Masih membahas terkait notulensi “Plannying your birthplan back to Al-Qur’an and Sunnah” kali ini terkait Memahami Birthplan dari seorang dokter obgyn (kandungan)
Narasumber : dr. Hilman Sp.OG
Waktu : 13.30 – 14.30 WIB
Masa persalinan normal manusia itu ada di usia 37-42 minggu, pada usia ini bayi sudah bisa lahir karena organnya sudah sempurna. Biasanya HPL (Hari Perkiraan Lahir) itu ada di usia 40 minggu. Namun pada kenyataannya bisa bayi bisa lahir maju 2 minggu, atau mundur 2 minggu. JIka ternyata sampai 42 minggu belum lahir juga, maka harus segera diperiksakan ke tenaga kesehatan karena terlalu lama di dalam juga tidak baik.
Selama masa kehamilan itu akan ada banyak perubahan pada ibu dan bayi:
Berat badan ibu bertambah.
Jumlah darah bertambah, kurang lebih 40% pada ibu hamil selama kehamilan.
Bayi akan terus tumbuh dan akan ada perubahan pada berat badan bayi, posisi bayi, yang man hal ini akan mempengaruhi pada persalinan nantinya.
Apa persalinan normal itu?
Persalinan normal pervaginam : yaitu persalinan yang terjadi melalui jalan lahir tanpa atau dengan pemberian induksi (obat perangsang mules) dan tanpa alat bantuan (forceps dan vakum).
Persalinan spontan pervaginam : yaitu persalinan yang terjadi melalui jalan lahir TANPA ADANYA INTERVENSI APAPUN dan hanya berasal dari kontraksi rahim ibu dan meneran ibu.
Persalinan normal menurut WHO : berlangsung secara spontan (mules secara alami,, risiko rendah (tidak ada penyakit baik medis: diabetes, asma, hipertensi dll) sejak awal persalinan dan seterusnya sehingga lahir bayi. Bayi lahir secara spontan pada posisi belakang kepala dengan usia kehamilan 37-42 minggu.
Posisi kepala lahir itu ada yg tengadah, normalnya saat lahir itu kepala bayi posisinya menunduk jadi diameternya kecil dan mudah keluar dari jalan lahir. Sedangkan saat posisi kepala bayi tengadah maka biasanya itu pembukaannya akan terjadi lebih lama. Jika lahirnya kurang dari 37 minggu maka ini disebut prematur dan akan ada perbedaan perawatan terhadap bayinya.
Persalinan dan kehamilan merupakan dua hal yang terkait, keberhasilan persalinan juga sangat tergantung keberhasilan selama proses kehamilan. Jadi selama proses kehamilan itu akan sangat berpengaruh terhadap proses persalinan berlangsung.
Nahhh untuk perencanaan persalinan ini sebaiknya sudah dimulai sejak pemeriksaan kehamilan. Birth plan itu tidak dibuat saat mau melahirkan saja, tapi dari awal periksa.
Persalinan terbagi dari 3 tahap, yaitu:
Kala 1 : sejak mules muncul dengan frekuensi 2-3x dalam 10 menit, dari pembukaan 1-10 (lengkap). Saat kala 1 tenaga kesehatan pun hanya memantau saja, namun ibu yang berperan banyak bersama pendamping persalinan untuk manajemen nyerinya. Hati-hati, saat pembukaan belum lengkap ibu TIDAK BOLEH MENGEDAN karena hanya akan membuat serviks (jalan lahir) jadi menebal dan menyulitkan persalinan. Saat tahap ini jangan lupa makan dan minum supaya fisik ibu tetap terjaga hingga nanti kala 2 tiba.
Kala 2 : ketika pembukaan lengkap sampai bayi lahir. Saat di kala 2 ini ibu BOLEH MENGEDAN, . Di sini tenaga kesehatan berperan untuk membantu ibu melahirkan, namun tetap ibu yang lebih banyak berperan saat mengedan.
Kala 3 : setelah bayi lahir sampai plasenta lahir. Setelah bayi lahir ibu tidak perlu mengedan, dokter/ bidan pun hanya memantau. Bidan dan dokter sangat berperan dalam membantu lahirnya plasenta.
Faktor yang mempengaruhi persalinan:
Kekuatan persalinan (power), terdiri dari kontraksi rahim dan tenaga meneran ibu. Kontraksi rahim tidak kuat otomatis persalinan akan macet/ perlambatan. Meneran ibu terutama yang melahirkan anak pertama biasanya akan merasa masih kuat di kala 1, tapi tiba-tiba habis tenaga saat belum pembukaan lengkap sehingga ujungnya akan meminta sesar. Padahal persalinan anak pertama itu akan menentukan proses bersalin anak kedua, ketiga, dst.
Bayi dengan kondisinya (passenger): berat badan bayi, posisi bayi, letak bayi.
(a) Posisi bayi : misal letak lintang, kepala miring, dsb. Otomatis persalinan tidak akan berjalan dengan baik karena bayi tidak akan bisa lewat. Contoh kita buka pintu , pintunya kecil, didorong orang yg gemuk buat keluar tapi tetap tidak bisa karena kegemukan tsb. Artinya harus mengoptimalkan BB bayi yg tidak terlalu besar (hindari makan makanan tinggi karbohidrat dan tinggi gula).
(b) Kekuatan bayi: ada kondisi bayi tidak cukup kuat, di mana bayinya gawat janin/ distres yaitu kondisinya kekurangan oksigen ditandai dengan DJJ (detak jantung janin) kurang dari normal sehingga hal ini tidak bisa dipaksakan lahir normal karena harus cepat dan harus dirujuk oprasi sesar.
© Jalan lahir : luas jalan lahir yg dapat mengakomodasi keluar bayi. Hati-hati pada wanita dengan tinggi badan < 145 cm, ada kecurigaan bahwa pinggulnya kecil. Definisi pinggul kecil sangat bergantung dari ukuran bayi. Kalo berat bayi 2,5 kg kita diperiksa pinggulnya kecil maka tidak bisa normal. Tapi kalo bb bayi kecil dan pinggul kecil ya itu baru bisa normal. Masalahnya bb minimal untuk ukuran 9 bulan adalah 2,5 kg, kurang dari itu adalah berat bayi rendah.
Jadi proses persalinan adalah penyesuaian bayi terhadap jalan lahir ibu. Jadi sebenarnya seninya bersalin itu tergantung berat badan bayi, tapi jalan lahir kan segitu segitu aja dikasih dari Allah jadi kita harus mengatur BB bayi supaya tidak terlalu besar.
Mulai dengan adanya mules. Mules akan menekan kepala bayi ke jalan lahir sehingga membuat serviks dilatasi/ pembukaan. Tanda persalinan itu akan diawali dengan keluar lendir campur darah.
Peran panggul sangat penting sekali, dia akan membuka terus. kalo diperhatikan bahwa jalan lahir ternyata tidak seperti jalan tol mulus, tapi bayi itu keluarnya itu berbelok-belok karena pada dasarnya jalan lahir ibu itu bentuknya tidak lingkaran seperti kepala bayi tapi sedikit lonjong sehingga proses bersalin itu seninya si bayi mengikuti bentuk jalan lahir si ibu.
Faktor yang menyebabkan persalinan normal tidak mungkin dilakukan, jika:
Faktor ibu: Panggul sempit, hipertensi, gangguan jantung, tiroid, hal-hal yang menyebabkan ibu tidak boleh meneran (seperti mata minus >7 yang retinanya tipis, jika retinanya tebal biasanya masih diperbolahkan melahirkan dengan proses normal), bekas operasi sesar 2x atau lebih (jika sesar sebelumnya dikarenakan alasan menetap: pinggul sempit, tapi kalo penyebabnya tidak menetap: bayi melintang, plasenta menutup jalan lahir hal ini msih ada peluang melahirkan normal) penelitian membuktikan 80% wanita yang sebelumnya sesar berhasil untuk melahirkan normal.
Faktor janin: bayi besar, letak lintang/ letak kaki.
Faktor plasenta (ari-ari): plasenta menutupi jalan lahir. Jika plasenta menutupi jalan lahir maka sudah dipastikan tidak bisa lahir normal. Plasenta ibarat akar pohon karena akan memberikan makan pada bayi. Kalo dipaksakan lahir lewat bawah maka plasenta akan lahir duluan, lalu bayi akan dapat makan dari mana? Jadi tidak bisa, harus bayi yang lahir duluan. Hal ini termasuk birth plan juga, jika plasenta sudah letak di bawah maka sudah dipastikan birth plannya tidak bisa lahiran normal. Lalu tidak boleh berhubungan dengan suami juga karena bahaya perdarahan.
kala 1 dibagi 2 : ada fase laten (butuh 8 jam dari pembukaan 1-4, ini untuk anak pertama untuk anak kedua biasanya lebih cepat) dan masuk ke fase aktif (pembukaan 4 – lengkap) biasanya butuh waktu sekitar 6 jam. Hanya saja harus diperhatikan, pada awal persalinan akan berjalan lambat, kemudian masuk ke pembukaan 4 setelah itu dia akan naik semakin cepat, lalu pembukaan 8 biasanya akan mengalami perlambatan makanya kadang2 udah pembukaan 8 lama banget ga lengkap2 itu karena perlambatan ini.
Artinya intervensi medis bisa terjadi dalam proses ini. Ini gambaran persalinan secara normal: tapi ketika pembukaan sudah 12 jam ga maju-maju maka harus dilakukan intervensi, birth plan yang udah dibuat harus ada perubahan. Jika di birth plan gamau diinduksi karena akan terasa lebih sakit maka harus mau berubah karena ini sudah lewat dari waktu seharusnya. Makanya birth plan itu bisa saja dalam perjalanan harus berubah sesuai dengan kondisi kemajuan persalinan.
Setelah 14 jam pembukaan lengkap, maka anak pertama harus udah lahir dalam waktu 2 jam. Kalau anak ke 2 dan 3 biasanya 1 jam lahirnya. Jika lebih dari itu maka barulah harus ada bantuan alat seperti vakum atau forceps. Bayi tidak boleh terlalu lama berada di dalam panggul, karena nanti akibatnya kepala bayi menekan panggul nanti jantung bayi akan kekurangan oksigen. Maka dari itu persalinan buatan/ persalinan dengan bantuan forceps atau vakum harus dilakukan.
Proses persalinan adalah senantiasa dinamis dan senantiasa berubah. Kemudian persalinan juga butuh pengawasan dan antisipasi komplikasi. Kalo ada birth plan yang menyatakan tidak mau pemeriksaan dalam dalam justru hal ini salah, pemeriksaan dalam juga ada indikasinya yaitu setiap 4 jam sekali.
Prosedur tindakan medis hanya dilakukan atas indikasi dalam upaya menyelamatkan jiwa ataupun mencegah komplikasi. Contohnya: jika bayi sudah lama didasar panggul namun belum bisa keluar maka contohnya bisa harus di epis/ digunting jalan lahirnya karena supaya tidak terlalu lama.
Bagaimana menekan risiko kegagalan persalinan normal?
“Kontrol kehamilan yang adekuat, baik kuantitas maupun kualitas”
Kontrol kehamilan, secara Depkes menyarankan kontrol persalinan itu sebenernya ga banyak. minimal 4x yaitu: 1x trimester 1, 1x trimester 2, 2x trimester 3. Kemudian secara WHO USG itu hanya 1x saja di trimester 2 dilakukan. Karena perlu dipahami bahwa hal ini supaya bisa dilakukan disemua tempat/ wilayah.
Kalo ibu-ibu periksa kehamilan wajib bagi ibu untuk periksa BB, tekanan darah (tensi), Tinggi fundus uteri (TFU), ini yang penting setiap kali kontrol ke tenaga kesehatan. Kemudian konsumsi tablet FE. Imunisasi TT (ini kalo ada rencana lahiran di paraji/ yang kesterilannya belum seperti Rumah Sakit).
“komunikasi dengan petugas kesehatan untuk rencana persalinan dimulai sedini mungkin”
Sesar primer : dari awal saat hamil belum ada mules dsb sudah direncanakan operasi sesar jika pada kondisi letak bayi melintang, panggul sempit, plasenta menutupi jalan lahir, kondisi medis ibu.
Sesar sekunder : operasi yang dilakukan ketika ibu dalam proses persalinan (misal: sudah 24 jam bayi ga lahir-lahir, sudah lebih dari 2 jam kepala bayi ga mau turun, ketubannya sudah hijau artinya bayi sudah stres, dicek bunyi jantung bayinya kalo stres keliatan nanti jadi lebih lambat).
Di WHO sudah ada hal ini yaitu mengacu pada asuhan kebidanan yang bersifat normal, ada SOP nya.
Asuhan sayang ibu dan bayi
Asuhan yang menghargai kebudayaan, kepercayaan, dan keinginan sang ibu. Bahkan segala bentuk aktivitas tradisional yang terkadang aneh menurut medis tetap diperbolehkan dilakukan asal tidak membahayakan ibu dan bayi. Dalam persalinan harus terjadi kerjasama semua pihak mulai dari tenaga kesehatan, klien, dan pendamping persalinan seperti suami.
Hal-hal dalam perencanaan persalinan:
Kalo bisa jangan hanya ada suami saja, tapi ada anggota keluarga lain/ kerabat juga.
Persalinan adalah suatu proses.
Contoh: saya akan lahir di RS besar, di sana ada bank darah jadi pasien ga takut ada pendarahan. Nah ternyata ada kondisi di mana darah sedang kosong, jadi harus ada keluarga yang sama golongan darahnya dan dipersiapkan sudah di briefing dari jauh hari jika ada apa-apa maka anggota keluarga lah yang akan menolong terlebih dahulu.
Sejak awal positif hamil sebisa mungkin langsung nabung untuk lahiran, persiapakan rencana seburuk mungkin seperti operasi sehingga menyiapkan uang lebih banyak.
Kesiapan menghadapi komunikasi
Keputusan saat melahirkan itu ada di suami, jangan asal menolak tindakan-tindakan tapi harus ada alasan yang jelas. Misal seperti menolak imunisasi, menolak vitamin K (padahal bermanfaat untuk mencegah perdarahan), salep mata, yang katanya jika dilakukan pada bayi sejak setelah melahirkan maka bayi jd dapet intervensi medis terlalu banyak takut stres. Bayi itu pastri stres saat lahir, salah satu hal yg bisa mengurangi stres bayi saat baru lahir adalah IMD (inisiasi menyusui dini) menyimpan bayi di dada ibu untuk mencari puting, sambil menghangatkan badan, dan hal tsb akan memberikan kenyamanan serta kehangatan yang dilakukan sekitar 1 jam.
Pemotongan tali pusat dipotong nanti, adanya dalam APN (Asuhan Persalinan Normal) yaitu hanyalah penundaan pemotongan tali pusat yaitu selama 30-60 detik ini bisa meningkatkan Hemoglobin bayi. Ada juga bayi yang kurang sehat harus segera dipotong segera. Jadi informasi harus tepat dan jelas, dapet informasi orang tua dari mana? Apakah dari google atau dari tenaga kesehatan.
Kenali faktor yang dapat menghambat mendapatkan pertolongan persalinan (lalulintas, libur panjang, cuaca).
Sang dokter pernah dapat rujukan pasien dari Rancaekek yang banjir dan macet dan tidak tertolong, nah sudah tau kalo lokasi jauh harus diperhitungkan waktunya, atau lebih baik tinggal di rumah saudara yang dekat dengan lokasi tempat bersalin sehingga tidak terlalu jauh nanti jaraknya
Selalu sediakan pilihan kedua bahkan ketiga, sebagai alternatif.
Kalo sudah berencana di bidan 1, kalo penuh udah tau mau ke bidan 2, atau jika dirujuk ke RS mana sudah tau dan punya rencana.
Pelajari kemampuan sarana pelayanan kesehatan dalam memberikan pertolongan persalinan.
Apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan persalinan normal?
(1) Kekuatan persalinan (power)
Mempersiapkan fisik dan psikis ibu. Orang hamil itu HARUS BANYAK AKTIVITAS. Banyak aktivitas bisa melenturkan organ panggul sehingga bisa memudahkan saat bayi keluar dari jalan lahir. Jangan banyak tidur-tiduran di sofa atau leyeh-leyeh, ibu hamil itu bukan orang sakit, tapi justru harus selalu banyak gerak
(2) Mempersiapkan bayi dengan kondisinya (passanger)
Pemeriksaan rutin selama kehamilan. Misal: bayi sudah 3 kg tapi masih 8 bulan, nah artinya berat badan bayi tidak boleh lebih besar lagi dan ibu harus diet.
(3) Persiapkan jalan lahir (passage)
Melalui latihan yang teratur dan aktivitas yang terukur. Contoh seperti pijat perineum bisa dilakukan setelah usia 36 weeks dibantu oleh suami, sekali pijat 1 hari 1x sekitar 5 menit, lalu kompres perineum dengan air hangat (perineum itu space antara vagina dan anus). Penelitian menyebutkan pijat perineum bisa mengurangi robekan derajat tiga (yaitu robekan hingga anus). Cek pijat perineum bisa di yutub.
Ibu harus mau menghadapi rasa sakit, kareana bahaya juga kalo ga timbul sakit nanti banyak ibu yang ketagihan melahirkan. Pemberian obat anestesi (anti nyeri) selama proses persalinan dapat meningkatkan risiko sesar tapi signifikan dapat pembukaan lebih lama dan meningkatkan untuk persalinan dengan bantuan alat seperti vakum.
Perencanaan persalinan dilakukan sedini mungkin selama kehamilan.
Komunikasi yang baik melalui pemeriksaan kehamilan yang berkualitas menghasilkan rencana perslainan yang matang.
Persalinan aman dan nyaman harus diupayakan tanpa melupakan hakikat persalinan merupakan sebuah proses dinamis (jadi ibu mau menginginkan birth plan seperti ini itu, tapi ingat di tengah jalan kemungkinan rencana berubah juga sangat mungkin sekali, harus fleksibel).
Asuhan persalinan normal merupakan metode persalinan yang menjadi standar persalinan normal di Indonesia.
Notulensi workshop oleh @yulialatifah