Ternyata, mencintai sendirian adalah matematika yang paling rumit; aku yang menjumlahkan rindu, kau yang membaginya dengan orang lain sampai habis tak bersisa.
—arsualas
he wasn't even looking at me and he found me
will byers stan first human second
DEAR READER
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

titsay

JVL

祝日 / Permanent Vacation
noise dept.
Not today Justin

tannertan36

Janaina Medeiros
Cosimo Galluzzi
Peter Solarz

JBB: An Artblog!
d e v o n

Discoholic 🪩
Keni

pixel skylines

ellievsbear

seen from Germany

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from T1

seen from T1

seen from T1
seen from Italy

seen from T1

seen from Canada
seen from T1

seen from T1

seen from Germany

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Netherlands
seen from United States

seen from United States

seen from United States
@arsualas
Ternyata, mencintai sendirian adalah matematika yang paling rumit; aku yang menjumlahkan rindu, kau yang membaginya dengan orang lain sampai habis tak bersisa.
—arsualas
Kosong itu bukan nol, Bung!
Kosong itu dompet yang isinya cuma struk belanja bulan lalu,
kosong uangnya.
Atau janji manis di baliho pinggir jalan tahun lalu yang tak kunjung ditepati,
kosong omongannya.
Aku mau beli kopi, tapi warungnya tutup karena pemiliknya sedang sibuk mengisi kekosongan di kepalanya sendiri.
Apa?
Hampa katamu?
Pret!
Hampa itu cuma gaya bahasa buat orang yang kebanyakan makan puisi tapi kurang asupan nasi.
—arsualas | Kosong, Bung!
Ibu mengirim pesan seminggu yang lalu:
Kapan pulang, Nak?
Aku mengetik belum, menghapusnya.
Mengetik maaf, menghapusnya lagi.
Akhirnya mengirim:
Tahun ini aku belum bisa pulang, Bu.
Ibu membalas:
Kambingmu beranak lagi kemarin sore.
Aku tidak membalasnya.
Teman sekos sudah berangkat kemarin.
Yang lain dua hari lalu.
Dan malam ini,
Aku duduk di tangga, merokok satu batang.
Asapnya pergi ke utara.
Kampungku di selatan.
Lebaran tahun depan aku pulang,
Kalimat ini sudah tiga tahun
Kutulis di kalender yang berbeda.
Orang-orang di sini menyebutku pekerja keras.
Mereka tidak tahu
Keras itu nama lain dari tidak punya pilihan.
Aku bukan pahlawan keluarga.
Aku anak sulung yang terlanjur berangkat
Dan tidak tahu cara berbalik tanpa tangan kosong.
Ini bukan puisi perjuangan.
Ini bukan puisi harapan.
Ini puisi tentang bau rumah yang masih kuingat persis,
Merek sabun mandi yang sama sejak aku kecil,
Dan nasi yang dimasak dengan tungku
buatan bapak yang sudah pergi tujuh tahun lalu.
Bau itu tidak dijual di kota ini.
Aku sudah cari.
—Arsualas | Lebaran Tahun 2026
(Berdasarkan cerita seorang kawan di sebuah tangga kos, Maret 2026)
Kritikku setajam pisau,
sayangnya pisau itu baru kuasah
sejak aku tak kebagian daging.
— Widji bilang, “Hanya ada satu kata: lawan!”
Dan aku sudah melawan,
sejak proyek itu jatuh ke tangan orang lain.
—arsualas
tubuh tidak pernah benar-benar
meminta izin untuk lelah.
ia hanya tiba-tiba
berat
di tempat yang tidak bisa kamu tunjuk.
bukan di lutut, bukan pula di bahu.
di suatu tempat
di antara
masih bisa
dan
sudah tidak mau.
dan menyerah pun butuh tenaga
yang tidak kamu punya.
jadi kamu hanya
terus.
—arsualas | Begitu Saja
kompasmu tidak menunjuk utara,
ia menunjuk ke arah mana kamu mau pergi,
lalu kamu sebut itu utara
dan gusar
ketika peta orang lain berbeda.
kamu sudah berjalan jauh,
itu nyata,
tapi jauh adalah ukuran kaki,
bukan ukuran benar —
dan kamu sudah terlalu jauh
untuk mengaku tersesat.
—arsualas | Navigasi Sesat Utara
Aku ingin bilang kamu boleh memetik,
tapi datanglah kembali,
bawakan sesuatu untuk akarku.
Tapi pohon tak bisa bicara.
Dan kamu sudah terlanjur
jauh.
—arsualas | Permintaan yang Tak Pernah Tersampaikan
Aku tidak takut mati. Aku hanya takut tidur, sebab mati belum tentu ada kamu di sana. Tapi mimpi, mimpi adalah ruang yang tidak punya pintu keluar, dan kamu adalah rajanya yang berkuasa atas kemarin dan sebelumnya. Keduanya sama-sama menghabisiku.
—Arsualas
Kita tidak pernah kekurangan kata, tapi selalu kekurangan pemahaman. Masing-masing yakin sudah memilih kata yang paling tepat; masing-masing tidak tahu bahwa kita bicara dalam bahasa yang berbeda. Aku bicara dan kamu mendengar, tapi yang sampai di telingamu bukan yang aku maksud. Kamu menjawab dan aku mengangguk, tapi yang aku terima bukan yang aku pahami.
Dan percakapan itu terus kita ulang hingga semua terasa seperti rumah yang tidak pernah kita inginkan tapi terlanjur kita tinggali.
—Arsualas
Setiap orang punya caranya sendiri untuk bertahan. Ada yang diam, menarik diri, menyimpan semuanya sendirian. Ada yang menuangkan apa yang terasa terlalu berat untuk diucapkan. Keduanya bukan tanda kelemahan, keduanya adalah bagian dari coping mechanism, cara seseorang mencoba tetap waras di tengah tekanan yang tidak semua orang sanggup menanggung sendirian.
Memang mudah sekali membaca situasi orang lain dari luar, yang susah adalah mengakui bahwa kita bahkan tidak tahu separuh ceritanya. Kita hanya melihat satu frame dari film yang panjang. Tidak tahu babak sebelumnya, tidak tahu luka yang sudah lebih dulu ada sebelum kejadian itu. Tapi kesimpulan sudah terlanjur keluar, penilaian sudah terlanjur dibentuk.
Orang yang mengeluhkan apa yang dihadapinya belum tentu tidak melakukan apa-apa. Orang yang diam dan terlihat sedang berpikir belum tentu benar-benar sedang berpikir. Begitu pula sebaliknya. Kita sering lupa itu.
—Arsualas
Negeri ini tidak sedang sakit
Ia hanya sedang dipimpin orang-orang yang makan dengan dua tangan. Dan yang lebih berbahaya, mereka tahu.
Tahu bahwa kalaupun salah, kemungkinan terburuk hanya akan didemo oleh orang-orang yang cepat lelah.
Demonstrasi dua hari. Hari ketiga harus masuk kerja. Hari keempat cicilan pinjol jatuh tempo.
Maka mereka tenang. Tanda tangan. Rapat. Senyum ke kamera.
Karena di negeri ini amarah rakyat punya waktu.
Dan mereka sudah hafal jam berapa rakyat biasanya menyerah.
Ada juga yang tidak cepat lelah. Yang tetap bersuara. Yang kalimatnya tajam, caranya bicara memukau.
Tapi perhatikan, saat ia mulai bersuara, ia selalu punya sesuatu yang akan diperdagangkan, termasuk dirinya.
Di negeri ini ada banyak sekali orang yang menyalakan api hanya untuk merebus air untuk kopinya sendiri.
—Arsualas I Negeri Ini Tidak Sedang Sakit
Ada perpisahan yang tidak lahir dari perbuatan curang. Tapi sakitnya tidak lebih ringan dari yang lahir dari pengkhianatan.
Yang satu memilih mengakhiri, tapi memilih adalah kata yang terlalu mewah untuk sesuatu yang terasa seperti tidak ada jalan lain. Terpaksa. Seperti memotong bagian dari diri sendiri supaya sisanya bisa tetap hidup.
Yang satu menerima, tapi menerima bukan berarti tidak sakit. Terpaksa juga. Seperti menelan sesuatu yang tidak bisa dikunyah lagi.
Keduanya terluka dengan cara yang tidak bisa dibandingkan. Karena tidak ada satu pun dari mereka yang membayangkan akan berakhir di sini, ketika pertama kali mereka memilih satu sama lain.
—Arsualas | Dua Orang di Akhir Cerita
Dunia ini penuh dengan hantu berparas manis yang tidak tahu apa-apa soal kamu, tapi bersumpah akan mencintaimu lebih baik.
Lebih baik dari apa? Dari yang sudah tahu hari-hari seperti apa yang paling berat buatmu? Dari yang tetap tinggal waktu kamu tidak bisa menjelaskan kenapa tiba-tiba marah-marah?
Dunia ini penuh bangkai yang berdandan. Datang menjajakan yang manis-manis seperti pedagang di pasar malam, semuanya terlihat sempurna di bawah lampu yang sengaja dibuat remang.
Berhenti dulu.
Dengarkan.
Yang di sampingmu itu sudah melihat yang paling jelek darimu. Bukan jelek yang kamu pilihkan untuk dilihat, bukan jelek yang masih bisa kamu kendalikan, tapi jelek yang keluar waktu kamu tidak lagi punya tenaga untuk berpura-pura.
Dan dia tidak pergi.
Karena dia sudah memutuskan, dengan sadar, dengan sepenuh lelahnya sendiri, bahwa kamu layak untuk dihadapi.
Bajingan macam apa kau ini.
Nanti, ketika semuanya sudah terlambat, ketika pintu sudah ditutup dari dalam dan tidak ada lagi yang membukakan, kamu akan ingat hari itu. Kamu akan ingat kopi itu. Kamu akan ingat tangan itu. Kamu akan ingat nama itu.
Tapi tidak ada satu pun dari ingatanmu yang bisa kamu peluk.
—Arsualas | Sebelum Kamu Menyesal
tidak ada jalan kembali dari beberapa hal.
beberapa orang tidak paham ini.
mereka pikir maaf cukup.
mereka pikir waktu cukup.
mereka pikir kalau cinta cukup besar pasti ada jalan.
tidak selalu ada jalan.
kadang pintunya betul-betul tertutup.
bukan dikunci
lebih buruk
pintunya masih ada
tapi sudah tidak ada ruangan di baliknya.
sudah dirobohkan dari dalam.
diam-diam.
dan kamu
kamu sedang membaca ini
kamu tahu
kerusakan yang dibuat dengan sadar
lebih sulit dimaafkan dari kerusakan
yang terjadi karena tidak tahu.
jadi tidak ada lagi alasan untuk pura-pura tidak tahu.
aku tidak sedang menulis puisi malam ini.
aku juga tidak sedang menamparmu dengan kata-kata
itu saja.
itu sudah cukup
itu selalu sudah cukup
sebelum satu hal lagi yang tidak bisa dikembalikan
menjadi bagian dari daftar panjang
semua yang sudah terlambat.
selamat pagi!
—Arsualas | Pukul Empat Pagi
meninggalkan satu-satunya orang
yang hafal suara nafasmu saat mendengkur
dan tahu bedanya kamu tenang
atau kamu pura-pura tenang.
aku sudah pernah duduk
di samping orang yang ditinggal seperti itu.
tidak ada yang bisa kamu katakan.
kamu hanya duduk dan melihat seseorang
belajar menjadi asing di tubuhnya sendiri,
belajar cara makan tanpa rasa lapar,
belajar cara tidur tanpa benar-benar istirahat,
belajar cara bangun tanpa ada alasan untuk bangun.
dan tetap melakukannya
karena tubuh lebih keras kepala dari kesedihan.
tubuh terus hidup
bahkan ketika tidak ada lagi
yang tersisa untuk dihidupi.
ini bukan metafora.
dan orang yang ditinggalkan itu
tetap tersenyum
lima tahun setelah ditinggal
tapi matanya sudah tidak ada.
bukan mati.
hanya
sudah tidak ada.
seperti lampu yang masih menyala
tapi tidak ada listriknya
entah bagaimana tetap menyala.
—Arsualas | Ini Bukan Puisi
MULUT PALSU
TENTANG BERITA BOHONG YANG BEREDAR DI ANTARA KITA
I.
aku pernah lihat ibu-ibu menangis
karena percaya anaknya sakit
padahal cuma penipuan
aku pernah lihat tetangga bertengkar
karena memilih kebenaran yang berbeda
kebenaran yang tidak pernah benar-benar ada
yang hanya ada di grup WhatsApp keluarga
II.
pagi-pagi sebelum kopi habis
sebelum mata benar-benar terbuka
berita sudah mengetuk pintu,
“katanya begini—“
“katanya begitu—“
siapa yang bilang?
entah. pokoknya viral
III.
mereka datang dengan layar menyala
membawa kata-kata berkilat seperti pisau dapur
tapi yang diiris bukan bawang
yang diiris adalah akal kita
IV.
“HANYA ADA SATU KATA: LAWAN”
begitu kata Widji Tukul
lawan dengan bertanya
lawan dengan membaca sampai habis
lawan dengan tidak langsung membagikan
karena tanganmu yang menekan bagikan
adalah mulut baru bagi si pembohong
V
maka kutulis ini bukan untuk kamu yang sudah tahu
kutulis ini untuk kita semua yang kadang lupa
bahwa satu fakta yang diperiksa
lebih berharga dari seribu kata yang disebarkan
TANPA PIKIR
TANPA NURANI
—Arsualas, ditulis dengan semangat Widji Thukul
Darah Iman
Matahari sedang galak-galaknya, terasa seperti menempel tepat di atas kepala. Di depan deretan keran musala, aku membasuh mengambil wudhu. Segar, tapi tenggorokanku tetap terasa seperti padang pasir.
Masuk tiga, keluar dua. Satu tegukan sengaja kuluncurkan ke kerongkongan. Dingin, nikmat.
Toh, uang pembangunan masjid yang kupotong buat beli HP kemarin juga nggak ada yang tahu, batinku sambil menyeringai tipis.
Saat aku mengusap sisa air di bibir, sebuah tangan keriput menepuk bahuku. Aku menoleh. Pengurus masjid yang sudah sepuh itu berdiri di sana, tersenyum getir sambil menunjuk ke arah cermin retak di atas keran.
"Kamera pengawas itu baru dipasang, dibeli pakai sisa uang pembangunan yang kemarin kamu potong, Nak," ucapnya pelan.
Seketika air yang baru kutelan tadi terasa mendidih di dalam perutku.
"Bertobatlah," lanjut orang tua itu sebelum berbalik menuju pintu musala. "Kau baru saja meminum darah dari imanmu yang kau sembelih sendiri."
—Arsualas