Moro lek enek butuh e tok
kalimat yang biasanya kuucapkan ketika merasa telah dihempaskan oleh teman lalu dia mendatangiku ketika ada perlu sesuatu kepadaku. Dulu aku sering mengeluh dan berpikir bahwa semua orang bersikap seperti itu kepadaku. Mereka ngomongin kejelekanku ketika aku tidak bersama mereka, dan seolah baik baik saja kepadaku padahal mereka tidak menyukaiku. Secara tidak sengaja sih, aku tau mereka melakukan hal itu, meskipun tidak semuanya seperti itu.
setelah mengetahui hal itu, aku merenung. Sedih pastinya, kemudian aku takut untuk berteman dengan siapapun, kenapa mereka begitu kepadaku. apa salahku. sampai ada akhirnya, kudapati beberapa hal yang harus ku perbaiki.
aku adalah tipe orang yang kalau gak suka, langsung aku bilang kalau aku gak suka dan ku tunjukkan kalau aku tidak menyukainya. tentu saja hal ini membuat hati orang lain tersinggung, karena caraku yang salah dalam menyampaikannya. Meskipun maksudku adalah, aku tidak mau membicarakan dibelakang orang itu bahwa aku tidak menyukainya. faktanya, aku masih saja menghibah tentang orang yang aku benci dan setiap hari aku semakin membencinya.
lalu aku merenung lagi, kenapa aku harus membenci mereka. lalu apa bedanya aku dan mereka. semakin aku membenci orang lain aku semakin tersakiti. semakin sedih, bahkan sering tertawa dalam kepalsuan. yang artinya, “aku tatak, nanging njero atiku kratak - kratak”.
Aku pernah memutuskan untuk tinggal sendirian tanpa ada satu otangpun yang berteman denganku, dan aku sudah muak dengan manusia. lagi - lagi hati kecilku menolak, ah, aku ini kan juga manusia kenapa harus seperti itu. Kemudian, aku mengikuti kajian di masjid kampus, menenangkan diri, mencurahkan semuanya kepada Allah dan itu adalah jalan satu - satunya yang membuatku menjadi lega.
Apa iya, hanya karena diomongin dibelakang segitu frustasinya aku, apa selama ini aku sudah lebih baik dari yang ngomongin aku, kenapa mereka tidak berbicara kepadaku tentang apa yang tidak mereka sukai dari secara langsung.
Aku ingat disuatu pengajian tentang suatu hadits yang diriwayatkan oleh HR. Ath Thabarani. “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”.
Dari hadits itu aku mulai belajar, dan menguatkan diri. ketika aku didatangi oleh seorang temanku ketika ia membutuhkan aku, berarti aku adalah manusia yang bermanfaat bagi dia. dan ketika aku tidak bermanfaat lagi bagi dia, maka aku akan dia tinggalkan. dan itu sudah menjadi hukum alam.
Memang sulit awalnya, harus merasa legowo atas hal itu dan yang namanya sahabat terbaik itu sebenarnya tidak ada. karena semua sahabat atau temanku adalah terbaik. selalau baik karena mereka juga pernah berbuat baik kepadaku.
Dari situ aku belajar, aku harus memperbaiki diri, aku harus menjadi lebih baik dari disiku sebelumnya. Jika aku ingin bersaing, bukanlah bersaing dengan orang disekitarku atau bersaing si A, si B, si C. Ingin menjadi seperti si A, si B, si C. tetapi aku harus bersaing dengan diriku sendiri, bersaing untuk menjadi lebih baik dari diriku dihari kemarin. Karena orang lain yang kupandang baik, belum tentu dia itu lebih baik dari pandanganku dan orang yang kupandang buruk belum tentu orang itu seburuk pandanganku.
Belajar ngaji lagi, karena itu sangat penting, aku sangat berharap jika ada temanku yang tidak menyukaiku dia bilang tentang kekuranganku, tetapi aku tidak boleh berharap, jangan berharap kepada manusia.