Menjadi Sukses, Menginspirasi Banyak Orang, dan Meluaskan Manfaat
pikiran āboro-boroā yang lainnya akan terus bermunculan di tengah-tengah ketidakbersyukuran manusia atas apa yang sedang dijalaninya.
Menjadi Sukses, bisa Menginspirasi Banyak Orang, Meluaskan Manfaat, saya kira menjadi impian sebagian besar dari kita.
Untuk mencapainya, saya lihat banyak sekali macam-macam cara yang orang lakukan di luar sana. Ada yang menitinya dengan jalan pendidikan. Menuntaskan jenjang pendidikan setinggi-tingginya. Sesegera mungkin. Paling tidak, ia akan dianggap memiliki pemahaman yang lebih kredibel dibanding yang lain, yang mungkin tidak seberuntung dia dalam mengenyam studi. Boro-boro ahli, skripsi aja nggak tuntas-tuntas, pikir yang lain. Padahal saya yakin, ada lebih dari jutaan orang berpikir, boro-boro kuliah, pengen tamat SMA saja nggak tau bisa atau nggak, karna harus bantu bekerja untuk biaya hidup keluarga. Dan begitu seterusnya, pikiran āboro-boroā yang lainnya akan terus bermunculan di tengah-tengah ketidakbersyukuran manusia atas apa yang sedang dijalaninya. Lebih tepatnya, perasaan menderitanya.
Cerita lain, ada yang meniti jalan suksesnya melalui riwayat karir. Mulai dari bekerja sesuai bidang studi, lintas studi, bahkan sampai ābekerja apapun rela, mauā, karna sudah berpasrah tidak punya latar belakang studi yang cukup, ataupun kemampuan yang memadai. Melalui jalan ini, paling tidak, ada sedikit rasa aman dalam hati, āhari ini bekerja, esok hari digajiā. Pemikiran statis, nyaman sekali. Meskipun banyak juga yang tidak membuat kalkulus bagaimana gajinya itu dapat mengcover seluruh kebutuhannya di tengah-tengah kejamnya kenaikan inflasi. Kalau begitu, berhakkah menyandarkan diri pada jaminan gaji di awal bulan atau kenaikan sekian persen setiap tahun, yang sebetulnya tidak lebih dari total angka keperluan? Ya walaupun pada akhirnya, kebaikan alam selalu menjawab segala keterbutuhan kita di tengah keterbatasan, seperti āgajiā misalnya.
Satu lagi, yang menurut sebagian besar orang adalah jalan yang konyol. Belum juga kau punya kerjaan, belum juga kau tuntas studi, sudah berani-beraninya melamar anak orang. Sebagai jalan menjemput rezeki dan kelancaran hidup bersama, katanya sebagai pembelaan. Apakah ini omong kosong?
ketika kita terbangun pagi hari, bukan hanya kesempatan saja yang diberikan Tuhan pada kita. Tapi juga kepercayaan dan kemampuan. Di saat mungkin banyak orang sudah tidak mempercayai kita dan menganggap kita tidak mampu. But, God donāt!
Saya rasa, tidak masalah seseorang ingin atau bahkan harus meniti jalan yang mana dulu untuk menjemput Suksesnya. Saya memang tidak bisa mengukur ukuran sukses orang lain pada skala yang pakem. Karna salah satu anugrah yang diberikan Tuhan pada manusia adalah selalu bertumbunya ambisi dalam diri seseorang. Selalu berkembang satu ambisi pada ambisi lain, bahkan terkadang tanpa memedulikan apakah ambisi sebelumnya sudah tertuntaskan atau belum. Saya juga tidak akan menilai apakah ambisi ini mempunyai energi yang positif atau negatif. Yang jelas, ambisi inilah yang menjadikan manusia selalu berharap untuk bisa mempunyai kesempatan lagi esok hari, untuk bisa terbangun lagi esok pagi. Dan pada sebagian manusia, Tuhan memberikan kesempatan itu.
Bahkan saya pribadi selalu berusaha untuk memaknai bahwa ketika kita terbangun pagi hari, bukan hanya kesempatan saja yang diberikan Tuhan pada kita. Tapi juga kepercayaan dan kemampuan. Di saat mungkin banyak orang sudah tidak mempercayai kita dan menganggap kita tidak mampu. But, God donāt! Well, meskipun sulit menumbuhkan perasaan ini di tengah banyaknya kekacauan dan kerumitan urusan hidup. Bagaimana mungkin dengan mudahnya kita menyikapi masalah dengan syukur, atau menyikapi ujian dengan tersenyum, jika bukan kekuatan kepercayaan dan keberpasrahan yang tinggi. Juga pada pengakuan diri yang lemah, dan hanya Tuhan yang membuat kita menjadi mampu.
Saya tidak akan melihat pada cara apa, jalan yang mana, yang manusia tempuh. Meskpiun, secara kasat mata mereka hadirkan keberhasilan dalam skala hitung tertentu. Tapi 3 hal inilah yang semestinya menjadi skala hitung prioritas keberhasilan kita sebagai seorang Muslim.
Selanjutnya saya sebut sebagai orientasi 3A
Akan sangat percuma ketika kita menuntaskan suatu urusan, tapi bukan Allah yang menjadi pacuanmu menyelesaikannya. Bukan Rosul yang menjadi teladanmu bertindak dalam urusan itu. Mengacuhkan harap keluarga, juga menafikkan perhatian pada amal-amal yang bersinggungan langsung dengan lingkungan sekitar kita.
Saya lebih menghargai orang-orang yang mengaku sulit dalam pekerjaannya, belum tuntas dalam satu urusannya, namun mereka begitu menikmati proses dan menyandarkan ikhtiarnya pada orientasi 3A. Sebaliknya, saya hanya akan mengambil pelajaran dari orang-orang yang mengaku sukses namun tidak satupun orientasi 3A ada dalam benaknya.
Jika ada yang bertanya, dimana letak āakuā dalam orientasi 3A ini? secara kasat mata saya tegaskan, TIDAK ADA! But honestly, sejak poin satu saja kau genggam, maka sebetulnya kita sedang berikhtiar untuk keselamatan diri kita sendiri. Apalagi kita genggam kuat semua poin orientasi 3A ini. Itulah tolak ukur sukses saya.
Bagaimana soal āMenginspirasi Banyak Orang?ā. Tentu sebelumnya kita perlu memahami bahwa manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Termasuk diri kita. Bahkan mungkin kadar kekurangan itu terlalu besar untuk menyeimbangkan nilai kebaikan kita. Tetapi, barangkali ada baiknya, urusan timbang-menimbang ini kita selesaikan secara pribadi. Tentunya dengan selalu konsisten pada proses evaluasi dan perbaikan diri. Berbeda halnya ketika kita bicara pada konteks inspiring.
Jika kita masih khawatir pada kekurangan, jangan-jangan kita belum mampu menggali dan menyuburkan kelebihan yang sebetulnya kita punya.
Ketika kita ingin bisa memberikan inspirasi kebaikan pada orang lain, jangan fokuskan diri pada kekurangan. Enyahkan itu sejenak. Biarkan dia muncul kembali dalam pikiran kita saat kita sedang menyepi saja mengharap ampunan dan bertekad untuk memperbaikinya. Tapi ketika sedang dalam keramaian, coba tutup rapat dia. Jangan buka sedikitpun. Sebaliknya, munculkan nilai-nilai kebaikan dalam diri. Meskipun sulit, paksa dia untuk keluar. Hadirkan energi-energi positif. Kita harus percaya bahwa Tuhan telah menganugrahkannya pada kita. Ya, Kita. Kalau perlu, sebut nama kita masing-masing. Panggil juga nilai kebaikan itu agar dia sedikit demi sedikit mau untuk terus keluar dari dalam diri kita. Karna kita hendak menyebarkannya kepada banyak orang. Jika kita masih khawatir pada kekurangan, jangan-jangan kita belum mampu menggali dan menyuburkan kelebihan yang sebetulnya kita punya.
Jangan khawatirkan soal kekuranganmu. Tapi cukup tutup dia dengan segala kelebihanmu. Jangan khawatir soal penilaian orang yang telah mengetahui cacatmu, ketidakmampuanmu. Cukup katakan pada mereka melalui penuntasan dan capaian-capaian kita pada urusan lainnya. Ah, betapa lelahnya kita jika harus menuntaskan apa yang orang lain inginkan, tapi itu bukanlah hal yang sebetulnya masuk dalam prioritas kita. Apalagi jika sebetulnya kita sudah menyandarkan ikhtiar dan prioritas pada orientasi 3A. Cukup sudah, life must go on your way!
Terakhir, adalah soal Meluaskan Manfaat. Simpelnya, saya kembalikan lagi pada prinsip orientasi 3A. Bahwa ada banyak pihak yang berhak atas diri kita. Bahwa hidup kita, bukan sebatas soal perut dan dapur kita saja. Pahamilah betapa luasnya potensi manusia bagi sejagad alam raya. Masih tidak percaya? Saya dengar, salah satu pengusaha sukses dari dunia Barat menyumbangkan lebih dari 75% loyaltinya untuk sedekah. Saya juga dengar seorang sahabat membeli sumur yang airnya masih saja mengalir sampai hari ini. Hei, mereka manusia dan kitapun manusia. Lalu dimana bedanya? Barangkali hanya beda orientasi yang kemudian mengekerdilkan jalan pikir dan ikhtiar-ikhtiar kita.
Saya yakin hari ini, kita masih diberikan kebaikan. Apapun bentuknya. Kalau mau, bagikanlah kebaikan itu pada yang lain. Sesederhana apapun. Sekecil apapun. Menawarkan bantuan, berbagi rezeki, berbagi ilmu, dan lain sebagainya. Jadikan hal ini sebagai checklist harian dan setiap harinya berusaha untuk memperbesar skala. Saya katakan soal meluaskan manfaat ini adalah perkara mengejar kebahagiaan. Tapi jika boleh saya katakan juga, jalan untuk menempuhnya bisa jadi bukan hanya nilai senang dan tawa saja yang kita temui. Tapi bisa jadi sebaliknya, ia penuh tangis, rasa kecewa, dan mungkin juga rasa derita. Maka kita pun perlu belajar mengolah hati dan pikir supaya mereka lebih cerdak dan bijak menyikapi setiap proses dan mengembalikan semua urusan kepada Allah.
Mudah-mudahan, dalam setiap langkah, rahmat Allah selalu berjalan lebih cepat dari apa yang kita harapkan. Dan memang seperti itulah takdirnya untuk orang-orang yang juga senantiasa berusaha menjemput rahmatNya.