Setiap orang pasti punya sebuah luka, tapi luka yang disembunyikan itu selalu menyakitkan. Ada yang menumpuknya dengan topeng penuh tawa riang, ada yang menggantinya dengan senyum cerah, ada juga yang hanya sanggup diam dalam menyimpannya. Ia tersembunyi, tak tersampaikan, bahkan tak pernah terucap meski pada diri sendiri.
Tak terucapkan, bukan berarti tidak ingin. Melainkan tidak mampu. Tidak mampu untuk siap dengan segala ucapan yang dilemparkan, tidak mampu untuk semakin cemas akan segala dugaan orang sekitar, serta tidak mampu untuk menahan sendiri segala balasan yang kita tidak siap untuk mendengarnya.
Tak terucapkan, hanya mengambang di udara lembut musim hujan, lalu membawa kita pada kesimpulan yang tak terelakkan. Bahwa semakin sering luka digenggam sendiri hanya semakin menjauhkan kita dari sebuah kebahagiaan.
Kita menjadi susah tidur, bahkan ketulusan air mata sebelum tidur mengalahkan ketulusan bagaimana kita tersenyum di siang hari. Perasaan menjadi tidak stabil, kita tidak pernah tahu sebab tidak pernah ada yang memberi tahu atau sekedar mengatakan bahwa kita hanya sedang baik-baik saja.
Barangkali, kita memang hanya butuh satu orang saja untuk menghamburkan sedikit dari sekian beban. Semua orang pernah merasakan saat ia harus melawan dinding yang kuat. Tapi selama kehidupan ini menjadi keras, jiwa dalam diri kita sedang membangun sesuatu yang bisa menghancurkan dinding itu.
Mungkin, penderitaan itu sesuatu yang bisa saja berharga. Kita boleh jadi menderita suatu hari dengan hidup yang kita jalani.
Ujungnya, kadang berupa sebuah tangisan. Dan jika itu terjadi, maka biarkan tangis itu tumpah. Jika itu tak bisa berhenti juga, maka biarkanlah orang lain mengusapnya untukmu.
Boleh jadi semakin sering luka itu digenggam sendiri maka semakin menjauhkan kita dari sebuah kebahagiaan. Maka, jangan disembunyikan.
Yang tersembunyi itu, sampaikanlah pada orang yang tepat, dan biarkan ia menyeka pipimu untuk yang pertama kali.
Depok, 24 Maret 2019 | Seto Wibowo