aku mengakui kesedihanku, aku mengakui betapa bodohnya aku yang terus-terusan memanjakan lukaku. aku berusaha untuk tidak kehilangan teman karena mereka terus menyuruhku untuk bergerak, dan berubah. bergerak dari segala kegundahan hati, dan berubah menjadi lebih kuat.
tapi, jika ku tanya, ketika kamu sedang memakan cookies dan menurutmu rasanya enak, ditambah dengan taburan choco chips diatasnya.
ketika pertama kali kamu melihatnya, kamu begitu tertarik ingin merasakan cookies itu dan ingin mengunyahnya segera. ditambah, keadaan perutmu sedang lapar.
ketika kamu mencobanya, rasanya enak, sebanding dengan ekspetasimu.
namun kamu mulai kenyang, dan cookies tersebut hampir mau habis. apa yang kamu lakukan?
apakah kamu akan meninggalkan cookies tersebut dan menyisakannya untuk orang lain?
apakah kamu akan memakannya, menghabiskannya, namun dengan perlahan agar rasanya tidak cepat hilang, dan rasa lapar yang melanda akan teratasi?
apakah kamu akan mengambil semua atau sebagian cookies tersebut, dan membawanya pulang kerumah, agar tidak ada orang yang tahu kalau kamu sudah menghabiskannya?
atau, apakah kamu punya cara lain?
begitu juga dengan luka ini. aku punya caraku tersendiri, yang berbeda dengan teman-temanku, dengan kebanyakan orang. aku percaya suatu hari nanti aku mulai menutup lukaku, dan ku harap bekasnya akan hilang untuk selamanya. paling tidak, sudah tidak akan terinfeksi lagi.