Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

Janaina Medeiros
Monterey Bay Aquarium
h

Kaledo Art
Sweet Seals For You, Always

PR's Tumblrdome
NASA
No title available
No title available
Sade Olutola
Peter Solarz

titsay

JVL
Cosmic Funnies
$LAYYYTER

#extradirty
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
noise dept.

❣ Chile in a Photography ❣
seen from Italy
seen from United States

seen from United States
seen from Canada
seen from Australia
seen from United States

seen from United States

seen from Austria

seen from Sweden
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
@bellastlyn
“Jangan terlalu banyak pikiran”, katamu. Bagaimana bisa dengan mudahnya kamu berkata begitu sementara dalam jarak sejauh ini hanya kamu yang selalu saya tempatkan di atas kepentingan saya sendiri, yang hidupnya lebih saya utamakan daripada hidup saya sendiri. Kamu, satu-satunya alasan mengapa pikiran saya dipenuhi kekhawatiran.
Saya sudah cukup bahagia melihat kamu telah berpulang pada rumah yang baru. Ya, percayalah, saya bahagia.
Di Hadapan Masa Lalumu
Pada beberapa hal, aku bisa begitu kuat. Atau setidaknya, berpura-pura kuat. Pada hal yang lain, aku justru sebaliknya.
-
Perihal masa lalumu, aku selalu merasa dilema. Di hadapannya, aku ingin setenang air. Sudah tentu, ia selalu ada dalam hidupmu. Tidak akan pernah hilang. Meski kuakui, aku bosan merasa tak aman.
Di hadapannya pula aku ingin merasa jumawa. Berbangga hati bahwa detik ini adalah aku yang ada dalam pelukmu. Namun tak bisa kupungkiri, sesekali ia masih suka menghampiri. Sekadar menghantui, muncul sesaat, untuk kemudian terpaksa kulupakan. Meski sulit. Sangat.
Di hadapan masa lalumu, aku ingin tersenyum puas. Bahwa bukan dengannya kau ditakdirkan. Bahwa ternyata bukan ia yang terbaik bagimu. Bahwa barangkali, aku adalah jodoh yang dipersiapkan Tuhan untukmu.
Di hadapan masa lalumu, aku ingin merasa damai. Mengetahui bahwa tak ada yang perlu begitu kukhawatirkan. Karena serupa kau, aku pun memilikinya. Meski kita sama-sama belum membuatnya terlihat dengan nyata.
Di hadapan masa lalumu, aku ingin membuatnya berjanji. Untuk tidak pernah datang lagi. Untuk tidak merasa sudah lebih baik saat ini, sehingga berhak untuk memutuskan kembali.
: Karena saat ini sudah ada aku, yang setia mendampingi hidupmu.
© Tia Setiawati | Palembang, 28 Januari 2017
Tiba-tiba saya rindu Semeru, saya juga rindu kamu. Tapi memang sepertinya kita sudah berbeda perspektif, seperti 2 foto lama yang saya temukan di folder laptop pagi ini.
Saya ingin segera berada di puncak, merasakan sensasi dingin yang selalu bisa menggelitik hati saya. Meski awalnya sulit, tapi saya akan terus berusaha mencoba.
Sementara kamu lebih menikmati ketenangan ranu kumbolo dengan perlahan, tak pernah mau diburu waktu. Perlahan menyusuri, bermain-main, terbuai keindahan yang kamu lewati, lalu akhirnya kamu terlalu lelah dan memilih menyerah sebelum mencapai puncak.
Semeru, 23 Juni 2014
Tak [lagi boleh ] ada kamu
Hariku sama saja, ada dan tiada kamu aku masih bisa hidup. Ada dan tiada kamu cara makanku sama. Ada dan tiada kamu aku masih baik-baik saja.
Yang membedakan hanyalah debaran yang tak lagi terasa. Aku masih ingat pertama kali kau mengatakan Cinta debarannya begitu memabukkan. Aku sulit bernafas karena bahagia. Namun kini aku sulit bernafas karena menahan sakit di hati.
Kukira kau akan membayar semua janjimu. Aku percaya saja. Ternyata janjimu tak lebih dari pelambung harap. Nyatanya tak pernah semanis ucapanmu.
Kukira benar adanya kau jatuh Cinta dengan sangat padaku, padahal aku hanya kau jadikan alat agar predikat memiliki kekasih bisa kau sandang.
Kukira kecemburuan mu benar adanya. Padahal itu hanya kebohongan agar aku percaya kamu mencintaiku sebegitunya.
Lalu tanpa alasan yang tak bisa kau jelaskan, kau meminta jeda dari hubungan ini. Aku tak habis pikir apa yang ada di isi kepalamu.
Kau tahu, tuan, jeda yang kau minta serupa kau berdiri di depan pintu. Jika ingin masuk maka masuklah dengan sopan. Jika ingin pergi silakan pergi sejauh mungkin, tapi tolong jangan berdiri di depan pintu, kau menghalangi jalan untuk orang yang serius berniat masuk.
Bandung, 16 Nov 2016
Seminggu
Sudah seminggu saya mendiamkan kamu, menjauhi kamu. Sudah seminggu pula saya berusaha menghilangkan kamu dari pikiran saya. Tapi sayangnya kamu selalu ada di kepala saya, membuat saya kadang terbayang kamu akan meminta saya kembali. Meski nyatanya kamu tidak berusaha apapun untuk saya selama seminggu ini.
Sudah seminggu saya terdiam, berusaha menahan gejolak hati saya untuk memintamu kembali. Hati kecil saya meraung, memohon agar kamu kembali. Namun logika saya bertahan dalam sabar, jika kamu saja berlari tak peduli, lantas mengapa saya harus tertatih mengejarmu yang tak punya hati? Dan memang, logika saya benar.
Sudah seminggu saya berusaha melewatkanmu. Tapi kamu ada dimana-mana. Di aroma kopi yang saya seduh, di melodi gitar yang saya petik, di lirik lagu yang saya nyanyikan. Bahkan setelah kamu memilih untuk pergi, kamu masih ada dimana-mana.
Sudah seminggu tak ada kabar dari kamu. Harusnya saya mengerti, memang kamu tak pernah peduli. Tidak pernah mau. Lantas mengapa saya masih mau menunggu? Mengapa begitu sulit melepas yang tak ingin terbelenggu?
Jogjakarta, 20 November 2016
Dingin. Kabut. Dingin yang berkabut. Itu kamu. Samar terbayang, entah di mata, entah di kepala. Samar, namun terasa, getar di hati, getir di ingatan.
Yang Tak Sempat Terucap.
Terima kasih sudah hadir di hidup saya. Walau jalannya tak pernah mudah, terima kasih karena sudah mengajak saya melangkah sampai sejauh ini. Bersamamu, saya mengerti bahwa kita harus berjalan beriringan, bukan berseberangan. Ingatlah bahwa saya akan selalu menjadi teman yang akan mendampingimu sampai ke tujuan, untuk membuat mimpi-mimpimu tak lagi semu.
Terima kasih untuk kesabarannya, pengertiannya, kasih sayangnya, perhatiannya, rindunya, temunya, tawanya, air matanya, dan segala macam tetek-bengeknya. Terima kasih karena kamu selalu memberikan saya kesempatan untuk berubah dan memperbaiki diri, tak pernah bosan walau saya kerap kali keras kepala, egois, atau tinggi gengsi.
Terima kasih sudah memercayai bahwa saya adalah jodohmu walau saya jauh dari kesempurnaan. Percayalah bahwa saya akan selalu berusaha memantaskan diri untuk berada di sampingmu. Kelak, untuk memegang tanganmu, untuk menyandang nama belakangmu, untuk membuatkan kopimu.
Terima kasih sudah membuat saya merasa begitu dihargai, dicintai, dan diperjuangkan. Hal-hal yang mungkin tak pernah benar-benar saya rasakan sebelum kehadiran kamu. Terima kasih untuk selalu menjadi yang pertama, dan semoga, yang terakhir dan satu-satunya, di berbagai pengalaman hidup saya.
Terima kasih atas segala usahamu, besar dan kecil, yang kamu lakukan untuk kebahagiaan saya. Ingatlah bahwa saya mencintaimu lewat hal-hal sederhana. Sesederhana sebuah peluk di penghujung hari, sesederhana sebuah kecup di pagi hari.
Terima kasih atas banyak hal yang sudah kamu ajarkan, berikan, perlihatkan kepada saya. Yang saya tahu, kini, cinta itu bukan hanya dapat dirasakan, namun juga dapat dilihat; Kamu.
Untuk B, saya cinta kamu, lebih dari cinta-cinta saya yang lalu.
Ralat, untuk D, saya cinta kamu, lebih dari cinta-cinta saya yang lalu.
"I sometimes have a tendency to walk on the dark side." - J.K. Rowling #digitalart #digitalpainting #digitaldrawing #sketchoftheday #girlsketch #sketchaday #igerssmayk #tumblr
Kenapa harus berlagak menghakimi jika hanya melihat dari satu sisi?
Karena secangkir kamu jauh lebih melegakan daripada selaut mereka.
(via melisalalalaa)
Kesadaran
Kesadaran itu merayap bagai kabut. Bergerak perlahan, lalu tanpa terasa mengaburkan pandangan.
Inilah yang aku rasakan kemudian. Kesadaran yang aku takuti, namun ternyata ku harapkan.
Aku mendapati diriku sendiri sedang menggapai air. Sedetik lalu, aku merasakan kamu berada diujung jari, tapi sesaat kemudian kamu tak disana lagi.
Melihatmu, semudah menarik napas. Bahkan tanpa mencarimu, aku menemukanmu dimana-mana.
Tapi merasakanmu begitu sulit. Aku mencoba merasakanmu saat memikirkanmu. Namun hasilnya? Nihil.
Terkadang terasa sakit sekali. Tapi apa yang sebenarnya kurasakan? Rasanya seperti ada kepingan puzzle yang menghilang. Akankah itu kamu? Bagaimana jika aku bahkan tidak tahu apa perekatnya?
Kamu datang, lalu pergi dengan begitu mudahnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Aku mencoba bertahan di tengah badai yang bergemuruh. Namun, aku tak pernah tahu apakah aku bisa selamat dan menggapai kesadaran kembali, atau malah terus tenggelam dalam pusarannya dan akan terus hanyut hingga akhirnya benar-benar tak berdaya.
Aku tahu, begitu sulit menemukanmu diantara kabut yang terus mengaburkan pandanganku. Namun, aku takkan pernah menyerah. Lapisan demi lapisan kabut tebal yang terus menggelayut takkan mengubah apapun.
Dan di tengah kesadaran yang menuntutku segera menemukan jawaban, Aku menulis ini untukmu
Yogyakarta, 29 Januari 2016