It's my 4 year anniversary on Tumblr 🥳
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
NASA
Sweet Seals For You, Always

titsay
Monterey Bay Aquarium
Doug Jones
Interview Vampire Daily
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
I'd rather be in outer space 🛸

No title available
taylor price
No title available

ellievsbear
🩵 avery cochrane 🩵
hello vonnie

@theartofmadeline
Game of Thrones Daily
macklin celebrini has autism

No title available

Andulka

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Thailand
seen from Jordan

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Jamaica

seen from United States

seen from United States

seen from Brazil
seen from Côte d’Ivoire

seen from United States

seen from United States
seen from Greece
seen from United States
seen from Canada
@ceritasenja11
It's my 4 year anniversary on Tumblr 🥳
Aku sudah punya nama
Nama yang punya makna doa indah dari ibu
Umurku sudah 32 hari
Saat ini aku memang masih banyak tidur
Tapi aku mendengar semua do'a harapan yang Ibu ucapkan di dekat kupingku
Kelak aku akan menjadi teman bercerita Ibu
Yang sabar menunggu ya Ibu sampai aku dewasa nanti 🤎
28 Jun 2023
ASL
Kelana Angin
Senja berseri menanti sapaan senyum merekah Mentari. Yahh mentari satu-satunya penduduk semesta yang tak jera mengiringi senja. Meski sampai saat ini mentari sekalipun belum mampu menghapuskan lara.
Lara yang sejak lama terpancar dari paras senja, rasanya tak pantas terus menerus ia suguhkan bagi penikmat alam. Senja berusaha bangkit dari kubangan kenangan yang membelenggu, nampaknya senja tak ingin kembali mengabu. Senja meronta "Bukankah senja seringkali di tunggu? Mengapa begitu banyak yang singgah meninggalkan luka?"
Seperti halnya hujan beberapa waktu lalu, kali ini cerita tentang Angin yang tak pernah jemu merayu. Deraiannya menyaring makna indah senja. Walau nyatanya hanya sandiwara mengusap luka. Senja menyangka telah menjadi peraduan terakhir walau nyatanya ia bukanlah satu-satunya persinggahan. Ia pernah meminta angin menetap namun untuk kesekian kalinya angin mendusta. Angin berdalih atas nama kasih, menawan siapa saja yang ia jumpa. Kendati hanya sengketa yang ia hadiahkan di akhir cerita.
Sejatinya angin memang diciptakan untuk berkelana. Dan kali ini senja benar-benar mengakhiri, bukan lagi sekedar menjeda. Membiarkan semesta berjalan sebagaimana mestinya, senja mulai berdamai dengan melewatkan angin dan membiarkannya bersenda gurau dengan seisi alam. Sebab tanpa angin senja tak akan kehilangan indahnya. Justru keanggunan terpancar dari parasnya. Pada akhirnya senja lebih memilih mentari untuk melengkapi warna lembayungnya.
5 Sept 2022
Cerita Senja
#fiksi #cerpen #semestapart5
JEDA (Semesta Part 4)
Gerimis merintis, lagi-lagi senja tetap muram. Meski kini hujan terasa lebih menentramkan namun begitulah senja, rona bahagia yang entah mengapa tak pernah terlihat kala hujan datang. Meski jauh dalam benaknya hujanlah alasan ia untuk tetap menanti.
Senja termenung di tepi pantai menghadapi kilas balik memori yang begitu leluasa timbul tenggelam dalam pikirannya. Ia terbius menikmati setiap momen seolah tak ingin sedikitpun beralih darinya. Mereka (Hujan & Senja) diijinkan saling memiliki rasa walau pada kenyataannya peredaran semesta tak memberikan tempat pemberhentian bagi hujan untuk menetap bersama senja. Senja tertunduk lesu menyadari kenyataan bahwa ia harus segera beranjak menjauh.
Inilah peredaran semesta tak siapapun sanggup mangkir darinya. Pergolatan batin berusaha menolak takdir yang tak seperti keinginan. Namun lagi-lagi inilah jalan hidup, kemana pun berlari pada akhir jangkauan hanyalah kenyataan. Dan sejak saat ini senja memilih berjalan perlahan memperhatikan peristiwa demi peristiwa yang mau tak mau tetap harus ia lewati.
Ikhlas.. walau sulit senja tak lagi berharap lebih diatas keinginan. Seringkali senja kecewa sebab Empunya semesta tak mendengar inginnya. Belum sampai pada titik keikhlasan, rupanya keduanya seperti tak terima perihal takdir. Hujan lebih sering berkunjung pun senja lebih memilih memberi jeda.
Awan ( Semesta Part 3)
Bias jingga membelai cekrawala menggenapkan warna indahnya. Hadirku seperti sudah melengkapi senja, walau nyatanya awan tetap akan temaram.
Begitu banyak rasa yang enggan mendapatkan pengakuan. Bukan kita yang tak mau saling menyambut, hanya saja perihal letih berselisih dengan waktu.
Yahh, seperti itulah kenyataan. Aku terlalu yakin telah menjadi teman bercengkrama dan pelabuhan terakhir bagi senja, nyatanya tidak. Senja tetap acuh, beberapa kali ia memintaku untuk meninggalkannya, tapi aku bersikeras dengan perasaanku. Bila ditanya mengapa? Ku pastikan banyak sekali alasan. Siapa yang tidak mengenal senja. Kepribadiannya yang membuat siapapun takjub.
"Mas, senja tak pernah meminta untuk hadir ataupun menolak hengkang. Seperti itu juga perihal rasa. Walau boleh memilih, senja tak diijinkan menentukan dengan siapa akan beriringan. Seberapa banyak pertemuan hanya dengan yang tertulis di lauhul mahfuzh lah yang akan menjadi takdir." Ucapan terakhir Senja kala itu.
Benar adanya yang diucap senja, manusia memang mahir berencana tetapi Sang Pencipta yang punya hak menentukan. Aku terlalu berambisi untuk memilikinya.
Sejak saat itu aku tak pernah lagi berani mengiringi kehadirannya. Bahkan tak berani walau hanya sekedar menyapa. Mungkin takdir tak mengijinkan kita bersama tetapi melewati masa ini sudah pasti telah ditetapkan jauh sebelumnya. Aku mulai bisa merelakan dengan tetap meyakini bahwa senja yang akan selalu menjadi lukisan terindah bagiku.
Cerita senja,
25 Sept 2021
Riview Buku Kala- kita adalah sepasang luka yang saling melupa
Judul Buku : KALA - Kita adalah sepasang luka yang saling melupa
Pengarang: Stefani Bella & Syahid Muhammad
Sinopsis:
"Jika perubahan adalah satu-satunya yang pasti, maka ketidakpastian akan dimiliki oleh waktu. Karena pada detak yang ke sekian, aku mendapati diriku jatuh cinta pada seseorang yang tidak ingin secara egois aku miliki. Lalu kita, diselundupkan dalam kala, sebagai utusan semesta."
Novel ini bercerita mengenai dua orang yakni Saka sebagai pemeran laki-laki dan Lara sebagai pemeran perempuan. Yang keduanya dipertemukan dan saling berkaitan.
Di awal bab setiap paragraf novel ini akan disuguhkan prosa ringan. Di bab awal juga masih menceritakan karakter dan masalah dari kedua pemeran. Yakni Saka yang seharusnya memegang peran menjaga keagungan perempuan sebab latar belakang keluarganya yang harus menjaga ibu dan adik - adik perempuan pasca ditinggal pergi ayahnya, malah diliputi penyesalan akibat sering meninggalkan wanita yang dicintainya. Saka memiliki hobi fotografi dan sesekali jalan-jalan ke alam sebagai bentuk pelarian.
Sedangkan Lara adalah gadis yang menganggap dirinya lekat dengan sebuah kehilangan. Lara dipaksa untuk menjadi pelindung untuk dirinya sendiri juga untuk ibunya yang telah ditinggal sang Ayah pergi. Namun seringkali mengalami kehilangan. Setiap ungkapan hatinya ditumpahkan dalam tulisan, membuatnya tebiasa menulis untuk berdamai dengan keadaan.
Hingga akhirnya mereka dipertemukan dalam sebuah pameran. Dan saling terbuka terhadap masa lalu mereka. Dalam pertemuan itu mereka meyakini bahwa foto dan tulisannya seperti sebuah takdir yang cocok. Dalam waktu yang sangat singkat, dari kedekatan yang terjalin selama pameran, mereka sudah merasa cocok dan memutuskan berkomitmen untuk memulai sebuah hubungan walau ada ketakutan di masa lalu, namun mereka tepis dengan keyakinan.
Mereka menjalani hubungan dengan jarak jauh. Seperti wanita pada umumnya Lara tipe yang cerewet. Seringkali menasehati Saka dan mengingatkan segala kegiatan Saka. Seolah Lara terdengar seperti pengatur hidup Saka, walau niat Lara sebenarnya untuk kebaikan. Sedangkan Saka adalah laki-laki yang lebih menyukai kebebasan. Ia melakukan keteraturan sebab Lara yang akhirnya malah memunculkan konflik. Hubungan yang mulanya baik - baik saja malah berakhir sebab ego masing-masing.
Waktu berlalu, Saka dan Lara mulai terbiasa menjalani hidup masing - masing. Mereka mulai bisa menerima jalan hidup. Dan di akhir novel ini mereka kembali dipertemukan dan melepas kerinduan.
Riview untuk novel ini, awalnya sedikit melelahkan karna di awal bab hanya mengedepankan prosa dan diksi yang begitu banyak. Namun di bab selanjutnya penulis mulai mengajak pembaca untuk mengikuti alur cerita yang kerap kali terjadi di kehidupan sehari-hari. Bukan hanya tentang percintaan, novel ini menguraikan pembelajaran hidup, penerimaan sebab pengalaman akan kehilangan maupun sengaja menghilang yang keduanya sama-sama menimbulkan luka.
Selain itu kekurangan novel ini juga terlalu banyak menggunakan bahasa/kata asing dan sama sekali tidak ada footnote. Ditambah lagi masih ada kesalahan dalam penulisan (typo).
Walaupun begitu novel ini seperti bisa menarik keinginan pembaca untuk kembali membaca kelanjutan dari novel tersebut karna endingnya begitu menggemaskan.
Sekian riview buku KALA-Kita adalah sepasang luka yang saling melupa. Selamat membaca.. 😊
15 Juli 2021,
Ceritasenja
Senja (Semesta Part 2)
Jingga mengabu, mentari bersembunyi dibalik awan. Entah mengapa suasana seperti ini kutunggu walau gundah selalu menyertainya. Hujan mampir singgah hari ini. Ia memandangku begitu lekat sebelum akhirnya aku beranjak pergi.
Memang benar, hujan selalu meninggalkan rindu. Ia seperti nikmat bagi yang menanti kehadirannya. Hadirnya pun sering dianggap dingin dan beku, namun tidak bagiku, sejatinya hujan selalu membagikan keriangan, bagaimana tidak, ia selalu bisa mengajak bumi bercanda. Riuh riaknya mengundang ketenangan, do'a - do'a yang terpanjat oleh penduduk bumi ditengah kehadirannya pun tak jarang akan dikabulkan. Yahh, penduduk bumi adalah kawan bercengkrama baginya. Dan senja hanya masa yang diutus Empunya semesta menjadi pengamat yang tak akan bertahan lama keberadaannya. Bahkan tak diijinkan membersamai hujan.
Sore ini ia kembali pamit, ada beberapa kata yang kutunggu, berharap di sela-sela pamitnya ada isi hati yang ingin ia ungkap. Tapi tidak, lagi-lagi semesta urung mengijinkan kami saling mengungkap rasa. Tak pernah terlontar pengakuan rasa, bahkan kami hanya saling menerka perasaan masing-masing. Seperti halnya aku yang tak berani jujur walau harap bersamanya selalu merayu untuk terlontar. Kami masih saja bungkam perihal rasa walau saling memperhatikan.
Meski kecewa, aku meyakini bahwa setiap peristiwa atas ijin-Nya. Dan sampai detik ini Allah belum berkendak dan kami, aku lebih tepatnya harus tetap legowo.
Sore itu aku lebih dulu undur diri dari hadapan Hujan dengan harapan kami akan segera bertemu.
"Hati-hati Mas, semoga segala asa tertunai. Dan mungkin bukan hujan yang tak setia atau dianggap kurang peka, tapi senja terlalu singkat membersamai." Ucapan terakhir sore itu sebelum akhirnya kakiku melangkah menjauh meninggalkannya.
Ceritasenja
Hujan (Semesta Part 1)
Bilamana ada pilihan untuk menetap kupastikan tidak ada perpisahan. Seperti biasa singgah bukanlah hal sulit bagiku. Kali ini aku datang menepati janjiku untuk Senja. Senja si anggun yang berhasil menawan setiap orang yang melihatnya. Kali ini aku sengaja menghampirinya untuk berjalan-jalan sekaligus ijin pamit.
Aku akan kembali jarang berkunjung karna harus menunaikan kewajiban pekerjaan. Pergi berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan sudah biasa bagiku, tapi tidak untuk Senja, raut kecewa tetap saja kulihat walaupun sudah kesekian kalinya aku pamit seperti ini.
"Dek, hujan tak bisa selamanya mengiringi Senja, tapi selalu ada rinai, tunggulah bila masanya, Hujan dan Senja akan kembali beriringan." Kataku.
Ku lihat anggukan darinya, lagi-lagi raut sedih berbalut senyum sendu berusaha menutupi kecewanya. Sudah pasti senja kecewa, kalimat yang ia harapkan tak juga ia dengar dariku. Aku tak pernah memberikan kepastian untuk senja. Hanya kalimat ambigu yang justru terdengar menyerah dengan keadaan. Dan untuk kesekian kalinya jingga memendar sebelum rintik usai.
Ceritasenja
Boneka Kertas
Dulu aku akan bersemangat sekali menanti hujan datang. Masih ingat betapa girangnya aku tiap kali mendung mengepul dilangit. Tak sabar rasanya menunggu hujan dibalik jendela kamar, menanti tiap tetesnya menghempas ke bumi.
Satu demi satu tetes mulai berjatuhan, tangan mungil itu mengulur menadah tiap rintiknya. Damai, tenang dan sendu..
Dan ku tau hujan tak selalu mau berkunjung setiap waktunya. Entah dari mana aku mengetahui dulu, bahwa ada boneka kertas yang bisa mengundang hujan. Menonton acara kartun kah? Informasi dari mana kah? Entahlah, yang ku ingat aku akan membuat boneka putri dengan gaunnya, segera ku gantungkan di luar jendela kamar. Tak lupa aku juga akan berdo'a agar hujan segera datang. Boneka kertas yang ku buat mengayun seolah menari memanggil hujan segera datang agar sang empunya bahagia sebab do'a dan usahanya tak sia-sia.
Yang benar saja hujan antusias menyerbu datang. Itu sebabnya aku akan mengundangnya lagi dan lagi dengan boneka kertasku tiap kali menginginkannya. Tapi aku tak akan selalu beruntung. Beberapa kali aku kecewa karna hujan tidak ingin walau sekedar singgah..
Hingga suatu hari perasaan tak percaya dengan boneka kertas yang ku yakini bisa mengundang hujan berangsur muncul.
Bukan boneka kertas, bukan juga permohonanku selalu dikabulkan. Tapi semesta beredar atas kehendak Empu-Nya.
Berkeinginanlah, bermohonlah, tapi luaskan hati menerima agar kecewa tak berlarut.
Ceritasenja