SOCIAL EXPERIMENT : AJAK PEMULUNG MAKAN STEAK
Di tulisan kali ini, saya ingin berbagi salah satu pengalaman saya, melakukan sosial eksperimen.
Di iedul adha kali ini, kantor kami, mavens studio kembali bekerja sama dengan @kitabisa untuk membuat sebuah Eksperimen Sosial. Tujuan eksperimen sosial kali ini, kami ingin mengajak orang-orang semua agar tergerak hatinya untuk mau berbagi dengan cara melaksanakan qurban (bagi yang mampu), akhirnya, tercetus ide untuk mengajak orang yang kurang mampu untuk makan steak agar kita bisa melihat bagaimana ekspresinya.
Pada eksperimen kali ini, saya diminta langsung sama CEO Kitabisa.com, alfatih timur, untuk menjadi talent dalam video ini. Jujur saja. Hingga umur saya 24 tahun, belum pernah sekalipun saya mengajak ngobrol seorang pemulung. Apalagi, ini sampai saya harus mengajak makan. Apa jadinya, anda tiba-tiba diajak makan oleh seseorang yang tidak anda kenal? âIni pasti mau menculik.â, âIni pasti dari dinsos.â âIni pasti mau penipuan.â dan lain lain.
Akhirnya, saya beranikan diri untuk mengajak pemulung yang saya temui dengan berbagai ketakutan yang ada. Bismillah
âSelamat siang pak. Perkenalkan, saya choqi. Kebetulan saya lagi mau makan. Bapak berkenan kalau menemani saya makan? nanti saya yang bayar. Saya butuh temen ngobrol pak.â kurang lebih, begitulah saya mengajak para pemulung untuk makan.
Bagi kita, siapa sih yang tidak mau makan steak? pertama, itu enak. Kedua, dibayarin. Kesempatan yang mungkin tidak datang dua kali. Namun ternyata, ternyata, kenyataan tidak seindah harapan.
Berkali-kali saya ditolak oleh pemulung. Mulai dari pemulung bernama thomas asal tasik, pak sapri asal kiaracondong, pak tole dari pangalengan, dan berbagai pemulung lainnya yang ternyata tidak berasal dari daerah tersebut. âMaaf pak, saya malu, mau mandi duluâ atau âMaaf pak, saya udah makan, kenyangâ, adalah alasan yang selalu keluar secara halus untuk menolak saya.
Dan pada akhirnya, saya menemukan sesosok pemulung dengan muka yang nampaknya masih muda, namun terlihat agak lesu dan kelelahan. Dan syukurnya, dia mau saya ajak untuk makan bersama. Alhamdulillah, akhirnya ada juga yang mau.
NAMANYA ADALAH PAK SLAMET. PEMULUNG BARU DARI WONOSOBO.
Ya, pak slamet begitu malu-malu ketika saya ajak beliau makan. Dia minta izin terlebih dahulu untuk menyimpan karung berisi barang rongsokannya di depan pintu masuk. âMalu mas saya bawa beginianâ itu katanya.
Saya mengajak pak slamet ke restoran steak yang kualitasnya oke punya, berkat kebaikan chef afit, dia mempersilahkan kita menggunakan restorannya, holycow by steakhouse di daerah kebon jeruk.
âSilahkan pak, pesan apa sajaâ saya persilahkan pak slamet untuk memesan apapun. Nampak dia kebingungan dengan nama-nama menu itu. RIb eye, sirloin, wagyu, mungkin itu hal baru baginya. Akhirnya, setelah beberapa saat, dia memilih menu âWagyu Sirloin Rib Eye 9+â yang saya yakin pak slamet ini asal saja milih karena memang bingung. Harga menu tersebut kisaran 400 ribu rupiah. wow, bahkan saya sendiri aja selama ke restoran ini gak pernah pesan daging semahal itu.
Sembari menunggu makanan, kami sempat mengobrol beberapa hal. Sambil mengobrol, saya beberapa kali menerima message WA dari team videografer kita yang juga berada di lokasi. âCok, itu pindahin saosnya, ngalangin mukaâ, âcok, geseranâ, dll. bahkan beberapa kali , kalau saya keasyikan ngobrol dan ga buka HP, tim kita pura-pura nelepon sambil teriak âIah, gimana sih, kamu baca WA dong, gue udah kirim pesan. WA ya, WAâ. hahaha, itu pengalaman yang cukup lucu sih.
MENGOBROL BERSAMA PAK SLAMET
Pak slamet memang agak malu-malu. Bahkan dia jarang berbicara. lebih banyak diam jika tak saya tanya. Namun ketika saya tanya lebih dalam, saya mendapatkan banyak cerita yang baru saya dengan selama hidup saya.
Sambil menyantap makan, dia bercerita tentang perjuangan hidupnya. beilau baru 2 bulan pindah ke jakarta dan bekerja sebagai pemulung. Sebelumnya, beliau adalah buruh tani di kampungnya di wonosobo. Namun, ternyata gaji seorang petani tidaklah cukup besar. Saya sangat kaget ketika mengetahui bahwa dia hanya mendapatkan sekitar 500 ribu dalam 7 bulan (sekali panen).
Salah satu alasan terbesarnya pindah ke jakarta, adalah ketika akhirnya ibunya mengalami sakit keras. Dan pak slamet akhirna meminjam uang sebesar 10 juta kepada rekannya untuk mengobati ibunya. Sayang, tuhan berkehendak lain. Setelah menghabiskan uang untuk pengobatan, ibunya harus meninggal dunia. Dan kini, pak slamet harus mencari tambahan guna mengganti uang pinjaman tersebut.
Berawal dari kebutuhan tersebut, pak slamet memutuskan untuk bekerja di jakarta karena ada ajakan sebagai kuli bangunan. Dia akhirnya pergi dengan anaknya mencari peruntungan di ibukota. Namun sayang, setibanya di jakarta, ternyata proyek pembangunan itu tidak jadi dilakukan. Akhirnya, pak slamet memutuskan untuk menjadi seorang pemulung, pekerjaan yang sudah pasti bisa dilakukan siapapun.
âMas slamet, dari semua pekerjaan, kenapa milih menjadi pemulung? maaf ya mas, apakah engga malu jadi pemulung?â Tanya saya yang juga benar-benar penasaran.
âSejujurnya mas, saya juga malu jadi pemulung. Pinginnya sih jadi yang lain. Cuman, saya lebih malu lagi kalau gak bisa ngasih makan anak dan istri saya, ya saya akhirnya kerja. Yang penting halal mas, ga nyuri atau nipu orangâ begitulah jawabannya
saya sungguh kagum dengan jawaban Pak Slamet. Sekali lagi, saya belajar dari seseorang tidak terduga, seseorang yang bahkan kadang kita anggap remeh kehadirannya. Sungguh lebih mulia daripada mereka-mereka yang menghalalkan segala cara demi meraup kekayaan.
Syukurnya, pendapatan menjadi seorang pemulung jauh lebih baik dibandingkan menjadi petani. Dia bisa mendapatkan uang sebesar 450 ribu/bulan. Dapat mencukupi hidup selama di jakarta dan juga menabung.
PENGALAMAN PERTAMA MAKAN DAGING
selama beliau menjadi seorang petani, dengan gaji sebesar 500 ribu/7 bulan, dia gunakan untuk memberi makan ibu, istri, beserta 2 anaknya. Sehari-hari, mereka gunakan untuk membeli cabe, sehingga mereka sering makan nasi dengan sambal. Dan terkadang, kalau sedang ada rezeki, mereka beli ikan asin. Ikan asin merupakan makanan yang cukup mewah bagi mereka.
Dan ketika saya tanyakan apakah pernah memakan daging sapi/kambing, dia bilang dia tidak pernah sama sekali makan daging tersebut.
âGak pernah ada yang bagi-bagi daging disana mas? Mungkin waktu idul adha gituh? pernah dapat kiriman engga mas?â tanya saya
âGak pernah mas, di kampung saya itu, enggak ada orang yang motong sapi/kambing kalau idul adha. Yang ngirim juga belum pernah adaâ jawabnya
âBerarti, selama hidup, bapak baru pertama kali makan daging?â tanya saya sembari melihat bapak yang makan begitu lahap
âIa mas, ini baru pertama. hehehe. Rezeki saya.â sambil senyum senyum.
âEnak ya mas ternyata rasanya daging sapiâ
Dan kalimat itu membuat saya terdiam sejenak dan terharu, bisa melihat seseorang menikmati hal yang baru dia rasakan pertama kali. Pengalaman yang mungkin takkan semua orang dapatkanÂ
Dan setelah selesai makan, akhirnya saya berinisiatif untuk membungkuskan 1 porsi steak, untuk disantap di rumahnya bersama anaknya. Dan saya meminta izin untuk dapat foto bersama beliau sebelum dia meninggalkan lokasi.
Ya, percaya atau tidak, ternyata masih ada orang-orang yang belum pernah merasakan apa yang biasa kita rasakan.
Guys, itu adalah daging, daging biasa yang kita makan sehari-hari, daging biasa yang kita makan di warung padang, daging biasa yang ada di nikahan orang. Tapi ternyata, masih ada orang yang belum pernah merasakannya.
Sedang di sisi lain, kadang ketika iedul adha, di komplek atau perumahan, 1 rumah yang terdri dari keluarga yang notabene menengah ke atas, bisa dapat hingga 3-4 kantong daging untuk disantap. Dan kondisi inilah, yang ingin kita angkat dengan melakukan sosial eksperimen ini. Dan jujur saja, bertemu pak slamet, mungkin adalah jalan tuhan untuk menunjukkan, bahwa masih ada orang di sekitar kita yang belum pernah merasakan makanan tersebut.
Dan dengan ada tulisan ini, saya pun bermaksud untuk mengajak teman-teman semua, teman muslim, untuk berbagi daging, tidak hanya kepada masyarakat di sekitar, tapi dengan masyarakat yang jauh yang mungkin takkan terjangkau jika kita datang sendiri. Mumpung momen ini tepat dengan momen iedul adha
Sekarang kan sudah banyak sekali lembaga pembagian daging iedul adha. Salah satu platform yang bisa mengirimkan daging qurban kita dari pelosok adalah platform milik kitabisa.com, yakni di qurban.kitabisa.com , gampang dan juga bisa menjangkau daerah-daerah jauh.
Besar doa dari saya, agar kita semua diberikan kecukupan, untuk bisa melaksanakan iedul adha, untuk bisa berbagi, dengan orang-orang seperti pak slamet, dengan orang-orang yang mungkin tak pernah makan daging sama sekali.
Oia, bagi yang ingin melihat videonya, temen-temen bisa liat di halaman facebooknya kitabisa di siniÂ
Terima kasih @kitabisaâ atas kesempatannya untuk bekerjasama. Dan juga terima kasih untuk seluruh pihak yang membantu, mulai dari Steakhouse Holycownya chef afit, dan Iga Bakar Paris van javanya mas Edwin Khadafi, semoga kita bisa terus menebarkan kebaikan bagi orang lain.
SOCIAL EXPERIMENT : AJAK PEMULUNG MAKAN STEAK
Bandung, 28 Agustus 2016