Bu.. ini aku. Ini aku, anakmu yang sudah mulai beranjak dewasa. Bu.. bolehkah aku bercerita tentang apa yang aku rasakan di hari ini? Karena jujur aku tak bisa untuk mengungkapkan-nya secara langsung. Bukan karena aku malu, atau karena aku tak enak padamu. Aku hanya tak mau merusak hari-harimu karena aku tahu, nantinya kau akan memikirkan apa yang aku ceritakan ini. Aku tahu ibu adalah ibu, seorang malaikat tanpa sayap yang membuat aku bisa bertahan hidup. Jujur, aku tak mau merusak senyum ibu, aku tak mau ibu terus mendahulukan aku dibanding kebahagiaan ibu. Sudah seharusnya aku menjadi anak yang bisa mengerti kebutuhan ibu. Ibu selalu menyembunyikan masalah dibalik senyuman itu, tapi percayalah bu, aku tahu kalau ibu juga manusia yang tak bisa selamanya kuat. Jadi tolong, kali ini mengertilah, bu. Ini aku tuliskan hanya karena aku ingin tetap menjaga senyum ibu. Apa ibu ingat sewaktu ibu membelaku dari omelan bapak? Apa ibu ingat kalau ibu pernah begitu menutupi semua kesalahanku? Bagaimana pun, aku tetaplah jagoan kecilmu yang rindu tidur di pangkuan ibu. Rasa khawatir darimu selama ini aku anggap mengganggu, tapi aku sadar bu, kalau itu adalah kasih sayang yang bisa ibu tunjukkan. Ibu bukanlah orang yang bisa mengungkapkan sayang dengan kata-kata, melainkan ibu adalah orang yang sering menunjukkan perilaku dengan cara yang tidak aku mengerti, tapi percayalah bu, aku sudah mengerti sekarang. Aku sudah paham kalau selama ini, hal yang ibu lakukan hanya ingin membuatku aman. Bu… apa ibu ingat, dulu aku pernah berbohong besar dan membuat ibu marah? Aku tahu ibu tak pernah mengajarkan aku untuk berbohong, aku tahu kalau ibu tak ingin aku menjadi orang yang picik, aku tahu ibu hanya ingin aku jadi orang yang lebih baik. Maaf bu, mungkin aku terlalu bodoh untuk sadar sekarang, kalau ternyata, semua yang ibu bilang adalah hal yang paling nyaman. Bu… apa ibu ingat, ibu pernah terus-menerus menelpon saat aku sedang bermain bersama teman-teman sampai larut malam, kemudian aku terus mengacuhkan ibu, lalu membiarkan ibu terjaga sampai aku pulang ke rumah. Apa ibu ingat semua itu, bu? Aku memang tak tahu diri bu, aku dikhawatirkan olehmu tapi aku malah menganggap apa yang kau lakukan itu hanya mengganggu. Maaf bu, lebih dari maaf aku menyesal. Aku menyesal karena tak mendengar saranmu yang hanya tak ingin aku ada dalam bahaya. Bu… apa ibu ingat, dulu ibu pernah begitu membelaku dari tatapan orang-orang yang ingin menjatuhkanku. Ibu ingat? Aku masih mengingat-nya bu, setiap inci dari ingatan itu selalu tak pernah bisa aku lupakan. Hanya ibu yang ada di sampingku, memberiku ruang untuk bergerak, dan memberi semangat layaknya motivator di televisi. Ibu membuatku bertambah hebat, lalu bilang kalau orang-orang yang ingin menjatuhkanku adalah orang yang akan membuatku semakin kuat. Saat itu adalah pertama kalinya aku melihat seorang perempuan begitu kuat. Saat itu adalah pertama kalinya aku merasa kalau aku berhutang seumur hidup pada ibu. Saat itu adalah pertama kalinya aku terluka namun merasa baik-baik saja karena kehadiran ibu. Bu, aku ingin bertanya.. Apa ibu pernah begitu mencintai orang lain selain ayah? Apa ibu pernah merasakan betapa indahnya dicintai? Apa ibu pernah mementingkan kebahagiaan orang yang ibu cinta ketimbang kebahagiaan ibu sendiri? Apa ibu pernah ingin melindungi seseorang dan tak ingin membuatnya menangis? Bu.. sewaktu itu ibu bilang, cepat atau lambat kita akan dewasa dan tak bisa mengubah apa yang ada di masa lalu, kita hanya harus bisa menerima dan bersyukur atas semua yang telah terjadi. Tapi mengapa aku sekarang belum bisa melakukan yang ibu bilang itu? Aku sudah dewasa bu, aku pun sudah bersyukur atas apa yang telah terjadi, tapi mengapa aku belum bisa menerima semua ini bu? Apa yang gagal aku pahami? Bagian mana yang telah aku lewatkan, bu? Ah.. bu, seperti yang kau ajarkan padaku, aku harus terus bertanya tentang apa yang tidak aku mengerti. Dalam hal ini, aku bertanya tentang segala omong kosong yang ingin aku ungkapkan, segala yang menurutku cukup penting ini. Tapi mungkin aku terlalu banyak bertanya bu, dan aku tahu itu tak baik. Jika mungkin ibu melihat tulisan ini, pasti ibu akan bilang kalau diri sendirilah yang tahu jawaban-nya. Baiklah bu, mungkin aku terlalu malas untuk mencari kembali. Mulai sekarang aku janji bu, kalau aku akan kembali ke masa lalu bukan untuk menyesalinya, melainkan harus mencari letak kesalahan lalu memperbaikinya. Terima kasih untuk segalanya, bu. Doakan aku bu, agar aku bisa menjadi perempuan kuat seperti halnya dirimu. Doakan yang terbaik untukku bu, seperti yang selalu kau lakukan setiap mengucap namaku dalam doa-doamu yang terdengar begitu merdu. Tak ada salam cinta yang bisa kukatakan, karena ibu pun sudah tahu kalau aku begitu mencintai ibu. Dari aku, anakmu yang nakal.









