Menjalani hari hari penuh kesesakan, Riani rasakan semenjak menikah dengan Danu. Banyak ketidakcocokan yang dipaksakan dari pernikahan itu. Manakah kebaikan pernikahan yang pernah dikatakan ayahnya? Sama sekali tak ia temukan. Riani pikir, setidaknya, bila Danu adalah sosok lelaki dewasa yang sudah bersiap menjadi kepala rumah tangga, dia tentu lebih bisa bersikap selayaknya laki-laki. Tahu dan paham peran apa yang sedang dia jalani. Namun kenyataannya nihil. Dia hanya menikahi lelaki kekanakan yang terpasung dalam angka usia yang banyak jumlahnya.
“Maaf Rin, saya tidak tau apa yang sedang kamu hadapi, tapi saya minta setelah menerima ini kamu bisa mengubah hal-hal yang kurang baik dari sekarang,”ucap Bu Monik sembari menyerahkan sebuah amplop bertuliskan nama dan identitas perusahaan tempatnya bekerja. Teguran kesekian kali yang diterima Riani ini membuat Bu Monik geleng-geleng kepala. Pasalnya, Riani hampir tidak pernah berkelakuan tidak baik, layaknya sekarang-sekarang ini.
Riani yang duduk berhadapan dengan Bu Monik hanya tertunduk lesu. Kesalahannya memang terhitung fatal sehingga tidak bisa ditolerir lagi. Keterlambatan datang yang ia janjikan untuk tidak terulang, nyatanya masih menjadi bagian dari kebiasaannya yang belum hilang. Tidak bisa dipungkiri, keadaan rumah tangga yang tidak baik-baik saja ternyata membawa dampak kurang baik terhadap perilakunya dalam bekerja. Puncaknya, Riani menerima surat peringatan untuk pertama kalinya sebagai konsekuensi yang harus dia terima dengan lapang dada.
Hari ini Riani putuskan kembali mengambil cuti. Ia merasa harus membereskan segala ketidakberesan dalam dirinya. Kemarin sahabatnya, Risma dan Satya menyarankan padanya untuk pergi ke profesional.
“Aku tidak gila,”tegas Riani ketika mendengar usul kedua sahabatnya.
“Rin, orang yang pergi ke psikolog atau psikiater itu tidak semuanya orang gila,”ungkap Satya mencoba memberi pengertian.
“Iya, tapi kalau orang-orang tau, aku pasti akan dicap sebagai orang gila, Sat. Dan coba kalian bayangkan kalau ternyata, di dalam diriku memang ada sesuatu hal yang kata orang-orang itu penyakit mental, bukankah stigma mereka akan semakin mengecap ku sebagai perempuan tidak waras."
Risma dan Satya sama-sama menghela nafas. Susah benar memberi pengertian pada watak keras Riani.
“Terus kamu mau gimana?,”kali ini Risma bertanya.
“Entahlah, aku mungkin perlu berpikir lebih jauh lagi.”
“Rin, kami berdua tidak ingin kamu terlilit kesulitan terus menerus. Jikalau pun, ternyata kamu punya penyakit mental itu dan semua orang berpikir buruk tentangmu, kamu cukup tutup telinga, nggak perlu dengerin apapun kata mereka. Kamu masih punya kita berdua yang bersedia peluk kamu, Rin. Kita nggak akan ninggalin kamu, apapun keadaanmu,”jelas Risma dengan mata berkaca-kaca.
“Kita hanya mau kamu bahagia Rin,”imbuh Satya.
Tak kuasa Riani menahan haru. Dia sangat bersyukur dipertemukan dengan dua orang yang selalu mendukungnya, bahkan dalam keadaan sesulit apapun. “Terima kasih, Ris,”ucapnya sembari memeluk erat sahabatnya. Risma tak kuasa menitikkan airmata juga, membalas pelukan erat Riani.
Terik siang tak menghalangi Riani untuk ikut berdesak-desakkan di jalan. Deru mesin dan kepulan asap dari corong knalpot menambah pengapnya hawa. Lalu lintas padat sekali. Hampir tak ada celah untuk menyalip. Masing-masing kendaraan harus rela berjajar ke belakang seperti antrian yang menunggu giliran datang.
Riani menghela nafas berat. Butuh tenaga kuat untuk menghirup kemudian menghembuskannya. Sesak terasa di dada. Apakah pasokan oksigen di bumi semakin menipis karena banyak pohon-pohon di gunduli? Atau karena manusia semakin hari semakin bertambah jumlahnya, jadi saling berebut udara? Atau karena apa? Riani tak mengerti.
Terdengar bunyian klakson saling bersahutan. Riani tersentak. Membuyarkan lamunannya yang sebentar. Terlihat sekilas, traffic light sudah berganti warna menjadi hijau, dari sebelumnya merah yang berarti harus berhenti. Diinjaknya gas sambil melepaskan kopling perlahan, lalu mobilnya mulai bergerak maju, memecah kerumunan Suhat.
Tak jauh setelah ia belok kiri dan melewati jembatan, sebuah sepeda motor menyelonong menyeberang jalan tanpa aba-aba. Sungguh menyalahi aturan, padahal jelas-jelas ada lingkaran rambu putar kanan yang disilang. "Sial,"gerutunya ketika harus mengerem mendadak. Hampir saja emosinya ikut tersulut dengan adegan tidak terduga itu. "Oknum-oknum macam inilah yang mempertinggi angka kecelakaan",cecar Riani dalam batin. Sekian detik kemudian, Riani kembali melajukan mobilnya setelah beberapa kendaraan di belakang mengklakson berkali-kali.
Selang beberapa jam kemudian sampailah Riani ditempat tujuan, Rumah Sakit Dokter Radjiman Wediodiningrat. Matahari serasa tepat diatas kepala, ketika dia menurunkan kaca mobilnya untuk membayar karcis supaya pagar portal di pintu masuk terbuka.
"Kiri.. kiri dikit.. oke, stop!,"teriak petugas jaga yang membantunya memarkir si Livina. Si cantik model MPV dengan bodi putih bersih yang menemani perjalanannya kali ini.
“Terima kasih pak,”sapanya ketika membuka pintu dan mendapati mobilnya terparkir sesuai dengan garisnya. Si petugas jaga hanya mengacungi jempol sambil tersenyum sebagai balasannya.
Riani melihat sekeliling ruang pendaftaran. Tak banyak orang, pikirnya. Lalu, ia disambut petugas keamanan yang membantunya untuk mengambil nomor antrian.
"Silakan,"tegur petugas keamanan sembari menyerahkan secarik kertas bertuliskan angka seratus tujuh puluh dua.
"Masih ada berapa orang lagi pak?,"tanya Riani setelah menerima kertas itu.
"Dua puluhan bu, sekarang masih di antrian seratus lima puluh," ucap petugas itu sambil menunjukkan layar monitor yang menunjukkan nomor antrian yang sedang dilayani.
Tak lama setelah menyelesaikan segala keperluan administrasi, Riani diantar ke sebuah ruangan untuk melakukan serangkaian tes sebagai asesmen awal. Ia diberikan beberapa lembar kertas yang sekilas terlihat berisi pertanyaan-pertanyaan. Riani membaca judul besar yang tertulis di lembar pertama. “Beck Depression Inventory Test”, kalimat yang ia baca dalam benaknya. Seorang asisten dokter yang menemaninya tadi, memberikan waktu 10 menit untuk dia menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan di lembaran itu. Kemudian, dia diminta menunggu beberapa saat untuk si asisten itu mengecek hasilnya.
“Selamat siang ibu, mohon maaf jika menunggu lama. Perkenalkan saya Alexandra. Jika boleh tau, dengan ibu siapa saat ini saya berhadapan?,”tanya Dokter Alexandra setelah memperkenalkan dirinya kepada Riani.
“Baik. Puji Tuhan ya, saya bisa bertemu dengan ibu hari ini,”terang Dokter Alexandra dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. “Tadi bu Riani kesini naik apa kalau boleh tau?,”lanjut sang dokter cantik itu.
“Saya tadi kesini naik mobil,”jelasnya.
“Oh, tadi berangkat jam berapa bu?."
Dalam hati, Riani bertanya-tanya, apakah semua psikiater akan mempertanyakan hal-hal tidak berguna seperti itu?. Biasanya, jika ia sakit dan berobat ke dokter umum, langsung ditanyakan apa keluhannya tanpa basa-basi.
“Wah, pagi sekali ya. Kalau bisa ibu ungkapkan, bagaimana perasaan ibu ketika berangkat kesini tadi?.”
Disinilah Riani merasa bingung. Rasa apa yang sekarang bersarang di hatinya. Bingungkah, marahkah, Sedih atau Bahagiakah. Rasa-rasanya ia tidak bisa mendefinisikan dengan pasti.
“Entahlah dok,”jawab Riani sekenanya.
Dokter Alexandra ber-oh ria, kemudian melanjutkan,"kalau sekarang, apa yang ibu rasakan?."
“Takut,”celetuknya tanpa sadar.
“Apa yang membuat ibu takut?,”tanya Dokter Alexandra penasaran.
“Saya tidak tahu pasti, dok.”
“Baiklah. Apakah ibu adalah seorang pekerja?.”
“Ya, saya bekerja di jasa keuangan swasta dok.”
“Bagaimana situasi di kantor tempat ibu bekerja? Menyenangkan? Atau seperti apa?.”
“Cukup menyenangkan, hanya saja beberapa bulan kebelakang pekerjaan saya cukup berantakan. Saya sering terlambat ke kantor dan juga mendapat teguran dari atasan.”
“Menurut ibu, apa yang membuat ibu demikian?.”
“Saya putus asa dok, merasa tidak punya semangat hidup lagi. Apa yang sudah rencanakan, semua berantakan. Saya ingin melajutkan pendidikan master, sudah diterima di beberapa universitas yang saya lamar, dan alhamdulillah dengan beasiswa. Tapi orang tua tidak mengizinkan, justru mereka memaksa saya untuk menikah dengan orang pilihannya. Dari awal saya mengatakan tidak mau, tapi tidak punya alasan logis untuk menolaknya. Ternyata, setelah pernikahan itu berjalan beberapa bulan, baru saya mengetahui bagaimana karakter pasangan saya sesungguhnya. Saya menyesal dok." Cerita itu mengalir begitu saja, lagi-lagi tanpa Riani sadari. Dengan ekspresi yang datar, tampak setetes air mengalir dari pelupuk matanya.
“Apakah ibu tahu, apa alasan orang tua tidak membolehkan ibu melanjutkan pendidikan?.” Riani mengangguk pelan, dengan tatapan tidak berpaling dari Dokter Alexandra.
“Apa itu?.” “Mereka butuh saya untuk bantu biaya sekolah kedua adik saya. Kalau saya berhenti bekerja, pemasukan keluarga akan berkurang, meskipun saya sekolah dengan beasiswa nantinya. Ayah hanya seorang pensiunan guru dan ibu tenaga pendidik di sekolah swasta dengan gaji pas-pasan. Mereka mengira tidak akan cukup untuk hidup jika tidak disokong pemasukan dari penghasilan saya.”
Lanjutnya,"saya pikir, setelah saya mengiyakan pernikahan, saya bisa komunikasikan itu dengan suami, paling tidak dia memberi ruang untuk saya bisa bereksplorasi, tapi nyatanya dia tidak pernah memberi izin, bahkan menyuruh saya berhenti bekerja, karena dia sanggup membiayai hidup keluarga saya dengan uangnya." Kali ini Riani tak kuasa lagi membendung air matanya.
Cerita demi cerita terus berlanjut. Riani tak mampu lagi menahan dirinya untuk tidak bercerita semua hal yang mengganggu pikiran dan perasaannya. Menumpahkan semua sampah yang dia timbun selama ini. Tentang persoalan rumah tangga yang begini dan begitu, tentang hubungan dengan orang tuanya yang sangat buruk yang kesemuanya itu mengganggu performa kerjanya di kantor. Dokter Alexandra tetap menyimak dengan seksama dan sesekali menanyakan hal-hal yang perlu dokter itu tanyakan.
“Saya hanya ingin tidur tenang dok malam ini,”imbuh Riani di akhir ceritanya.
“Baik bu, saya buatkan resep untuk ibu ya dan akan saya jadwalkan untuk sesi konsultasi berikutnya, apakah bu Riani berkenan?,”tanya Dokter Alexandra yang dibalas anggukan oleh Riani.
Sebelum sesi konsultasi hari ini berakhir, Riani mendapat secarik kertas berisi resep yang harus dia tebus.
“Baik dokter, terima kasih untuk hari ini,”ungkap Riani sambil mengulurkan tangan kepada Dokter Alexandra untuk dijabat.
“Sama-sama bu, semoga lekas pulih,”balas Dokter Alexandra sambil menjabat tangan Riani dengan tersenyum.
Ada perasaan ringan dalam diri Riani begitu ia keluar dari ruangan Dokter Alexandra. Seperti, satu ton berat beban dipundaknya terangkat. Ia tersenyum simpul. Semoga pikirannya ikut meringan, seringan langkahnya meninggalkan rumah sakit itu.