Kapal tidak tenggelam karena air disekitarnya. Tapi karena air yang masuk di dalamnya.
─guru, dr. Zaidul Akbar
ojovivo
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

No title available
One Nice Bug Per Day
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Game of Thrones Daily
$LAYYYTER

if i look back, i am lost
Claire Keane
he wasn't even looking at me and he found me

★
Sweet Seals For You, Always

blake kathryn
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Xuebing Du

pixel skylines
TVSTRANGERTHINGS
h

tannertan36

JVL

seen from United Arab Emirates
seen from United States

seen from Spain
seen from Brazil
seen from Germany
seen from United States

seen from Mexico
seen from United States
seen from Germany

seen from Germany

seen from South Africa

seen from United States
seen from South Africa
seen from United States
seen from France
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@ceritadarigadisbiru
Kapal tidak tenggelam karena air disekitarnya. Tapi karena air yang masuk di dalamnya.
─guru, dr. Zaidul Akbar
Lagi menunggu terus liat postingan kaya gini.
Mamam
Kalah karena malu
Atau
Malu karena kalah
Itu.. Serius Anak SD? Kok Bisa.. ????
#TRUE STORY#
Sesudah jumatan aku masih duduk di teras mesjid di salah satu kompleks sekolah. Jamaah mesjid sudah sepi, bubar masing-masing dengan kesibukannya.
Seorang nenek tua menawarkan dagangannya, kue traditional. Satu plastik harganya lima ribu rupiah. Aku sebetulnya tidak berminat, tetapi karena kasihan aku beli satu plastik.
Si nenek penjual kue terlihat letih dan duduk di teras mesjid tak jauh dariku. Kulihat masih banyak dagangannya. Tak lama kulihat seorang anak lelaki dari komplek sekolah itu mendatangi si nenek. Aku perkirakan bocah itu baru murid kelas satu atau dua.
Dialognya dengan si nenek jelas terdengar dari tempat aku duduk.
“Berapa harganya Nek?” “Satu plastik kue Lima ribu, nak”, jawab si nenek.
Anak kecil itu mengeluarkan uang lima puluh ribuan dari kantongnya dan berkata :
“Saya beli 10 plastik, ini uangnya, tapi buat Nenek aja kuenya kan bisa dijual lagi.”
Si nenek jelas sekali terlihat berbinar2 matanya :
“Ya Allah terima ksh bnyk Nak. Alhamdulillah ya Allah kabulkan doa saya utk beli obat cucu yg lagi sakit.” Si nenek langsung jalan.
Refleks aku panggil anak lelaki itu.
“Siapa namamu ? Kelas berapa?” “Nama saya Radit, kelas 2, pak”, jawabnya sopan. “Uang jajan kamu sehari lima puluh ribu?‘”
” Oh .. tidak Pak, saya dikasih uang jajan sama papa sepuluh ribu sehari. Tapi saya tidak pernah jajan, karena saya juga bawa bekal makanan dari rumah.” “Jadi yang kamu kasih ke nenek tadi tabungan uang jajan kamu sejak hari senin?”, tanyaku semakin tertarik.
“Betul Pak, jadi setiap jumat saya bisa sedekah Lima puluh ribu rupiah. Dan sesudah itu saya selalu berdoa agar Allah berikan pahalanya untuk ibu saya yang sudah meninggal. Saya pernah mendengar ceramah ada seorang ibu yang Allah ampuni dan selamatkan dari api neraka karena anaknya bersedekah sepotong roti, Pak”, anak SD itu berbicara dengan fasihnya.
Aku pegang bahu anak itu :
” Sejak kapan ibumu meninggal, Radit?” “Ketika saya masih TK, pak”
Tak terasa air mataku menetes :
“Hatimu jauh lebih mulia dari aku Radit, ini aku ganti uang kamu yg Lima puluh ribu tadi ya…”, kataku sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan ke tangannya.
Tapi dengan sopan Radit menolaknya dan berkata :
“Terima kasih banyak, Pak… Tapi untuk keperluan bapak aja, saya masih anak kecil tidak punya tanggungan… Tapi bapa punya keluarga…. Saya pamit balik ke kelas Pak”.
Radit menyalami tanganku dan menciumnya.
“Allah menjagamu, nak ..”, jawabku lirih.
Aku pun beranjak pergi, tidak jauh dari situ kulihat si nenek penjual kue ada di sebuah apotik. Bergegas aku kesana, kulihat si nenek akan membayar obat yang dibelinya.
Aku bertanya kepada kasir berapa harga obatnya. Kasir menjawab : ” Empat puluh ribu rupiah..”
Aku serahkan uang yang ditolak anak tadi ke kasir : ” Ini saya yang bayar… Kembaliannya berikan kepada si nenek ini..”
“Ya Allah.. Pak…”
Belum sempat si nenek berterima kasih, aku sudah bergegas meninggalkan apotik… Aku bergegas menuju Pandeglang menyusul teman-teman yang sedang keliling dakwah disana.
Dalam hati aku berdoa semoga Allah terima sedekahku dan ampuni kedua orang tuaku serta putri tercintaku yang sudah pergi mendahuluiku kembali kepada Allah.
Sahabat ada kalanya seorang ank lebih jujur dri pada orang dewasa,ajrkan lah ank2 kita dri dini tindakan nyata yg bukan teori semata.
#TRUE STORY#
"Semua berubah ketika wabah corona menyerang"
Share dong apa aja yang berubah di hidupmu pasca kedatangan corona
Kecuali rasa sayang
*eh malah gombal
Ada saatnya kamu sadar bahwa keinginanmu untuk mencari tahu kabarnya adalah hal yang tidak perlu lagi disampaikan. Menahan diri kadang memang sesesak itu. Tetapi ada yang akan lebih menyesakan lagi daripada itu, yaitu ketika kamu tetap menahannya tinggal di dalam ingatanmu, sementara ragamu sudah tidak lagi mampu memeluknya.
—ibnufir
Menahan diri memang sesesak itu
Ada saatnya kamu sadar bahwa keinginanmu untuk mencari tahu kabarnya adalah hal yang tidak perlu lagi disampaikan. Menahan diri kadang memang sesesak itu. Tetapi ada yang akan lebih menyesakan lagi daripada itu, yaitu ketika kamu tetap menahannya tinggal di dalam ingatanmu, sementara ragamu sudah tidak lagi mampu memeluknya.
—ibnufir
“jadi, apa hal-hal yang kamu gak bisa lakukan karena alasan gak ada waktu?”
—
He banyak
Banyak bikin alesan si aku tuh
Dasar!
Halo 00:01 dan aku ingin bercerita
Dan aku masih menunggu
Bodoh
Hehehe
Ga murni menunggu ko
Jadi gini, aku baru ketemu orang yang kaya kamu
Kamu udah biasa ketemu yang kaya aku
Aku adaptasi
Kamu?
Terus kalau kamu ngilang (selalu)
Aku harus apa?
Kalau kamu pasang status sama cewe trs di hapus lagi maksudnya apa?
Aku ga ngerti :(
Kalau aku gamau chat kamu duluan TAPI kamu malah datenh gimana?
Kenapa, gimana, helpmeeeh
The end.
00:17
Kale!
Knp sih?
Kale, aku rindu
Rindu dengan chat yang ga harus mikir mau ngobrolin apa
"Jauhi Virus, dekati yang serius"
Setiap kepergian memiliki alasan. Tetapi tidak semua kepergian kamu perlu tahu alasannya. Sebab tidak mudah bagi seseorang menyampaikan alasan, saat dia tahu keadaan tidak mungkin baik-baik saja.
Kepergiaan yang tiba-tiba tentu mengejutkan dan sangat menyakitkan bagimu. Namun jika kamu lebih peka, kamu sebetulnya tahu jika seseorang sebetulnya sudah menunjukan jika perlahan dia akan meninggalkanmu.
Semuanya memang akan terasa sia-sia, tetapi tidak perlu lagi ada yang kamu sesali, tidak perlu ada yang kamu pertanyakan. Seseorang memilih mengakhiri hubunganya dengan keputusan sadarnya.
Lalu untuk apa lagi kamu harus mempertahankannya? Sementara dia bisa begitu mudahnya meninggalkanmu.
Berhentilah untuk memberatkan langkahnya, biarkan saja dia pergi dengan pilihannya. Meski dilupakan adalah hal yang berat untuk dilalui. Berdamai dengan rasa sakit juga bukanlah hal yang mudah.
Setiap orang yang hadir dalam kehidupanmu tidak selamanya akan menetap. Beberapa orang datang untuk memberi pelajaran, beberapa orang datang untuk menghadiahi kenangan.
Sadari bahwa dia memang bukan untukmu, cepat atau lambat, sekarang atau nanti. Kapanpun waktunya, jika dia memang bukan milikmu, maka pada akhirnya dia akan pergi, pada akhirnya kamu akan berpisah.
Setiap rasa sakit bisa disembuhkan, setiap luka akan pulih. Sekarang tinggal bagaimana kamu mau mengakui kehilanganmu, menerima kekecewaanmu, dan berdamai dengan kesedihanmu.
Bersabarlah, merawat memang perlu waktu.
—ibnufir
Padahal dari semua yang mengetuk, cuma kamu yang aku izinkan masuk.
Padahal dari semua yang permisi, cuma kamu yang aku izinkan mengisi.
Padahal dari semua yang basa-basi, cuma kamu yang aku izinkan berada disisi.
Padahal dari semua yang melirik, cuma kamu yang membuatku tertarik.
Padahal dari semua yang menatap, cuma kamu yang aku inginkan untuk menetap.
Padahal dari semua tanya, cuma kamu jawabannya.
Padahal dari semua senyuman, cuma kamu yang beri rasa nyaman.
Padahal dari semua angan, hanya kamu yang slalu ingin ku buat jadi kenyataan.
Padahal dari semua kontak, cuma kamu yang mau ku kontak.
“Ada ambisi-ambisi yang sepatutnya diistirahatkan -bukan diberhentikan.”
—
“Ada orang yang menulis tentang patah hati, padahal dia sendiri yang pergi. Ada orang yang menulis tentang disakiti, padahal dia sendiri yang menyakiti. Ada juga orang yang menulis tentang ditinggal pergi, padahal dia sendiri yang melangkahkan kaki.”
— Ada (via mbeeer)