Lebih baik menjadi diri sendiri, kata orang tapi aku lebih memilih menjadi sendiri, sebab kau bebas meninggalkan siapapun bila sudah tak nyaman. dan itu mengapa aku tidak pernah kemana -mana.
(via payungjemari)

@theartofmadeline

No title available
The Stonewall Inn
ojovivo

Andulka
almost home
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
Noah Kahan
official daine visual archive
Cosimo Galluzzi

Jar Jar Binks Fan Club
todays bird
Doug Jones

blake kathryn
Interview Vampire Daily

roma★

PR's Tumblrdome

#extradirty
Sweet Seals For You, Always
Mike Driver

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Brazil
seen from United Kingdom
seen from Saudi Arabia
seen from Germany
seen from India

seen from Chile
seen from Chile

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Germany

seen from Malaysia

seen from Mexico

seen from Malaysia

seen from Thailand
@boyart19-blog
Lebih baik menjadi diri sendiri, kata orang tapi aku lebih memilih menjadi sendiri, sebab kau bebas meninggalkan siapapun bila sudah tak nyaman. dan itu mengapa aku tidak pernah kemana -mana.
(via payungjemari)
"Iya, perihal mengingatmu. Aku senantiasa disuguhi perih, akan langkah menjauhmu. Pahamilah, senatiasa hamburan doaku ketika sujud, teruntukmu. Kamu tahu?"
Doa baikku untukmu tak pernah dijelaskan dengan seberapa jauh kamu melangkahkan kaki dari tubuhku. Karenanya, silakan kamu terka, siapa yang paling sia-sia di antara kita; kasih sayangku atau kepergianmu.
(via elsasyefira)
diamku begitu dicandui kamu sejak kamu ingin membutakan hati dan akal yang letih itu
tak heran
ketika diamku sudah tak sanggup tabah; ketika diamku telah terlalu lelah; ketika akhirnya aku putuskan untuk menolak diam lalu melawan, kamu bilang, aku sudah menyakitimu dengan cara paling keterlaluan
Bukan sabar jika masih ada batas. Bukan ikhlas jika masih ada rasa sakit.
(via arnamee)
X : Kak, kakak mau terima ga kalo misalnya dia yang udah pergi terus sekarang tau-tau datang lagi berharap untuk kakak cintai lagi?
D : Tidak semua hal bisa dimisalkan. Urusan hati, bukan hal yang mutlak dan bisa dimisalkan. Apa kata sekarang belum tentu apa kata besok. Kalau dia datang kembali, biar waktu aja yang kenalin ke aku.
X : Kan kakak udah kenal, ngapain pake kenalan lagi?
D : Setiap hari, hati seseorang itu selalu punya hal baru untuk bisa dicintai. Siapa tau, selama dia menghilang ada banyak hal baru yang belum kukenali selama memahami dia, dulu. Cinta bisa dimisalkan, tapi hati tidak. Hati bisa diibaratkan, tapi rasa tidak bisa ditafsirkan. Percaya atau tidak, hati yang dulu mencintai begitu keras–setelah ia pergi–langkahnya bisa serumit itu saat ia kembali.
Kenapa sih kita sering ribut soal kebaikan kita yang tidak dibalas?
Kalau kita berlaku baik pada orang lain lalu dia jahat pada kita, terus kenapa?
Kalau kita memberikan waktu dan energi terbaik kepada orang lain dan dia bahkan tidak memandang kita, terus kenapa?
Kalau kita berniat baik lalu diabaikan, terus kenapa?
Kenapa sih kita sering sekali meributkan jika orang yang kita beri kebaikan tidak melakukan hal yang sama pada kita? Kalau mau berbuat baik, ya baik saja.
Kalau mau memberikan waktu dan energi, ya berikan saja tidak peduli dia menganggapnya ada atau tidak. Kalau mau menyayangi orang lain, ya sayangi saja tanpa menderita ketika bahkan mengenal kitapun dia tidak.
Kita ini terlalu banyak pikiran transaksional. Berbuat baik, memberikan kasih sayang, memberikan waktu dan tenaga pada orang lain, adalah karena kita ingin berbuat baik. Bodo amat orang lain akan melakukan hal yang sama pada kita atau gak.
Plis deh, jangan bisniskan kebaikan kita.
(via jagungrebus)
HARI BESAR KENANGAN
Dengan menyertakan salam, aku berdo'a kepada Tuhan pemilik seluruh yang kupandang. Hari ini adalah Hari Besar Kenangan. Hari untuk pulang; ke masa yang kaubilang silam. Aku harus mengadakan perayaan untuk menghormati jasa-jasa Kenangan. Karena dengan demikian, aku bisa menyampaikan rasa syukurku kepada Tuhan.
Ya, aku akan melakoni ritual untuk memperingati Hari Besar ini dengan cara mengisahkan cerita yang kaubilang kenangan. semata agar semua makhluk tahu bahwa cintaku padamu, Lebih legenda ketimbang Majnun-Layla.
Demi airmata yang lelah menjelma sebagai luka, yang ketika dengannya manusia dapat merasakan Tuhan hadir di kedalaman dirinya. Aku berlindung dari dendam kesumat yang menjatuhkan. Di Selasa yang tabah, pada senja yang suci itu, kenangan seperti sonya-ruri; dalam dan tak terperi. Dengan kata lain— kenangan menyemaikan ketegaran, dan trauma menghadirkan keperkasaan.
Maka demi mempertanggung-jawabkan kenanganku kepada ia di hadapan paduka, di Hari Besar Kenangan ini, aku telah mengharumkan sumpah untuk senantiasa memperjuangkan kenanganku padanya, dengan cara menuliskannya ke dalam cerita:
Sudah lama sekali rasanya ketika aku melihat ia kali pertama. Aku sudah lupa kapan kejadian itu berlangsung, tapi persisnya itu hari selasa. Aku hanya ingat bahwa keindahan hadir pada hari yang luhur itu. Ku namai ia permata karena Tuhan sendiri mencintai keindahan. Tapi mengapa aku dan ia mesti dipertemukan dihari Selasa? Aku sempat merenung sebab itu adalah hari keramatku. Pertanyaan itu terus melenting dari pikiranku, bahkan masuk di luar kesadaranku.
Hari Selasa adalah hari berdarah, pada hari itulah Siti Hawa, ibu dari seluruh ibu itu mengalami haid untuk kali pertama. Pada hari itulah bermula kejadian berdarah; Qobil membunuh Habil. Pada hari itulah nabi Jirjis, nabi Zakariya, nabi Yahya; terbunuh. Hingga akhirnya datang hari itu, hari selasa yang luhur itu— Muara tempatku menuju.
Di senja yang keramat itu aku sampai pada satu titik dimana Tuhan menampakkan wujudnya. Kurasa, itu pertanda bahwa akan ada kejadian di kedalaman diriku. Ya, Tuhan menampakkan senyumNya melalui bibir ia. Tuhan memberi anugerah kepadaku dalam bentuk bahwa aku dapat melihat semua keindahan dimuka bumi ini cukup dengan melihat wajah ia.
Tak lama kami bersua ditepian desa tempatku mengada. Aku datang dengan segenggam bungkusan untuk memuaskan dahaganya yang lapar. Lentik jemarinya menghadirkan getar pada langit langit dadakku menyaksikan. Selepas itu, aku seperti mengalami astral projection, keadaan di luar sadar yang menjadikan sukmaku bagai dikuasai oleh hal gaib. Di alam delta itulah jari-jariku serasa dituntun — entah kepada siapa dan untuk apa :
Dihadapanmu yang maha, Seluruh kataku adalah moksa. Menjadi bahasa yang paling cinta untuk kusampaikan pada kau, nona. Bisa jadi, do'aku akan menjadi hampa, apabila kau yang paling kudamba. Dientah pada zaman yang keberapa, aku merasa kau pernah ada.
Disenandungkan oleh angin, kau - aku menggigil dalam dingin. Dan mungkin, ini hanyalah jeda dari yang kesekian kalinya, ketika kau kembali kusemat dalam distrik memoria.
Berarak harapan semua menggantung di langit langit menyaksikan.. Akankah indah, Atau hancur berkelanjutan.. Dan tidak kah kau dengar.. Bahwa puisiku hilang debar?..
Aku kembali melukis lentik jarimu yg manis.. Di bawah sisa ingatan rapuh tentang sosok yg menawan. Dan tidak kah kau dengar.. Bahwa puisiku masih tersisa getar?..
Yang menuliskan itu bukan aku. Tetapi ada ruh yang merasuk di kedalaman jiwaku. Yaitu separuh nafasmu yang meminjam lentik jariku untuk menulisnya. Semenjak pertemuan itu, aku ragu menetapkan kau sebagai rindu. Entah itu karena kau aku tak lagi satu, atau kau sudah letih untuk mengenalku. Aku tak tahu.
Akhir pekan lalu aku coba mengirim dariku pesan untukmu, tapi setelah kau - aku tak saling satu, aku merasa kau lebih jauh dari orang yang tak kukenal.
Apakah cinta padamu sesakit itu ? Apa rindu padamu dramatis itu ? Apa salah jika aku mencari tahu kabar tentangmu ?
Kelak, ketika cinta bersabdah, kau-aku tak ada bedanya. Sebab, kita terlahir dari takdir yang sama. Jikapun kau tak lagi ingin mengenal, tidak masalah. Karena namamu telah menjadi prasasti kenangan di langit dadaku yang silam.
Dan esok ketika kau temukan ayah bagi anak anakmu kelak, aku runtut untuk senang. Sebab pada akhirnya kenanganku telah mendapatkan haknya untuk dikenang.
Oh ya . Sebelum dikekalkan kenangan menjadi airmata, perkenankan aku bertanya padamu;
sejauh ini apa kabarmu ? Apa kau masih secantik dulu ? Apa kau masih menyimpan senyum untukku ? Kau ingat ? Hari ini adalah tepat setahun yang lalu kali pertama kau dan aku bertemu. Seperti sekarang, di senja yang nirmala ini kau-aku disangkut-pautkan oleh Tuhan.
Sekalipun kita sudah tak menjalin apa apa, biarkan cerita ini menjadi dongeng paling sedih untuk meninabobokkan dzuriyyah di pangkuanmu. Jika berkenan, izinkan aku tetap menyayangimu.
Kekasih, Aku sempurna denganmu.
Salam dariku, pesan untukmu..
Alumni hatiku.
Rabu, 23 september 2015.
*Bukan Tulisanku.
Hak kenangan
Proklamator insomnia telah menyepakati jika pada dini hari ini telah meresmikan diadakannya agenda-agenda nyepi yang terdiri dari; menulis puisi paling sedih yang akan dihadiahkan pada waktu pelaksanaan upacara hari besar kenangan.
Dengan tujuan supaya kenangan mendapatkan haknya untuk dikenang.
Bagaimana aku bisa sanggup menyatukan tawaku dengan bahagiamu. Bilakau, tak menjadi bagian yang sah dari tangisku.
02 Maret, 2016.
(n.) Bukan semata kerana tulisan ini ada yang punya lantas aku menjadi plagiatnya begitu saja. Namun dibalik tanggal dan hari itu, ada suatu kisah tentang seseorang yang berdongeng mengenai seseorang yang mengenang kenangannya berkali kali; Dan lalu membacakan puisi puisi yang sedang kutulis itu tadi.
(via obierojabi)
Sesingkat mungkin aku mengingat kau; Tak sampai.
Rindu tak sesederhana itu, nona. (via obierojabi)
Surah Rindu Ayat 1 - 4
(I)
Pada hari ketika kenangan bermula atas dasar senyumnya, hendaklah kau tergesa gesa.
(II)
Dan janganlah lebih dulu berwarna sebelum tiba saatnya. Sesungguhnya orang yang terlalu cepat berwarna akan mendapati kesia-siaan pada ujungnya.
(III)
Dan sampaikanlah kepadanya (kekasih) ; Sungguh bilamana aku tak lagi ampuh, Adalah menyaksikan rintik demi rintik airmatamu jatuh. Oleh sebab itulah menjadi jihad bagimu adalah berpegang teguh menjaga airmatanya supaya tak jatuh.
(IV)
Dan ingatlah, wahai… Bukan suatu perbuatan dosa ketika seorang hamba mengerahkan seluruh kekuatan yang dimilikinya demi sanggup tabah menelaah rindu yang merayap dalam dinding dadanya. Karena dosa dan dosanya telah hancur dibakar oleh hati yang lara.
Minibar ini sepi sekali. Kemarila, nona. Disini, kau sebagai barista. Dan aku adalah pelanggannya. Kita saling membicarakan tentang aroma. Mengenai bau harum mana yang lebih pesona; cappucino buatanmu, atau wangi tubuhku ketika mengecup keningmu.
Malang, 29 september 2016
Kita ini siapa? Kenapa mendadak menjadi tak enak begini? Sebelum-sebelumnya kita ini hanya dua orang asing yang kemudian sok-sokan akrab, menceritakan ini itu, berpura-pura dekat, mencoba saling terpikat, seperti itu saja kan? Lalu, apa yang kita ributkan? Tak masalah kan kalau kita menjadi asing kembali? Sok-sokan tak pernah akrab, tak lagi bercerita ini itu, berpura-pura tidak pernah dekat, dan tak saling mencoba terpikat. Semudah itu.
(via kurcacimerah)
Sebuah buku adalah dunia ajaib penuh simbol yang menghidupkan kembali si mati dan memberikan hadiah kehidupan yang kekal kepada yang masih hidup. Sungguh tak bisa dibayangkan fantastis dan ajaibnya bahwa kedua puluh enam huruf dalam alfabet kita bisa dipadukan sedemikian rupa sehingga bisa memenuhi rak raksasa dengan buku-buku dan membawa kita kepada dunia yang tak berujung.
Jostein Gardner & Klaus Hagerup, Perpustakaan Ajaib Bibi Bokken (via menujusenja)
Surat Untukmu
Kepada yang (masih) bergelar rahasia, sudah sampai mana perjalananmu menuju kemari? Atau kau masih berkutat dengan segala persiapan? Tidak apa, tidak perlu tergesa-gesa, tak usah terburu-buru. Habiskan saja dulu egomu, puaskan menapaki perjalananmu sendirian. Kalau kau sudah merasa waktunya untuk berangkat, berangkatlah dengan niat yang sudah tepat.
Rasanya menunggumu sudah tak dapat lagi diaksarakan, bahkan puisi-puisi sudah tak menyediakan sebaris pun untuk kutulisi. Berat dan tidak mudah memang. Terkadang aku kelelahan, nyaris kehabisan kesabaran. Tapi, aku tetap berusaha sekuat tenaga untuk percaya jika semesta telah merencanakan dengan baik pertemuan kita.
Nanti, kalau sudah kutemui sebentukmu di hadapanku, ada banyak sekali yang ingin kusampaikan. Perihal mimpi-mimpi yang ingin kubangun bersamamu, mimpi-mimpi yang selama ini kurajut dan tetap kusimpan rapi sembari menunggumu. Meskipun terkadang aku kewalahan untuk membunuh imaji yang tumbuh liar di dalam kepala, lalu secara tak sadar membelokkan niatku menunggumu.
Di luar sana, di sela-sela perjalananmu, pasti kau temui perempuan-perempuan yang luar biasa. Mungkin yang sempat membuatmu bertanya-tanya, apakah perempuan itu adalah sosok yang sedang kau tuju. Atau perempuan yang pernah menjadi bagian di masa lalumu, perempuan yang pernah menjadi bagian dari mimpimu. Tak apa. Perihal masa lalu, sudah kusiapkan ruang untuk menerima itu. Selebihnya, tugasmu untuk beranjak dari sana dan percaya bahwa hidupmu bukan untuk menenggelamkan diri pada masa lalu.
Setidaknya, pertemuan kita nanti bukanlah tanpa alasan, melainkan karena persamaan tujuan. Bahwa tujuan kita jelas untuk terus menggapai ridha-Nya kan? Jadi, mari menguatkan bahu masing-masing, agar kita bisa saling bergantian untuk saling bersandaran. Sebab bukan hanya tugasmu untuk menyediakan bahu untukku bersandar, tapi tugasku pula untuk memberimu bahu sebagai sandaran yang nyaman. Tentunya sandaran kita yang tak boleh tergantikan adalah hanya bersandar pada-Nya.
Kamu tak perlu banyak menabung rasa khawatir, ragu ataupun cemas. Aku telah banyak dihantam pelajaran keikhlasan dan kesabaran. Demimu, biar sanggup aku menemani perjalananmu nanti. Sekali lagi, tanpa harus kau merasa khawatir berlebihan. Untuk sekarang, jagalah hati dan dirimu. Kuminta padamu untuk tetap baik-baik saja dalam perjalanan. Berhati-hatilah, semoga tujuanmu tetap Lillah.
Lampung, 10 Februari 2017.
Kamu ibarat buku yang terlalu bagus untuk dihabiskan sekali baca.
Aku mau baca kamu pelan-pelan, menikmati tiap baris kata, tiap lembar yang ada. Aku mau baca kamu berulang-ulang, jadi aku tidak cuma paham tapi hafal benar bagian gelap dan terangmu. Aku mau baca kamu sampai habis, sampai tak ada lagi cerita yang bisa dikisahkan. Aku mau baca kamu sampai titik terakhir. (via anggunpsi)
Baca aku sampai tak ada lagi yang dibaca. Baca aku hingga kisahku berhenti di suatu bab kosong tanpa kata; yang disanalah ditulis kisah kita. Kamu adalah halaman penyambung cerita yang sempat hilang tadinya.
(via capekngetik)