"Terbentur, terbentur, terbentur.... Lalu hancur"
– Bukan Tan Malaka
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Claire Keane

#extradirty

Andulka

Origami Around
Misplaced Lens Cap
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

tannertan36

Kaledo Art

blake kathryn

PR's Tumblrdome
sheepfilms

⁂
d e v o n

No title available
almost home

Kiana Khansmith

titsay

★
todays bird
seen from United States
seen from Romania
seen from United States

seen from Netherlands
seen from Germany
seen from France

seen from Finland

seen from United States

seen from Algeria
seen from Romania

seen from Australia
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Netherlands

seen from India

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from Romania

seen from Malaysia
@aripsurip
"Terbentur, terbentur, terbentur.... Lalu hancur"
– Bukan Tan Malaka
Ada cara sederhana agar tahu bagaimana perasaan lawan jenis pada kalian. Berikan saja barang yang paling istimewa.
Kalau masih disebut dengan bro, sist, adik, sahabat, ya sebatas itulah hubungannya. Jangan berharap lebih.
Jalan Ninja Wisuda
"Kadang kita terlupa, segala hal yang menjadi keberhasilan industri dalam memantik pembangunan infrastruktur, bila tak diimbangi oleh pembangunan elemen organik akan menciptakan masyarakat yang terjebak pada pola-pola mekanis."
Umumnya wisuda dipandang sebagai lembaran baru, awal bagi anak muda ingusan dalam menghadapi kehidupan nyata yang konon begitu keras. Pintu awal bagi status baru yang populer disebut dengan pengangguran. Bukan istilah yang disukai, tapi bagi para fresh graduate yang tak kenal Pak Agus, Bu Siska, dan bapak atau ibu lain penyedia layanan jalur belakang status ini adalah niscaya.
Tak ayal, perebutan status pekerja menjadi begitu sengit bilamana melihat tak semuanya punya akses itu. Seleksi alam terjadi, yang kompeten tersangkut dan sisanya tercerabut. Wajar saja, perusahaan menginginkan jangka hidup yang panjang, kalau perlu hingga tujuh turunan. Sustainable, bukan sesuatu yang bisa ditawar. Dan sumber daya manusia berkualitaslah yang menjadi tambatan hidup.
Untung saja pendidikan masih mampu menjadi garda terdepan dalam usaha penyediaan stok sekrup-sekrup industri berkualitas. Begitu menjamurnya institusi pendidikan memberi masa depan bagi ekosistem industri. Dari swasta murni hingga swasta berkedok plat merah kompak bahu membahu mencetak semacam survival kit bernama ijazah, sembari mencetak kesadaran bahwa semua ada ongkosnya.
Segala kelamaan studi dan kemahalan itu diatasnamakan sebagai garansi untuk masa depan yang lebih cerah nan menggugah. Bila tak seinspirasional itu, bisa membuat tetangga kanan kiri iri saja sudah cukup.
Persoalannya, ada saja hasil produksi studi yang gagal paham atas briefing dari bisnis pendidikan. Disorientasi para alumnus yang menimbulkan kebingungan, tenaga yang tak segera diserap oleh lapangan pekerjaan, buta akan demografi industri yang menyebabkan mereka tak bisa bertahan, survive, dari berbagai tuntutan. Mungkin terasa sebagai kesalahan personal yang dibangun selama masa studi karena mencandu candaan. Tapi bagaimana kalau institusi pendidikan kita juga sebercanda itu.
Maka refleksi atas momen wisuda merupakan sedekah intelektual atas segala hal yang terjadi pada pribadi dan diri institusi pendidikan. Bukan sekedar awal baru, apalagi bila hanya dimaknai sebagai penanda bergantinya fase baru yang dibuka dengan pidato berapi-api soal peran pemuda yang kadang hanya jadi basa-basi belaka, namun apakah kita bersama dengan perangkat-perangkat pendidikan secara riil mampu menjadi agen penyebar kecerdasan sekaligus kegembiraan. Kadang kita terlupa, segala hal yang menjadi keberhasilan industri dalam memantik pembangunan infrastruktur, bila tak diimbangi oleh pembangunan elemen organik akan menciptakan masyarakat yang terjebak pada pola-pola mekanis. Pola mekanis akan melahirkan rutinitas. Rutinitas akan menghasilkan kebosanan.
Dan masyarakat yang bosan adalah masyarakat yang berbahaya, tak ada inisiatif yang akan lahir selain dari perasaan yang gembira.
Memperjuangkan kegembiraan bukanlah kesia-siaan. Institusi pendidikan sebagai peletak pondasi intelektual idealnya mampu menangkap daya selamatnya yang dahsyat. Sehingga hakikat pendidikan sebagai penolong yang murah hati dan menjadi katalisator perubahan bagi masyarakat untuk kembali bergerak dan menggerakkan kebaikan. Atas nama kegembiraan.
"Kucing jantan, ketika tahu sang betina bunting sedang bukan ia yang menyetubuhi, apakah sang janin akan begitu saja diaborsi agar tampak hanya dirinya satu-satunya yang mencintai sang betina?"
Surip, pengamat kucing
Menggugat Film Porno
"Ada saja memang cara setan menggoda anak Adam. Godaannya selalu enak, bagaimana mau ditolak. Terlebih yang berusaha untuk ditolak merupakan kebutuhan paling dasar."
Kekalahan umat manusia atas teknologi. Ramalan yang kiranya seperti angin, kalau tak ingin dibilang seperti kentut, tak terlihat namun terasa. Hembusannya memang makin terasa sekitar satu dekade ini, dan makin subur saja. Bagaimana tidak, potensi teknologi melalui algoritmanya yang tidak hanya berusaha untuk meniru tetapi juga berusaha menjadi manusia itu sendiri menjelma menjadi mimpi buruk. Mimpi buruk yang akhirnya menjadi jualan juga dalam film science-fiction. Hilangnya peluang kerja, hidup dilenakan oleh mesin, manusia menjadi obesitas, genosida manusia dan mesin menguasai dunia. Spekulasi para ahli memang menuju kesana. Tapi dalam film kejadian buruk itu selalu digambarkan dengan begitu megah. Dan umat manusia batal menggigil ketakutan.
Toh kekalahan ini belum terbukti juga, nyatanya nanoteknologi, tangan bionik, penemuan bibit tahan penyakit tidak pernah menjadi ancaman bagi manusia. Terkontrol. Bahkan bisa dibilang sesuai dengan apa yang telah berusaha dicapai pada awalnya.
Ini merupakan hal yang besar, karena peradaban manusia pun belum pernah merasakan lompatan peradaban seheboh sekarang, yang dalam kurun waktu 400 tahun saja semua berubah begitu cepatnya.
Ketika kita memimpikan teknologi teleportasi, bisa saja dalam 50 tahun mimpi tersebut akan terwujud. Sebuah nikmat yang bahkan sulit dibayangkan para leluhur, yang mana harapan untuk menempuh perjalanan antara Kairo menuju Alexandria dalam waktu sekian jam hanyalah angan kosong. Hal menyedihkannya, angan tersebut baru dikabulkan oleh anak cucu mereka tiga millenium kemudian.
Lebih menyedihkan lagi bila kita menyadari bahwa dalam peradaban akan selalu ada penyelewengan. Teknologi sebagai piranti yang suci nyatanya dengan terpaksa harus menanggung dosa anak manusia. Peristiwa yang dimulai sejak rilisnya Le Coucher de la Mariée, tahun 1896, mengawali perubahan aktifitas hormonal yang tadinya merupakan konsumsi pribadi menjadi konsumsi publik. Diakui atau tidak, tayangan berkonten erotis itu berevolusi menjadi tayangan yang lebih vulgar. Ada saja memang cara setan menggoda anak Adam. Godaannya selalu enak, bagaimana mau ditolak. Terlebih yang berusaha untuk ditolak merupakan kebutuhan paling dasar. Sigmund Freud saja mengamininya.
Sang bapak psikoanalisis pun berfatwa bahwa bila dorongan purba itu ditahan, maka secara naluriah tubuh akan mencari berbagai objek demi pemuasan kebutuhannya.
Bila hal ini terjadi kepada orang dewasa mungkin tidak akan menjadi terlalu bermasalah. Kebijaksanaan berpikir, walaupun harus diakui tidak semuanya punya, secara keumuman dimiliki oleh orang dewasa. Terlebih bila sudah menikah, lancarlah agenda penetrasi dan injeksi yang tinggal disesuaikan saja kebutuhannya. Entah untuk kebutuhan prokreasi atau rekreasi, serevolusioner apa gerakan yang dipilih, bisa dipastikan ini kegiatan legal dan diterima masyarakat. Persoalannya ketika konten yang sebegitu dewasanya bebas akses, apakah anak-anak tidak akan tersentuh atas ekspansi industri celaka ini?
Sudah terlalu banyak bukti empiris. Kasus siswi SMP yang dihamili oleh seorang siswa SD, dan banyak kasus lainnya seharusnya membuka mata kita bahwa tayangan celaka itu rupanya mengakselerasi kemampuan reproduksi anak di masa kini. Bagi anak era 90-an, masa SD merupakan masa bermain yang indah. Berkejaran bersama layangan putus, berjibaku mencari belut di selokan, berburu burung. Bukan malah berburu kelamin. Ditanya soal mimpi basah saja diam seribu bahasa. Sebaliknya, generasi selanjutnya tercatat dalam sejarah menjadi generasi dengan imajinasi sempit, nalar dangkal, literasi rendah. Paling-paling hanya kuat membaca stensil koran merah pojok jalan.
"Semua karena visi futuristik kanak-kanak remuk redam digagahi khayalan seronok yang belum saatnya dikonsumsi."
Persoalan ini lagi-lagi menunjukkan bahwa manusia tak pernah takluk atas teknologi. Teknologi tetap menjalankan tugas yang diamanatkan padanya, memperkecil beban umat manusia. Tugas yang begitu mulia. Sayang seribu sayang, layaknya Siti Nurbaya yang tak bisa memilih sang pujaan hati, teknologi juga tak bisa menentukan apa yang harus ia sederhanakan. Apakah menyederhanakan jalan bagi peradaban atau malah menyederhanakan jalan menuju kehancurannya? Kami izinkan tuan dan puan bersabda.
Manusia, entitas rumit yang dalam kerumitannya menyiratkan jutaan kelemahan. Memang tak dapat dipungkiri karena hakikatnya manusia hanyalah makhluk, yang kebetulan numpang lewat dalam satu tayangan dengan script rumit berusia milyaran tahun, yang rupanya hanya berdurasi sekedipan mata saja dibanding dengan kehidupan di kampung akhirat. Jutaan nasib berputar, saling memengaruhi, menciptakan kompleksitas cerita nan ciamik yang tak lain tak bukan dirancang oleh sutradara yang Maha dengan segala kemahabesarannya. Maka tak heran bila Allah menyerukan ketundukan yang total bagi seluruh umat manusia dengan tidak menyandarkan segala sesuatu kepada selain-Nya. Kelemahan manusia nampak dalam cara yang sederhana. Bila anda adalah seorang pria jomblo dengan muka standar nan papa, logikanya tak akan ada wanita cantik nan kaya yang mendekat, melirik saja tidak. Namun rupanya banyak antitesis yang kiranya menjadi cerminan nyata, bahwa ada wanita cantik yang mau-maunya bersanding dengan sang pria. Dan banyak pula kasus dimana pria rupawan pada akhirnya bersama dengan wanita yang biasa saja. Dari hal semacam ini, seharusnya manusia, makhluk yang dicipta paling sempurna, sadar bahwa sekedar untuk menggerakkan hati manusia yang lain saja ia tak mampu. Sehingga siapakah yang menggerakkan hati makhluk seharusnya menjadi satu pertanyaan retoris yang tak perlu mendapatkan bantahan keras, apalagi dikatakan sebagai candu. Dalam hidup saya, salah satu kehendak Allah yang berkenan hadir adalah rekan-rekan yang luar biasa. Tak semuanya baik-baik saja memang, lantas apakah itu dapat diterima sebagai alasan untuk tak tunduk atas segala kehendak-Nya? Terima kasih saya ucapkan karena telah menjadi pengantar hikmah yang paripurna, menjadi teman dalam suka duka, menjadi tempat ternyaman untuk menceritakan semua kisah dalam desah. Semoga kebaikan dan keberkahan menyertai kalian, kawan. Temanggung, 01 Januari 2018 (di Temangung, Jawa Tengah, Indonesia)
[[MASA KECIL]] "Semarang kaline banjir, wes sumarak yen dipikir..." Lirik diatas merupakan penggalan dari lagu Jangkrik Genggong, yang zaman dahulu dipopulerkan sinden beken Waljinah. Lagu yang sempat mewarnai masa kecil saya. Sebetulnya beberapa lirik dari lagu ini tidak cukup layak didengar oleh anak kecil, walaupun hal itu baru saya sadari saat saya beranjak dewasa. . Masa kecil saya cukup bahagia kiranya. Disayang oleh kakek nenek, dinyanyikan tembang kenangan. Ketika kembung misalkan, saya terkadang dinyanyikan lagu seperti ini, "Entut entut, metuo metuo. Ning njero marai lara ning njobo marai lego". Yah menggelikan memang, namun patut dikenang. . "Birruh, Biddam, Nafdika yaa Aqsha" "Khaibar Khaibar yaa Yaahud. Jaisyu Muhammad Saufa Ya'uud" Lirik-lirik diatas tak dinyanyikan kakek nenek saya. Jelas bukan. Lirik, oh bukan, tepatnya slogan jihad tersebut baru saya dengar ketika saya mengecap pendidikan sekolah dasar. Akan tetapi, slogan tersebut telah akrab didengungkan oleh anak-anak Palestina sejak balita. Slogan yang telah mendarah daging dan menjadi bahan bakar perjuangan. Slogan yang menjadi simbol perlawanan atas kedzaliman zionisme. . Yah, sangat berbeda bukan masa kecil saya dengan masa kecil saudara segenerasi saya yang kini masih harus berjuang dibawah rintik peluru dan iringan dentuman bom. Ketika disini saya masih sibuk menajamkan visi, mereka telah menjadi motor revolusi. . Memalukan memang. Tapi lagi-lagi saya menolak pasrah. Ketika orang mulai terlupa pada Palestina, saya akan tetap merawat rasa. Kecil, namun tak berarti nihil. Ia berharga, karena rasa kelak gerakkan raga. Semarang, 09 Desember 2017 Kali ini menyemai militansi. Berupaya menginspirasi. #saveyerusalem #alqudsisthecapitalofpalestine (di Banjir Kanal Barat Semarang)
[[GOMBAL]] Beberapa teman yang membaca ini tentu tau gambar apa yang saya posting. Yaps, Mobile Legends. Permainan dengan format MOBA (Multiplayer Online Battle Arena) yang kini digandrungi banyak kalangan, tua atau muda, remaja ataupun anak-anak. Ini tak lain tak bukan karena pengemasan yang apik oleh Moonton, sang developer, yang membuat permainan ini tidak sulit dimainkan di smartphone dan memiliki gameplay tidak terlalu mudah sehingga cukup menantang para pemainnya untuk sekedar bersenang-senang ataupun menaikkan peringkat akunnya. . Tapi disini saya tidak ingin mengulas lebih lanjut tentang Mobile Legends. Toh saya juga bukan reviewer game handal nan profesional. Saya hanya menyukai permainan semacam ini sejak saya kecil. Ini adalah hobi, walaupun saya sebetulnya sadar bahwa ini membuang waktu. Candu. . Saya pun sadar, rekan-rekan yang membaca juga telah mengetahui bahwa dalam dua puluh empat jam terakhir, dunia dihebohkan dengan deklarasi Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Sebuah pelanggaran atas komitmen Amerika Serikat sebagai pihak yang netral dalam penyelesaian konflik di Timur Tengah. Dan lagi, pernyataan tersebut juga mencederai perjanjian damai dalam kesepakatan Oslo yang kini berusia 24 tahun. . Saya pun sadar, bahwa kejadian tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan hobi gaming yang masih saya tekuni. Namun, dari hal tersebut saya berusaha mengekspresikan kecintaan dan pembelaan saya terhadap Yerusalem (dalam bahasa Arab disebut Al-Quds), dengan memasang logo bendera Palestina dalam akun saya. Bukan sesuatu yang luar biasa memang, hanya ejawantah yang disalurkan lewat hobi. Namun, ketika kelak di akhirat saya ditanyai tentang pembelaan dan sikap saya atas Yerusalem, Palestina, saya bisa sedikit mendongak bangga dan berkata, "Saya pernah syi'arkan semangat itu diatas lahan dimana orang terlampau lupa akan kewajiban-kewajibannya dalam beragama karena berasyik masyuk dalam imajinasi yang diciptakan untuk mengkapitalisasi otak para pengguna." Semarang, 8 Desember 2017 (Terlihat) sebuah sikap pembenaran, akan tetapi apakah benar? Berkontemplasilah #saveyerusalem #alquds