyimpan botol minum dihadapannya tanpa menyodorkan ke mulut. Melihat reaksinya dan mengobservasi.
.
Suksesku Hari Ini
Hari ini Hafi sukses minum sendiri, meskipun diawali dengan "drama" menangis dan berteriak karena inginnya botol minum dipegangi mamanya.
.
Tantanganku Hari Ini
Bermain bersama ayah ternyata tidak membuatnya tertarik, ia hanya mendengarkan suara arahan ayah lalu melempar bola ke segala arah. Hafi terdistraksi dan memilih memainkan benda lain. Maka permainan Rolling Ball hari ini tidak berjalan.
.
Perasaan Kami
👩 Mama tetap semangat, berusaha sabar dan tenang menghadapi tangisan, dan Hafi yang tidak mood bermain.
😢 Hafi bingung bermain bersama ayah, dan marah saat diminta minum sendiri.
.
Rencana Esok
InsyaAllah besok masih akan mengulang permainan Rolling Ball, menambah permainan baru, melatih minum dan makan sendiri.
.
Kemandirian Anak #3
03. Melakukan Kebaikan atau Meninggalkan Keburukan?
Aku ingat sekali kala itu. Pertengahan tahun 2017 adalah waktu pertama kalinya aku menyandang gelar mahasiswa. Aku sangat bersyukur bisa kuliah. Bersyukurnya lagi bisa dipertemukan orang-orang baik yang dengannya aku lebih banyak berbenah. Setiap pekan aku menjumpai mereka dalam lingkaran kecil penuh ketenangan. Terkadang kami melingkar di sudut musholah fakultas atau di bawah pohon rindang halaman yang luas. Dimanapun itu, saat bersama mereka surga terasa lebih dekat.
Kami menyebutnya mentoring. Aku sendiri sebenarnya sudah tidak asing dengan kegiatan ini. Sebab sebelumnya di SMA aku pernah tergabung dalam ekstrakurikuler rohis. Walaupun di kampus mentoringnya tentu berbeda. Tapi esensinya kurang lebih sama. Bukan hanya tempat belajar agama. Lebih dari itu. Bagiku mentoring menjadi tempat membentuk diri. Menjadi lingkaran yang senantiasa mengingatkan dan menjaga dalam kebaikan.
Pada suatu waktu di pertemuan perdana, mbak tutor---seseorang yang mengisi materi di mentoring-- bertanya kepada kami satu per satu.
"Dek, kalo disuruh milih kalian bakal milih apa. Melakukan kebaikan atau meninggalkan keburukan?"
Saat itu aku dengan bangganya menjawab "melakukan kebaikan". Karna menurutku, jika kita melakukan kebaikan, ya sudah. Kita bakal terus-terusan melakukan kebaikan.
Tapi ternyata, jika dihadapkan pada dua pilihan tadi maka yang lebih utama kita lakukan adalah meninggalkan keburukan. Lho kenapa? Karna jika kita hanya melakukan kebaikan tanpa meninggalkan keburukan, maka kita bisa saja kembali lagi melakukan keburukan itu sewaktu-waktu. Tetapi jika kita benar-benar meninggalkan keburukan yang kita lakukan secara keseluruhan, artinya tidak ada lagi yang kita lakukan selain kebaikan.
Palembang, 3 Juni 2020 || 20.32 || Edisi lagi kangen melingkar dalam kebaikan~
Sf
Kisah-Kisah Suri Teladan
"Kisah-Kisah Suri Teladan" karya Sabda Armandio mungkin adalah kumpulan cerpen terbaik yang saya baca tahun ini. Isinya cukup beragam dari cerita yang tidak pendek sampai yang pendek sekali. Dan dari yg latarnya sehari-hari sekali sampai yang agak jauh dari keseharian. Haha
Favorit saya adalah cerpen terpanjang di buku ini: "Legenda Kaktus yang Lebih Funky dari Yesus Kristus". Saya baca lagi dan coba iseng-iseng coret-coret alurnya. Haha Sungguh sebuah cerpen yang sangat menarik. Sebuah potongan-potongan cerita dari berbagai zaman dan tokoh yang disambungkan oleh sebuah kaktus yang dapat berbicara dan bisa mengabulkan keinginan manusia. Beruntung ketika saya mengunggah gambar alur coretan saya, penulisnya merespon dan mengatakan bahwa alur yang saya buat sudah sesuai.
Selain cerita kaktus favorit saya itu masih ada banyak cerita pendek (dan yang sangat pendek) yang juga sangat menarik. Seperti “Malam Berangin” yang menceritakan perseteruan dua polisi yang baru saja menangkap tukang hipnotis. Pergantian sudut pandangnya menarik sekali. Juga kisah soal perempuan yang kebingungan karena lupa di mana memarkir mobilnya pada sebuah mall dalam “Tempat Parkir”.
Sedikit kembali ke cerita kaktus yang membuat saya terkagum-kagum itu, saya akhirnya memutuskan menamai beberapa tanaman yang saat ini saya rawat dengan nama-nama dari tokoh dalam cerita pendek itu. Lagi-lagi saya senang karena penulis cerita pendek tersebut, Sabda Armandio turut mendoakan “anak-anak hijau” saya. Katanya:
Semoga berkah
(Aku Akan) Menyakiti
Sesekali aku ingin menengok masa lalumu, agar aku tahu apa yang pernah membuatmu terluka. Semoga aku tidak melukai kamu di kemudian hari. Karena aku sudah berjanji untuk menjagamu sebaik mungkin. . Akhirnya, aku bisa menengok masa lalumu. Kamu berbaik hati berbagi kisah denganku dan aku mendengarkan dengan sebaik mungkin. Supaya tidak ada yang terlewat, supaya aku tidak menyakitimu seperti orang-orang sebelumku. . Kemudian waktu bergulir. Sebulan dua bulan, kita baik-baik saja. Aku tidak menyakiti begitu pun dengan kamu. Aku berusaha menjadi sosok sempurna dimatamu. . Hingga suatu ketika, percayalah bahwa ini bukanlah kesengajaan. Aku melakukan apa yang dilakukan orang-orang sebelumku. Sesuatu yang kamu sebut 'luka'. . "Maaf." . "Pergi!" katamu dengan air mata yang bercucuran. . Sungguh, sakit sekali manyaksikan kamu menangis terlebih itu karena aku. Seseorang yang berjanji tidak menyakiti. . "Aku benar-benar enggak sengaja," belaku. . *** . "Percayalah, bahwa tidak ada orang yang benar-benar tidak akan menyakiti. Entah itu sengaja atau pun tidak. Yang terpenting adalah, berusaha untuk tidak menyakiti dan memaafkan atas apa yang menyakiti." . Depok, 12 Juni 2017
[Ctrl + S] Tiap kali terbangun saya lupa mimpi saya Tapi saya yakin kalau saya bermimpi Karena saat terbangun saya bisa tersenyum Meskipun tidak tahu apa yang disenyumi Pernah juga saya terbangun dan menangis Padahal sudah lupa tadi di mimpi kenapa Sayangnya mimpi tidak dapat disimpan Menyimpan mimpi hanya jadi impian Andai saya bisa menyimpan mimpi Saya akan simpan mimpi mimpi sedih Sebagai bekal untuk hari hari yang keras Agar bisa menangis dan merasa waras Luar ruang, 2017 @kelaspuisi #semusimpuisi #kelaspuisi #puisisekstet #harike3 (at Taman Firdaus)