Seperti tersesat, aku rindu rumah tapi tak tahu cara pulang
nmhana, jogja12042020

No title available
tumblr dot com

JBB: An Artblog!

oozey mess

JVL
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

No title available
Claire Keane
No title available
Alisa U Zemlji Chuda
No title available
No title available

Janaina Medeiros
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

#extradirty
we're not kids anymore.

祝日 / Permanent Vacation
Today's Document
🪼
Xuebing Du

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Uzbekistan
seen from Togo

seen from Canada

seen from Togo

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Ukraine
@cantigisenja
Seperti tersesat, aku rindu rumah tapi tak tahu cara pulang
nmhana, jogja12042020
PULANG
Tahu apa obat demam yang lebih manjur ketimbang paracetamol? Tahu apa obat yang paling ampuh menghilangkan badan ngilu setelah beraktivitas seharian? Tahu bagaimana meredakan segala beban di pikiran yang hampir membuatmu meledak?
Ialah rumah.
Tempat dimana ada kasur yang tak terlalu empuk tapi terasa sangat nyaman. Teras rumah yang sempit, tapi duduk di situ bisa jadi lebih mewah ketimbang nongkrong di warung kopi. Apalagi dengan senyum emak dan bapak yang hampir selalu aku rindukan setiap hari disini.
Bagiku, pulang selalu bisa jadi obat untuk tubuh yang meriang, hati yang gelisah dan pikiran yang terasa penuh. Memesan tiket kereta H-7 sudah cukup jadi bukti antusiasme untuk segera tiba di rumah. Dalam seminggu akan terasa begitu lama karena aku selalu menghitung tiap jam, menit, detik untuk sampai di sabtu pagi.
Dan hari ini, di tengah pandemik virus Corona yang mendadak jadi trending topic membuatku seperti kehabisa obat. Meskipun obrolan via telpon setiap bada maghrib bisa mengobati sedikit rasa rindu, tapi rasanya tetap saja berbeda. Setiap hari selalu rindu kasur di rumah. Setiap hari rindu duduk di ruang tengah, sambil nonton film atau sekedar ngobrol bersama emak, bapak, mas dan adek. Rindu masakan emak, rindu suara mesin jahit bapak, rindu sorak-sorai suara ponakan-ponakan setiap pagi saat tiba di rumah mbah.
Aku bisa saja pulang jika aku mau. Dan aku memang mau. Tapi kalau dipikir-pikir itu egois sekali. Meskipun aku yakin orang-orang di rumah juga merindukanku (bukan terlalu percaya diri, tapi aku yakin itu), tapi aku tidak bisa seenaknya melakukan itu.
Aku ingat emak dan bapak serta saudara-saudaraku di rumah. Bisa dikatakan, aku lebih mengkhawatirkan mereka ketimbang mengkhawatirkan diri sendiri. Ya, mungkin sebagian besar orang berpikir demikian.
Aku mungkin baik-baik saja. So far aku tidak mengalami demam atau batuk, walaupun akhir-akhir ini sempat terasa sesak nafas. Positif thinking saja. Sepertinya itu efek social distancing yang membuatku harus betah di kost. Duduk, makan, tidur, repeat. Sehingga kekurangan aktivitas fisik. Sesak nafas seperti ini memang sudah pernah aku rasakan. Dan setelah rutin renang, akhirnya sesak nafas itu sembuh. Kuharap itu adalah sebab yang sama untuk yang aku rasakan sekarang. Tapi bagaimana kalau ternyata imun tubuhku cukup kuat, sehingga walaupun terpapar virus, imun dalam tubuh masih bisa mengatasinya. Lalu bagaimana dengan emak dan bapak? Bagaimana dengan orang-orang yang ada di sekitarku?
I love them so much. So I’ll stay...
For my endless love (1) https://www.instagram.com/p/BsOBS2QlC2v/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=8ixeq9ktx649
Seperti yang kita tahu, manusia itu gemar berencana. Tapi rencana Tuhan, siapa yang menyangka? Yang jelas rencanaNya selalu lebih indah kan? Di penghujung 2017 lalu mungkin kita sudah membuat beberapa daftar resolusi. Bagaimana realisasinya di 2018? Tercapai semua? Setengahnya? Atau belum sama sekali? Pepatah bijak berkata, tidak ada kata terlambat untuk memulai suatu kebaikan. Dan "hari ini" adalah saat yang tepat untuk menjadi lebih baik. Bukan besok, nanti atau tahun depan. Dan hari ini juga, rasanya excited sekali untuk bisa mulai belajar konsisten menulis bersama @30haribercerita. Kira-kira bisa ngga ya? Penasaran? Penasaran? Aku juga 😁 #30haribercerita #30hbc19 #30hbc1901 https://www.instagram.com/p/BsEkF_5FU7A/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1uhpd7nd9wpgi
Tidak ada jawaban lain atas pertanyaan kapan harus mulai melakukan kebaikan, selain hari ini
"Beginilah kehidupan di zaman penjajahan versi 2017. Selamat hari sumpah pemuda. MERDEKA!!! -28-10-2017- Mau tahu cerita lengkap perjalanan kami di Kampung Edukasi Watu Lumbung? Klik link di bio. Dan search dengan keyword "Kampung Edukasi Watu Lumbung". Talent : @imelkelilingindonesia Lokasi : Kampung Edukasi Watu Lumbung
. Mencarimu Aku mencarimu Siapa tahu kau ada dalam ranselku Bersama buku bukuku Bersama catatan catatanku Bersana warna warni penaku Bersama dengan diriku yang selalu membawa ranselku
. Kalau saja jarak Tegal-Jogja dapat dilipat sedemikian rupa. Kalau saja. Tak mau cuma berandai-andai, saya ingat kalau libur panjang (yang pasti akan tetap terasa pendek) sudah di depan mata. Rasa-rasanya saya sudah mulai terjangkit demam lantaran ingin segera pulang ke kampung halaman. Jadi, saya putuskan untuk segera menuju "kesana". Ke libur panjang (yang pasti akan terasa pendek). Kemarin malam, sepulang kerja, dengan penuh semangat saya memacu sepeda motor berplat G kesayangan, menyusuri jalanan Jogja yang tak pernah lengang. Saya ingin memebeli tiket di agen travel yang biasa membawa saya bolak-balik Tegal-Jogja Jogja-Tegal selama setahun terakhir. Bisa menduga apa yang terjadi? Saya syok bukan kepalang begitu memasuki pintu gerbang agen travel tersebut. Halaman yang biasanya menjadi tempat parkir armada travel tidak lagi dipenuhi kendaraan kendaraan itu, tapi berganti menjadi puluhan kambing aneka jenis. Saya tertegun, kaget, bingung. Dan saya punya firasat tentang ini, karena sejak dua hari sebelumnya nomor telepon agen travel tersebut tidak aktif. "Travelnya sudah bankrupt Mbak!" seru salah seorang bapak yang kebetulan lewat situ. Apakah ada kaitannya dengan berita travel yang akhir-akhir ini muncul di berbagai media masa? Ya, jadi singkat saja, saya tidak dapat tiket pulang. Semua tiket dimana-mana sudah habis. Dan saya tidak tahu bagaimana cara kembali ke rumah. Karena yang saya tahu, satu-satunya cara kembali ke rumah adalah dengan "pulang". Tapi tiba-tiba ada yang berbisik, "Tenang, Na. Nanti pasti akan ada cara untuk pulang ke rumah." Mendengar suara itu rasanya sedikit tenang. Tapi suara siapa itu? Hah! Ternyata itu suara dari dalam hati sendiri. Cuma menghibur diri 😂
Kemarin kau kirim aroma aroma pucuk pinus, Dan kini aku di sini berjumpa dengan kau. Tak seangkuh biasanya, Kau melambai-lambai seolah gembira. Gembira kah kau? Kala ku tengadah mengharap kau merunduk menatapku Tapi dalam lambaianmu kau seperti malu malu, Seperti ada yang hendak terucap tapi tertahan di pangkal lidah Kau, bagaimana kabarmu? Aku gugup dan tak bisa melontar tanya yang lain. Kita selalu seperti ini, Selalu seperti jumpa pertama dalam mimpi
14.30 Siang tadi, ketika kereta datang menjemput di Stasiun Slawi, dalam hati aku mengurai janji. "Ketika kakiku telah menapaki Jogja, aku akan meninggalkan semua yang membebani hatiku. Rasa bersalah, rasa kehilangan, ngilu dada yang makin hebat. Dan aku akan berdamai, memaafkan diri yang hatinya mulai menciut." Ketika aku melangkah naik ke dalam kereta, aku belajar untuk menerima apapun yang akan terjadi nanti. Ketika kereta melaju, satu persatu aku lepas memori memori masa lalu. Aku butuh, setidaknya satu atau dua menit saja untuk menyelesaikan semuanya. Tapi aku masih meragu. 16.45 Melanjutkan perjalanan dari Stasiun Purwokerto. Saat kereta melaju, hatiku makin gelisah. Aku harus menepati janjiku. Janji yang kuucapkan ketika kereta pertama menjemputku. Mencoba meminta maaf atau aku akan memendam rasa bersalah selamanya. Aku takut. Tapi aku tak ingin hidup dengan bayang-bayangnya di sepanjang malam. Maka, aku mencoba. Sungguh aku tidak menyangka akan menitikan air mata di tengah kebisingan gerbong kereta. Padahal, biasanya dalam sepi saja aku malu untuk menangis. Mendengar kabarnya. Mendengar bagaimana kehidupannya. Mendengar tentang pernikahannya yang akan berlangsung. Aku menangis. Aku mungkin terlalu bahagia. Karena aku tahu bagaimana dia mendambakan hal tersebut. Kudengar suaranya tak sebimbang dulu. Mungkin ia telah mengukuhkan hatinya. Dia terdengar lebih akrab. Dan aku yakin ia bahagia. Ketika permintaan maafku ia sambut baik, seketika gelisahku hilang. Meski selama dua menit bercapak membuat tubuhku harus menahan gemetar yang hebat, tapi semuanya membuatku lebih mudah menepati janji janji itu. Ia bertanya "kau ingin aku undang?" Seketika aku meng"iya"kan. Entahlah. Aku cuma merasa bahagia. Setidaknya satu do'aku buatnya telah terkabul. Pada akhirnya waktu yang menjawab, bukan? Dalam benakku berkata. Seperti apa yang dulu aku katakan padanya Lempuyangan, 19.43 And here I am. Aku melepas semuanya. Dan ketika aku melangkah, membaur dalam keramaian kota, aku seperti terbangun dari mimpi yang amat panjang. Yea. That's just a dream. Now, it's time to face the reality . . . Jangan serius serius It's time to writing, guys 🙆🙆🙆
Dalam perjalananku pulang ke rumah. Aku bahagia. Sangat bahagia. Tak lama lagi aku akan berjumpa dengan keluargaku, dengan teman teman masa kecilku. Senaaaang sekali.
Tapi, entah mengapa, semakin kereta melaju, hatiku terasa ngilu. Rasanya seperti tersayat sayat.
Entah ini sebab rasa kehilangan atau bahagia yang terlalu meluap-luap. Tapi, tak ada cukup kata yang mampu mengurai kerumitan dalam benak ini.
Joglokerto, 25-05-2017
Dalam perjalananku pulang ke rumah. Aku bahagia. Sangat bahagia. Tak lama lagi aku akan berjumpa dengan keluargaku, dengan teman teman masa kecilku. Senaaaang sekali.
Tapi, entah mengapa, semakin kereta melaju, hatiku terasa ngilu. Rasanya seperti tersayat sayat.
Entah ini sebab rasa kehilangan atau bahagia yang terlalu meluap-luap. Tapi, tak ada cukup kata yang mampu mengurai kerumitan dalam benak ini.
Joglokerto, 25-05-2017
Tentangmu
Ada banyak hal yang ingin kutulis tentangmu. Tentang bagaimana kau mengistimewakan wanita yang kau cintai. Tentang bagamana niatan tulusmu untuk membuat orang yang kau cinta merasa bahagia. Sesuatu yang membuatku tak percaya. Ternyata ada laki-laki sepertimu.
Aku hanya berandai-andai. Andai saja kau datang di saat yang tepat, ketika aku telah siap. Mungkin semua tidak akan berakhir seperti ini. Akhir yang kutahu pasti membuatmu sakit. Akhir yang membuatmu menilaiku sebagai orang yang tega mematahkan hatimu yang tulus. Begitu berdosa aku padamu.
Kau menghapusku dari hidupmu. Tapi aku tidak. Bagiku, semua orang yang pernah aku kenal akan menjadi temanku. Sampai kapannpun. Aku tak mengenal istilah mantan teman, jadi ketahuilah bahwa aku tak akan pernah menolak andai kau ingin kita berjabat tangan kembali dan bersahabat.
Kalimat kalimat itu seperti menjelma sosok yang berdiri di ambang pintu. Menunggu, menunggu, tapi tak kunjung dibuka. Empunya pintu ragu. Ia takut kalimat kalimat itu menjelma ombak yang hendak menenggelamkannya. Dalam batin berkata, menenggelamkan dalam bahagia, tak mengapa. Kalau sebaliknya? Sewaspada itu yang berdiri di balik pintu. Lama... Lama... Lama... Akhirnya ia mencoba memberanikan diri. Mengisyaratkan pada deretan kalimat yang dibuat jenuh di luar sana. Ia tahu, entah kapan waktunya, saat itu pasti akan datang juga. Saat dimana
Tidak ada tolok ukur untuk menilai kebahagiaam seseorang melalui penglihatan. Karena bahagia itu tak selalu digambarkan dari mata yang berbinar atau dari senyum yang mengembang. Percayalah, bahagia itu letaknya di hati, yang bahkan kadang seluruh anggota tubuh ini tak mampu mengisyaratkannya.
Sedikit, sangat sedikit yang paham tentang keadaan ini. Ketika semua mementingkan keinginan mereka sendiri, dan lupa bahwa kehendaknya akan menjadi bencana buatku. Aku harus bagaimana? Mendadak semua orang membawaku larut dalam kebingungang yang kian rumit. Mereka tak peduli denganku. Mereka mengabaikan tentang bagaimana aku nantinya. Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan. Aku hanya bisa diam, menunggu apa yang akan terjadi,
Katanya kau percaya kalau jodoh itu di tangan Allah.
Tapi mengapa kau masih juga gelisah?
Kalau kita memang berjodoh, kuyakin kau akan punya sejuta alasan untuk tetap menungguku. Bahkan meski kadang aku tak bisa meluangkan sedikit saja waktu buatmu.
Dan seandainya kau bukan jodohku , atau aku bukan jodohmu, maka akan ada alasan pula yang membuat kita tak akan bersama. Jadi mengapa kau masih juga khawatir tentang hal itu?
Kuminta waktu sedikit lebih lama biar aku yakin. Karena kau selalu enggan bila kuajak bercakap layaknya teman.