Manusia Itu Melelahkan, Ya?
Belakangan, saya sedang merasa lelah dengan beberapa orang di sekitar saya. Seperti menyalakan lilin untuk menerangi orang lain, saya malah terbakar sendiri. Tidak hanya itu, dalam beberapa hal lainnya, lilin itu malah ditiup oleh orang lain sebelum ia membakar tangan saya yang memegangnya. Alhasil, semua berbalik menjadi gelap sekali, meninggalkan saya yang bertanya-tanya, “Apa yang sebenarnya sedang saya lakukan? Jika kebaikan yang diupayakan berbalik menjadi kesakitan bagi diri saya sendiri, bukankah ada kesalahan yang mungkin tanpa sadar sedang saya lakukan?”
Sebagai (calon) psikolog dengan skill empati yang sedang terus dilatihkan hampir setiap hari (meski tentu saja masih banyak gagalnya dan harus terus latihan lagi), saya terkadang tidak bisa menahan diri untuk menolong orang lain, menumbuhkan mereka, dan mengajak mereka keluar dari zona nyaman yang saat ini sedang mereka jejaki. Dalam hal ini, rasanya tak ada kepentingan diri selain untuk dapat melihat orang lain menjadi lebih baik lagi. Banyak orang bilang, “Jangan gitulah Nov, enggak usah terlalu baik sama orang lain yang tidak siap menerima kebaikan.” Tapi nasehat itu saya tepis, sebab bagi saya, memberi kebaikan kepada orang lain adalah puncak dari kebaikan itu sendiri, yang tidak akan pernah menjadi sia-sia meski siapapun menyia-nyiakannya.
Back to the existing condition, dihadapkan Allah pada kondisi-kondisi lelah karena memikirkan orang lain membuat saya menyadari beberapa hal yang selama ini sepertinya sedang luput untuk saya sadari. Pertama, sifat kebaikan adalah tidak bisa dipaksakan. Sebagai orang yang memberi, kita bisa terus berupaya untuk memberi, tapi soal orang lain menerimanya atau tidak, itu sudah berada di luar kendali kita. Satu-satunya yang bisa kita kendalikan adalah sikap kita sendiri, salah satunya sikap untuk tetap melanjutkan kebaikan. Di luar itu, kita tidak bisa memaksa orang lain untuk menerima atau tidak menerimanya.
Kedua, tak selamanya suatu kebaikan dipersepsikan sama oleh orang lain. Maksud baik tak selamanya diterima dengan baik, sebagaimana pun kita sudah mengupayakan atau menjelaskannya. Seperti ibu yang melarang anaknya memakan permen: ibu berniat baik agar gigi anaknya tidak sakit karena makan permen, namun anaknya menganggap ibunya sedang menjauhkan dirinya dari kebahagiaan yang sedang sangat diinginkannya. Kau tahu apa yang paling sulit dilakukan disaat-saat seperti ini? Menahan diri untuk tidak mengatakan, “Tuh kan, saya bilang juga apa …” Bagaimana pun, ternyata tangan kita memang tidak pernah akan sampai untuk menyelamatkan orang lain dan memastikan kebaikan hadir kepada mereka.
Ketiga, bagaimana pun, bukan tanggung jawab kita untuk memastikan pertumbuhan dan berubahnya orang lain menjadi lebih baik. Tak ada satu hasil akhir pun yang berada di bawah kendali kita. Yup, every person is responsible for their own growth and they are the only person responsible for their growth. Tugas kita adalah memberikan umpan, lalu umpannya diambil atau tidak, itu bukan tanggung jawab kita. Peran kita adalah memberikan stimulus, lalu stimulusnya diterima atau tidak, itu juga bukan lagi menjadi tanggung jawab kita. Hmm, mungkin ini ya yang membuat rasa berat dan lelah (juga mungkin marah) itu muncul, sebab kita merasa bertanggung jawab terhadap kebaikan hidup orang lain. Padahal, kendali itu tidak pernah ada di tangan kita, yang dapat kita kendalikan hanyalah konsistensi dan kesabaran kita dalam berupaya.
Saya jadi ingat pada bagaimana kisah Rasulullah dan pamannya yang bernama Abu Thalib yang sampai dengan wafatnya sekali pun pamannya itu tetap tidak mengikuti agama yang dibawa oleh Rasulullah. Sekelas Rasulullah, dengan seluruh kebaikan dan kesempurnaan yang ada pada dirinya, ternyata tidak bisa menjadi orang yang memastikan keselamatan bagi orang terdekatnya. Lantas, apalah dayanya saya ini, sementara saya pun bahkan tidak bisa memastikan kebaikan-kebaikan atas diri saya sendiri? Kendali apa memangnya yang saya punya untuk dapat mengubah orang lain? Tidak ada.
Kata prinsip Filosofi Teras, urusan-urusan di dunia ini terbagi menjadi 2 hal, yang bisa kita kendalikan dan yang tidak bisa kita kendalikan. Dalam hal memberi kebaikan kepada orang lain, rasanya prinsip ini pun relevan. Satu-satunya hal yang bisa kita kendalikan adalah diri kita sendiri sehingga kita bisa terus berupaya untuk meluruskan dan memperbaiki niat, mempelajari cara-cara baru untuk berbuat baik, juga untuk tetap menjaga maksud baik atas segala sesuatu. Namun, kita pun tidak boleh lupa bahwa hasil dari semua yang kita upayakan itu belum tentu sejalan dengan apa yang kita bayangkan, belum tentu pula kebaikan kita diterima sebagaimana mestinya. Lalu, kalau hal itu benar terjadi, apakah lantas kebaikan kita menjadi sia-sia? Tidak, kebaikan itu, apapun bentuknya, tidak akan pernah sia-sia, meski siapapun menyia-nyiakannya. Sebab, selama semua karena-Nya, tak ada yang sia-sia di hadapan-Nya.
So, untukmu yang saat ini sedang merasa lelah karena tidak bisa mengubah atau menumbuhkan orang lain, take a deep breath. Tenang, memang bukan itu yang seharusnya kamu lakukan. Tugasmu hanyalah tetap menjadi baik, tetap mencari-cari cara untuk mengupayakan kebaikan pada (si)apa saja, tetap bersabar atas apapun umpan balik yang kamu terima, dan juga tetap berlari mengejar perhatian-Nya. Sebab, urusanmu yang sebenarnya bukanlah dengan manusia, tapi dengan-Nya. Keep spreading all the kindness. Baarakallahu fiik.