Undangan yang Tidak Pernah Sampai
Ujang: "Mang… aku seperti menunggu sesuatu yang tidak pernah benar-benar ada." Mamang tersenyum tipis.. "Mungkin bukan sesuatu, Jang… Tapi seseorang yang tidak pernah berniat mengundangmu." Ujang: "Tapi aku sudah menyiapkan diri… seolah-olah aku memang diharapkan." Mamang: "Kita memang sering begitu, Jang. Menyusun harapan dari hal-hal yang tidak pernah dijanjikan." Ujang: "Lalu salahnya di mana, Mang?" Mamang: "Tidak ada yang salah. Hanya saja… tidak semua pintu dibuat untuk kita ketuk." Ujang: "Dan kalau aku tetap ingin tahu?" Mamang: "Kau boleh bertanya, tapi ingat.. Jawaban yang paling jujur biasanya tak pernah diucapkan." Ujang diam cukup lama.. "Jadi aku ini… apa, Mang?" Mamang: "Kau adalah seseorang yang hampir percaya bahwa dirinya penting di cerita yang bahkan tidak menyebut namanya." Ujang: "Kedengarannya sepi ya, Mang." Mamang: "Benar... tapi dari situlah kau belajar—bahwa tidak diundang bukan berarti kau kurang berharga. Kau hanya sedang membaca halaman yang bukan milikmu." Ujang: "Lalu aku harus bagaimana?" Mamang: "Tutup bukunya pelan-pelan.. Bukan dengan marah, atau kecewa. Cukup dengan pahami bahwa ada kisah yang indah, justru karena kita tidak ikut di dalamnya."
☆☆☆☆☆
Dan malam itu…
Tidak ada yang berubah. Kecuali satu hal kecil, Ujang akhirnya berhenti menunggu undangan yang sejak awal tak pernah ditulis.















