Kalau kita berbeda pendapat.
Saat memikirkan tentang manusia dengan jalan pikirannya, yang terlintas dalam benakku adalah perbedaan cerita dan masa lalu kita. Bisa saja dalam satu titik yang kukira jalan terbaik adalah belok ke kanan. Sementara pada beberapa orang jalan itu justru dianggap salah atau bawa celaka.
Sama seperti perbedaan pendapat diantara manusia dimana kebenaran menjadi begitu relatif. Sadar tak sadar manusia itu tergantung pada bagaimana setiap orang melihat tujuannya kedepan dengan menitik beratkan setiap pilihan pada masa lalunya di belakang.
Kita harus mengerti bahwasanya tak semua orang dibesarkan di lingkungan ideal. Ada yang besar tanpa orang tua dan mereka-mereka ini harus jadi dewasa lebih cepat dari seharusnya. Sementara ada orang-orang yang punya segalanya tapi mungkin kurang perhatian. Ada pula yang lengkap kedua orang tuanya dan tak kekurangan kasih sayangnya tapi tidak cukup beruntung atas rezekinya.
Tentu setiap orang dengan cerita kesulitannya masing-masing, menjadi dirinya saat ini dengan kekurangan masing-masing. Kemudian saat kita dewasa dan dipertemukan dengan mereka yang punya masa lalu atau cerita berbeda, tak jarang kita jadi berburuk sangka dan bertanya-tanya “kok bisa?”. Padahal jawabannya sudah ada di depan mata dan sederhana sekali.
Ada pertimbangan-pertimbangan orang yang luput dari perhatian kita, sesederhana karena kita bukan mereka. Masa lalu dan cerita mereka bukan masa lalu dan cerita kita. Itulah mengapa setiap orang pasti punya dalam dirinya nilai dan keyakinan yang berbeda-beda. Maka seiring kita tumbuh dewasa belajarlah untuk mengerti hal ini. Dan berusahalah untuk selalu melihat sesuatu dari kacamata ini. Dengan demikiran kita tumbuh jadi orang yang penuh empati, penuh pengertian. Dengan keduanya itu kita berharap tak ada lagi perpecahan.
Perbedaan boleh ada dan kita tak harus selalu sepakat. Tapi toleransi harus berdiri di tengah-tengah kita. Biar dari sana ada banyak hati bisa diluruskan dan banyak kehidupan bisa diubahkan.
Suara Puan













