Brutus dalam Drama 1998
15 Maret 44 SM "Et tu, Brute?" sergah Julius Caesar dengan suara lemah. Kaisar Romawi yang termasyhur itu terkejut ketika melihat wajah orang kepercayaannya, Brutus, menikamnya dari belakang. Brutus mengkhianatinya.
Legenda pengkhianatan terbesar sepanjang sejarah yang direka kembali oleh William Shakespeare dalam bentuk drama ini seakan terus berulang. Di zaman yang berbeda, aktor-aktor yang berbeda, dan ruang yang berbeda pula. Terlebih lagi dalam tatanan politik: tak ada kawan dan lawan yang abadi selain kepentingan. *** Mulanya, pada 18 Januari 1998, ada ledakan bom di rumah susun di kawasan Tanah Tinggi, Jakarta Pusat. Bom yang dirancang untuk melawan rezim Soeharto itu meledak tak sengaja saat dirakit. Dalam peristiwa ini, Agus Priyono alias Agus Jabo yang merupakan anggota Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) -salah satu jaringan Partai Rakyat Demokrat (PRD)- ditangkap. Pascaledakan, ditemukan dokumen yang berisi LB Moerdani, Megawati Soekarnoputri, CSIS dan abang-adik Jusuf-Sofjan Wanandi mendanai gerakan PRD untuk menggulingkan Soeharto. Dalam penyelidikan peristiwa ledakan ini, orang-orang penting tersebut membantah terlibat. Bersamaan dengan itu, beberapa hari setelah peristiwa ledakan, Danjen Kopassus Mayjen Prabowo Subianto menghadap Presiden Soeharto. Presiden memberinya daftar nama-nama aktivis Pro Demokrasi (prodem) yang perlu ‘diamankan’. ‘Pengamanan’ aktivis ini pun dimulai pada 2 Februari 1998 hingga Mei 1998. Sebanyak 22 aktivis Pro Demokrasi, Pro Megawati, PRD, dan SMID dilaporkan hilang. Namun, hanya sembilan aktivis yang kembali. Tiga belas aktivis lainnya hilang hingga kini. Siapa pelakunya? Berbagai versi muncul. Mulai dari rivalitas Danjen Kopassus Mayjen Prabowo Subianto dan Pangkostrad Letjen Wiranto, hingga keterlibatan orang kepercayaan Presiden Soeharto yang memiliki klik dengan Prabowo Subianto, Jenderal (Purn) LB Moerdani alias Benny Moerdani, berada di balik penculikan para aktivis ini. Namun, siapapun pelakunya, yang bertanggung jawab tetaplah militer secara struktural dengan terungkapnya Tim Mawar. Tim Mawar ini merupakan tim kecil dari kesatuan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Grup IV, TNI AD. Sebanyak 11 anggota Tim Mawar dibawa ke pengadilan Mahmilti II pada bulan April 1999 terkait dengan penculikan para aktivis prodem ini. Hasil mengutak-atik daftar para penguasa militer di masa kritis ini, hanya dua nama yang selalu mendapatkan jabatan tinggi: Prabowo dan Wiranto. Selebihnya, hanya selintas lalu. Sejak Desember 1995 hingga 20 Maret 1998, Prabowo Subianto menjabat sebagai Danjen Kopassus. Setelah itu, ia menjabat sebagai Pangkostrad hingga ia dicopot pada 22 Mei 1998. Sementara Wiranto, pada 4 April 1996 hingga 20 Juni 1997 menjabat sebagai Pangkostrad, kemudian paruh kedua 1997 jabatannya KASAD. Awal 1998 ia menjabat sebagai Panglima ABRI. Dan, mulai 14 Maret 1998 hingga 26 Oktober 1999 ia menjabat sebagai Menteri Pertahanan merangkap Panglima ABRI. Artinya, meski Prabowo melakukan operasi tanpa sepengetahuan, Wiranto turut bertanggung jawab sebagai atasannya karena sistem komando. Tak berniat menganalisis, tapi ada beberapa fakta yang masih belum terungkap. Berikut nukilannya:
Prabowo: Pada awal tahun 1998, Danjen Kopassus ini masih sangat berkuasa. Selain dekat dengan Presiden Soeharto, putra Soemitro Djojohadikoesoemo ini adalah menantu RI-1. Karir militernya terhitung cepat. Banyak jenderal yang tak suka dengan hal itu. Namun, setelah ia menerima mandat dari Presiden Soeharto untuk ‘mengamankan’ para aktivis yang diduga membahayakan keamanan, sang mertua tak lagi memercayainya. Alasannya, rumah tangga Prabowo dan anak keempat Presiden Soeharto tak mulus. Kepercayaan Soeharto beralih ke Pangkostrad Letjen Wiranto. Soeharto mempercayakan keamanan negara ini pada atasan Prabowo tersebut. Sejak itu, kekuasaan Prabowo mulai turun. Tudingan pun banyak yang mengarah kepadanya, termasuk melakukan penculikan para aktivis prodem. Memang, pada akhirnya, Prabowo mengaku menculik sembilan aktivis prodem. Tapi, sembilan aktivis yang ia culik telah 'dikembalikan'. Selain penculikan, tudingan lainnya adalah rencana kudeta Habibie yang baru saja menggantikan Soeharto sebagai presiden. Isu kudeta ini disebarkan sendiri oleh Habibie. Pada 22 Mei 1998, sesudah salat Jumat, saat berada di Makostrad, Prabowo ditelepon Mabes AD. Prabowo diminta menyerahkan posisinya sebagai Pangkostrad. Merasa ada yang kurang beres, saat malam tiba, Prabowo menghadap Habibie di istana, menanyakan pencopotan jabatannya. Prabowo pun menyerahkan senjatanya kepada petugas protokoler, karena begitu prosedurnya. Namun, pada 22 Februari 1999, di Istana Merdeka, Habibie bercerita bahwa Prabowo berupaya mengepung dirinya. Habibie mengaku keluarganya terancam malam itu dan nyaris diungsikan. “Tidak usah ditutup-tutupi, kita tahulah yang memimpin konsentrasi pasukan itu, orangnya Prabowo Subianto,” kata Habibie berapi-api. Habibie mengaku diberi tahu Wiranto soal rencana kudeta itu. Kudeta? rasanya tak mungkin Prabowo melakukan hal itu. Sebab, Prabowo adalah orang terdekat Habibie. Prabowo pula orang pertama yang memberi tahu Habibie bahwa pengganti Soeharto adalah sang wakil presiden. Wiranto: Cuaca politik yang panas menerpa Jakarta menjelang rencana Amien Rais mengumpulkan massa di Kawasan Monas pada 19 Mei 1998. Dalam rapat perwira tinggi militer yang dipimpin Wiranto menjelang aksi Amien Rais, Prabowo yang ikut dalam rapat tersebut sempat mendengar ucapan mengejutkan dari Wiranto. “Rapat yang dipimpin Wiranto mengatakan bahwa perintah yang dibuat adalah mencegah masuknya para pendemo dengan segala cara (at all cost). Saya bertanya berkali-kali apa maksud perintah itu. Apakah akan digunakan peluru tajam. Dia (Wiranto) tidak memberikan jawaban jelas,” tutur Prabowo kepada Harian Jawa Pos tahun 2000 silam. Mantan Panglima ABRI ini memang orang terdekat Presiden Soeharto. "Kedekatan Wiranto dan Soeharto tampak terlihat sejak meninggalnya ibu negara pada 28 April 1996," begitu kata Jusuf Wanandi dalam bukunya yang berjudul 'Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1998'. Wiranto sigap mengatur semua protokol dan persiapan pemakaman Tien Soeharto. Setelah Soeharto tak mempercayai lagi menantunya, Wiranto mendapatkan mandat dari Soeharto untuk ‘mengamankan’ para aktivis prodem. Prabowo pun merasa sakit hati, terlebih lagi ia dicopot dari jabatannya dan juga diberhentikan dari TNI di era Habibie. Prabowo pun menyerang Wiranto dengan isu rivalitas. Bahkan sang ayah, Soemitro Djojohadikoesoemo menuding Wiranto menghabisi karir militer Prabowo. Soeharto: Presiden kedua RI ini tak pernah memercayai siapapun, termasuk sang menantu, Prabowo. Ia hanya menaruh kepercayaannya kepada Benny Moerdani. Namun, Benny Moerdani dituding bakal melakukan kudeta. Isu ini digosok oleh putra-putri Soeharto yang jengah dengan pengawasan Benny Moerdani terhadap mereka (Anak kedua Soeharto, Sigit Harjojudanto, pernah ditegur Benny karena menghabiskan US$ 2 juta untuk berjudi), BJ Habibie (yang merasa bisnis persenjataan dan teknologi dihambat Benny), dan Prabowo (yang tidak senang karena Benny menariknya dari Timor Timur). Prabowo mengeluhkan Benny kepada Soeharto. Menurut Prabowo, Benny tak dapat dipercaya. Soeharto pun sangat kecewa terhadap Benny. Terkait peristiwa penculikan, Soeharto yang tak lagi memiliki orang kepercayaan (bahkan, ia pun tak percaya terhadap BJ Habibie yang pernah mengadu dombanya dengan Benny Moerdani), Soeharto memberikan daftar nama aktivis prodem tak cuma ke Prabowo, tapi juga Wiranto.
Jadi, siapakah yang menjadi tokoh Brutus dalam drama 1998 ini?














