Udin, tukang ronda kampung kami, jatuh demam selama seminggu. Dugaan oleh dukun beranak tetangga kami, dia terkena demam berdarah. Penyakit itu tersebar di berita. Para penduduk perumahan daerah Pondok Indah di Jakarta sana banyak terserang penyakit ini karena banyaknya air bekas pendingin ruangan yang menggenang. Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk melakukan 3M, menguras, menutup, mengubur. Penyakit ini juga sering terjangkit pada musim hujan karena pada saat itulah banyak air yang menggenang, tempat para nyamuk bikin anak.
Hal yang mengherankan adalah sudah empat bulan lamanya tidak hujan di kampung ini. Air juga hanya bersumber di sungai untuk kami mandi, mencuci baju, buang tahi, dan mengintip si Juleha mandi. Itupun air sungai sudah mulai menyusut dan mengering. Memang sih, banyak nyamuk berkeliaran dari pagi sampai malam tanpa terkecuali. Apalagi, ketika malam menjemput. MasyaAllah. Layaknya manusia, nyamuk gemar mabuk meminum losion antinyamuk.
Sudah lebih dari tujuh hari si Udin sakit demam. Ia pun dibawa oleh istrinya ke kota untuk berobat. Mau tidak mau, anak muda dan kepala keluarga bergantian meronda setiap malam. Dan malam ini, adalah giliranku untuk meronda untuk ketiga kalinya karena ada saja alasan warga setelah meronda. Ada yang pusing, muntah-muntah, berak-berak, kere karena jatah makan dua hari habis selama semalam, istri minta jatah, huh!
Yah, sebagai ketua RT yang baik, aku pun merelakan diri untuk meronda selama tiga hari berturut-turut. Istri dan anak juga tidak bawel. Malahan, mereka membawa bekal makanan dan seteko teh hangat. Tak ada ruginya berbuat kebaikan toh?
Kebetulan, malam ini adalah malam Jumat. Kampung begitu sepi dari anak-anak yang bermain petak umpet. Mau bagaimana lagi? Sejak kecil memang dikisahkan para setan
sedang berkeliaran dan akan menculik mereka bila tidak segera tidur. Nqh, itulah waktu para orang tua menikmati waktu luang tanpa rengekan anak. Colek-colek manja bini di atas kasur memang paling nikmat, apalagi malam begitu sunyi. Tidak ada tetangga sebelah yang sedang bertengkar karena sedang saling menikmati. Hhhh betapa beratnya tanggung jawab seorang RT kepada warganya sampai harus meninggalkan istri merana di kasur.
Jam sudah menunjukkan pukul 12.00. Udara semakin dingin dan nyamuk semakin merajalela. Semilir angin membuat tubuh merinding pun mengingatkanku dengan cerita si Udin.
Sejak puting beliung dua minggu lalu, si Udin bilang kalo suasana kampung menjadi agak menyeramkan. Apalagi sejak rumah kosong di ujung jalan rubuh. Dia melapor bahwa malam itu dia akan segera memeriksa rumah itu. Dan keesokan paginya, ia ditemukan pingsan sambil mengigau, “Nyamuk... nyamuk...”
Ingatan itu terusir karena serangan nyamuk yang menggila. Mereka tusuk sana, tusuk sini, tidak ada puasnya! Ibarat laki-laki fuck boy yang ngetrend di internet. Aku hanya menghalau dengan tangan mengingat, katanya nyamuk yang meminum darah adalah ibu daripada jentik-jentiknya. Betapa mulianya mereka! Sejak tau hal iti, aku tidak pernah membunuh nyamuk. Bayangkan saja, aku sedang bekerja di kelurahan lalu ditampar hingga tewas karena meminta gaji. Aku tidak mau!
Bengong-bengongku tersebut ternyata menghabiskan waktu tiga jam. Sebentar lagi, masjid akan menyalakan pengeras suara, membangunkan agar orang sholat malam.
Suara dengungan nyamuk terus berputar di telinga. Mereka berputar di kaki, di tangan, di kepala, di dada, di manapun sampai seolah tubuhku memiliki telinga di seluruh penjuru. Kepalaku pusing tujuh keliling.
Di ujung jalan tempat meronda, rumah kosong yang roboh itu, tampak seperti ada bayangan yang berdiri. Aku bersigap dan berharap itu adalah marbot masjid yang ingin menyapaku. Aku berjalan dengan sok tenang dengan kentungan dan pemukulnya, alih- alih dapat memukul orang jahat dan dibantu warga.
Jalanku pun kupercepat. Rasa penasaran terus memburu. Bayangan itu mendekat, membesar. Itu bukan si marbot! Bayangan itu berputar. Berputar bagai gasing yang tak memantulkan cahaya. Aku terus berjalan mendekat dan bersiap memukul kentungan.
Ada seseorang yang mendorongku. Semua gelap. Semua berdengung.
Aku terbangun di kamar. Istriku mengelap dahiku yang basah. Ia mengajakku berbicara. Tetapi hanya suara dengungan nyamuk yang terdengar. Anakku datang lalu memeluk. Berbicara bahasa nyamuk yang tak kumengerti.
Suara dengungan tak kunjung usai. Kepalaku pusing dan aku jatuh pingsan kembali. Nyamuk-nyamuk bangsat!