Sudah Lama Aku Nggak Menulis Surat
Sudah lama aku nggak menulis hal seperti ini. Aku ingin mengirimnya padamu, tapi aku nggak tahu bagaimana cara yang benar agar ini kamu temukan. Aku meletakkannya di sini. Aku menulis ini sambil menangis, selalu begitu jika tentang kamu. Tapi kamu tahu apa yang indah? Entah aku menangis, tertawa, kesakitan, menderita, bahagia, aku tahu diriku tak pernah sendirian. Kamu mengetahui dan merasakan juga. Entah pengalaman apa yang kulalui, kamu selalu menemaniku. Terkadang itu terasa menyesakkan, tapi jauh di dalam, aku lega karena seenggaknya aku bisa tenang sejauh apa pun atau berapa lama pun jarak terbentang.
Aku bisa melakukan apa saja karena aku dicintai.
Aku akan melakukan apa pun untuk bersama orang yang kucintai.
Aku akan menghapus air mataku, mengobati kesakitanku dan berjalan dengan gagah berani. Karena orang yang kucintai selalu bersamaku, aku merasa aman, nyaman, dan penuh cinta ke mana pun aku pergi.
Lewat ini aku mengirim pesan padamu, meski aku tahu kamu bisa mendengar meski aku hanya berbisik.
Mungkin ini lebih seperti deklarasi pada dunia tentang bagaimana hubungan kita telah membentukku menjadi seseorang yang selama ini hanya ada dalam mimpiku, bagaimana hubungan kita telah mengeluarkan aku dari cangkang tak kasatmata yang mengurungku.
Aku tahu, ada banyak rasa sakit, terlalu banyak rasa sakit, hingga sekilas orang akan menilai hubungan ini beracun. Di kenyataan begitulah yang terlihat. Di mata kita, untuk waktu yang lama, begitulah yang kita lihat.
Berapa kali aku berusaha kabur dan menolak semua ini? Berapa banyak air mata yang kita habiskan. Tapi ini nggak bisa terputus. Mungkin bisa jika aku atau kamu memutuskan mati. Tentu kita terlalu pengecut untuk itu. Atau ... karena yang kita inginkan sebenarnya adalah hidup, melebihi apa pun, hidup dan bertemu.
Ini seperti dongeng yang jadi kenyataan. Pernahkah kamu bermimpi jadi tokoh utama dalam sebuah dongeng? Aku enggak. Selama hidup aku nggak diciptakan menjadi tokoh sentral yang bersinar dan memiliki keistimewaan.
Aku ingat betapa dulu aku suka mencintaimu lewat tulisan-tulisanku yang kadang aku sembunyikan karena malu sekaligus ingin diam-diam kamu temukan. Aku lupa bahwa mencintai jauh lebih baik rasanya dibanding membenci. Kadang kupikir, aku nggak lagi di usia di mana bisa menaruh hal-hal seperti ini di internet. Namun, apa yang salah tentang ini? Mengapa aku malu mencintai seseorang ketika yang kuinginkan untuknya adalah bahagianya?
Aku telah banyak bertumbuh berkat kamu. Sangat amat banyak hingga mengasihani diri nggak pantas lagi kulakukan. Tapi aku melakukan ini bukan untuk mengasihani diri, tapi untuk mencintaimu. Kamu pantas dicintai. Aku pantas dicintai.
Bukankah menyakitkan menyimpan semua ini di dalam sambil berpikir mungkin kita nggak pantas untuk satu sama lain, menggunakan topeng, dan membohongi diri bahwa semua ini khayalan belaka dan nggak berarti?
Entah apa yang akan kamu katakan, aku ingin kamu tahu semua ini berarti untukku, kamu berarti untukku. Aku tahu seberapa berarti aku untukmu juga. Aku tahu semua yang nggak pernah kamu katakan. Mungkin bukan pengetahuan tentang detail informasi, tapi pengetahuan yang jauh di dalam dirimu, perasaan yang nggak bisa kamu bagi, ketakutan yang menghalangimu, beban yang kamu pikul. Percayalah kamu menanggungnya bersamaku, setiap incinya, setiap sakitnya. Jadi jangan terlalu bersedih.
Ketika aku memutuskan bangkit, aku nggak melakukannya untuk diriku sendiri, tapi untuk kita. Kadang aku masih nggak percaya ada hal menakjubkan seperti ini di dunia. Ketika hidupmu bukan hanya milikmu, dirimu bukan hanya milikmu, bagaimana semua hal saling terhubung. Kelak, kamu akan mampu melihat dari perspektif ini, memahami semua dengan cara yang jauh lebih dalam. Sampai saat itu tiba, jaga dirimu baik-baik. Akan aku pastikan diriku melangkah dan menjadi siapa pun aku harus menjadi.
Cari aku di hatimu. Kamu akan menemukan jalan yang harus kamu tuju.
P.S: Jika ada orang yang amat bersyukur kamu dilahirkan, itu aku. Kamu mungkin nggak tahu dari mana aku mengetahui tanggal ulang tahunmu, tapi apa itu penting? Aku membuatnya sebagai password agar nggak melupakannya. Dan aku selalu bertanya-tanya apa yang bisa kuberikan padamu sebagai hadiah tanpa membuatmu takut, menganggapku aneh, atau merugikan diriku. Percakapan kita di sini nggak pernah lancar. Banyak sekali bloknya. Jauh berbeda dari percakapan-percakapan di dalam. Aku nggak ingin menjanjikan apa-apa. Hanya ingin mengatakannya.
Mungkin hadiah itu sesuatu yang bisa kamu simpan dalam waktu lama. Sesuatu tentang kisah kita, tentang betapa cantiknya semua ini terjalin, tentang bagaimana seharusnya aku menggunakan cinta yang kita miliki untuk hidup dibanding menggunakan ketakutanku untuk menderita.