Apa yang kamu lakukan? Kenapa engga pergi hingga kini?
Peter Solarz
No title available
Claire Keane
Monterey Bay Aquarium
Sade Olutola
trying on a metaphor
occasionally subtle

Janaina Medeiros

if i look back, i am lost

shark vs the universe
taylor price

❣ Chile in a Photography ❣
sheepfilms
dirt enthusiast
Sweet Seals For You, Always

JBB: An Artblog!
noise dept.
NASA
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
ojovivo
seen from Romania
seen from France
seen from Germany
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Spain

seen from United States

seen from United States
seen from Canada

seen from China

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from Argentina

seen from United States
seen from Malaysia
@anisdisini
Apa yang kamu lakukan? Kenapa engga pergi hingga kini?
nyatanya aku hanya butuh sabar untuk mencapai hal yang besar.
Keberkahan dalam setiap sendi kehidupan sangat penting. Rasa syukur dalam setiap apa yang dikaruniakan Allah juga tak kalah penting. Karena dengan berkah dan syukur kita akan merasa cukup dengan rezeki yang telah kita miliki. Biar sedikit secara materi, tapi matematika Allah selalu menakjubkan. Selalu melihat keatas tidak selamanya akan baik, karena seringkali menimbulkan rasa kekurangan. Padahal kalau kita lihat kebawah, banyak saudara kita yang kurang beruntung, rasanya malu kalau masih saja merasa kurang. Kaya, miskin pada akhirnya tidak diukur dari banyaknya materi yang dimiliki, tetapi dari hati. Jangan sampai karena tergiur dengan apa yang dimiliki orang lain, sampai membuat kita tega untuk mengambil yang bukan hak kita, terlebih jika sampai dzalim kepada orang lain. Tanyakan kembali pada nurani, apakah yang dilakukan sudah benar? Kulik kembali ilmu, apakah jalan yang ditempuh juga telah benar? Sampai sekarang aku masih percaya jika tidak ada keberkahan dan rasa syukur, kita tidak akan pernah menjadi kaya sebanyak apapun harta. Dan lagi hidup di sini tak kekal, jadi kenapa ngoyo untuk dapet ini itu dengan cara yang ga baik? #notetomyself
Social media
Mungkin benar ketika disebutkan bahwa media sosial itu adalah tempat untuk bersosial, bertegur sapa dengan teman lama yang terbentang dengan jarak dan waktu atau bahkan dengan teman yang berada di bangku sebelah. Namun, entah kenapa dari dulu aku menyukai sosial media yang tak terlalu riuh. Hampir setiap ada social media baru aku akan membuat akun juga di platform tersebut. Berawal dari friendster (bener kan nulisnya?) yang kemudian berlanjut facebook lalu twitter, instagram, path, dst dan hampir dari semuanya aku beralih karena mereka mulai mainstream dan mulai kutinggalkan karena mulai banyak yang mengakses sehingga menjadi tidak asik lagi. Hingga akhirnya sekarang aku pun menjadi sangat jarang sekali update di social media yang aku miliki. Mungkin sekitar 2 tahun belakangan ini bisa dihitung dengan jari berapa kali aku update. Awalnya membuat social media niatnya adalah tidak ada, cuma pengin bikin (udah gitu aja). Yang akhirnya malah jadi tempat curcol dan terkadang juga buat menebar kode (hahaha). Tapi begitu timeline penuh dengan curhatan-curhatan orang-orang jadi malah terasa menyebalkan. Soalnya ternyata setelah dipikir-pikir ngapain juga yaa yang kayak gini di share ke publik? Nahh...mulai saat itu deh jadi labil sering bacain profile sendiri dari awal (ini beneran) dan hapus-hapusin postingan kalau pas baca ulang jadi geli sendiri (hehehe...). Kemudian media social akhirnya cuma jadi sarana cari informasi ini itu, hiburan, cari inspirasi, kepoin orang (hehe) daan tentunya belanja (?) ehehehe... Tapi seiring berkembangnya zaman sering banget banyak muncul berita-berita hoax yang menurut aku sometimes justru menyebabkan ketakutan, penggiringan opini publik, menebar kebencian dan seterusnya yang akhirnya membuat aku berfikir 'ohh ini banyak sekali mudharatnya yaa?' akhirnya aku memilih untuk jadi pengamat aja. Baca, cari tahu dipelajari dan dipahami dan kemudian merasa cukup. Dan akhirnya kini, bagiku social media menjadi tak terlalu penting lagi. Bukan lagi menjadi yang disapa ketika mata baru terbuka dan ketika akan terlelap (iya dulu emang seaddict itu 😅). Sekarang entah kenapa lebih suka bersosialisasi langsung, ketemuan, jalan bareng, cerita-cerita, karena dunia nyata ternyata emang lebih menyenangkan daripada dunia maya. Ini sungguh! Tapi tidak menutup kemungkinan ketika kelak akan kembali bergelut dengan dunia maya ketika ada 'kepentingan' ataupun ketika ingin 'berinvestasi'. Jadi akhirnya selamat beraktivitas kembali! Selamat menjemput rezeki yang tertebar di bumi...😊😊😊
2016
Dua ribu enam belas. Banyak sekali air mata yang tertumpah, entah untuk bahagia, entah untuk duka. Ini seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu tanpa rencana, selalu tanpa resolusi, selalu tanpa mimpi. Meski bagi sebagian orang mimpi itu menjadi penting, tapi sampai sekarang aku menahan diriku untuk bermimpi. Namun jika aku dipaksa untuk bermimpi, mimpiku adalah bahagia. Dan bahagiaku adalah melihat orang-orang yang aku sayangi dilimpahi keberkahan. Tetapi bolehkah aku punya mimpi yang lain untuk kedepannya?untuk masa mendatang? Bolehkah aku memulainya? Dua ribu enam belas. Banyak sekali yang datang dan pergi, silih berganti saling bertukar tempat. Meninggalkan kekosongan, mengisi kekosongan. Mauku jangan ada yang pergi, tapi tetap datanglah yang ingin mendekat, kita tambah ruangannya agar bertambah hangat. Tetapi setiap pertemuan pasti akan berujung perpisahan cepat atau lambat, meninggalkan atau ditinggalkan. Semoga selalu tertaut dalam do'a bagi yang disisi maupun yang telah pergi. Dua ribu enam belas. Banyak sekali hikmah dari pelajaran bernama hidup. Tentang maaf, ikhlas, sesal, sabar, senang, dan syukur. Biidznillah akan terus tumbuh hingga saatnya tiba "ini waktuku". -Desember 2016-
Hi again!
almost midnight, dan akhirnya menorehkan sesuatu disini lagi. Seneng!! karena akhirnya setelah sekian lama bisa nulis lagi. Nano-nano karena waktunya habis di dunia nyata, sedih iya, tapi seneng juga iya, karena insya Allah waktunya bermanfaat.
Banyak sekali kejadian-kejadian yang terjadi belakangan yang menyadarkan tentang beberapa hal. Rasanya ngga cukup kalau mau ditulis satu-satu disini, walaupun cukuppun rasanya nggak bakalan di tulis disini juga, huehehe...
sedihnya belakangan jadi susah banget meet up sama temen-temen, entah yang jadwalnya ngga cocok, badan yang ga fit, bahkan cuacapun ikut mengamini, intinya rindu sama semuanya!!!
Tapi akhirnya, banyak sekali hal-hal yang harus disyukuri, meskipun banyak juga to do listnya tetep aja harus bersyukur. Karena Allah tidak pernah keliru menganugerahkan semua ini. daaan...sudah mau Ramadhan btw, semoga sampai, dan semoga banyak waktu “berkualitas” aamiin... :)
Ps: harap maklum dengan tulisan yang loncat-loncat, rangkaian kata yang nggak nyambung karena yang nulis pikirannya juga baru loncat-loncat dan udah ngga pernah lagi pegang buku, :’D
Ada hikmah di setiap luka yang telah tertoreh, belajarlah dan move on. Jangan biarkan kekecewaan menggelayuti, karena Allah pasti memiliki rencana yang jauh lebih baik.
>>* HARGA SEORANG MENANTU *<<
Beberapa waktu lalu saya dan suami mampir ke rumah seorang kawan saya yg baru menikah beberapa bulan.. pas disana juga ada ibu mertua kawan saya ini.. si suami kawan saya ini berkata, “alhamdulillaah saya memiliki seorang istri yg baik, yg membantu saya dalam segala hal..”
tetapi kemudian ibunya yg juga ibu mertua kawan saya menyahut,“ya iyalah buat apa punya istri kalo kamu masih cuci baju sendiri, ngepel, nyapu? itu kan guna kamu punya istri.”
kami semua lantas terdiam dan hanya tersenyum menanggapi ucapan sang ibu.. tampak jelas dari wajah kawan saya terlihat sedih dan wajah suaminya terlihat tidak enak pada kami..
~~~~~~~~~~
Saya waktu itu berkunjung ke rumah salah seorang teman baik saya.. sudah cukup lama dia menikah dan belum diberi momongan.. kedatangan saya kesana ingin menghiburnya agar dia tidak terus dalam kesedihannya..
namun baru saja saya sampai dan duduk di ruang tamu bersama teman saya, sang ibu mertua muncul seraya berkata, “dia ini lho mba sudah saya ijinkan menikah dg anak saya, anak saya itu ganteng, pinter, banyak yg suka sama anak saya, kaya² lagi.. tapi saya ijinkan nikah sama dia ini mba.. lha kok sampai sekarang saya juga belum dikasih cucu..”
saya saja yg bukan menantunya ikut nelongso hati ini.. saya menoleh ke arah teman saya.. kesedihan nampak di raut wajahnya.. dan saya tahu dia tengah menahan air mata sekuat tenaga agar tak mengalir di pipinya..
“Insyaa Allaah ibu nanti akan punya cucu.. hanya saja kan Allaah yg lebih tahu bu.. tiap orang kan ndak sama ya bu Allaah ngasihnya..” kata saya berusaha selembut mungkin..
“Tapi saya dulu cepet kok, nikah langsug hamil. Ndak pakai nunggu lama.” jawab ibu mertua teman saya..
“iya bu yg sabar.. insyaa Allaah teman saya ini akan memberikan cucu buat ibu.. kan teman saya ini orangnya juga baik bu..”
tanpa menjawab si ibu mertua langsung masuk ke ruang tengah dengan wajah jengkel..
~~~~~~~~~~
Harga Seorang Menantu..
dia rela meninggalkan kedua orangtuanya untuk berbakti sepenuhnya pada suaminya.. tak sama pula dengan pembantu.. karena dia melaksanakan tiap pekerjaannya dengan penuh ketulusan tanpa imbalan gaji.. rela bersakit sakit hamil dan melahirkan demi menyenangkan suami dan mertuanya..
Kelak bila Allaah ijinkan kita menjadi seorang mertua.. smg Allaah menjadikan kita mertua yg bijak..
Syukuri menantu kita, karena dia mau menemani anak kita dikala susah dan senang.. bahagiakan menantu kita karena dia rela menjaga dan merawat anak kita ketika sakit.. dukung menantu kita.. rumah tangga anak kita.. agar mereka tidak terlalu berduka ketika buah hati belum hadir menghiasi hari² mereka.. Dan jaga menantu serta anak kita.. agar tiang rumahtangga mereka senantiasa kokoh dan tidak mudah patah karena terjangan badai ujian..
Jangan biarkan syaithon merasuki jiwa jiwa kita sehingga kita sendirilah yg justru menjadi api perpecahan dalam rumah tangga anak² kita..
Baarakallaahufiikum
Catatan : Baik tidaknya menantu bukan diukur dari dia kaya atau miskin.. sarjana atau bukan.. sudah memberikan cucu atau belum.. namun dari kerelaan hatinya berbakti pada suami dan mertua.. serta tulus merawat mertua di usia senjanya… ^^
Penulis : Ummu Irhabiy**
Ada yang Perlu Dicintai Lebih Dulu, Dibandingkan Siapapun
Kepada : yang sudah berpamitan sejak lama
Kulihat kau hari ini dengannya Berjalan berdua Bergandengan tangan mesra Sambil tertawa
Jangan tanya bagaimana kabarku Apalagi rasaku Menemuimu saja, aku hampir lumpuh raga
Terpaksa… Aku terpaksa bertatap muka Tak bisa pergi menjauh Apalagi berpura-pura tak pakai mata
Ya, tentu saja aku tidak serta merta bahagia melihatmu bahagia Bersama seorang baru yang bukan aku Karena bila berkata ‘ya’ Aku akan jadi pendusta
Tapi mungkin lebih baik begini Tersiksa melihatmu bersama orang lain Mungkin lebih baik daripada mengetahui Kau tak pernah bahagia bersamaku
Karena ternyata, aku tidak cukup sempurna untuk sekadar kau cinta
Maka, mungkin lebih baik begini Tersiksa perlahan-lahan Sambil terus berusaha belajar
: Ada yang perlu kucintai lebih dulu dibandingkan siapapun.
Medan, 16 Februari 2016
- Tia Setiawati
indeed
Rezeki atau Ujian?
Terkadang kenikmatan akan datang secara bersamaan dan memaksa kita untuk memilih. Masing-masing memiliki kelebihan yang selama ini kita inginkan. dan sekalinya datang, keduanya memaksa kita untuk memilih salah satu. Lalu kemana kita harus melangkah? haruskah kita memilih pada yang hati kita lebih condong dan melepaskan pilihan satunya? yang mana kah yang datang sebagai rezeki dan yang manakah yang datang sebagai ujian? Belajar dari hal yang sudah terjadi, bagi saya selalu saja terjadi penyesalan ketika saya memutuskan suatu hal, menerima sesuatu, atau bahkan melepaskan sesuatu tanpa melibatkan Allah didalamnya. Entah merasa tidak nyaman, atau hal yang saya lepaskan ternyata lebih berharga daripada hal yang tetap saya genggam. Dan inilah hidup, kita akan selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Dan semua pilihan itu terlihat samar, mana yang rezeki mana yang ujian. Maka libatkan Allah didalam setiap keputusan yang kita buat, dan Allah akan menuntun jalan kita. Meski ketika ternyata jalan yang dituntun Allah membuat kita memilih hal yang kurang kita suka, di sana akan ada hal berharga yang membuat kita tidak menyesal telah memilihnya. 16 Januari 2016 -anis-
Toleransi?
Saya termasuk orang yang rewel tentang mengucapkan hari besar agama lain kepada pemeluknya. Saya termasuk orang yang setuju jika mengucapkan selamat kepada mereka dilarang dan dapat merusak aqidah apapun alasannya. Ini bukan berarti tidak toleran terhadap agama lain, bukan. Bukankah kita tidak mengucapkan juga sebenarnya tidak masalah dan tidak mengganggu apapun? Lalu kenapa kita harus ngoyo untuk mengucapkan selamat kepada mereka? Toh kita mengucapkan atau tidak juga sebenarnya tidak mempunyai dampak yang besar bagi perayaan mereka. Cukuplah toleransi kita jalankan dengan saling menghormati dan tidak saling menyakiti saja. Bukan dengan mengucapkan atau bahkan merayakan. Jangan sampai karena perasaan tidak enak kemudian kita menggadaikan dien kita, dengan menyerupai kaum mereka, na'udzubillah. Apakah tidak cukup kita melihat kaum muslim telah merayakan valentine, tahun baru, dan sekarang mereka ingin kita merayakan natal pula? Innalillahi, sungguh kaum terdahulu tidak akan pernah puas sampai mereka membuat kita mengikuti mereka. Wallahu musta'an...
Rasa-rasanya udah lama banget ngga ngobrol sama temen-temen. Qadarullah, kemarin ahad sempet ketemu salah satunya. Meski cuma singkat, tapi banyak sekali kebahagiaan, alhamdulillah. Setelah sekian lama cuma ketemu via socmed, akhirnya ketemu langsung itu bener-bener kesempatan berharga banget. Alhamdulillah syukur yang tidak terkira Allah mengirimkan sahabat-sahabat seperti mereka yang selalu menguatkan dan meringankan, maa sya Allah. Ketika jarak dan waktu membuat kami berjauhan, Allah tetap menautkan hati kami untuk saling berdekatan, menasihati, dan saling membagi kebahagiaan. Baarakallahu fiyk saudari-saudariku, ana uhibukkum fillah...
Saat ulat berfikir bahwa hidupnya akan segera berakhir, Allah mejadikannya seekor kupu-kupu.
Menjadi ikhlas itu tak pernah mudah pada awalnya, tapi menjadi ikhlas itu akan membahagiakan akhirnya. Karena apa yang akan terjadi di dunia ini pasti dengan izin Allah swt. Maka ketetapan apapun yang menimpa kita juga hanya karena kehendak Allah swt. Rencana yang tak terealisasi itu bukanlah suatu musibah atau hal yang harus disesali terus menerus. Bukan pula sesuatu yang lantas kita sebut dengan kegagalan. Kembali lagi, kita berhak merencanakan apapun, kita boleh meminta apapun dalam doa-doa kita, tapi Allah lah yang akan menentukan apa-apa yang akan terjadi kepada diri kita. Sekali, dua kali, tiga kali rencana dan do'a kita tidak terjadi sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tidak mengapa, karena Allah telah menyiapkan jalan yang lebih baik dengan cara lain. Tidak perlu kecewa, dan jangan berputus asa karena percaya atau tidak Allah telah menggantinya dengan hal lebih baik dan do'a-do'a yang telah kita langitkan akan menjadi pahala kita kelak di hari akhir. Wallahu musta'an,,
22 Desember 2015
Awalnya aku kira, setelah besar berteman dengan sesama perempuan akan lebih aman dan nyaman. Tapi ternyata, memang sejak dulu perempuan itu lebih complicated.
Gadis itu telah patah hatinya sejak awal. Karena saat dia tersadar, dia telah jatuh cinta pada angan-angan terlalu dalam.
Seorang wanita tidak akan merasa benar-benar tentram hatinya sebelum dia menikah.
anonim