kenangan dan rintik hujan.
Kadang ada kenangan dan air mata yang bersembunyi di balik rintikan hujan yang jatuh kebumi. Tanpa permisi, hujan menghantam bumi bahkan tidak pernah ragu sedikitpun walau bumi berteriak meminta ampun.
Sama seperti ingatan tentangmu yang seketika datang tanpa permisi, lalu kembali mengoyak isi hati.
Ku akui kau hebat. Bahkan setelah kau pergi, dirimu masih saja melayang-layang dipikiranku, ibarat otakku adalah bumi dan kau bagai burung yang bebas terbang melayang di atasnya.
Tidak seharusnya aku seperti ini, karena aku tahu, saat hatiku teriak, kamu tidak pernah tahu dan bahkan tidak akan perduli, karena pikiranmu sudah penuh dengan semua tentang dirinya yang kini sangat kau dambakan.
Ku tebak sekarang kau pasti sedang tertawa bersamanya, sedangkan aku? Aku hanya bisa menikmati rintik hujan dan berharap air mataku bisa tersamarkan bersama rintik hujan yang jatuh tepat dijendela kamarku. Sekarang aku harus apa? Setelah kau kecewakan aku, Nyatanya membencimu sungguh aku tidak bisa. Bagaimana aku bisa membenci orang yang sampai sekarang masih aku sayangi?
Sayang? Masih boleh aku memanggilmu sayang? Karena memang aku masih menyayangimu.
Sepertinya aku terlihat bodoh di matamu, sudah jelas kau telah menyakitiku dan bahkan kau sudah berbahagia dengan orang lain, tetapi aku masih saja mendambakan dirimu, tetapi kuingatkan satu hal, suatu saat kau akan sadar, kebodohanku ini adalah bukti sebuah ketulusan cinta.
Tetapi mungkin saat kau sadar nanti, aku bukanlah aku yang sekarang, karena aku harus tetap berjalan, aku harus menjadi yang lebih baik, dan mengikhlaskanmu adalah pijakan untuk aku menggapai kebahagiaan baru.
selamat berbahagia. kamu.