Jarum jam yg bergerak pun tahu kalau masalah tetap menunggu untuk dan akan diselesaikan.
One Nice Bug Per Day
Show & Tell
TVSTRANGERTHINGS
d e v o n
Claire Keane
Alisa U Zemlji Chuda
taylor price

Kaledo Art

Andulka
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
occasionally subtle
DEAR READER

#extradirty

pixel skylines

tannertan36
No title available

Product Placement

shark vs the universe
Jules of Nature
h
seen from Finland
seen from China

seen from United Kingdom
seen from Australia

seen from United States
seen from United States
seen from Iraq
seen from Türkiye

seen from Portugal
seen from Ireland

seen from Canada
seen from Malaysia

seen from Italy

seen from Mexico
seen from Mexico
seen from Mexico
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@anitadhyana
Jarum jam yg bergerak pun tahu kalau masalah tetap menunggu untuk dan akan diselesaikan.
Jika belum selesai dgn masalahmu sendiri, jangan coba menarik orang lain untuk menciptakan masalah baru dalam hidupmu.
Sampai kapan pun, kita tak akan pernah melarikan diri dari ruang hampa. Kita tak pernah lepas dari tahanan rasa kesepian. Kita pula tak pernah mampu menolak kekosongan yang akan selalu datang.
Bila kamu menemui bahagia, peganglah erat. Terimalah. Nikmatilah. Jangan risaukan hal lain dulu lalu nikmati rasa bahagiamu itu. Bisa jadi, dia datang berbarengan dengan kehampaan itu. Boleh jadi, dia datang diikuti kesedihan, luka.
Bila mana kamu merasakan kesempurnaan yang kamu impikan itu, rawatlah. Kamu tidak tahu kekosongan sedang mengintaimu diam-diam.
Tak ada yang tahu, dan tak pula memberi tahu.
Mungkin esok. Mungkin seminggu kemudian. Mungkin hanya sepersekian detik.
Syukurilah setiap kebahagian itu. Jadilah kamu orang yang paling bersyukur atas moment itu.
Agar kamu tak terlalu terluka. Sedikit mengurangi rasa sesal. Meski kesunyian perlahan akan mendekat. Meski hampa mulai menyeruak. Meski sepi merayap menyelimuti jiwa.
Pada dasarnya manusia tak akan pernah terlepas dari itu.
Sebelum kamu menyesal. Ciptakan ruang bahagia itu sebanyak-banyaknya. Maka, saat kesunyian itu datang, kamu masih bisa tersenyum saat mengingatnya.
"Ah, aku bersyukur karena aku bisa menikmati waktu itu."
Tenang saja, semua orang melaluinya.
Datang, ciptakan bahagia. Pergi, meninggalkan kekosongan. Rasa kesepian dan kesendirian akan selalu memenuhi ruang. Bila kamu sadari, itu hanya akan bergulir dengan pola yang sama.
Mungkin seseorang meninggalkanmu saat ini. Tapi besok-besok seorang yang lain akan datang padamu lagi. Dan membuat warna yang baru lagi.
Tak apa dengan kesunyian.
Tak apa dengan rasa sepi.
Tak apa dengan kesendirian sesaat.
Sekarang kamu tahu polanya. Sudah waktunya kamu berdamai dengan semua itu. Bahwa sunyi itu menenangkan. Bahwa sepi itu tak masalah. Sendiri itu hal biasa. Semua manusia merasakannya. Dan semua manusia akan melaluinya. Pada hakekatnya memang manusia itu hanya seorang diri. Maka sekali lagi, belajarlah untuk berdamai dengan perasaan itu.
Aku tahu kamu ketakutan, sama.
Aku tahu over thinking-mu yang berlebihan itu. Tentang bagaimana dengan hari-hari esok yang akan dilalui nanti. Akankah aku harus berjalan seorang diri nantinya? Bagaimana kalau aku jatuh terluka, pada siapa aku akan menangis dan bercerita tentang lukaku? Bila aku mengalami hal buruk, bagaimana caraku menghadapinya jika tidak ada seorangpun di sisiku? Bagaimana jika...
Aku mengerti perasaanmu.
Percayalah, semua ini tak lain juga untuk mendewasakanmu.
Bila suatu hari kamu terluka, lelah, dan ingin menangis. Tak apa, lakukanlah. Jangan kau jadikan kehadiran orang lain sebagai alasanmu untuk bergantung. Kamu kuat dengan kakimu sendiri.
Memang akan sulit. Tapi ingatlah bahwa pikiran-pikiran burukmu itu yang terus merangkengmu untuk terus maju.
Maka, berlajarlah untuk menerima. Mulai berdamailah dengan keadaan. Terbukalah pada kondisi yang mengharuskanmu menjalani seorang diri. Nikmatilah segala yang ada di sekitarmu. Termasuk sepi.
Bahwa kamu akan bisa menjadi lebih baik karenanya.
Bahwa tak apa, "sendiri" adalah bagian dari dirimu juga.
Nitt,
Tahun sudah berganti lagi.
Tapi, ternyata, kamu masih tetap sama seperti dalam ingatanku yang telah coba aku kubur bertahun-tahun silam.
Lalu, aku, (ternyata perasaanku) juga masih sama saat pertama kali menyukaimu.
Apa kabarmu di Jum'at malam ini?
Capek? Kamu sudah bekerja keras selama seminggu ini, juga hari-hari dibelakang.
Terima kasih, kerja yang bagus:)
Aku harap besok bisa lebih santai. Kamu bisa menikmati waktumu lebih pelan.
Semoga kamu bisa menikmati akhir pekanmu dengan rasa syukur dan bahagia. Kamu bisa menghabiskan waktumu bersama orang-orang yang kamu sayang. Atau kamu memilih untuk menghabiskan waktumu untuk dirimu sendiri, mengisi ulang tenagamu yang sudah kamu paksa keluarkan semingguan penuh ini untuk kembali pulih. Semua kembali padamu.
Aku berharap kamu bahagia menjalani apapun di waktu akhir pekan ini. Lupakan susahmu, sedihmu, sakitmu. Saatnya kamu untuk pulih. Dunia mengijinkanmu untuk beristirahat, jangan kamu paksa.
Jika butuh teman, ceritalah, semesta sedang mendengarkan. Apa yang kamu lakukan tidak sia-sia. Semoga kamu selalu bisa melihat itu. Masa depanmu yang lebih baik.
Terima kasih sudah berjuang.
Nitt,
Ya, Allah, aku telah berniat untuk bisa berkunjung ke tanah Haram, beribadah di Masjid Nabawi, menyentuh Kiswah , mencium Hajar Aswad, bersujud di atas dinginnya lantai Masjidil Haram. Aku selalu menghadirkan diriku di sana bersebab rindu yang amat dalam. Dengan segala keterbatasan aku meminta pada-Mu wahai Yang Maha Tak Terbatas. Entah bagaimana caranya, bagaimana runutannya, aku kembalikan lagi pada Semesta, karena Engkau sebaik-baik perencana, Engkau sebaik-baik pemberi, Engkau sebaik-baik pengabul doa, Engkau sebaik-baik tempat aku meminta.
Rinduku tak pernah cukup untuk berbayar.
MATAHARI PERTAMA (#1, janji postingan kemarin)
Ada sebuah kota kecil yang berada tepat bagian pesisir laut. Di sana warganya amat ramai, mulai dari anak kecil, dewasa, hingga kakek atau nenek. Keseharian mereka kebanyakan adalah nelayan, pelaut, dan sebagian lagi merantau ke kota-kota yang lebih besar. Tak jarang juga, anak-anak remaja lebih terbiasa dengan gelombang ombak dibanding duduk tenang di dalam kelas. Sepanjang jalan diramaikan dengan ikan-ikan hasil tangkapan yang dikeringkan. Di depan rumah-rumah warganya juga tak luput dari keranjang anyam dan jaring-jaring ikan. Di sisi tiga puluh derajat dari timur, ada pasar rakyat yang menjadi tempat utama warga menjual hasil tangkapan. Sedangkan ke arah barat, tersedia dermaga untuk kapal-kapal besar bersandar beristirahat.
Di bagian selatan menjadi latar menyambut orang-orang yang datang dari pelabuhan. Gedung-gedung ruko berjejer berwarna seragam, krem dan coklat. Satu dua bercat putih bersih. Tentu saja itu tempat ibadah dan rumah orang berduit di tempat ini. Depan gedung dan ruko-ruko itu diberi jalan yang luas untuk kendaraan lalu lalang. Pada bagian bibir garis pantai diberi sedikit jarak untuk tempat beristirahat dan menikmati pemandangan lautan. Entah untuk apa mereka membuat bangku menghadap utara dengan pemandangan hamparan lautan. Tapi di sana selalu saja ramai warga datang untuk bermain dan bersantai. Mungkin karena ada taman hijau yang dibuat sejak lima tahun yang lalu. Sehingga tempat itu menjadi satu-satunya destinasi wisata bagi warga lokal. Tempat beristirahat sejenak bersama keluarga dari beratnya hari yang dijalani dengan ditemani langit yang merah jingga menuju gelap. Sekiranya itu yang dipikirkan Alya sebab dia ada di sana, di bangku itu, duduk sendirian menatap langit —yang menjadi tempat bermain para burung, melakukan hal yang sama seperti orang-orang lain lakukan. Menghabiskan hari yang berat di salah satu bangku pantai.
Ya, Alya selalu berpikiran seperti itu. Bahwa semua orang menjalani hari yang berat. Kemudian duduk di sana untuk menghabiskan hari —tertawa bersama orang-orang yang disayang, hingga beban berat di hari itu terlupa, lalu besok akan kembali seperti semula. Bedanya, Alya sendirian.
Langit semakin kelabu. Warna orens hanya tersisa di balik ruko-ruko di bagian barat. Orang-orang juga mulai meninggalkan taman dan bangku-bangku mulai kosong. Alya masih ditempatnya sampai tak ada lagi suara manusia yang dia dengar, melainkan deburan ombak menghantam batu karang.
"Sudah mulai gelap." Suara anak kecil membuat Alya melepas bayangan dari kepalanya. Alya tak merespon apa-apa. Dia kembali menatap lurus garis lautan yang mulai menyatu dengan langit.
"Tapi, mengapa bulan tidak muncul dari sana?" Tanya anak itu lagi seraya menunjuk bagian ujung laut.
Alya kini benar-benar teralihkan pikirannya.
"Bulannya sudah ada di atas sana." Kata Alya sambil mendongak dan menunjuk bulan yang berada di atas sebelah kanan dari kepalanya.
"Aku tahu. Aku bertanya, mengapa bulan tidak muncul dari sana?" Anak laki-laki itu mulai protes. Dikepalanya mengenakan topi kodok yang kebesaran.
Alya menarik napas sebelum menjawab. Sebenarnya dia tidak ingin bicara apalagi menjelaskan panjang lebar.
"Karena bulan sudah ada di sana, bahkan sebelum malam."
"Kalau dia sudah ada di sana, mengapa dia tidak terlihat saat siang?"
"Bulan mengambil dan mengumpulkan cahaya matahari saat siang untuk bisa bercahaya saat malam. Seperti orang-orang yang tidur di waktu malam, mereka mengumpulkan energinya supaya bisa bekerja di waktu siang."
"Ooo~ tapi mengapa tidak muncul dari sana seperti matahari? Apa dia berada di tempatnya selamanya?"
Alya berpikir keras. Bagaimana dia bisa menjelaskannya karena dia sendiri sudah putus sekolah.
"Bulan bergerak, tapi lebih lambat. Matahari tidak bergerak, tapi bumi yang kita tinggal yang sedang bergerak."
"Hah?" Tentu saja anak berusia 8 tahun tidak akan mengerti semudah itu.
"Intinya seperti itu." Ucap Alya kesal. Dia tidak tahu cara menjelaskan. Terlebih lagi, dirinya sedang larut dalam emosi sedih sebelum anak itu datang. Dan dia sedang malas berbicara.
Anak itu mangut-mangut. Tak tahu, paham atau tidak, Alya tidak peduli.
"Kalau bintang? Dia punya cahayanya sendiri?" Anak itu kembali bertanya. Suka sekali dia berbicara.
"Ya, seperti itu."
"Lalu... mengapa dia tidak—"
"Ssstt." Alya buru-buru menghentikan pertanyaan anak itu sebelum semakin panjang hal-hal yang harus dia jawab.
"Kalau kamu mau duduk di sini, lebih baik diam. Kalau tidak, kamu pulang saja, anak kecil!"
Hans terlihat kesal. "Aku cuma mau beli rotimu, tante." Ujar Hans.
"Eh, aku bukan tante-tante. Aku masih 18. Aku masih muda."
"Aku juga bukan anak kecil. Namaku Hans."
"Tapi kamu masih kecil."
"Kamu juga seperti kawan-kawan ibuku. Tante-tante."
Alya gemas. Ingin sekali dia menjitak kepala anak laki-laki itu.
"Ya sudah. Kamu mau beli roti yang mana? Cepat beli."
"Cokelat." Jawab Hans cepat. Dia menyerahkan dua lembar uangnya dan Alya yang memberikan dua bungkus roti cokelat dari dalam keranjang.
Setelah menerima roti itu, Hans tidak beranjak dari tempat duduknya. Dia malah membuka roti dan melahapnya di tempat.
"Mengapa masih di sini?" Tanya Alya yang bingung. Harapannya, anak itu segera pergi setelah membeli rotinya.
"Aku ingin makan roti di sini. Kamu bilang aku boleh duduk di sini selama aku diam. Nih, aku diam. Hanya makan roti saja." Hans menunjukkan roti yang sudah digigit sedikit, menjelaskan sambil kepenuhan roti dimulutnya.
"Lagi pula ini tempat umum." Lanjut Hans lagi. Hampir-hampir dia tersedak.
Alya tidak bisa membantah. Di sudah kalah total dari perdebatan dengan anak 8 tahun.
Beberapa waktu tak ada suara dari mereka. Hans sibuk mengunyah roti sambil menikmati pemandangan laut yang sudah gelap total. Alya kembali masuk dalam pikirannya.
Alya hidup sebatang kara. Dua tahun lalu ayahnya dinyatakan tenggelam bersama empat rekan nelayan saat pergi melaut. Kejadian itu berlangsung di malam hari sehingga banyak warga yang tidak tahu dan tidak bisa menolong. Baru keesokan harinya, terdengar kabar bahwa mereka semua hilang dan tak pernah pulang. Setahun kemudian, ditemukan satu jasad dari kelima nelayan yang hilang itu. Dan tentunya itu bukan sosok yang dirindu Alya. Sampai sekarang pun, Alya tidak pernah melihat ayahnya lagi. Mungkin dia lebih mencintai laut daripada dirinya.
Ibunya seorang pembuat roti. Sama seperti tantenya. Bedanya, tante menikah dengan orang yang cukup mampu sehingga bisa membangun toko rotinya sendiri. Sedangkan ibu, hanya memiliki lelaki tangguh penakluk lautan. Yang hanya hidup dari hasil tangkapan dan penjualan ikan. Katanya ibu sering membantu di toko roti milik kakaknya itu. Namun karena sakit sesak napas yang dia derita, ibu hanya bekerja sesuai kemampuannya saja. Itu yang diceritakan ayah padanya. Sebab Alya tak pernah sekalipun menyentuh langsung tubuh ibunya. Ibu meninggal saat melahirkan Alya.
Setelah kepergian ayah, Alya mencoba hidup tegar. Membayangkan ayahnya hanya pergi melaut sampai ke ibu kota. Ayah akan kembali pulang di suatu hari nanti. Saat itu ayah akan melihat Alya hidup dengan baik.
Alya kemudian mulai berhenti sekolah. Dia mulai menjual roti-roti dari toko tantenya, Tante Rumi, berkeliling di sekitar dermaga dan pasar. Itu menjadi bayaran atas makanan dan kehidupan yang dia dapat dari Tante Rumi. Dia bersyukur, bahkan di antara emosi dan pikirannya, Alya masih terus bersyukur.
"Apa kamu tidak pulang?" Alya menoleh pada Hans. Semua rotinya sudah lebur di dalam perut.
Hans menggeleng. "Sedikit lebih lama lagi." Katanya. Alya tak mengeluh. Asalkan mereka bisa menikmati suasana itu tanpa saling mengganggu, Alya tak masalah. Sepertinya anak ini jauh lebih dewasa dari usianya.
Di keesokan paginya, saat matahari baru memberikan sinyal kemunculannya, Alya sudah duduk di bangku pantai bersiap menunggu. Tak lama Hans juga datang dan duduk di sebelahnya. Begitu juga hari berikutnya, atau dua hari setelahnya. Mereka selalu bertemu tanpa janji untuk menikmati fajar dan senja yang mewarnai langit di lautan. Kadang mereka hanya duduk diam dengan segala pikiran dan drama di dalam pikiran mereka masing-masing. Atau kadang Hans mulai bertanya ini itu dan membuat Alya terganggu namun tetap menerima Hans duduk menemaninya.
Lambat laun, mereka saling tahu kondisi masing-masing. Hans mengetahui kehidupan seorang gadis belia yang selalu membawa keranjang roti. Lalu Alya yang kemudian tahu bahwa anak laki-laki disampingnya itu adalah seorang pasien penyakit terminal dan alasan dia selalu duduk di sana.
Tapi tak dipungkiri, mereka berdua hanya orang asing, seorang anak-anak, di kehidupan yang kejam. Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk saling membantu satu sama lain. Selain duduk berdampingan, menikmati keindahan langit fajar dan senja dengan cara mereka masing-masing.
MATAHARI PERTAMA (#2, tulisan pertama akan ku post besok, semoga)
"Tante, kehidupan orang dewasa itu seperti apa?" Tanya Hans masih memandangi garis laut yang mulai diselimuti cahaya orens.
Alya tak menengok ke sumber suara sebab dia tahu anak itu sudah duduk disampingnya sejak lima belas menit yang lalu.
Mata Alya mulai bergerak mencari jawaban. Sebenarnya dia juga tidak benar-benar tahu. Tapi gengsi jikalau dia tidak bisa menjawab.
"Mmm, tidak ada lagi permen, tidak ada lagi bermain, tidak boleh menangis, tidak boleh mengeluh, dan tidak bisa bahagia." Jawab Alya sepemikiran yang terlintas.
"Ugh. Membosankan."
Alya mengangguk setuju.
"Mengapa tidak boleh menangis? Apakah karena tidak boleh makan permen lagi?" Hans seolah mendapat pencerahan entah dari mana. Dia langsung menengok ke arah kanan tempat Alya duduk.
"Karena tidak ada permen, maka orang dewasa menangis. Kalau orang menangis, artinya dia tidak bahagia!" Hans berseru penuh semangat seakan-akan berhasih memecahkan kode rahasia.
"Sok tahu." Celetuk Alya. Hans manyun dan memperbaiki duduknya kembali menatap lautan yang berkilauan.
"Padahal, kalau mau menangis, ya, menangis saja. Kalau mau mengeluh, tidak apa-apa. Toh, kita juga bukan robot."
Alya tak menjawab. Dia mendengar dengan seksama sambil memikirkan perkataan anak usia 8 tahun itu.
"Apa tante kesepian? Mengapa tidak bermain lagi dengan teman-teman?" Hans kembali bertanya sambil memerhatikan wajah Alya, menunggu alasan apa yang sebenarnya terjadi.
"Semakin dewasa, orang-orang semakin egois. Anak-anak akan semakin fokus dengan dirinya sendiri. Fokus belajar, fokus bekerja, fokus mencari makan, fokus mencari kebahagiaan."
"Apakah orang tua mereka akan meninggalkan anak-anak yang sudah tumbuh dewasa?"
Alya memandang semakin jauh. Berusaha menatap semburat cahaya kuning di ujung lautan.
"Mm. Tidak semua orang tua akan mendampingi anak-anak mereka tumbuh dewasa."
"Mengapa?"
Mata Alya mulai berkaca-kaca. Sebab ingatan, juga cahaya yang menyilaukan.
"Mereka juga punya kehidupan. Ada yang lebih memilih untuk menjamin kecukupan keluarganya, ada juga yang berfokus pada anak-anak mereka yang lain yang lebih butuh perhatiannya. Ada pula yang dipaksa pergi oleh pencipta." Alya berusaha menelan ludah di akhir kalimatnya.
"Tidak adil." Ujar Hans. Alya tersenyum pahit. Memang begitu realitanya.
"Kalau Tuhan mau mengambil para orang tua, seharusnya Tuhan tidak memberi mereka anak."
Alya tak menanggapi. Ada jeda diantara mereka. Suara ombak terpecah menghantam bebatuan. Kilau cahaya menari-nari diatas ombak. Burung-burung mulai terlihat bermain di udara.
"Tapi sepertinya Tuhan cukup baik juga karena tidak membiarkanku dewasa." Lanjut Hans lirih.
Alya tahu maksudnya. Alya tahu apa yang disampaikan Hans. Hans mendongak ke kanan menatap Alya.
"Kalau Tante kesepian," Hans menunjuk arah semburat cahaya kuning itu.
"Lihat ke arah sana. Aku ada di sana. Nanti aku pasti akan menghibur Tante dan kita bisa bermain bersama." Hans mengucapkan itu dengan wajah merekah penuh semangat.
"Jangan konyol. Orang yang sudah mati akan naik ke atas menjadi bintang. Bukan matahari." Alya menimpali. Jujur saja dia kesal.
"Kan, matahari juga di langit. Sama saja." Balas Hans tak mau kalah.
Alya diam. "Terserah." Alya menyerah. Dia tak mau berdebat soal itu.
Beberapa menit kembali jeda, lalu Alya menyudahi kegiatannya ini. Diperbaikinya roti yang sempat berantakan dalam keranjang anyaman yang dia bawa. Hans juga ikut menyudahi kegiatan menikmati cahaya pagi itu. Dia berdiri dari bangkunya dan memerhatikan Alya sedang berbenah.
Hans merogoh kantong lalu menjulurkan barang yang dia ambil dari kantongnya kepada Alya.
"Ini."
"Apa?" Alya melihat tangan kecil itu menggenggam sesuatu yang menyembul dari tangan kecil Hans.
Hans tak menjawab sampai Alya menyodorkan tangan, menengadah tepat dibawah kepalan tangan Hans.
"Cokelat." Ucap Hans seraya membuka genggamannya. Tiga bungkus cokelat meluncur jatuh langsung ke telapak tangan Alya.
"Kalau kehidupan orang dewasa sedih, jangan lupa makan cokelat ini. Walau bukan permen, cokelat bisa bikin happy." Ujar Hans. Wajahnya tersenyum tulus. Alya bisa merasakan kehangatan anak laki-laki ini.
Alya perlahan mulai tersenyum, tipis.
"Sok tahu." Ujarnya.
"Benar, loh. Aku tahu! Aku membacanya di sebuah buku!"
"Kalau begitu, bawakan aku yang banyak mulai besok."
"Tidak mau. Aku juga mau happy."
"Sok pamer."
"Tante jualan roti, nanti uangnya beli cokelat sendiri saja. Haha."
"Eh, aku masih 18. Bukan tante-tante."
"Sama saja. Mamaku menikah di umur 18. Jadi tante, ya, tante-tante. Hahaha." Sambil tertawa Hans berlari meninggalkan Alya. Anak itu cuma tidak mau berdebat lebih panjang.
Alya menatap kembali cokelat ditangannya. Seandainya saja, cokelat bisa memberinya kebahagiaan seutuhnya. Itu lebih baik.
Aku membayangkan kamu saat ini duduk dihadapanku. Kacamata kotak dan frame hitam, baju kotak-kotak biru-putih-orange-merah-cokelat, rambut rapi, dan senyum tipis yang amat samar.
Kamu menatapku, tanpa bicara. Aku juga menatapmu. Tersenyum, sungguh, aku tersenyum tulus kepadamu. Tidak tahu apa kata yang harus kukeluarkan padamu. Dengan melihatmu, memandangimu, duduk satu meja berhadapan denganmu, kau pun yang juga menatapku. Aku sungguh bahagia. Sebab semua itu tak akan pernah terjadi di dunia nyata.
"Bagaimana keadaanmu? Kamu sudah menikah, ya? Kamu punya seseorang yang kamu cintai. Kamu sudah punya bayi lucu yang ingin kamu lindungi. Kamu punya kekuatan besar setiap hari dengan rasa bahagiamu.
Aku turut bahagia."
Aku membayangkan matamu yang tak lepas menatap mataku. Yang aku tahu, jika ini benar terjadi di dunia nyata, aku tidak akan sanggup. Melihat sosokmu dari jauh saja, hatiku seolah disengat aliran listrik. Jika tak sengaja berpas-pasan dengan matamu aku berpaling sebab bergejolak dadaku. Bagaimana aku mampu duduk dihadapanmu dengan tatapan matamu seperti ini?
Aku hanya membayangkan situasi ini. Aku tahu aku salah sebab masih memikirkanmu sedangkan kamu sudah dalam ikatan. Aku minta maaf.
Aku hanya ingin menyampaikan, bahwa aku iri.
Padamu yang sudah bahagia dengan keluarga kecilmu itu. Aku juga iri pada wanita yang setiap pagi bisa melihat wajahmu. Aku cemburu pada bayi-bayi mungilmu yang lahir dari cintamu.
Aku iri, tapi aku mengatakannya sambil tersenyum. Sungguh.
Tidak ada niatanku sedikit pun memikirkan keburukan tentangmu, cintamu, keluargamu. Aku iri sebab aku di sini masih dalam ruang dimensi tahun dimana aku mengagumimu. Ini bukan salahmu, ini salahku yang tak bisa memecah jendela dari ruang hatiku untuk beranjak keluar.
Jangan khawatir, aku sedang mencobanya.
Dengan membayangkan pertemuan denganmu ini, aku sedang berusaha untuk bisa membuka perlahan pintu maupun jendela di dalam hatiku. Lama, ya? Ehe. Setidaknya aku sedang bergerak. Tak peduli berapa lama. Aku akan bisa meninggalkan ruang ini.
Terima kasih sudah tak peduli padaku. Itu sangat membantu.
Kamu tidak harus melupakan segalanya. Tentang orang-orang yang menyakitimu, orang-orang yang mengambil keuntungan darimu, orang-orang yang mengabaikanmu, orang-orang yang tak peduli padamu, orang-orang yang meremehkanmu, orang-orang yang tak menghargai dirimu. Tidak semua bisa kamu terima, aku tahu. Memang jika dirasa lagi, itu menyakitkan. Bila diingatkan kembali, itu amat menyesakkan dada.
Saat kamu telah memberikan seluruh hatimu padanya, lalu mereka berpaling begitu saja. Ketika kamu menyampaikan segala perasaan yang begitu sulit kamu ungkapkan, mereka pura-pura tak mendengar sama sekali. Di waktu kamu menguatkan diri setelah berpikir terlalu lama atas ketakutan penolakan dari mereka, dan ternyata mereka mengabaikan usahamu begitu saja. Aku tahu, bagaimana rasanya.
Tidak apa-apa.
Aku bilang, tidak apa-apa.
Kamu sudah melakukan terbaikmu. Kamu sudah bertumbuh. Atas luka-luka yang telah mereka beri. Yang sudah kamu dapatkan.
Tidak seharusnya kamu menolak perasaan sakit itu. Tidak pula kamu harus membentengi dirimu dari rasa tidak nyaman itu. Tidak juga kamu membenci hal-hal berkaitan dengan kejadian itu lantas menutup dirimu dengan benteng yang kokoh. Tidak harusnya kamu melupakan segalanya. Tidak.
Sebab kamu harus mulai belajar melihat kembali halaman yang kelabu itu. Terhadap hal yang membuatmu begitu tersakiti hingga terasa sulit untuk bernapas. Titik terburuk saat mereka semua menyakitimu tanpa ampun. Sedikit demi sedikit. Perlahan demi perlahan. Kamu harus mulai melihat dari segala sisi kejadianmu. Menarik lebih jauh ke atas. Sebab semua hal yang terjadi bisa kita dapatkan pelajarannya hanya saat kita kembali melihat ke belakang dengan hati yang lebih tenang dan dengan cara yang lebih luas.
Lalu lihatlah kembali, bahwa rasa sakit itu sudah tidak terasa sesakit dulu. Saat kamu mengetahui bahwa mereka melakukan itu karena mereka harus melakukannya, tidak lain dan tidak bukan untuk diri kita sendiri. Karena, lihatlah dirimu sekarang.
Betapa hebatnya kamu yang telah bertahan sejauh ini. Setahun, lima tahun, sepuluh tahun, lima belas tahun, atau mungkin dua puluh lima tahun yang lalu. Kamu bertahan hingga detik ini, membaca tulisan ini.
Kamu mungkin tidak sadar sudah berapa ribu purnama yang sudah kamu lewati. Berapa putaran jarum jam yang berjalan kembali ke angka 12. Sudah lebih miliaran, triliunan bahkan kuadriliun helaan napas yang kamu lakukan setiap saat. Kamu masih ada di dunia ini. Lihatlah, kamu hebat.
Kamu melalui hari-harimu menjadi bulan, lalu berubah tahun. Meski sesekali ingatan tentang rasa sakit itu sering menyapa, lihatlah, kamu tetap bertahan hingga di titik ini.
Sudah waktunya kamu mulai merelakan rasa sakit dan perasaan tidak nyaman itu pergi dalam memorimu. Ingatlah bahwa semua itu yang menempamu menjadi seseorang yang saat ini berdiri di sini. Anggaplah semua orang yang melakukan hal buruk padamu waktu itu, mereka yang membantumu menjadi lebih kuat di waktu ini. Buatlah keyakinan bahwa kamu menjadi lebih baik, tegar, berani, siap, peduli, lebih menghargai sesuatu, lebih memerhatikan hal kecil, lebih taat pada Pencipta, lebih penyayang dan lebih-lebih lainnya. Yakinlah kamu sudah berbeda level dari dirimu yang dulu dan sekarang jauh diatasnya. Maka relakanlah semua yang sudah terjadi dihidupmu.
Kamu tidak harus melupakan segalanya, tapi kamu harus mengingat segalanya untuk membuatmu bersyukur karena telah menjadikan dirimu saat ini.
Terima kasih sudah bertahan,
Kamu hebat.
Nitt,
Aku harap, aku bisa terus konsisten melakukan hal-hal baik dan positif kedepannya.
Aku akan bertemu dengan diriku pada kondisi yang jauh lebih baik dari saat ini.
Aku juga ingin didengar.
Menunggu itu selalu berbatas.
Batas hingga yg ditunggu datang, atau batas hingga yg menunggu hilang.
Jangan mengira yg menunggu itu baik-baik saja. Dan jangan pula mengira yg menunggu akan selamanya di sana.
Bila yang ditunggu itu tak pula datang: belum, sedang dalam perjalanan, atau tdk sama sekali. Kamu perlu mengkonfirmasinya lagi.
Bila sesuatu yg ditunggu itu belum pasti adanya, maka selalu ada pilihan yg harus ditetapkan. Tetap menunggu ke dalam ketidakpastian itu, atau bergerak menuju sesuatu yg (mgkn) lebih pasti.
Ingatlah tentang aturan dasar pilihan keputusan. Akan selalu ada risiko dan tantangannya masing-masing. Maka jangan lupa, bersiaplah.
Jika memilih bergerak, meninggalkan yg ditunggu, mungkin yg ditunggu bisa saja datang. Tak apa, bukan salahmu. Terus bergerak, menuju tujuanmu. Kelak kalian bertemu di suatu persimpangan di depan sana: yg ditunggu dan yang menunggu. Dengan hal yg sama atau mungkin berbeda.
Bila tak ingin melewati semua masa itu, lalu jangan kau lakukan: membuat menunggu. Karena yg menunggu akan selalu berbatas. Karena yg menunggu tak akan selalu ada di sana. Karena yg menunggu selalu menjadi posisi yg paling disedihkan.
Tuhan, Engkau baik sekali.
Setelah semua ketidak patuhanku, tapi Engkau masih mengabulkan pintaku. Aku malu. Mohon ampuni aku.
Bila tidak bisa aku sampaikan, maka akan aku doakan.
"Aku mencintaimu, Allah mungkin menjadi satu-satunya yang tau hal itu."
Seperti yg aku bilang, mungkin aku akan menulis sedikit-sedikit di platform ini.
Katanya biar gak mati, seorang penulis harus terus menulis. Tapi aku gak tau harus menulis apa. Semoga aku gak terpengaruh dengan like dan popularitas. Juga tdk mengganggu teman² yg bertaut dgnku di sini karena isi tulisanku yang kosong. Gpp, banget kalo di unfoll, hehe.
Hujan kembali datang, malam ini. Kuharap semua baik-baik saja. Diantara orang-orang yang tertidur lelap dengan nyaman maupun mereka yang kebingungan mengadah air hujan.
Kuharap esok tak ada kabar buruk yang lewat sebab hujan yang murka.
Mereka sudah terlalu lelah karena hidup, mohon jangan tambahkan lelah lagi untuknya.
-Stay safe, ya, guys.