Biarkan dirimu terjatuh hingga tak mungkin ada yang menjatuhkanmu.
Jangan beri makan egonya karna pasti tak akan ada habisnya.

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Philippines
seen from Japan

seen from United States
seen from Philippines
seen from Philippines
seen from China
seen from Belarus
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Germany
seen from Latvia

seen from United States
seen from Philippines
seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from Philippines

seen from India
Biarkan dirimu terjatuh hingga tak mungkin ada yang menjatuhkanmu.
Jangan beri makan egonya karna pasti tak akan ada habisnya.
Manusia Tidak Diciptakan Sendirian
Sebagai seorang muslim, mengenal banyak ilmuwan di masa kejayaan islam yang memilih sendiri hingga ajal menjemput beliau. Di kalangan mufassir ada Ibnu Jarir al-Thabari, Zamakhsyari. Di bidang ahli hadits dan fiqih, ada Imam Nawawi, Ibn Taimiyah, dan Karimah al Marwaziyah. Di kalangan filsuf, ada Abu Ala al-Maarri dan Abd Rahman Badawi. Rahman Badawi. Ada juga nama Jamal al-Afghani, Said Nursi, Sayid Qutb yang turut menduduki peringkat ilmuwan yang memilih tidak berpasangan hingga akhir hidup beliau.
Salah satu pertanyaan besar yang singgah di benak saya ketika mengetahui fakta tersebut adalah: “bagaimana bisa? Bukankah manusia mempunyai kebutuhan berbagi, berkisah, dan memohon pertimbangan?” Tulisan ini tidak akan membahas tentang kisah hidup yang melatarbelakangi status mereka, apalagi membahas argumen yang bernada kurang percaya dengan catatan sejarah tersebut. Tulisan ini lebih akan membahas bagaimana manusia mampu memenuhi kebutuhan hidup dengan dirinya sendiri.
Suatu hari, di penghujung kajian ba’da maghrib, saya mendapatkan wejangan bahwa “hidup sesungguhnya adalah ketika tidak adalagi yang mendikte kebiasaan kita, aktivitas kita.” Saya berusaha merefleksikan diri dengan kalimat tersebut, terlepas kalimat itu keluar dari mulut guru yang sangat saya hormati. Kiranya benar, bahwa kita bisa hidup disiplin, teratur, ketika ada yang mendikte kita. Ada orang tua yang mengingatkan kita, ada teman yang menjadi motivasi kompetisi kita. Tapi ketika hal-hal yang menjadi kotivasu dan inspirasi kita sudah tidak ada? Masihkah kita bersemangat? Masihkah kita disiplin dengan kebiasaan kita?
Jawabannya dengan mudah sudah tersimpan di organ tubuh kita, hati nurani. Organ yang paling jujur, yang paling paham apakah hari ini kita lebih baik, atau hari ini kita tidak produktif. Saya percaya Tuhan menciptakan manusia tidak pernah sendirian, kendati manusia itu berstatus jomblo, bahkan super introvert. Manusia masih mempunyai hati nurani yang mampu diajak berkomunikasi, berbagi kisah, meminta pertimbangan, memilih keputusan dan menenangkan kita di saat-saat tertentu.
Sebagai seorang introvert, saya mendapatkan kebahagiaan dan kepercayaan diri dari dalam diri saya. Saya selalu berusaha bertanya kepada organ paling jujur saya, apakah saya benar melakukan ini, apakah saya baik melakukan ini, apakah saya indah melakukan ini? Hati nurani adalah organ yang paling paham siapa diri saya. Hati nurani memaknai diri saya dengan perspekifnya sendiri, di luar segala pencitraan dan personal branding yang saya bangun.
Ini adalah tulisan refleksi diri agar saya tidak merasa sendirian dalam menjalani hidup, masih ada hati nurani yang selalu mengikuti langkah saya, selalu membersamai saya. Namun dalam hal lain, kita sering lupa membiarkan hati nurani ini tertutup oleh hal-hal yang diistilahkan “batil” atau “munkar.” Tulisan ini tidak akan membahas pertentangan hati nurani dan nafsu, karena akan menjadi sangat panjang. Sebagai penutup, saya berharap banyak orang yang makin akrab dan berteman dengan hati nuraninya, sehingga tercermin akal budi yang positif, walaupun terseret segala kebutuhan hidup. Segala sesuatu selalu mempunyai sisi baik dan buruk, selalu punya resiko baik dan buruk, tinggal kita memutuskan untuk berdiri di sudut yang mana dan melihat ke arah mana. Tanyakan saja kepada organmu yang pling jujur, hati nurani.
Hari kemenangan Idul Fitri, kita tahu selalu disebut hari raya kemenangan. Karena kaum beriman yang telah menunaikan ibadah Ramadhan meraih kemenangan dan seperti terlahir kembali kepada fitrah kemanusiaan yang suci dan kuat hati. Pertanyaan nya, mengapa disebut kemenangan? Kalau ada yang menang pasti ada yang kalah kan? Dalam berbagai riwayat, dalam diri manusia, diri kita, selain fisik juga ada hawa nafsu, hati-akal (hati-nurani). Nah, selama menjalani puasa digambarkan secara simbolik terjadinya perang hawa nafsu dan hati nurani. Hati nurani (hati-akal) itulah alat untuk mengalahkan atau sebagai senjata perjuangan diri kita sebagai manusia. Untuk memelihara dan meningkatkan kemampuan senjata hati nurani ini diajarkan selama Ramadhan. Dalam pertempuran selalu ada yg mengalahkan atau membinasakan, semacam sinonim dari sebuah kemenangan, sebab tidak ada kemenangan tanpa mengalahkan. Dalam kamus bahasa, kalah dan menang adalah lawan kata. Dua sisi yang bertentangan. Dalam situasi ini, bayangkan yg bertentangan tersebut adanya dalam diri kita sendiri. Gambaran yg ada di Q.S. Asy-Syams ayat 8 secara jelas pentingnya tazkiyatu nafs (penyempurnaan jiwa) agar kita menjadi hamba yang bertakwa (berhati-nurani) dan jauh dari "kefasikan" (hawa nafsu kebinatangan).” Itulah kenapa disebut hari kemenangan karena selama Ramadhan kita diajarkan bagaimana terus membunuh nafsu dan menghancurkannya dengan hati nurani. Dengan kemanusiaan kita. Semoga. Doa baik. Ilustrasi @tonimalakian #catatanngabuburit #hariterakhirramadhan #hawanafsu #hatinurani #kemanusiaan #keimanan #ketakwaan #harikemenangan #senyumkecil #doabaik https://www.instagram.com/p/COxXe85gND2/?igshid=10vwz8m0gheyo
Rasa Bersalah . Rasa bersalah merupakan respon yang wajar ketika kita melakukan kesalahan, meskipun ada orang yang mematikan hati nuraninya sehingga tidak merasakannya lagi. Masihkah kita merasakan rasa bersalah atau sudah matikah nurani kita? . 👍👍👍👍 Yuk share supaya diingatkan untuk menjaga nurani kita 🥇🥇🥇🥇 . #rasabersalah #tertuduh #nurani #hatinurani #berbuatsalah #berbuatbaik #luxdeiconsulting #luxdei #dosa #merasasalah #konsultasipribadi #bebas #konseloradiksi #konselingribadi #pengampunan #diampuni #enjoylife💯 #guiltyfeeling #gelisah #mengulangikesalahan https://www.instagram.com/p/CBvDxuKhhdS/?igshid=teeh0hs1rc3l
Hati Nurani
Dua hari ini saya menyadari bahwa di pikiran saya dua kata diatas mampir dan menghantui pikiran ini. Mungkin dia muncul karena apa yang saya rasakan dan saya dengar dari apa yang orang lain alami.
“Hati nurani, dimanakah kau berada? Rindu aku ingin jumpa,” sekiranya itu kalimat yang bisa saya pertanyakan hingga saat ini, bersama dengan keadaan hati yang sedih sekaligus kecewa dengan apa yang terjadi di depan mata. Ok, let the story begin.
Aku menyaksikan orang lain datang saat ia merasakan kesepian dan pergi ketika ia merasa tidak kesepian lagi; melihat orang tersebut seakan-akan memberikan kebahagiaan yang tidak membahagiakan yang lain; hanya menguntungkan dirinya sendiri.
Aku menyaksikan orang yang mempermainkan hati seseorang yang berjuang demi dirinya, seakan-akan baginya hati itu ibarat bola yang bisa dilemparkan kapan saja;
Ada yang sangat gemar menggunakan topeng, menjadi malaikat didepan sahabatnya sekaligus iblis ketika berada dibelakang sahabatnya;
Adanya ketidakterbukaan dan ketidakjujuran di dunia nyata dan lebih memilih untuk menjadi pahlawan di dunia maya;
Segelintir orang yang menjadikan kesusahan orang lain sebagai bahan lelucon dan tertawaan mereka;
Satu lagi, memilih tunduk pada benda yang “menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh” hingga akhirnya lebih memilih mendengarkan perasaan orang yang jauh dibandingkan yang dekat dengan dirinya.
Terkadang mencurahkan pikiran ini terasa salah, tetapi tak bisa dipungkiri bahwa ini sangat menyayat hati. Yang saya rasakan hanyalah saya rindu keberadaan hati nurani; karena mungkin hal itu tidak akan terjadi lagi jika hati nurani bekerja didalamnya.
"Hati nurani wanita tak berubah oleh waktu dan musim. Bahkan jika mati abadi, hati itu takkan hilang musnah. Hati seorang wanita laksana sebuah padang yang berubah jadi medan pertempuran. Sesudah pohon-pohon ditumbangkan, rerumputan terbakar, batu-batu karang memerah oleh darah, dan bumi ditanami dengan tulang dan tengkorak-tengkorak, ia akan tenang dan diam seolah tak ada sesuatu pun terjadi. Karena musim semi dan musim gugur datang pada waktunya, dan memulai pekerjaannya..." - Kahlil Gibran, Sayap-Sayap Patah -
Paradigma Hati dan Akal
Dear someone there, "Sanggupkah kita menghentikannya saat hal itu sedang berjalan indah?" Terkadang akal berbenturan dengan hati. Dulu aku tak tahu harus memenangkan siapa. Aku memilih tanpa dasar yang jelas, hanya sekedar 'aku ingin memilih ini saat ini'. Mungkin kini tak lagi sama, kau dianugrahi dengan hati dan akal. Dan jawabannya hanya satu, pilihlah dengan melihat dalam hati, apa yang sebenarnya kau inginkan. Fitrahnya semua ini akan terbagi pada dua fraksi. Baik-Buruk. Negatif-Positiv. Hati tau pasti akan semua perasaan. Berbeda dengan akal yang hanya melibatkan logika, karena akal manusia terbatas. Hal indah belum tentu indah di hati kita dan dihadapan Dia. Dia membiarkan kita terus memilih. Dan kau tahu? Look inside your heart for the truth.
bismillah sudah jatuh ditimpa tangga sedang menghadapi banyak ‘task’ bertambah lagi ‘task’ . sometimes Allah uji kite to such an extend sampai rase nak menangis pun ade eh silap bukan rase je memang dah menangis dah pun dalam hati T_T depan orang je keep cool Allah…:’( memang manusia ni dicipta untuk diuji betullah cuma samada kita sedar tau tak je sedar yang kite ni memang sedang diuji and tup tup kite x sedar pun kite dah lepas dah pun ujian tu tak caye ce flashback balik ujian Allah buat kite dulu kan kite dah lepas hingga ke masa kini :) when Allah pushes us to our limit it’s simply because He has greater faith on us then we have for ourself sabarlah duhai hati dunia memang tempatnya manusia diuji sebelum kembali menghadap ilahi nak marah-marah pun nak geram-geram pun benci sekalipun kite yang memilih untuk hadapinya dengan attitude sebegitu kalau ada orang yang boleh menghadapi masalahnya dengan semyuman kenapa bukan kite juga ? kan =)