“Ya Allah, jangan Engkau ambil nyawaku secara tiba-tiba, jangan pula Engkau panggil aku saat aku lalai. Anugerahkanlah kepadaku tenggang waktu agar aku sempat kembali kepadamu, bertobat dari dosa-dosaku, sebelum tibanya kematian”
— Doaku jumat sore
Not today Justin
Sweet Seals For You, Always
noise dept.
Claire Keane

roma★
Misplaced Lens Cap
hello vonnie
I'd rather be in outer space 🛸
$LAYYYTER

No title available
almost home
Keni

Love Begins
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

tannertan36
i don't do bad sauce passes
taylor price

Janaina Medeiros
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

No title available
seen from South Africa
seen from China

seen from United Kingdom

seen from South Africa

seen from United States

seen from India
seen from Belgium

seen from Singapore

seen from Sweden
seen from United States
seen from United States

seen from Indonesia
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Peru
seen from India
@annabani8
“Ya Allah, jangan Engkau ambil nyawaku secara tiba-tiba, jangan pula Engkau panggil aku saat aku lalai. Anugerahkanlah kepadaku tenggang waktu agar aku sempat kembali kepadamu, bertobat dari dosa-dosaku, sebelum tibanya kematian”
— Doaku jumat sore
Jangan berprasangka buruk dan jangan segan untuk meminta apapun kepada Allah :)
Nah iya, Jangan berprasangka buruknya itu loh yang sulit.
Ga kebayang pas nabi nuh dakwah ga prospek malah diejek, trus malah disuruh bikin perahu diatas gunung
Nabi Ibrahim baru punya anak langsung disuruh sembelih
Atau nabi zakariyya doa minta anak ampe tua renta ga dikabul2in tapi tetep bilang ga pernah kecewa dalam berdoa
Kadang, bukan berdoanya yang enggan. Tapi tetap berprasangka baik dalam penantian doanya itu loh yang susah
Kepedihan Pidato Pria Berkafiyeh Merah
Kepedihan ini bukan soal syahidnya Sang Juru Bicara. Bukan sama sekali. Kepedihan itu adalah diri kita yang mengaku sebagai satu kesatuan tubuh, namun belum bisa berbuat banyak atas penderitaan saudara kita.
Malahan mereka yang mengajarkan kepada kita tentang keteguhan menjaga tauhid dan izzah kaum muslimin.
***
"Wahai para pemimpin Arab dan negeri muslim, kalian akan jadi musuh kami di pengadilan akhirat nanti. Kalian akan berhadapan dengan para korban anak-anak dan orang tua yang tewas dan kelaparan nanti di pengadilan Allah"
Pria Berkafiyeh Merah ini begitu lantang mengutuk para pemimpin yang bermain belakang dengan entitas zionis. Di saat darah syuhada masih belum kering, dengan bangganya mereka berjabat tangan seolah tak terjadi apa-apa atas saudaranya. Pedih sekali.
Namun kau tahu apa yang lebih pedih dari itu?
Kita di sini hanya bisa mengutuk kaum munafik itu tanpa bisa berbuat banyak untuk membantu mereka.
***
Kepedihan lainnya, terkhusus bagi diri ini adalah hanya bisa memahami seruan beliau dari terjemahan saja. Aku menyimak pidato tanpa tahu apa maknanya lalu membaca terjemahan pidato dari situs-situ perlawanan karena tidak mampu berbahasa arab. Pedih sekali.
Aku rindu masa kecil itu saat menghafal kosa kata bahasa arab, mencoba merapikannya dalam ingatan agar lancar dalam ujian, dan sesekali melakukan percakapan dengan teman.
Bahasa Arab adalah mapel favorit yang memacu untuk memahami hal-hal baru, terlebih Islam pernah menguasain sepertiga dunia dengan Bahasa Arab.
Man Jadda Wa Jadda
Kalimat bahasa arab yang membuatku kagum dengan Pondok Negeri Lima Menara saat menonton filmnya semasa kecil. Bahasa Arab sekeren itu.
Bahasa Arab adalah Bahasa Al-Quran. Lancar berbahasa Arab seminimalnya mampu memahami Kalam Allah sebagai petunjuk hidup. Dan yang pasti, di dalam Al-Quran ada petunjuk tenrang pembebasan Masjidil Aqsha. Hal-hal penting yang baru kusadari belakangan.
***
Meski pedih, isi pidato Sang Pria Berkafiyeh Merah bukan untuk diratapi. Setial kalimat yang terlontar dari ucapanya bertujuan untuk membangunkan jiwa yang tertidur. Maka dari itu, kita tak boleh terlena kembali.
Intonasi, perpaduan kata, dan juga Kalimatullah telah menghentakan Musuh dan Kaum Munafik.
Sekali lagi, kesyahidan beliau bukan untuk diratapi, melainkan menjadi obor perjuangan yang terus dinyalakan agar umat meraih izzah dan kembali ke Al-Quds untuk membebaskan Masjidil Aqsha.
Selamat Istirahat Atas Kemenanganmu, Asy-Syahid Huzaifah Samir Al-Kahlout (Abu Ubaidah) 🔻
Surakarta, 30 Desember 2025
Tuhan tidak akan pernah salah memilihkan jalan hidup bagi setiap hamba-Nya. Meski terkadang kaki kita harus melewati kerikil tajam yang menyakitkan, percayalah bahwa setiap luka adalah cara semesta menyiapkan tempat bagi kebahagiaan yang lebih besar. Tidak ada air mata yang jatuh tanpa tujuan, dan tidak ada sesak yang dibiarkan tanpa penawar.
إِنْ تَصْدُقِ اللَّهَ يَصْدُقْكَ
“Jika engkau jujur kepada Allaah, niscaya Allaah akan jujur kepadamu.”
(HR. An-Nasai)
kamu mungkin bisa membohongi manusia bahkan membohongi dirimu sendiri. tapi kamu tidak bisa membohongi Allaah. Allaah akan sampaikan engkau pada apa yang ada dalam hatimu, apa yang kamu niatkan. sekalipun kamu berusaha menutupinya. tidak ada yang luput dari penglihatan Allaah, sayang. tidak ada. maka jangan pernah engkau melakukan demikian. sebab engkau akan kalah.
Berhentilah menjelaskan dirimu kepada mereka yang tak ingin mengerti. Ada hal-hal yang hanya dapat dipahami oleh jiwa yang lapangnya sebanding dengan luka-lukamu. Dan bukan kewajibanmu membuat semua orang mengerti mengapa kamu sebegitunya menjaga dirimu, mengapa kamu berhenti bertahan, atau mengapa kamu memilih pergi.
Ketahuilah… hati yang selalu menomorsatukan orang lain, sering kali tak dianggap sama pentingnya oleh mereka. Karena itu, jangan memikul dunia orang lain sementara duniamu sendiri hampir runtuh. Siapa yang melangkah satu langkah kepadamu, sambutlah dengan dua langkah. Tetapi siapa yang tak mampu menjaga tanganmu ketika engkau menyodorkannya dengan tulu, lepaskanlah. Terus menggenggam hanya akan membuatmu terluka lebih dalam.
Hargai mereka yang keberadaannya menenangkanmu tanpa meminta balas apa pun. Mereka yang meminjamkan bahunya tanpa membuatmu merasa berhutang. Mereka yang hadir bukan karena butuh sesuatu darimu, tapi karena mereka hanya ingin melihatmu baik-baik saja. Sosok seperti itu sedikit, langka seperti oase, dan mereka tidak muncul setiap hari.
Adapun selain mereka… biarkan saja menjauh. Jangan lagi menagih kesetiaan dari hati yang tak pernah berniat tinggal. Jangan meminta pengertian dari jiwa yang sibuk dengan dirinya sendiri. Ada orang-orang yang berat untuk dipertahankan, bukan karena mereka jahat, tapi karena mereka bukan bagian dari perjalanan yang ditakdirkan untukmu.
Sahabatku,
Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan pada mereka yang tak mampu menghargai kehadiranmu.
Terlalu berharga untuk diberikan kepada jiwa yang hanya mengisi ruang, tetapi tak pernah mengisi hati.
Jangan biarkan hidupmu terus bergantung pada cuaca hati manusia. Jangan memaksakan dirimu menjadi langit yang selalu cerah hanya agar orang lain merasa nyaman di bawahnya. Kamu bukan diciptakan untuk menjadi tembok kamar seseorang, setia, dan selalu menerima, sementara hatimu terus retak oleh pengabaian yang tak disadari.
Semoga Allah selalu menjaga hati dan diri kita semuanya, dari sahabatmu, Jundi Imam Syuhada.
@jndmmsyhd
Seni Hidup di Muka Bumi #21 : Pesan untuk Para Pemimpi
Dalam dinamika kehidupan yang begitu keras, seringkali mematahkan ekspektasi mereka para pengukir mimpi. Benturan realita yang silih berganti, nyatanya memang tidak semudah itu untuk dihadapi dengan modal keberanian seorang diri. Lebih kompleks dari itu, ia butuh semangat untuk terus melanjutkan hidup, yang terkadang rumusnya sukar untuk langsung dijumpai.
Mimpi untuk mendapati sesuatu, menjadi seseorang, atau sekadar merasakan kenikmatan yang bahkan itupun sesaat—ah, ternyata memang tidak semudah itu bukan, haha. Ya, memang demikianlah terkadang Dia menunjukkan betapa indah hikmah di balik penantian dan harapan. Dia juga sedang mengajarkan bahwa tanpa-Nya, kita ini tidak bisa apa-apa.
Lantas pertanyaannya,
Bolehkah kita untuk terus mengukir ekspektasi? Bolehkah untuk terus bermimpi?
Dengan tegas saya katakan, tentu saja. Bagaimanapun sakitnya dan kerasnya impian yang tidak berpihak, manusia harus terus memilikinya. Sebab dengan impianlah manusia bisa terus hidup, ia tahu untuk apa dia hidup, ia mampu mengukur seberapa jauh usaha dan capaian yang ia lalui. Lebih awal dari itu, ia tahu standar yang seperti apa yang layak ia perjuangkan dan berkorban untuknya.
Namun, keberanian dalam bermimpi tidak boleh jika tidak disertai dengan keberanian dalam bertanggung jawab dan kesiapan menerima segala realitas, sebab dua hal itu menjadi kunci dalam melanjutkan hidup andai kata mimpi itu tidak tercapai.
Sebab impian, betapaun indahnya di dalam angan, menuntut keringat, terkadang penolakan, revisi rencana, dan kadang-kadang perasan ingin menyerah yang datang tidak hanya sekali. Setelah semua upaya itu dikerahkan, bisa jadi hasilnya tetap tidak seperti yang diharapkan. Di sanalah kedewasaan dan keimanan kemudian diuji, berani mengupayakan sepenuh hati, namun juga berani menerima jika takdir mengarahkan kita pada jalan lain yang lebih baik.
Penerimaan bukanlah tanda kegagalan. Ia justru bentuk paling murni dari suatu keberanian. Sebab hanya hati yang kuat yang mampu berdiri lapang setelah berjuang keras, tetapi melangkah tanpa menyisakan pahit. Sembari tetap berharap tanpa menyengsarakan diri. Pada akhirnya, hidup tidak semata tentang tercapainya mimpi, tetapi tentang bagaimana prosesnya mengerjanya mengubah kita menjadi manusia yang lebih matang dan bijaksana dalam menghadapi apa pun yang ada di depan.
Surakarta, 11 Desember 2025
Seni Hidup di Muka Bumi #22: Dadi Wong Ojo Gumunan, Ojo Getunan, Ojo Kagetan, Ojo Aleman
Pada tiap peristiwa yang Allah hadirkan di sekitar kita itu, pasti mengandung hikmah yang tersirat bagi siapapun yang jujur dan menyadarinya. Pada kematian seseorang, kita diajarkan bahwa kehidupan di dunia ini sementara. Pada tiap kehilangan, kita diajarkan bahwa segalanya hanyalah titipan, dan lain sebagainya. Apapun itu pasti dihadirkan Allah bukan tanpa maksud di baliknya.
Dalam urusan amal, kita harus memiliki kesadaran bahwa tidak ada garansi dari kebaikan-kebaikan yang telah kita pelajari, upayakan, dan coba istiqomahi selama ini, menjadi gambaran tetap bagaimana dipertengahan dan akhir usia nanti. Itulah kenapa kita senantiasa diajarkan untuk minta hidayah sama Allah, agar apa yang telah kita yakini hari ini, Allah tetap teguhkan hati ini, yang mendorong seluruh anggota tubuh untuk berbuat kebaikan, bisa langgeng hingga akhir nanti.
Sebagai seorang beriman, ada satu filosofi jawa yang berbunyi "Ojo Gumunan, Ojo Getunan, Ojo Kagetan, Ojo Aleman" kurang lebih artinya “Jangan mudah terheran-heran, jangan mudah menyesal, jangan mudah terkejut, jangan manja.” Kenapa demikian? Karena sejarah sudah memberi contoh betapa banyak mereka yang diawal bertabur iman, akan tetapi meninggal dalam keadaan murtad. Na'udzubillah.
Selama manusia hidup, pasti akan Allah hadirkan ujian yang beragam, kadang ringan kadang berat, kadang sebentar kadang lama, dan sunnatullah-nya memang begitu, tidakk bisa dihindari. Alih-alih menghindarinya, yang bisa kita ikhtiarkan hanyalah dengan menguatkan iman kita, tancapkan betul kedalam hati. Sebab hanya dengan hal tersebutlah modal besar agar kita selamat dalam mengarungi kehidupan ini.
Jika hari ini kita sedih, takut dan menyesal atas ketidakistiqomahan kita hari ini, kesedihan itu hal yang wajar. Cuman jangan sampai berlarut, barangkali Allah hadirkan ujian itu sebagai ujian yang akan menjaga diri kita. Memang berat. Namun dengan begitulah kadang, manusia sadar bahwa dirinya bukan siapa-siapa di hadapan Rabb-nya.
Semoga Allah menjaga iman yang tertancap kuat di dalam dada kita.
Bait Rindu
Suatu malam, saya ke kamar Umi dan bercerita tentang apa yang saya alami seharian itu, alih-alih ingin berbagi cerita inspiratif, justru sebaliknya. Umi berceita pasal Abi, beliau memulai ceritanya, "Abi barusan habis nelpon dan bercerita banyak hal." Umi berceita dari A sampai Z, dari obrolan yang panjang itu, ada satu poin yang saya suka, dan buat saya semangat kembali.
Saat ini Abi sedang berada di luar kota. Tempat baru, dengan kondisi dan lingkungan yang baru, lengkap beserta tabiat-tabiat baru yang (mungkin) belum pernah Abi jumpai sebelumnya semasa hidupnya. Di mata masyarakat, Abi dikenal sebagai seorang pedakwah, orang-orang biasa memanggilnya Ustadz.
Sudah hampir dua bulan ia menjalankan "tugas" di sana. Biasanya ketika Ramadhan seperti ini, Abi hampir jarang di rumah, oh tidak bahkan hampir tiap hari seperti itu, tapi kalau Ramadhan memang lebih padat. Sekedar berbuka bersama keluargapun jarang, waktunya padat untuk berdakwah dari rumah ke rumah, masjid ke masjid, tidak jarang juga di luar kota. Mungkin jika dirata-rata waktu Abi dirumah, hanya berkisar 3-4 jam, tengah malam hingga sahur.
Sosoknya yang gigih seperti itu kadang bikin saya terheran-heran, "Kenapa ada orang yang mau dan bisa seperti itu?". Ada perasaan kesal mungkin, kenapa untuk keluarga tidak pernah ada waktu. Namun walau demikian, sosoknya yang demikian itu tetap saja saya rindu. Kerinduan itu yang mungkin juga dirasakan masyarakat masjid dekat rumah kami.
Beberapa waktu yang lalu, ada 2-3 ibu-ibu yang datang ke rumah kami. Sudah pasti, kehadiran mereka menanyakan keberadaan Abi yang sudah 1-2 bulan absen mengisi kajian pekanan disana. Karena ingin tahu apa yang dibicarakan, maka dari balik ruang tamu saya nguping. Satu kalimat yang masih saya ingat betul adalah, "Kami mewakili jamaah dari masjid ****, mengucapkan banyak sekali terima kasih kepada ustadz Aziz yang senantiasa membimbing kami, untuk berislam dengan baik dan benar selama ini." Hal yang sama dilakukan oleh tamu-tamu dan jamaah yang berkunjung ke rumah kami sebelumnya. Tujuan mereka bertamu adalah menanyakan keberadaan Abi.
Dalam hati saya bertanya, "Kenapa Abi bisa dicintai banyak orang?" pertanyaan itu saya jawab dengan asumsi, "Ah paling karena udah kenal lama, makannya orang pada cinta." Seakan tidak puas dengan jawaban itu, di malam itu juga asumsi saya terbantahkan oleh apa yang diceritakan Umi.
Umi berceita, Abi disana, ditempatnya bertugas sama halnya ketika masih disini. Abi masih melakukan hal yang sama (berdakwah), dan diperlakukan yang sama dengan orang-orang disekitarnya.
Lantas saya bertanya kembali, "Abi kenapa bisa seperti itu Mi?"
"Itulah ketika kita jadi orang baik, mau dimanapun dan dalam keaadan apapun, Allah pasti akan kumpulkan juga dengan orang baik." jawabnya dan saya mengangguk.
"Dan itulah juga kerennya Abi, beliau bawa dirinya (merujuk kepada sikap, akhlak, tutur kata apapun itu yang menjadi tabiat diri kita), bukan sekedar apa yang hanya tampak mata (kehormatan, pangkat dan kemewahan), begitulah alasan orang mencintai Abi." pungkasnya. Saya menangis.
Kepadanya yang selalu gigih dan berjuang disepanjang waktu. Kutitipkan do'a, semoga Allah senantiasa meridhoimu.
Tulisan lama di draft. Ingin berbagi. Semoga menjadi penyemangat yang hari ini berjuang dalam apapun. Khususnya buat saya.
Are we on the same side?
Tell the truth and say it louder that this genocide must be stopped!
Netesin air mata waktu curhat ngejelasin sesuatu sama Allah is another level of sadness
Lega, meski mata sembab udahannya
He Knows, He Understans, He Provides, He Heals🤍
Tidak semua kebaikan kita itu harus berbalas kebaikan pula, justru terkadang kebaikan kita bisa berbalas keburukan. Barangkali Tuhan tahu bahwa kebaikan yang kita lakukan itu bukan karena-Nya, tapi karena manusia.
Sebegitu mudah bagi Tuhan meremukkan harapan dan menyakiti hati yang tidak bertumpu pada-Nya. Lakukan saja kebaikan itu karena-Nya, nanti Dia yang akan mengurus soal hati dan balasan dari manusia.
@jndmmsyhd
***
👤 Dr. Syafiq Riza Basalamah
Berbakti kepada ibu dan bapak bukanlah seperti tugas piket yang dibagi jadwalnya antar saudaramu… Tapi itu adalah perlombaan apakah engkau berhak untuk mendapatkan salah satu pintu surga ataukah tidak… Sebelum pintu itu ditutup, berbaktilah…
رب اغفرلنا ولوالدينا وارحمهما كما ربيانا صغارا
Ya Rabb, ampunilah kami dan kedua orang tua kami. Dan sayangilah mereka sebagaimana mereka merawat kami ketika kami kecil
Mengasing
Hal terindah dan terbaik bagi hati yang sedang rapuh adalah husnudzon, prasangka baik. Jika dapat maka alhamdulillah, jika tidak pun juga alhamdulillah. Jika dapat maka itu yang terbaik, jika tidak pun maka itu bukan yang terbaik untukmu.
Untuk apapun yang saat ini sedang kamu usahakan dan coba untuk dapatkan, jika kamu tidak mendapatkannya, bukan berarti kamu gagal.
Sebab dalam usahamu itu hanya ada dua kemungkinan, kamu menang atau kamu mendapat sebuah pelajaran.
Melatih hati.
@jndmmsyhd
Kisah yang sudah selesai dan buku yang sudah kita tutup, tidak perlu kita buka dan baca kembali setiap halamannya. Cukup buka pada bab yang diperlukan untuk mengambil pelajaran dan pengingat, lalu tutup kembali. Benar, kisah dan buku itu adalah masa lalu kita.
Tidak semua orang ingin mengingat secara detil pada apa yang terjadi di masa lalu, beberapa justru ada yang ingin menguburnya seakan hal itu tidak pernah terjadi.
Tapi begitulah hidup, terkadang kita perlu membuka lembaran-lembaran lama untuk sekadar mengambil hikmah dan petikan nasihat dari guru terbaik, yaitu pengalaman.
Agat langkah kita tidak lagi salah, agar pilihan kita lebih baik lagi pertimbangannya, agar luka yang dulu tidak lagi kita rasakan. Bukankah tidak ada yang ingin mengalami jatuh 2 kali pada lubang dan tempat yang sama?
Setiap kita memiliki masa lalunya, punya hal-hal yang malu untuk diingat, tapi percayalah, bahwa ada beberapa kisah masa lalu yang layak untuk kita jadikan reminder hari ini. Ia layaknya alarm yang siap berdering saat tiba masanya.
Sebab dalam rangkaian perjalanan hidup ini kita akan dipertemukan dengan banyak hal, dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya.
Siapkan hati yang lapang, sabar yang luas, dan hadirkan pula niat yang baik agar setiap langkah kita ada petunjuk dari Allah.
Selamat menelusuri rangkaian takdir di dunia.
@jndmmsyhd
Ada banyak hal yang ga harus kamu Up ke sosial media, Orang-orang ga semua harus tau apa yang kamu lakukan, apa yang kamu rencanakan, siapa pasangan kamu, atau bahkan gimana kehidupan keluarga kamu sehari-hari.
Menjalani hidup tampa orang lain tau itu menyenangkan dan bikin kamu nyaman, banyak sekali orang-orang palsu yang berpura-pura simpati padahal aslinya mereka hanya sekedar mau tau saja.
Dan perihal Menyembunyikan Segala Rencana kamu lebih aman nya memang hanya beberapa orang saja yang tau.
@ceritajihan