Aku tau dunia ini tempatnya lelah, tapi tenang kita punya Allah kan?
TVSTRANGERTHINGS
Mike Driver
$LAYYYTER
d e v o n

titsay
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Today's Document
YOU ARE THE REASON

Kiana Khansmith

#extradirty

Discoholic 🪩
I'd rather be in outer space 🛸

izzy's playlists!

tannertan36

❣ Chile in a Photography ❣
todays bird
No title available

Product Placement
Claire Keane
No title available
seen from Pakistan

seen from Germany
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States

seen from Spain
seen from United States

seen from United States

seen from Italy
seen from China

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from South Korea
seen from Germany
seen from Türkiye
seen from Ireland

seen from Germany
seen from United States
seen from United States
@anitamelia
Aku tau dunia ini tempatnya lelah, tapi tenang kita punya Allah kan?
Hidup ini hanya soal penerimaan. Apapun jalan hidup yang sedang dan harus kita jalani, entah itu jalan hidup yang kita inginkan ataupun tidak, jalani dengan tetap ikhtiar, tawakkal, redha dan sabar. Sisanya serahkan semuanya pada sang punya segala, toh kita menjalani ini semua cuma sampai kita mati.
26 Septemner 2024
Salah satu ujian perasaan adalah saat Allah menitipkan perasaan cinta luar biasa di hatimu pada seseorang yang sulit untuk kamu gapai. Takdirnya cuma sebatas mencintai tidak untuk memiliki.
Yang bisa kamu lakukan hanya menjaganya dalam doa, mencintainya dalam diam, merindukannya tanpa bertemu dan mengikhlaskan jika nanti pada akhirnya kamu melihat dia bersama perempuan luar biasa yang membersamainya
Selamat mengikhlaskan cinta
Aku mulai ngerti, kenapa Rasulullah nggak over-reacting saat orang-orang yang menyebabkan traumanya terus menerus melakukan hal-hal yang men-trigger "alarm" emosi itu. Jawabannya, kata Ust. Nouman Ali Khan, adalah tahajjud.
Ada banyak emosi yang terus menerus diarahkan kepada Rasulullah. Makian, kemarahan, perendahan harga diri, pembunuhan orang tersayang, tuduhan tidak benar, pemboikotan satu kaum, penganiayaan verbal dan fisik, serta perilaku biadab lainnya, nggak mungkin hal-hal kaya gitu nggak meninggalkan bekas trauma.
Aku, kalau jadi Rasulullah, kayanya nggak tahan untuk tetap diam. Kita sama-sama tahu, Rasulullah juga manusia, punya hati dan emosi untuk merasakan. Tapi kenapa, hal-hal traumatis itu nggak jadi penyakit hati? Nggak jadi bikin pengen balas dendam?
Rasulullah rutin me-release semua rasa sedih, rasa nggak terima, rasa pengen membalas, dan kemarahan itu dengan tahajjud. Beliau juga rutin membersihkan dirinya dari penyakit hati dengan istighfar. Beliau mampu menahan diri dari ledakan emosionalnya. "Alarmnya" nggak sesenggol bacok itu sebab ditahan oleh pemahaman yang baik tentang Allah dan manusia, dan hatinya tidak sempit karena ucapan-ucapan manusia.
"Tahajjud itu ibadahnya da'i dan orang-orang shalih."
Kenapa? Shalih artinya lurus, konsisten. Benar pikirannya, benar ucapannya, benar tindakannya. Ketiganya selaras dan sinkron, dan da'i memang seharusnya begitu. Mereka tidak akan mengucapkan apa yang tidak mereka perbuat.
Dan itu dimulai dengan tahajjud, yakni ibadah yang dilakukan di saat sendiri. Saat kita memang hanya ingin dilihat oleh Allah saja. Kalau udah jujur kepada Allah, artinya akan punya integritas untuk kemudian jujur dalam tindakan-tindakan yang akan dilihat manusia, sehingga meskipun tindakannya dilihat manusia, mereka tidak melakukannya untuk mengesankan manusia.
Maka diam itu benar-benar emas ketika hati ingin menjelaskan berlebihan hanya untuk membersihkan nama baik kita. Ketika kita mungkin ingin mengeluarkan muntahan emosional yang justru kadang malah merugikan martabat kita. Hanya orang-orang yang bertahajjud yang mampu tetap menahan diri dan memelihara kehormatannya saat satu dunia menyalahpahami dan mendzoliminya.
Diamlah, biarkan kekuasaan Allah yang bicara untuk meluruskan pemikiran dan ucapan orang lain yang bengkok. Diamlah, yang terpenting adalah kedudukanmu di hadapan Allah, bukan di hadapan manusia. Diamlah, manusia tidak menginginkan penjelasan darimu, tetapi Allah senantiasa menginginkan perbaikan darimu. Manusia mencemarkan nama baikmu sedangkan Allah selalu menjaga aib-aibmu.
— Giza, kali ini tolong lanjutkan perjalanan sambil hanya ingin dilihat Allah
Semua berawal dari ketidakpasarahan
Pernah engga sih merasa beban di pundak tuh berat banget? Merasa semuanya begitu menegangkan dan mengkhawatirkan.
Ketika sesuatu di masa depan terlihat tidak pasti. Sesuatu yang membuat duduk kita pun tidak nyaman, membuat tidur kita pun tidak pulas.
Sesuatu yang seringkali membuat kita membayangkan hal-hal buruk menunggu di depan sana.
Hingga pada akhirnya membuat hari-hari kita berjalan tidak menenangkan.
Kamu tau di mana sebenarnya akar dari masalahnya?
Yaitu, ketidakpasrahan mengembalikan. Merasa punya kendali dan ingin mengendalikan.
Padahal memang tidak apa jika semua tidak berjalan sesuai rencana.
Tidak apa jika kita berbeda nasib.
Tidak apa jika semua berjalan melambat dan tidak sesuai ingin.
Selama tidak berdiam dan mau mengusahakan. Kita juga perlu untuk bersikap pasrah dan mengembalikan.
Kita punya harapan, Allah punya kendali atas keridhoannya kepada hidup kita.
Menerima takdir Allah juga salah satu bentuk keimanan, jadi kenapa harus was was dengan takdir Allah?
Pikiran ini seringnya bising sekali. Terkadang bisa diajak kompromi terkadang merasa terkhianati pikiran sendiri.
Untuk semua ketakutan, kekhawatiran, keragu-raguan akan masa depan berusaha diatasi dengan keyakinan bahwa setiap detik yang berlalu dihidup ini adalah semata-mata kehendak dan takdir yang maha kuasa. Entah doa mana yang akan terwujud yang pasti semua doa yang terlontarkan akan dijawab entah itu langsung atau dengan tidak adanya jawaban nyata adalah jawaban.
Untuk setiap rasa bersalah dan ketakutan bahwa keputusan kemarin adalah benar atau salah, cukup percaya bahwa Allah sudah mengatur segalanya, termasuk mencondongkan hati kita pada pilihan yang sedang kita hadapi.
Aku cukupkan semuanya dengan doa, sabar, dan usaha.
22 April 2024
Terima kasih, semuanya. Akun ini saya cukupkan sampai di sini. Saya tidak berhenti menulis, memang, tapi akun ini saya cukupkan sampai di sini. Entah di depannya akan kembali atau tidak, sempat atau tidak, biar masa depan yang mengurus dirinya sendiri. Saat ini izinkan saya belajar untuk memaafkan diri sendiri.
Mungkin ini jalan yang panjang. Di depan pun saya tidak tahu akan bagaimana dan seperti apa.
Tapi saya yakin jalan maaf itu jalan terbaik di hidup ini.
Mari, saya duluan. Salam untuk semuanya, ya!
Yaa Rabb, Aku masih disini, masih mengulang-ulang doa yang sama.
Ada, seseorang yang tak terbiasa mengabarkan aktivitasnya sehari-hari walau hanya sebatas foto dalam story.
Ada, seseorang yang nampak tak pernah ada kabar, tetapi sebenarnya mengamati dari kejauhan.
Ada, seseorang yang jarang sekali hadir di sosial media, tetapi sebetulnya selalu ada di kehidupan nyata.
Ada, seseorang yang tak terbiasa mengumumkan pencapaian atau kabar bahagia dalam hidupnya kepada banyak orang. Bukan karena diam-diam sombong, melainkan karena lebih memilih untuk merayakannya bersama orang-orang pilihan. atau sekedar ingin menikmatinya sendirian (ataupun bersama Tuhan).
Ada, seseorang yang demikian. Ia merasa tak perlu memberitahu banyak orang, karena setiap hal berharga dalam hidupnya adalah momentum yang tak terlupa.
Ada, yang tidak mudah bercerita ke sembarang orang dengan dalih, 'ingin berbagi kebahagiaan' atau 'ingin menunjukkan betapa bersyukur atas nikmat Tuhan' , karena itupun tak menjamin bahwa orang tersebut akan langsung merasakan hal yang sama.
Karena baginya, bentuk syukur dan bahagia akan lebih terasa saat diantaranya benar-benar saling meneruskan kebahagiaan dengan bentuk kebaikan lainnya. apapun itu.
dan sambil menyakini bahwa,
Sebetulnya aku belum pantas mendapatkannya, tetapi Allah Maha Baik yang memberikan kenikmatan ini padaku. Semoga dengan kenikmatan ini juga menjadi jalan kebaikan untukku dan untuk orang lain.
Aku patah.
Angin Tak Lagi Menari
Oleh: @barakelana x @meremahrindu
Setelah beranjakmu, teduh katamu, renyah tawamu, juga rapal doa yang dahulu pernah kuaminkan itu masih lekat di benakku. Dalam keterdiaman, dalam hening yang tercipta beberapa detik setelah salam yang mungkin menjadi salam terakhir itu, kau pun berlalu.
Aku masih ingat betul, betapa saat itu aku yang bertahun-tahun tak pernah mengusap air di mataku pun harus mengambil beberapa lembar tisu tuk menyeka basah pipiku. Kue croissant keju dan jus alpukat yang tak kau habiskan itu menjadi saksi bisu tetesan gerimis yang luput dari usapanku.
Bukan luka yang kurasa. Bukan kecewa yang mendera. Namun pilu atas sebuah perpisahan itu yang memeras mata air hatiku. Hingga mengalir mengairi pelupuk mata.
Mafhumku, betapa ini juga berat bagimu. Tegarmu di hadapanku, adalah upayamu untuk tak menambah kepiluan. Kita laksana mata dengan penglihatan. Ibarat telinga dengan suara. Nyata hampa tanpa salah satunya.
Setelah kepergianmu di sendu petang itu, segala terasa mengharu biru. Tanpa jemu. Tanpa peduli akan jiwaku. Angin tak lagi bernyanyi, hingga daun-daun berhenti menari. Angin tak lagi menari, hingga ombak-ombak pun berhenti menepi.
Andai kau tahu, betapa kehilangannya diriku sendiri atas kepergianmu, mungkin kau tak akan secepat ini mendapatkan seseorang yang baru. Tapi, nyatanya kau tidak menahu atau mungkin tak mau tahu. Barangkali selama ini, aku mencintaimu terlalu rela, hingga tak sadar bahwa padaku kau tak merasakan hal yang sama.
Kini, tiada lagi yang perlu dirawat setelah kepatahan yang teramat. Kau yang telah menemukan dermaga tuk tambat, sedang aku yang diam-diam mengucapkan selamat. Doa-doa pun tersemat meski ada batin yang tersayat; semoga kebahagian senantiasa atasmu, di dunia pun di akhirat.
***
Benua Etam - Kota Sejuta Rindu, 10 Februari 2021
“Karena membahagiakan semua orang adalah mustahil. Maka logikanya, kita punya hak untuk memilih orang yang akan kita bahagiakan.”
—
Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya (QS. Yaseen: 40)
Ada yang tergesa-gesa dan memaksa agar doanya segera diijabah, entah takut karena kehilangan atau sebab lainnya. Ada juga yang berbaik sangka dengan apa yang baru saja ia lantunkan, sebab baginya bercerita pada pemilik hati manusia sudahlah cukup, ia tahu doanya pasti akan Allah dengar dan ijabah, ia hanya butuh tempat bercerita saja. Dan kini hatinya lapang.
Jangan sampai doa yang baru saja kamu langitkan itu rusak hanya karena ketidaksabaranmu, berpikir bahwa kamu sudah melaksanakan semua kewajiban dan kini hendak menagih hak ijabah doa, kamu lupa bahwa kewajibanmu itu adalah percaya dan menyerahkan semua urusan pada Allah, bukan memaksa dan mengancam atau malah berburuk sangka.
Ada yang setia dan percaya pada doanya untuk waktu yang bertahun-tahun, ia sabar dan akan selalu menunggu untuk apa yang sudah ia doakan. Tenangnya hati sebab pasti akan turun hujan setelah kemarau panjang penantian, lapangnya hati sebab pasti akan ada reda untuk derasnya hujan harapan.
Jika kini kamu masih menunggu, maka jadilah penunggu yang baik. Jika kini kamu sudah menerima apa yang kamu doakan, maka jadilah penerima yang baik dengan syukur dan senyum.
Semua ada masa dan waktunya masing-masing, selamat menghidupkan hidup :)
@jndmmsyhd
Coba jadi aku rasanya gimana. Dibikin sayang sama orang yang nantinya ninggalin pergi
Tidak ada yang bisa terhindar dari jatuh cinta. Termasuk orang-orang baik, cintanya unik. Sebelum sampai ke Bumi, perasaannya sudah sampai ke langit
Sebab mencintaimu hanyalah getaran cintanya pada Allah
Anonim-