Ada waktu dimana kita benar-benar butuh untuk “terhubung” dengan diri sendiri. Bukan untuk hilang dan tenggelam sementara dari urusan eksternal, melainkan untuk berhenti sejenak dan melihat kembali semuanya dengan pikiran yang tenang.
Kemampuan refleksi dalam keseharian sepertinya sudah diajarkan khususnya bagi seorang Muslim. Isi nasehatnya kurang lebih, “hisablah dirimu sebelum engkau (nanti dihisab”. Sebab dunia sekarang sudah terlalu banyak distraksi. Bahkan berjalan terlalu cepat dengan banyak hal yang menuntut perhatian kita.
Kita jadi jarang duduk sebentar, jarang melamun, jarang dibiarkan bosan, dan jarang menggunakan waktu luang kita untuk merenungkan segalanya. Pikiran kita terlalu cepat beralih dari satu urusan ke urusan yang lain. Kita sulit melakukan proses “istirahat”. Padahal istirahat itu penting! Sama pentingnya dengan bergerak dan beraksi.
Sebagian orang mendefinisikan produktivitas dengan banyaknya output yang dihasilkan, padahal segala bentuk dan jenis kegiatan yang punya “dampak baik” juga itulah produktif. Jangan sampai hanya menilai dari ‘seberapa banyak’, tapi seberapa berdampak itu bagi hidup kita. Termasuk beristirahat tadi.
Dengan mengambil waktu untuk istirahat kita bisa kembali mengisi ulang energi. Kita juga bisa kembali memetakan tujuan dan menentukan arah. Kita memiliki waktu untuk memikirkan ulang rencana kita, menilai efektivitas strategi kita dalam menjalani peran, bahkan yang sering luput adalah; mengenali ragam emosi dan perasaan yang sedang hadir di dalam hati kita.
Tidak hanya pikiran yang perlu dijelajahi, tetapi perasaan pun butuh dikenali. Agar kompas batin kita senantiasa dikalibrasi untuk tetap berada dijalan keridhaan Allah. Apapun aktivitas kita, apapun mimpi-mimpi kita, apapun segala keinginan kita, segala doa-doa kita, dengan peran dan episode hidup yang kita jalani saat ini. Semoga, kebaikan, ketaatan dan keberkahanlah yang jadi muara ketenangannya.
Tangerang, 25 Mei 2026 | 21.16 WIB














