Semakin larut ku telusuri lagi, aku sadar bahwa aku sebagai diriku telah luntur. Berganti aku yang mengeluh akan hidup, menuntut rentetan pengakuan, mengemis pada realitas. Aku palsu. Tak lagi hidup sebagai aku si peracik puisi yang cantik, tak lagi menulis novel yang manis, yang kini ku tulis berganti uang, tuntutan, kenyataan. Dan kini jemari ku kesepian.










