Dari dulu, aku tidak pernah suka puisi. Terlebih pada saat pelajaran Bahasa Indonesia dan kami di minta untuk membuat sekaligus membacakan puisi tersebut di depan kelas. Juga, setiap kali ujian sedang berlangsung, dan kami di minta menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti, “Jelaskan makna dari puisi tersebut!” Demi Allah, itu adalah hal yang benar-benar menyebalkan bagiku.
Tapi, kau tahu? Tulisan pertama yang membuatku semangat menulis hingga saat ini adalah puisi. Waktu itu, saat usiaku baru menginjak sepuluh tahun dan masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Kami di minta untuk menuliskan sebuah puisi dan mengirimkannya pada sebuah redaksi penebitan. Tadinya, aku benar-benar tidak pernah berekspetasi macam-macam. Apalagi sampai meraih sebuah keberhasilan dan puisiku bisa terpampang nyata di majalah Bobo pada salah satu edisinya. Aku sedang dapat bonus besar!
Hingga akhirnya tahun ini, aku berhasil melahirkan sebuah buku solo pertamaku dengan genre puisi di dalamnya. Padahal sebelumnya aku berpikir bahwa untuk menjadi seorang penulis harus memiliki latar belakang sastra. Apalagi menjadi seorang penyair hebat seperti Sapardi Djoko Damono, Chairil Anwar, W. S. Rendra, dan penyair-penyair hebat Tanah Air lainnya yang jujur saja aku juga tidak tahu banyak tentang mereka.
Dan, inilah buku pertamaku; Selepas Kita. Sebuah buku yang berisi kumpulan seratus puisi sederhana buatanku yang aku sendiri pun bingung sekaligus tak percaya. Ternyata aku berhasil menggenapkan seluruh kisah yang sudah lama ingin tertuang di atas lembaran kertas ini. Meskipun Selepas Kita tidak menawarkan puisi-puisi hebat seperti milik penyair-penyair besar Indonesia. Di sini, aku hanya berusaha menuangkan suara-suara yang terus saja mengganggu hari-hariku; yang membawa kebebasan dan kejujuran.
Di dalamnya, kau akan menemukan kata demi kata yang terangkai sesederhana mungkin dalam sebuah bait-bait ringan. Ini, agar kau tidak bingung saat membacanya. Juga, karena aku memang tidak berbakat seperti Eyang Sapardi untuk menjadi penyair. Walaupun setelah kupikir-pikir lagi, menurutku untuk menjadi seorang penulis atau penyair tidak harus menggunakan banyak kata berbelit demi menyusun rima yang indah. Melainkan, dibutuhkan sebuah keberanian dan rasa yang bisa bermain di dalamnya, untuk bisa menyampaikan maksud dan tujuan dari setiap bait-bait puisi tersebut dilahirkan ke dunia.
Buku ini bercerita tentang kehilangan saat sedang sayang-sayangnya. Tentang keadaan yang memaksa untuk melepaskan saat hati sudah begitu dalam mencintai. Tentang sebuah pelajaran bahwa mengikhlaskan tak selalu mudah untuk dilakukan, tapi harus dibiasakan untuk bisa membiarkan bahagia menyembuhkan luka dengan sendirinya. Juga tentang menemukan, walau tak selalu berakhir disatukan.
Tapi, buku ini tidak sepenuhnya bicara tentang kesakitan. Tentang jatuh cinta yang sejatinya punya banyak bentuk dan rasa yang beraneka. Tentang sebuah makna mencintai dengan sederhana, tapi juga sedalam-dalamnya. Tentang mimpi, tentang ego, juga tentang belajar memaafkan diri sendiri dan orang lain untuk lebih dewasa. Lewatnya, aku ingin berkisah perihal momen-momen yang sudah seharusnya berlalu dan dilepaskan. Karena setiap hal pasti akan indah pada waktunya.
Dan, semoga saja kau bisa memaklumi seluruh kekurangan yang ikut menyempurnakan setiap tulisan yang ada di buku ini. Entah pada kesalahan penulisan atau berbagai macam kekurangan dalam bentuk lainnya. Semoga kau menyukai sepotong kisah ini nantinya.
Ah, iya. Buku Selepas Kita bisa kamu dapatkan langsung melalui Guepedia.com, melalui halaman instagram @guepedia_penerbitan, e-commerce Tokopedia dan Bukalapak, juga melalui halaman Facebook dari Penerbit Online Guepedia. Yuk, intip perasaanku yang ada di dalam buku.