
ellievsbear
Show & Tell
d e v o n
will byers stan first human second
occasionally subtle

Love Begins
Game of Thrones Daily

Kiana Khansmith
h
Jules of Nature

★
wallacepolsom
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
RMH
Claire Keane
No title available

oozey mess
Lint Roller? I Barely Know Her
Three Goblin Art
I'd rather be in outer space 🛸
seen from Spain
seen from Algeria

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Australia
seen from United States

seen from United States

seen from Romania

seen from United States
seen from Germany

seen from T1

seen from United States
seen from United States
seen from New Zealand

seen from China

seen from Germany
@byantaraas
Eh, lu udah jadi ARMY (fandom BTS) ya sekarang? Sejak kapan lu jadi ARMY?
Aduh mon maap ni, gw bukan ARMY or something else. Wait wait, mungkin perkara gw ARMY atau tidak nya, kayaknya agak berlebihan aja untuk nunjukin gw ngefans banget sama idol grup ini. But so why, gw ngerasa agak appreciate aja sama mereka yang udah nge champaign dengan tema love your self nya dan realatable sama kehidupan jaman sekarang yang berhubungan dengan mental health. Thanks for dedicated about the song. And pas ngulik2 arti dari lagu mereka ternyata lumayan bisa bikin bantu agak napasan dikit dan beristirahat berkat sudut pandang lagunya. Gapapa, Nonton konsernya secara virtual aja udah cukup lah, buat menghadiahi diri sendiri.
Self awareness & Intelectual curiousity
Masih tentang CUPYTS: Cinta Untuk Perempuan Yang Tidak Sempurna by Najeela Shihab sebagai host dengan Maudy Ayunda dan Gita Savitri sebagai partner diskusi. Topiknya adalah “Kepinteran” dan Kepintaran. Kurang lebih diskusinya seperti ini:
Mba najeela : istilah kepinteran ini, kalian melihat orang yang pinter itu gimana?
Gita : menurutku, perempuan yang pinter itu yang paham worth-nya dia, dia yang punya self-concious, dia yang mengenal dirinya sendiri, dan yang cerdas yang tau kapan mesti memprioritaskan dirinya.
Maudy : aku juga setuju, self-awareness itu penting untuk mengenal diri sendiri. Nambahin juga, kepintaran itu adalah keinginan untuk mengembangkan dirinya, to have that growth mindset.
Lalu part lain mengenai relationship,
Mba najeela : dalam love-relationship pernah diputusin cowok gara-gara kepinteran enggak?
Maudy : aku cukup sering sih dapet kalimat “mungkin lu kepinteran kali, jadinya intimidating” meskipun secara prinsip itu kurang tepat ya. Tapi, sebagai seseorang yang mendengar mindset itu dari kecil, ya takut juga. Kalau kita mikir bahwa perempuan yang kepinteran itu sulit dapet jodoh, berarti kita berasumsi bahwa pasangan yang baik adalah yang memilki hierarchy dalam intellegence, and that’s not the value. Justru partnership yang baik adalah komunikasi yang baik, visi-misi yang sama, alignment, dll.
Gita : kalau aku, dari awal prinsipku adalah gak ada hierarchy soal intelektual, yang dipertemukan dengan suami yang melihat masculinity itu bukan yang memandang perempuan inferior (perempuan gak boleh lebih pinter, gak boleh terlalu independen, yang bisa ngebuat pria loose his purpose to be superior, “lalu saya buat apa?”). Dia melihat dirinya sebagai human being.
Lalu membahas kriteria pasangan Maudy Ayunda (dan mungkin perempuan diluar sana),
Mba nejeela: kalau mau jadi pacarnya maudy, mesti lebih pinter dari kamu enggak?
Maudy : siapa yang lebih pinter itu sulit banget buat di-compare, are we talking about IQ? kapabilitas berpikir secara logis? atau skill lain? justru aku lebih nyari orang yang punya self-awareness dan intelectual curiousity yang tinggi.
Dan kalimat Mba najeela yang menarik adalah:
The best relationship is actually makes you smarter, wherever you start. If you are in good relationship, you push each other to be better, to learn together. If you are a good couple, then you will be smarter cause of your interaction each other.
29 Agustus 2020
“Adapun nan disabuik parampuan, tapakai taratik dengan sopan, mamakai baso jo basi, tahu di ereang dengan gendeang, manjauhi sumbang jo salah. Muluik manieh baso katuju, kato baiak, kucindai murah, baso baik gulo dibibie. Pandai bagua samo gadang, hormat kapado ibu bapo, khidmat kapado urang tuo-tuo, makai di malu samo gadang, labih kapado pihak laki-laki. Takuik kapada Allah, manuruik parentah Rasul. Tahu di koroang dengan kampuang, tahu di rumah dengan tanggo”
Adapun yang dinamakan perempuan, terpakai tertib dengan sopan, memakai basa dengan basi, tahu di bahasa sindiran, memakai perasaan dan akal, memiliki malu dan kesopanan, menjauhi perbuatan salah. Mulut manis budi pekerti menyenangkan, kata-kata baik dan ramah. Pandai bergaul sesama besar, hormat kepada ibu bapa, mau membantu orang tua, memiliki sifat malu dalam bergaul dengan teman-teman sesama besar, apalagi dengan laki-laki. Takut kepada Allah, patuh kepada perintah Rasul. Pandai bermasyarakat dan berumah tangga
Ajaran Adat Minangkabau
Semesta sudah berpihak kepada kita, tapi mengapa jarak dan waktu menjadi hambatan untuk temu yang begitu kita rindukan.
“Maukah kau membantuku? Berdoalah dan selipkan namaku beserta namamu, semoga Tuhan menjawabnya dengan menempatkan kita di satu waktu yang memungkinkan untuk hidup bersama.”
— (via mbeeer)
Matikan HP-mu!
Pernahkah kamu mengalami ketika kumpul bareng teman-teman dekat, lalu sebagian besar dari mereka lebih sering melihat HP ketimbang fokus pada teman-teman di sekitar? Terlalu sering nampaknya kita menemukan hal seperti ini di banyak tempat. Apakah makna “kumpul” atau “bertemu” telah berubah menjadi pertemuan bisu?
Suatu hari, saya benar-benar sedih melihat ada satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, anak perempuan (sepertinya paling besar), anak perempuan lebih kecil, dan satu anak kecil usia 3-4 tahun (nampak paling kecil). Semua memegang HP dan tablet kecuali anak yang paling kecil. Ia nampaknya mencari sesuatu untuk ia pikirkan sebagai pengalihan dari model interaksi keluarga yang menurut saya sungguh tidak sehat. Semua sibuk dengan gadget masing-masing tanpa suara sambil menyeruput gelas-gelas minum mereka. Si anak mungkin tidak paham. Tapi saya yakin dia membaca keadaan; bahwa ketika ia besar nanti, ia akan seperti orang-orang dewasa di depannya itu.
Sebegitu pentingnya kah interaksi digital ketimbang pertemuan nyata? Orang-orang riil ada di depan mata, tapi kita memilih berkomunikasi dengan interaksi artifisial. Terkadang, pertemuan kita dengan teman-teman hanya sebatas formalitas saling rindu yang sebenarnya palsu.
Saya selalu berupaya untuk mereduksi hal ini. Dengan hal-hal sepele yang menghambat kita untuk menggunakan HP saat bertemu teman-teman. Mematikan notifikasi (silent); menyimpang dalam tas atau kantong celana; membalik HP dalam posisi silent; atau sekalian membiarkannya mati untuk sementara sampai akhir pertemuan. Bagi saya, interaksi nyata itu berharga. Teralihnya perhatian kita kepada HP mematikan realitas. Meminimalisasi sentuhan HP adalah cara saya untuk menghargai sebuah pertemuan.
Sebab saya tidak mau menjadi manusia palsu yang berlagak rindu untuk bertemu, tetapi membuang waktu ketika orang-orang yang dirindu ada di depan mata. Saya tidak mau berlagak paham arti pertemuan setelah perpisahan. Mari mematikan HP saat bertemu orang-orang yang dicinta.
Sebelum jatuh cinta, cek terlebih dahulu; apakah ia pergi ke masjid untuk Subuh berjamaah.
Saranku ini harga mati. Jangan mau ditawar.
Berhati-hatilah jika kamu membuat seorang penulis jatuh cinta.
Karena bisa jadi, dia hanya jatuh cinta pada rasa yang kamu timbulkan di hatinya. Bukan kamu.
Andira W.
Bandung, 9 April 2019.
Jangan Jadikan Aku Istrimu, Jika..
Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti dengan alasan bosan kamu berpaling pada perempuan lain.
Kamu harus tahu meski bosan mendengar suara dengkurmu, melihatmu begitu pulas. Wajah laki-laki lain yang terlihat begitu sempurnapun tak mengalihkan pandanganku dari wajah lelahmu setelah bekerja seharian.
Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu enggan hanya untuk mengganti popok anakmu ketika dia terbangun tengah malam. Sedang selama sembilan bulan aku harus selalu membawanya di perutku, membuat badanku pegal dan tak lagi bisa tidur sesukaku.
Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kita tidak bisa berbagi baik suka dan sedih dan kamu lebih memilih teman perempuanmu untuk bercerita. Kamu harus tahu meski begitu banyak teman yang siap menampung curahan hatiku, padamu aku hanya ingin berbagi. Dan aku bukan hanya teman yang tidak bisa diajak bercerita sebagai seorang sahabat.
Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti dengan alasan sudah tidak ada kecocokan kamu memutuskan menjatuhkan talak padaku. Kamu tahu betul, kita memang berbeda dan bukan persamaan yang menyatukan kita tapi komitmen bersama.
Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu memilih tamparan dan pukulan untuk memperingatkan kesalahanku. Sedang aku tidak tuli dan masih bisa mendengar kata-katamu yang lembut tapi berwibawa
Jangan pilih aku sebagai istrimu, jika nanti setelah seharian bekerja kamu tidak segera pulang dan memilih bertemu teman-temanmu. Sedang seharian aku sudah begitu lelah dengan cucian dan setrikaan yang menumpuk dan aku tidak sempat bahkan untuk menyisir rambutku.
Anak dan rumah bukan hanya kewajibanku, karena kamu menikahiku bukan untuk jadi pembantu tapi pendamping hidupmu. Dan jika boleh memilih, aku akan memilih mencari uang dan kamu di rumah saja sehingga kamu akan tahu bagaimana rasanya.
Jangan pilih aku sebagai istrimu, jika nanti kamu lebih sering di kantor dan berkutat dengan pekerjaanmu bahkan di hari minggu daripada meluangkan waktu bersama keluarga. Aku memilihmu bukan karena aku tahu aku akan hidup nyaman dengan segala fasilitas yang bisa kamu persembahkan untukku.
Harta tidak pernah lebih penting dari kebersamaan kita membangun keluarga karena kita tidak hidup untuk hari ini saja.
Jangan pilih aku jadi istrimu, jika nanti kamu malu membawaku ke pesta pernikahan teman-temanmu dan memperkenalkanku sebagai istrimu. Meski aku bangga karena kamu memilihku tapi takkan kubiarkan kata-katamu menyakitiku.
Bagiku pasangan bukan sebuah trofi apalagi pajangan, bukan hanya seseorang yang sedap dipandang mata. Tapi menyejukkan batin ketika dunia tak lagi ramah menyapa. Rupa adalah anugerah yang akan pudar terkikis waktu, dan pada saat itu kamu akan tahu kalau pikiran dangkal telah menjerumuskanmu.
Jangan pilih aku jadi istrimu, jika nanti kamu berpikir akan mencari pengganti ketika tubuhku tak selangsing sekarang. Kamu tentunya tahu kalau kamu juga ikut andil besar dengan melarnya tubuhku. Karena aku tidak lagi punya waktu untuk diriku, sedang kamu selalu menyempatkan diri ketika teman-temanmu mengajakmu berpetualang.
Jangan buru-buru menjadikanku istrimu, jika saat ini kamu masih belum bisa menerima kekurangan dan kelebihanku. Sedang seiring waktu, kekurangan bukan semakin tipis tapi tambah nyata di hadapanmu dan kelebihanku mungkin akan mengikis kepercayaan dirimu.
Kamu harus tahu perut buncitmu tak sedikitpun mengurangi rasa cintaku, dan prestasimu membuatku bangga bukan justru terluka.
Jangan buru-buru menjadikanku istrimu, jika saat ini kamu masih ingin bersenang-senang dengan teman-temanmu dan beranggapan aku akan melarangmu bertemu mereka setelah kita menikah.
Kamu harus tahu akupun masih ingin menghabiskan waktu bersama teman-temanku, untuk sekedar ngobrol atau creambath di salon. Dan tak ingin apa yang disebut “kewajiban” membuatku terisolasi dari pergaulan, ketika aku semakin disibukkan dengan urusan rumah tangga.
Menikah bukan untuk menghapus identitas kita sebagai individu, tapi kita tahu kita harus selalu menghormati hak masing-masing tanpa melupakan kewajiban.
Jangan buru-buru menikahiku, jika saat ini kamu sungkan pada orang tuaku dan merasa tidak nyaman karena waktu semakin menunjukkan kekuasaannya. Bagiku hidup lebih dari angka yang kita sebut umur, aku tidak ingin menikah hanya karena kewajiban atau untuk menyenangkan keluargaku.
Menikah denganmu adalah salah satu keputusan terbesar di hidupku yang tidak ingin kusesali hanya karena terburu-buru.
Jangan buru-buru menikahiku, jika sampai saat ini kamu masih berpikir mencuci adalah pekerjaan perempuan. Aku tak akan keberatan membetulkan genting rumah, dan berubah menjadi satpam untuk melindungi anak-anak dan hartamu ketika kamu keluar kota.
Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini kamu berpikir mempunyai lebih dari satu istri tidak menyalahi ajaran agama. Agama memang tidak melarangnya, tapi aku melarangmu menikahiku jika ternyata kamu hanya mengikuti egomu sebagai laki-laki yang tak bisa hidup dengan satu perempuan saja.
Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini masih ada perempuan yang menarik hatimu dan rasa penasaran membuatmu enggan mengenalkanku pada teman-temanmu. Kamu harus tahu meski cintamu sudah kuperjuangkan, aku tidak akan ragu untuk meninggalkanmu.
Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini kamu berpikir menikahiku akan menyempurnakan separuh akidahmu sedang kamu enggan menimba ilmu untuk itu. Ilmuku tak banyak untuk itu dan aku ingin kamu jadi imamku, seorang pemimpin yang tahu kemana membawa pengikutnya.
Jangan jadikan aku sebagai istrimu, jika kamu berpikir bisa menduakan cinta. Kamu mungkin tak tahu seberapa besar aku mengagungkan sebuah cinta, tapi aku juga tidak akan menyakiti diriku sendiri jika cinta yang kupilih ternyata mengkhianatiku.
Jangan jadikan aku sebagai istrimu, jika kamu berpikir aku mencari kesempurnaan. Aku bukan gadis naif yang menunggu sang pangeran datang dan membawaku ke istana.
Mimpi seperti itu terlalu menyesatkan, karena sempurna tidak akan pernah ada dalam kamus manusia dan aku bukan lagi seorang gadis yang mudah terpesona.
Jangan pernah berpikir menjadikanku sebagai istrimu, jika kamu belum tahu satu saja alasan kenapa aku harus menerimamu sebagai suamiku.
Antara Dua Prasangka
Kita sebagai manusia dikaruniai oleh Allah SWT akal dan pikiran. Sehingga kita bisa mengira dan beranggapan akan suatu hal yang belum menjadi kenyataan. Inilah prasangka.
Ada dua prasangka yang kita ketahui yaitu, prasangka baik dan prasangka buruk. Yang mana pada masing-masing prasangka, sebenarnya ada ukuran yang harus dijaga. Pada tiap-tiap keadaan, ada jenis prasangka yang harus kita utamakan.
Prasangka Baik
Prasangka sudah menjadi naluri kita sebagai manusia. Namun, pertanyaannya adalah prasangka yang mana yang sering ada pada pikiran kita? Semoga prasangka baik yang muncul dalam keseharian kita.
Karena prasangka baik, seorang sahabat Nabi Muhammad SAW dijamin masuk surga padahal sahabat tersebut masih berada di dunia. Mengapa? Abdullah bin Amr bin Ash -sahabat nabi yang lain- penasaran dan akhirnya mencoba ikut bermalam selama tiga hari dengan beliau. Ternyata amalan beliau juga biasa-biasa. Tapi, yang menjadi penting adalah beliau selalu berprasangka baik kepada siapa saja. Selalu memaafkan dan menghilangkan rasa dengki yang ada. Sehingga ini yang membuat beliau dijamin surga. Dan justru ini yang sulit yang dilakukan oleh kita, manusia pada umumnya.
Berprasangka baik harus kita lakukan siapa saja. Kepada diri sendiri, agar selalu semangat dalam memperjuangkan hidup kita. Kepada orang lain, karena selalu ada kebaikan dalam tiap-tiap manusia. Kepada Allah SWT, karena prasangka-Nya tergantung dari prasangka kita.
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku tergantung persangkaan hamba kepada-Ku. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingat-Ku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diri-Ku. Kalau dia mengingat-Ku di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.’" (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika kita berprasangka bahwa Allah SWT Maha Pengampun, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kita. Begitu pula sangkaan yang lainnya. Tetapi, sangkaan kita juga harus selaras dengan amalan. Prasangka baik sudah seharusnya membuat kita semakin semangat dalam berbuat kebaikan. Karena kita harus yakin bahwa Allah SWT akan membalas semua prasangka.
Prasangka Buruk
Di era sosial media, kita menjadi lebih sering melihat dan menduga. Banyaknya informasi yang masuk membuat pikiran kita menjadi terlena. Hal ini mengakibatkan timbul banyaknya berbagai prasangka dalam pikiran kita. Termasuk prasangka yang tercela.
Informasi yang ada di sosial media, belum tentu itu fakta. Dan apa yang ada dalam prasangka kita, belum tentu menjadi nyata. Yang kita sangka buruk dari orang lain, belum tentu itu yang terjadi sebenarnya. Maka dari itu, prasangka buruk yang tersampaikan adalah bagian dari dusta.
Rasulullah SAW bersabda, "Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta, janganlah kalian saling mendiamkan, janganlah suka mencari-cari isu, saling mendengki, saling membelakangi, serta saling membenci, tetapi, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Prasangka yang buruk adalah awal dari perbuatan tercela lainnya. Seperti mencela orang lain, mencari-cari kesalahannya, hingga pada akhirnya menghakimi mereka. Apalagi sosial media membuat semakin mudah untuk melakukannya. Hanya sekedar beberapa ketuk jari, tampillah komentar kita. Maka, sudah seharusnya kita menjadi semakin waspada akan godaan-godaan prasangka. Apakah kita mau memakan bangkai saudara?
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Mari mulai saat ini juga, hindarkan diri kita dulu dari prasangka yang buruk. Baru kemudian orang-orang terdekat dan teman, kita bujuk. Mari bersama-sama istighfari diri kita. Memohon ampun atas segala prasangka yang sudah telanjur tersampaikan ke orang lain maupun sosial media.
Ukuran dan Keadaan
Dalam berprasangka, alangkah baiknya jika kita mengetahui ukuran dan keadaan. Karena semua yang berlebihan berakhir menjadi tidak menawan. Hal ini berlaku untuk prasangka yang baik maupun buruk yang telah kita lakukan.
Kita hidup dalam dunia dimana orang-orang berprasangka baik kepada kita. Sosial media menarik kita untuk menampilkan apa yang baik-baik saja. Sehingga prasangka baik mereka, hanya di permukaan saja. Padahal jika orang lain tau keburukan kita, mungkin dia akan pergi menjauh. Bersyukur rasanya, Allah SWT rela menutupi aib yang ada di seluruh tubuh.
Maka, jangan sampai prasangka baik orang lain membuat kita lengah. Kita harus mau mengakui bahwa diri ini masih penuh lupa dan salah. Sehingga terhadap sangkaan baik mereka, harusnya memacu kita berbuat yang sesuai dengannya atau bahkan lebih baik daripadanya.
Begitu pula dengan prasangka buruk, ada kondisi dimana kita diperbolehkan untuk melakukannya. Sehingga tidak semua prasangka buruk, diharamkan perbuatannya. Karena ini adalah salah satu bentuk waspada dari kejahatan dan kemungkaran yang akan dilakukan siapa saja.
Imam Asy-Syaukani dalam kitabnya Fathil Qadir berkata, “Untuk orang jahat, berakhlak jelek, menurut kami, kita boleh memiliki suudzan sesuai yang mereka tampakkan.”
Islam mengajarkan kita untuk tidak membiarkan kejahatan atau kemungkaran. Sehingga pada keadaan seperti inilah prasangka buruk diperbolehkan. Kemudian hendaklah kita mengubahnya semampu mungkin, jika kita melihat jelas ada perbuatan kejahatan.
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)
Pada akhirnya, kita harus memahami bahwa di antara dua prasangka ada ukuran dan keadaannya. Sehingga kita harus hati-hati dalam setiap prasangka. Kita juga harus mengerti bahwa pertengahan adalah sebaik-baik prasangka. Karena kita tak selalu baik dalam pandangan manusia. Karena kita juga tak seburuk apa yang terlintas di hati mereka. Semoga kita dijadikan yang lebih baik daripada apa yang orang lain sangka. Semoga Allah SWT mengampuni kita atas aib-aib yang tidak diketahui mereka.
Aku tak sebaik apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tak seburuk yang terlintas di hatimu. (Ali bin Abi Thalib)
Bandung dan Kenangan
Kita bertemu disudut bandung
Untuk pertama kalinya
Aku ingat betapa kamu inginkan itu
Begitu juga aku
Tapi, apakah cuma sebatas pertemuan saja tanpa ada ingin untuk singgah.
Gak tau kenapa, kenapa harus kota Bandung.
Padahal masih banyak kota - kota lain yang mau aku singgahi bersama denganmu.
Menikmati Senja dan Tatapan.
Jarak dan Kenangan.
Secangkir Teh dan sebuah Obrolan.
Aku Rindu.
Perihal kapan waktu tuk bertemu.
Jangan inginkan pertemuan
Toh saling berkabar saja terlalu sulit untuk kita tunaikan
Rindu kita seolah mengambang
Terombang ambing
Apakah bisa dititip rinduku sejenak? Sampai dia bisa menemukan tempat untuk berlabuh yang semestinya.
Hay Tuan Penikmat rindu.
Dari caramu mendengarkan cerita ku, dari caramu memandangku. Aku pun semakin paham, kalau rasa rindu itu untukkku memang selalu terucap darimu.
Orang yang Pernah Datang Kepadamu tapi Kamu tidak Memiliki Tempat untuk Menerimanya
©kurniawangunadi
Suatu hari, pernah beberapa kali terjadi di hidupmu. Ada orang-orang yang kamu rasa cukup baik, hadir di hidupmu. Ia berkata kepadamu, kata terbaik yang pernah diucapkan oleh siapapun yang berniat baik. Kamu tersipu, kamu merasa menemukan, ia pun demikian. Kamu merasa segala sesuatunya akan berjalan dengan baik.
Siapa sangka. Ia adalah ujian.
Hidup ini kadang membuat kita khawatir, mengapa seseorang dinilai begini dan begitu, mengapa sulit melihat kebaikan orang lain, juga mengapa seringkali - kita pun begitu - lebih mudah melihat sisi buruknya. Mencari-carinya untuk menjadi alasan penyangkalan itu. Juga, ada pikiran-pikiran yang dipaksakan untuk seragam, padahal manusia itu sendiri amatlah beragam.
Ia datang kepadamu sebagai dirinya. Kamu menerimanya, tapi tidak dengan mereka. Alasannya beragam dari mulai terlalu jauh, terlalu asing, berbeda asal, berbeda usul, berbeda ini-itu, yang dicari adalah perbedaannya. Alangkah sedihnya hatimu, mendapati kenyataan bahwa ia adalah ujian.
Dikatakan kepadanya, bahwa tidak ada tempat untuk menerimanya. Ia pun berlalu. Begitu seterusnya hingga berkali-kali terjadi dalam hidupmu, kejadian serupa. Berulang-ulang. Sampai kamu bertanya-tanya, apakah akan selamanya begitu?
Salah satu bagian sulit di hidup ini adalah melewatkan kebaikan-kebaikan. Saat kebaikan itu berlalu, tidak sempat menjadi milikmu, dan ia menjadi milik orang lain. Menjadi pahalanya, menjadi amalannya. Kebaikan itu berlalu berkali-kali.
Kini coba perhatikan. Berapa waktu berlalu. Masih tidak ada ruang di dirimu untuk semua itu. Coba perhatikan bagaimana orang-orang yang dulu berlalu, perhatikan bagaimana hidupnya kini. Itu adalah pelajaran berharga yang amat penting.
Sebab satu hal yang sering luput untuk kita insyafi adalah kita sulit menerima kenyataan, kita sulit menerima perbedaan, kita sulit untuk menerima kebaikan hanya karena orang yang melakukannya tidak kita sukai.
Pelajarilah hal-hal yang berlalu, karena mereka adalah ujian. Tentu saja, mereka dititipi oleh Tuhan pelajaran berharga yang bisa kita petik. Sayangnya, tidak semua dari kita bersedia menerima pengetahuan itu dengan terbuka.
Bertemu,
Terdiam,
Lalu merindu,
Saling menyayangi, belum tentu dapat saling memiliki.
Deep. (via miftahulfikri)
Bisa saja sekarang kita sedang diuji, betapa berharganya waktu dan jarak. Jangan tanyakan rinduku, sejatinya rindu kita tidak pernah ada habisnya.