PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

Love Begins
TVSTRANGERTHINGS
art blog(derogatory)
Jules of Nature
sheepfilms
almost home

oozey mess

Origami Around
🪼
$LAYYYTER
h
cherry valley forever

#extradirty
Misplaced Lens Cap
YOU ARE THE REASON
will byers stan first human second
Today's Document

if i look back, i am lost
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
seen from TĂĽrkiye
seen from Germany
seen from TĂĽrkiye

seen from Singapore

seen from Malaysia

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from Belarus
seen from United States

seen from Australia

seen from Singapore
seen from Germany
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Australia
seen from Japan

seen from France

seen from TĂĽrkiye

seen from Iraq

seen from United Kingdom
@ayambetutu
Seringkali kita tak sadar bahwa apa yang selalu kita minta, kita doakan adalah tentang dunia. Minta diampuni dosa, minta panjang umur, minta banyak rezeki.
Gak sadar bahwa di dunia hanya sementara. Kenapa gak kita ganti doa kita menjadi "Ya Allah jadikanlah aku salah satu manusia yang memasuki surga Mu, Surga Firdaus"
Adaptasi dalam Pernikahan
Tahun pertama menikah memang adaptasi dan itu bukan hal yang mudah. Pergantian peran yang mana tiap aktivitasnya membutuhkan pembiasaan, biar bisa masuk level pro wkwk. Mungkin kalau diniatin nggak karena Allah, beneran nggak kuat hoho~
Dulu nggak biasa ngelakuin pekerjaan rumah sendiri, sekarang semuanya sendiri; nyapu, ngepel, beres-beres, setrika, nyuci, jemur baju, nyiapin ini itu. Dulu nggak biasa masak, udah belajarpun kok masih sering zonk, sekarang mau nggak mau ya tetep harus belajar. Meski tangan sampe lecet, luka-luka karena masuk di dunia perdapuran dan perkamarmandian hahaha lemah sekale akoh
Beberapa hari yang lalu, aku sampe sedihhh banget gitu rasanya karena aku belum bisa masak, apalagi suami punya selera sendiri. Aku nelpon mama nangis-nangis dong, cuma bilang, "Aku nggak bisa masak, ma".
"Terus kenapa kok nangis? Emang kamu dimarahin sama suamimu?"
"Enggak", jawabku.
Ya pokonya aku pengen nangis aja wkwkwk. Walaupun dalam syariat Islam bukan kewajiban istri harus bisa masak, harus ngurusin semua pekerjaan rumah. Fitrah perempuan itu haid, hamil dan menyusui. Jadi di luar itu sebenarnya tugas suami, cuma kalau dilakukan sebagai bentuk pengabdian, istri dapet pahala. Yaaa kadang suami yang masak, malah aku yang diajarin begini dan begitu wkwk
Dulu terbiasa beraktivitas dan berkegiatan di luar rumah, sekarang hampir di rumah terus, dan bukan hal yang mudah buat aku. Hmm.. tapi seenggaknya di masa pandemi lewat setahun ini, aku jadi mulai terbiasa di rumah sendiri
Dulu suka ngelakuin apa-apa sendiri dan paling menghindari banget kalo ngerepotin orang lain. Sekarang mau nggak mau ya harus ngerepotin suami. Sampe suami bilang, "Kalo ada apa-apa tuh bilang, nggak usah sok kuat. Aku ini bukan orang lain, aku suamimu". Wkwkkw dasar aku
Dulu selama aku hidup sendiri, jarang minta-minta orang tua, aku gengsi dan ga enakan. Biasanya nunggu kalo dikasih. Yah.. tabiat anak pertama selalu gitu, ya gimana haha. Sekarang kalo tabungan pribadi habis, mau minta duit ke siapa kalo nggak ke suami? Wkwkwk
Tulisan ini belum selesai kutulis di notes hp, trus dibaca dia. Eh dia malah nangis dong. Trus besoknya dia nanya,
"Capek ya kamu jadi ibu rumah tangga?"
"Mau aku jadi apa aja ya tetep capek. Nggak ada kerjaan yang bikin nggak capek. Mas kerja juga capek, kan?", jawabku
Sebelum-sebelumnya, aku juga capek menjalani aktivitasku. Hanya saja sekarang capeknya berbeda. Saat sebelum menikah dengannya, aku sadar atas konsekuensi yang kujalani nanti,
"Karena nanti hidup mandiri, jauh dari keluarga, aku harus siap melakukan semuanya sendiri. Terutama masak dan nyuci yang bakal jadi tantangan buat aku. Semoga aku bisa, meski perlu penyesuaian yang agak lama"
Dalam pernikahan, tidak ada istilah timbal balik. You should give and give more. Nggak usah berharap balasan apapun. Nggak usah perhitungan sudah ngelakuin ini itu. Lakukan semua karena Allah, maka cinta itu akan semakin tumbuh dengan sendirinya.
Islam bahkan sudah mengatur hal-hal yang detail sekalipun, sampai yang terlihat sepele. Semisal lagi marahan. Sebelum tidur harus damai dulu, nggak boleh bikin suami marah karena malaikat akan melaknat si istri sampai shubuh.
Kalo dipikir pake logika dan ego-ego kita muncul, "lah ngapain sih, orang dia yang salah, kita marah sama dia". Sulit sekali ya rasanya untuk taat. Butuh dorongan iman untuk lapang menerima syariat Allah.
Bukan hal yang mudah
Namun, kita harus berusaha menjadi yang terbaik, memberi yang terbaik, meski masih banyak kekurangan yang kita miliki~
Buntok, 11 Agustus 2021 | Pena Imaji
SETELAH MENIKAH
Apa yang kebanyakan orang alami setelah menikah sekarang aku alami juga. Banyak yang berbeda dari kebiasaan sebelum menikah, tentunya. Menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, yang siap siaga selalu kebutuhan suami dan calon anak-anak nanti. Memikirkan rumitnya memilih menu sarapan, memilah-milah cucian biar ga rusak dicuci, menggosok lembar demi lembar pakaian suami, menyapu halaman rumah yg tiap siang uda mulai kotor sama daun2 kering, dan masih banyak hal lagi yang membuat aku haru menjadi seoarang istri. Gelar baru yang disematkan suamiku di dalam hari-hariku, dan aku bangga dengan gelar "Istri" itu.
Ooh Gitu Toh...
Setelah menikah, gw menyadari bahwa segala drama percintaan yang gw lalui sebelum menikah itu lucu, kurang penting. Tapi ketika gw nulis ini, ternyata penting juga sih, penting untuk belajar, bahwa drama kayak gitu emang gak terlalu penting. Wkwk. Gak lah, segala sesuatu harus ada hikmahnya, termasuk kebodohan kita bermain drama percintaan.
Pada banyak kasus, di masa depan kita akan menjadi bersyukur kenapa dulu gak dijodohin sama si ini atau si itu. Alhamdulillah ya taarufnya ditolak, ternyata emang kurang cocok prinsip hidupnya. Alhamdulillah ya ditinggal nikah sama si itu, ternyata emang yang sekarang lebih bisa ngertiin sifat-sifat aku yang kayak mak lampir. Alhamdulillah yaaaa ini itu, semoga ada yang alhamdulillahnya pasangannya kaya raya mati masuk surga.Â
Gak akan ada pasangan yang sempurna lah, yang ada adalah pasangan yang cukup buat kita dan hati kita yang cukup lapang untuk bersyukur.
Termasuk ketika orang dari masa lalu gak punya jeleknya yang bisa kita lihat, demi Allah, tetap alhamdulillah. Alhamdulillah kita dicenderungkannya pada orang baik, yang meskipun gak jodoh sama kita, tapi mungkin itu salah satu tanda kalau kita punya sedikit kebaikan makanya cenderungnya ke orang yang baik.
Kapan alhamdulillah itu muncul? Umumnya manusia sih termasuk gw, baru berasa alhamdulillahnya kalo udah ketemu hikmahnya. Kalo belum? Ya banyak ngeluh. Wkwk. Makanya itu mah ujian husnudzon sama Allah, bahwa pasti ada hikmahnya dari segala hal yang didekatkan atau dijauhkan dari kita.
Gw sendiri pernah dapat momen alhamdulillah itu, terutama ketika ingat sifat-sifat gw yang naujubillah dan itu bisa ditangani sama suami. Kalo gw nikah sama yang lain, mungkin gw udah digelitikin sampe mati. Momen bersyukur itu sungguh romantis ya, gw sering bilang gini di tengah doa,
“Ya Rabb, alhamdulillah dikasih suami kayak gitu, aku mah bersyukur banget. Tapi setelah kupikir - pikir, dia pasti lebih bersyukur dong ya Allah punya istri kayak aku, udah mah pinter, baik lagi. Iya kan ya? Iya pasti ya harusnya. Aamiin.”
*perempuan gatau diri*
Terkadang menikah itu bukan tentang dengan siapa, tp tentang bagaimana kita.
Mau nanya kabar tapi takut. Uda ngetik panjang lebar, hapus. Ngetik lagi, hapus lagi. Giliran dah ada niat mau send, takut lagi. Dah gini aja sampe doi chatt duluan:(
Bagaimana perasaanmu ketika orang yang kau sayang kini memperlakukan kekasih barunya sebagaimana ia pernah memperlakukanmu dulu? Mengatakan banyak hal manis sama seperti yang ia katakan kepadamu dulu? Bahkan mengajaknya kencan ke tempat-tempat yang justru dulu ia tau darimu?
(via mbeeer)
Di dalam hidup ini , akan ada orang yang datang dan pergi . Allah telah mempertemukan kita dengan orang2 yang Dia telah gariskan dalam catatan takdir . Suka atau tidak , akan ada seseorang yang singgah sejenak dan membuat hidup kita tak lagi sama seperti kemarin .
Suka atau tidak akan ada seseorang yang datang dalam hidup kita sekejap tetapi meninggalkan kesan yang bertahan lama . Hidup ini memang penuh dengan warna .
Terkadang , Allah mengambil kembali apa yang Dia titipkan pada kita , disaat kita tak ingin melepaskannya mungkin itulah cara Dia mengingatkan kita bahwa sebetulnya tak ada yang abadi di dunia ini . Hanya Dia yang kekal abadi ❤️
Tentang Jodoh
Pernah kebayang gak, bahwa siapa jodohmu, apa pekerjaannya, dan bagaimana kebiasaannya, akan sangat mempengaruhi cerita dalam hidupmu kelak?
7 hari seminggu, 24 jam sehari. Bangun tidurnya, mandinya, sarapannya, bekerjanya, pulangnya, istirahatnya, pekerjaan malamnya, bacaannya, tontonannya, hiburannya, tempat nongkrongnya, dan olahraganya. Semuanya akan menjadi cerita dalam hidupmu.
Apakah dia seorang penulis, wartawan, arsitek, staff ahli anggota dewan, pegawai kantor pajak, tukang nasi goreng pinggir jalan, atau PNS kelurahan, kalian akan saling menyumbang cerita.
Kebiasaannya akan mengisi hari-harimu. Keteledorannya, kesiagaannya, kelucuannya, bahkan kebodohannya akan menjadi urusanmu. Yang barangkali bisa kamu tertawai, omeli, atau tak kamu pedulikan.
Saat kamu memutuskan untuk memiliki dan dimiliki seseorang, ada akibat atau konsekuensi yang harus kamu hadapi. Jika pekerjaannya begini, maka hidupmu akan begitu. Jika kebiasaannya seperti ini, maka hari-harimu akan seperti itu. Sudahkah kamu yakinkan dirimu? Ataukah terbersit secuil keraguan, jangan-jangan bukan dia?
Memang, kadang selektif menjadi dilematis. Terlebih usia tampaknya sulit diajak kompromi. Di saat seperti ini, kita perlu menilik kembali. Siapa yang kita cari, seseorang yang sempurna, ataukah yang mampu sama-sama?
Pada akhirnya, pencarianmu akan bermuara bukan kepada kesempurnaan melainkan penerimaan. Karena tak akan ada orang yang sempurna untuk dipilih, namun selalu ada orang yang layak untuk diterima.
Jika sudah ada penerimaan, maka sisanya adalah keberanian.
— Taufik Aulia
Ceritakan Tentang Bahagia Saja.
Sebagian dari kita, memilih bisu daripada harus bercerita. Sebagian dari kita, mengira bahwa bercerita hanya menambah resah bukan menumpas luka. Sebagian dari kita, ingin lupa.
Tidak ada sakit yang tak memiliki makna. Bahkan Tuhan biarkan kita ber-air mata karna Dia percaya, kita bisa memaknai setiap kepedihan yang ada. Malam ini mengenai segala hal yang menyedihkan, biar bisu saja. Tak apa.
***
Dan saat ini, hanya bahagia saja yang dunia perlu ketahui.
Siapapun kalian yang membaca ini.
Mari membuka suara, bagi cerita membahagiakan yang kalian punya!
***
Reply post ini dengan cerita-cerita bahagia kalian, karna berbagi kebahagiaan adalah sedekah yang paling sederhana.
To: Seseorang yang paling berani setelah ayahku.
Mungkin hari itu adalah hari bahagiaku. Dengan caramu berfikir, caramu menjawab semua pertanyaanku, caramu memandang masa depan... iya hanya dengan seperti itu, bahagiaku ada di kamu. Aku adalah orang yang sulit jatuh cinta, tapi denganmu, ya kau tau aku tidak bisa tidak jatuh cinta.
xoxo
wanita yang diam-diam menyukaimu semenjak obrolan singkak itu.
NIKAH ITU BERAT!
Dulu juga kuliah berat, tapi terasa ringan karena sudah kita lewati.
Masa SMA,SMP, SD, TK juga berat, tapi terasa ringan karena sudah kita lewati.
Berat, tapi bukankah kita tetap bahagia menjalaninya?
Sama, nikah juga berat, komunikasi dengan pasangan juga berat, menafkahi keluarga juga berat, tapi bukan berarti kita gak bisa bahagia dan senang-senang, karena berat itu akan menyenangkan jika diselesaikan bersama-sama.
Jadi, jangan mundur hanya karena ada yang bilang “NIKAH ITU BERAT”, karena setiap fase apapun dalam kehidupan akan selalu berat, sebelum dan saat kita menjalaninya.
Nikah itu berat, yang ringan mah, chiki taro 70 gram.
NIKAH ITU BERAT
Bandung, 6 Januari 2019
Ditulis setelah mendengar teman yang tidak ingin menikah karena merasa berat
Nikah itu ringan kalau dipikulnya berdua. #tetepmeyakinkandiri
Kembali kepadamu memang terlihat menggoyahkan. Kau pernah kusebut sebagai yang terbaik, kau pernah kucintai dengan begitu baik. Namun tidakkah kau ingat? kau pernah pergi karena mencari yang lebih baik.
(via mbeeer)
IIP #4: Mendidik Diri Sendiri
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh! Akhirnya, sharing saya tenteng IIP kembali lagi. Terima kasih ya sudah menunggu. Kali ini, giliran saya untuk re-share materi favorit saya. Yeay! Judul asli materi ini adalah Mendidik Anak dengan Kekuatan Fitrah, tapi, saya akan menuliskannya kembali sesuai dengan konteks mendidik diri sendiri. Ini nih serunya IIP, mau yang sudah menikah, belum menikah, sudah punya anak, belum punya anak, bekerja di ranah publik, atau bekerja di ranah domestik, semua bisa mengimplementasikan pembelajaran yang diterima dengan konteksnya masing-masing. Bismillah, ayo kita mulai!
Tahukah kamu, apa sumber kegalauan tentang mendidik diri sendiri yang paling berbahaya bagi kita?Â
Jawabannya adalah membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Melihat orang lain sudah mencapai ini dan itu, mempelajari ini dan itu, sampai pada tahapan ini dan itu, tanpa sadar kita sering langsung membandingkannya dengan diri sendiri. Lalu apa yang terjadi? Galau, karena merasa tidak bisa seperti orang lain. Ujung-ujungnya sedih dan lupa bersyukur. Hal lain yang juga parah adalah, kita jadi membabi buta dalam mempelajari sesuatu, karena begitu inginnya melampaui orang lain. Pernahkah kamu merasakannya?
“Wah, si X ikutan seminar disana tuh, pokoknya saya harus ikutan juga! Eh, ada kulwap nih, pokoknya engga boleh ketinggalan! Ntar malam beli kuota banyak ah buat belajar via webinar!” dan seterusnya.
Mengapa ini menjadi sumber kegalauan? Sebab, kita terlalu sering ikut-ikutan orang lain dan menjalani hidup dengan tidak berusaha memahami terlebih dahulu apa yang menjadi “misi hidup” kita sebagai individu, sehingga semua ilmu kita pelajari dengan membabi buta dan  tidak ada yang dipraktekkan sama sekali. Semua seminar dan majelis ilmu offline maupun online kita ikuti karena kekhawatiran tingkat tinggi akan ketertinggalan ilmu kekinian, tapi tidak ada satupun yang membekas menjadi jejak sejarah perjalanan hidup. Kalau bahasa sundanya mah, rariweuh teu puguh. Hehe!
Alhasil, kita tidak hanya mengalami banjir informasi, tapi juga tsunami informasi, yang berdampak pada semakin bingungnya kita dalam belajar karena pandangan kita terhadap apa yang sebenarnya menjadi fitrah pribadi kita dan apa yang menjadi keinginan kita menjadi kabur. Alih-alih menjadi expert, kita malah bingung sendiri karena banyaknya informasi yang diterima malah tidak berdampak bagi diri kita. Padahal, jika seorang teman mengikuti course X karena itu berarti bagi cita-citanya, bukan berarti kita harus mengikutinya juga, apalagi jika alasannya adalah biar hits dan kekinian. Duh!
Lalu, apa yang bisa kita lakukan?
Geserlah fokus dari memikirkan apa yang harus kita pelajari menjadi untuk apa kita mempelajari hal tersebut sehingga kita akan menjadi paham mengapa kita melakukan sesuatu. Konkretnya bisa jadi begini: renungkan dan temukanlah misi spesifik hidupmu (ingin melakukan apa di dunia ini, apa kontribusi yang ingin diberikan, bagaimana bisa mewujudkannya dengan mempertimbangkan kekuatan diri yang dimiliki, dst), lalu mulailah untuk memikirkan ilmu apa saja yang bisa menjadi penunjangnya. Hal ini akan menjadikan kita unik dari yang lainnya, sebab, seseorang yang misi spesifiknya adalah menulis untuk berdakwah tentu akan memiliki to-do-list belajar yang berbeda dengan orang lain yang ingin menjadi praktisi kesehatan untuk menolong orang lain.
Selamat menemukan misi spesifik hidupmu, yaa! Tenang, engga usah bingung, karena Allah menciptakan kita dengan potensinya masing-masing dan juga dengan misi spesifiknya masing-masing. Semoga dengan telah ditemukannya misi spesifik tersebut kita bisa menolong agama Allah dengan potensi yang melekat dalam diri kita. Baarakallahu fiikum ;)
Referensi: Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional
_____
Tulisan ini adalah resume materi perkuliahan di Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional yang saya ikuti pada bulan Mei - Juli 2017. Semua informasi di dalamnya saya dapatkan dari kelas tersebut dan saya hanya menuliskannya kembali dengan bahasa sendiri agar lebih mudah dipahami oleh pembaca.
_____
Untuk membaca tulisan saya yang lain tentang Institut Ibu Profesional, silahkan klik disini. Untuk membaca tulisan lain terkait pranikah dan parenting, silahkan klik disini. Semoga Allah memampukan kita semua untuk memahaminya dengan benar dan menyampaikan kita pada kesempatan untuk mengaplikasikannya. Baarakallahu fiikum!
Nemu ini di draft. Awalnya disimpen buat nanti dibaca lagi sama diri sendiri. Pas scrolling dan baca ulang, duuuh jlebnya. Merasa disentil karena selama ini terlalu membandingkan diri sendiri dan orang lain. Si A bisa gini padahal gini. Si B bisa gitu padahal gitu. Nah si aku udah bisa apa? Pengen juga ikut kelas institut ibu professional. Belum bener-bener tau sih kelasnya bakalan kayak gimana baru sekilas aja dan tertarik, semoga ada rezekinya. Karena aku tuh ingin sekolah lagi, kuliah lagi tapi ga tau mau jurusan apa (udah berkeliarannya di ranah domestik nih soalnya jadi kalo lanjut S. Gz kayaknya lebar), jadi lagi nyari-nyari ilmu yang bisa mendukung buat mendidik Runi dan adik-adiknya kelak dan buat pengembangan diri. Sungguh diriku butuh lahan buat eksistensi nih daripada melenceng di jalur yang salah yaa kan.. Kepikiran banget buat kursus mekap professional (nikahan) gtu dan kursus jait. Semoga ada rezekinya..
Btw, mba Novie yang nulis tulisan ini sepertinya sudah benar-benar pindah tempat menulis karena udah deactivated nih..
Cinta pada pandangan pertama itu memang ada. Aku melihat untuk pertama kalinya, semua aura seketika muncul dari laki-laki yang aku sendiri tak terlalu mengenalnya. Berwibawa dan berani yang membuat hatiku langsung ingin mengatakan YA
"Jodoh itu unik, seringkali ia datang sendirian tapi tak sedikit ia datang membawa kenangan". -katamu sore itu ketika matahari sedang cantik-cantiknya
Akses Tumblr di Indonesia Kembali Resmi Dibuka!
Alhamdulillah, terima kasih kepada tumblr @staff @support yang sudah memperhatikan aspirasi banyak pihak terkait konten tak pantas di platform ini. Akhirnya Kominfo RI membuka kembali akses tumblr. Butuh ketegasan dan pengorbanan banyak pihak–terutama user–agar internet kita sehat. Pemerintah telah bekerja dengan serius memberantas atau mengurangi akses terhadap konten tak pantas yang memberikan dampak negatif terhadap peradaban bangsa. Ini harus kita apresiasi setinggi-tingginya.
Proses panjang ini juga menyaring mana yang benar-benar engaged dengan tumblr dan mana yang angin-anginan–atau sekadar ikut-ikutan. Angkat topi untuk mereka yang tetap setia meski diblokir berulang kali, ditinggalkan selebtumblr, atau tak ada cinta yang terbalas–padahal sudah curhat panjang lebar. Haha. Tapi tumblr ini media rimba yang memang untuk bertahan tidak hanya butuh kemampuan, tapi keterikatan terhadap proses transformasi perasaan ke tulisan. Itu susah.Â
Selamat mendayu-dayu, lagi.Â