Harus percaya kalau yang terbaik didapat bukan dengan cara yang cuma-cuma. Ada do'a, usaha, dan pengorbanan yang membuatnya tidak se-instan itu. Lalu, diberikanlah oleh-Nya yang terbaik itu untuk kemudian harus kita syukuri.
ddheafb
Misplaced Lens Cap
h
we're not kids anymore.
taylor price
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Not today Justin
Lint Roller? I Barely Know Her
will byers stan first human second
dirt enthusiast

Love Begins

@theartofmadeline
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

Origami Around

pixel skylines
Claire Keane

No title available
RMH
TVSTRANGERTHINGS

★
$LAYYYTER
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Sweden
seen from Spain

seen from United States

seen from Germany

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
@ddheafb
Harus percaya kalau yang terbaik didapat bukan dengan cara yang cuma-cuma. Ada do'a, usaha, dan pengorbanan yang membuatnya tidak se-instan itu. Lalu, diberikanlah oleh-Nya yang terbaik itu untuk kemudian harus kita syukuri.
ddheafb
Takut
Satu kata yang sedang sering hadir dipikiranku saat ini adalah takut. Takut untuk memulai, takut untuk menjalankan, takut untuk menyelesaikan.
Sebuah amanah besar sedang berada di pundakku kini. Mungkin amanah itu yang sekarang menyebabkan kata 'takut' selalu mengikutiku entah kemana pun itu aku pergi.
Aku diberi amanah besar, tapi takut untuk memulainya. Sehingga beberapa pertanyaan untuk diriku sendiri kemudian muncul: apa yang harus aku lakukan terlebih dahulu?; Bagaimana cara memulainya? Begitu pula dengan ketakutan-ketakutan ku untuk menjalankan dan menyelesaikannya: Bagaimana?; Darimana memulainya?; Seperti apa menjalankannya?; Bagaimana menyelesaikannya?
Tapi, ketakutanku tidak berdasarkan alasan yang jelas. Hingga terkadang, ada pula saat-saat dimana ketakutkan itu berubah menjadi sebuah pertanyaan, bukan lagi satu kata, yaitu: Mengapa aku takut?
Sudah terhitung hampir dua bulan aku mengemban amanah ini. Selama rentang hampir dua bulan itu pula pikiranku dipenuhi dengan ketakutan yang tidak beralasan. Otakku hanya sibuk memikirkan ketakutan-ketakutan yang sebenarnya tak perlu menjadi kekhawatiranku karena aku belum menjalankannya, belum merasakannya. Seperti, aku takut gagal. Aku takut tidak bisa menjadi sebaik yang dipercayai oleh orang-orang. Aku takut tidak bisa menjalankan amanah ini dengan baik. Aku takut kedepannya malah akan merepotkan atau merugikan orang lain.
Tapi, semakin hari berlalu, semakin aku bertemu orang-orang hebat dan berdiskusi dengan mereka, semakin berkurang pula rasa takut itu. Pikiranku semakin terbuka dan hatiku semakin tenang. Perlahan-lahan aku mencoba menghilangkan ketakutan itu dan berpikir "Baik, kita mulai dulu. Hasilnya bagaimana ya lihat nanti. Setidaknya aku harus melakukan usaha yang terbaik agar hasilnya pun menjadi yang terbaik"
Jadi, daripada memikirkan ketakutan yang tidak beralasan itu, ada baiknya otakku dipakai untuk memikirkan bagaimana caranya agar berhasil menyelesaikan amanah ini, kemudian lakukanlah. Setidaknya, dengan telah mencoba berarti merasakan sendiri manis-pahitnya proses, sehingga kedepannya akan ada banyak sekali pelajaran yang bisa dijadikan dasar untuk terus melakukan lagi.
Dan yang ada dipikiranku sekarang adalah lebih baik berproses dan berguna daripada tidak melakukan apa-apa sama sekali.
Pesan Rindu
Angin, antarkan aku ke langit ketujuh
Biarkan aku terbang melayang jauh
Aku butuh engkau untuk sampai keatas
Melewati awan dan pesawat melintas
Tapi mungkin, angin saja tidak cukup
Perlu lebih dari dirimu tuk sampaikan pesanku
Mungkin waktu untuk ku hentikan
Atau cahaya agar cepat sampai
Angin, ku sampaikan rinduku
Pesan dengan rasa sendu
Walau kau tak secepat cahaya, tak apa
Walau tak bisa ku hentikan untuk singgah, tak apa
Angin, ini rindu tiap hariku
Pastikan sampai padanya walau jauh
Ia jauh, sangat jauh
Karena rindu ini untuk dia yang telah tiada
Berusaha mengabadikan keindahan seratus tahun sekali. 🌕🌖 Aku suka bulan. Bukan dilan. Karena aku sukanya kamu (yang bilang kalau yang berat itu nahan nafsu, bukan rindu). #tanpaefek #cumapakehp #xiaomiredminote4 (di Masjid agung AL-A'ARAF rangkas bitung)
Kisah Kemarin
Izinkan aku kembali bercerita. Ini tentang kisahnya, yang mungkin juga kisah seseorang yang sedang bercerita. Tentang perasaannya, yang mungkin juga perasaan seseorang yang sedang bercerita.
Kemarin, saat tetesan hujan itu membasahi tangan-tangan kita yang sedang meminta, seorang sahabatku bercerita tentang masa lalunya. Tentang betapa sulitnya ia berhadapan dengan orang itu dimasa kini. Padahal dulu, tawa adalah kudapan manis mereka setelah masa lalu yang hambar. Aku mencerna setiap kalimat yang ia ucapkan, mencoba mengerti perasaannya karena aku tak punya akal untuk menghiburnya. Setidaknya, aku cukup jadi pendengar yang baik untuknya.
Dulu, saat masih bisa mulut orang itu menyapa sahabatku, saat itu pula mulut sahabatku mengeluarkan cerita bahagia bersamaan dengan senyum manisnya. Aku tentu ikut bahagia. Tapi itu dulu, sebelum orang itu pergi meninggalkan bahagia. Itu dulu, sebelum masa kini kembali terasa hambar untuk sahabatku. Itu dulu, sebelum cerita bahagianya tak lagi ku dengar.
Orang itu, satu-satunya yang mampu membuka kembali buku cerita cinta dan mengisinya dengan bahagia, tiba-tiba meninggalkan buku itu tanpa ia beri titik di kalimat terakhirnya. Mungkin kah ada jawaban bila sahabatku memberinya tanda tanya? Tapi, bukan kalimat tanya yang terakhir dituliskan orang itu. Melainkan kalimat bahagia.
Lalu, haruskah menunggu orang itu kembali untuk melanjutkan ceritanya? Sehari, dua hari, sebulan, dua bulan, berbulan-bulan sudah buku itu dibiarkan begitu saja. Hingga keduanya menjadi asing ketika bertemu kembali. Hingga keduanya menjadi seolah tidak ada yang pernah terjadi, seolah tak pernah ada tawa, seolah tak pernah ada tinta yang mengisi buku cerita cinta itu.
Rasa sahabatku seperti ada yang menahannya. Membuatnya tak bisa membuka kembali buku cerita itu meski ada orang lain yang inign mencobanya. Sahabatku telah memilih untuk diam, menanti takdir memberikan yang terbaik di waktu yang terbaik. Kalaupun orang itu adalah yang terbaik, ia pasti akan kembali melanjutkan ceritanya dalam buku cerita yang sama, bukan? Walau ada waktu dan perasaan yang di korbankan
Dia yang disebelahku itu namanya Dian. Tahun ini dia genap berusia 20 tahun. Dia itu temen yang jadi musuh (eh, kita pernah diem2an pas sd, berapa hari gitu ya lupa wkwk gegara apa juga aku lupa) musuh yang jadi sahabat, dan sahabat yang jadi seperti keluarga. Menceritakan ttg dia mah gaakan ada abisnya deh. Pokoknya, sehat terus ya kamu.
Tentang Apa
Tuan berdiri dengan senyumnya
Memberiku ingat pada senyum yang telah tiada
Menatap diri dengan bahagianya
Memberiku sadar bahwa aku juga butuh itu
Nyatanya tuan berdiri dalam mimpiku
Senyum tuan hanya terbingkai manis diatas dinding
Menatap diriku penuh rasa bahagia
Sementara balasku hanya air mata
Bila sampai waktuku nanti
Tentang kita akan menjadi cerita
Tentang apa yang menghadirkan air mata
Tentang kamu yang lebih dulu tiada
kenangan itu tidak akan hilang. walaupun kau merasa telah melupakannya, sesungguhnya kau tidak benar2 lupa. ia hanya telah tersimpan sangat dalam di memorimu.
Aku Hampir Tak Ingat, Kau Telah Tiada
Sudah banyak hari terlewati Tak sadarkah kau, bahwa ku menanti? Dulu, bukan hanya tatapanmu mampu getarkan hati Bahkan bayangmu tak lepas terasa mengikuti Bukankah aku ini serakah? Tiap hari yang ku ingin hanya kau sekedar singgah Menghampiriku dengan wajah sumringah Walau nyatanya yang ada hanyalah aku yang lelah Bukan... bukan kamu yang tak ingin datang Bukan pula ingatanmu tentangku yang telah hilang Hanya saja, waktu telah menjemputmu pulang Meninggalkan rindu dan perasaan untuk dikenang Puluhan, ratusan, bahkan ribuan jarak membentengi Tak ada lagi senyum sumringah yang senang ku pandangi Hanya dalam mimpi yang nyata, kau mendatangi Dan dengan do'a sederhana, ku coba melindungi
Bertanya.
Ditengah rintik hujan yang membasahi atap rumah tempat kita betatap, bercerita, tertawa. Ruang yang menjadi saksi bahwa pernah ada ksatria yang memberikan perhatiannya pada seorang putri sendirian dalam penantian untuk seorang pangeran yang tak kunjung datang. Kini, aku merindukan ksatria itu, lagi.
|sementara ditempat lain|
Apa yang akan terjadi setelah ini?
Setelah kubiarkan air menghanyutkan kapal.
Setelah kubiarkan jangkar tetap tertanam tanpa ada yang dia topang.
Setelah kubiarkan harap untuk berhenti.
Setelah kubiarkan lelah mengalahkan pinta.
Setelah kubiarkan semuanya terpisah.
Kini, dimana rasaku? Telah mati, kah bersama beku?
|dan ditempatku berada|
Satu - satunya yang ku tahu adalah : keadaan di tempat yang tak menentu ini rumit.
yang paling sulit dari berlayar adalah melawan arus. ketika kau tahu arus itu membawamu pada sebuah jurang, hanya ada dua pilihan untuk dilakukan: membiarkan arus membawamu atau mengayuh dayung sekuat tenaga untuk berbalik melawan arus
Thought via Path
Kelak mereka harus tau kalau aku jatuh cinta pada puisinya yang bukan untukku.. -aL – Read on Path.
"Bagaimana bisa kau tersenyum seperti itu, sementara aku sakit tiap hari. Apakah tak ada rasa sadarmu walau hanya setitik debu? Atau rasamu yang tertutup kumpulan debu?" Wanita itu menggerutu sendiri melihat pria itu bahagia. Bagaimana bisa wanita itu bahagia juga bila bahagianya pria itu adalah sakit yang tersembunyi? Dear tuan K, sampaikan padanya bahwa aku adalah wanita yang selalu tersenyum untuknya, walau itu pahit. Sampaikan juga padanya untuk bahagia tanpa kesakitan. Apa itu sulit, melepaskan yang indah demi yang terbaik?
Thought via Path
Saat senyum-palsu-itu menunjukkan artinya; tidak ada senyum, artinya hanya sakit dan senyum yang berpura-pura.. Selebihnya, berpura-pura itu tak kalah sakitnya.. – Read on Path.
Tuan K #3
Munafik? Apa itu berlaku pada mulut yang berkata tak cinta pada hati yang merasa beda? Apa itu aku? Munafik. Aku tak rindu. Bibirku berkata begitu. Aku hanya berfikir, apa hari ini bisa kudapat temu? Karena aku masih mengingatnya, beberapa hari terakhir, aku dan kamu tak bertemu. Tak ada sapa, tak ada tanya, tak ada pertemuan. Kita jauh, padahal jarak hanya sebatas pintu. Bagaimana bisa aku merindu? Itu hanya imajinasiku saja, berharap ada seseorang yang aku rindukan. Tapi, kenapa kamu yang ada dalam imajinasiku? Sementara mati-matian aku mengakui tak ada seorang pun yang aku rindukan. Apa aku munafik? Hatiku memilih kamu, tapi otakku menolak kamu. Tunggu, kenapa aku menolakmu? Saat jelas-jelas kau adalah yang terbaik setidaknya sampai saat ini. Apa karna ada sikapmu yang membuatku takut? Dear tuan K, kenapa pengakuan cinta serumit ini..
Mencinta
Bagi saya, mencinta itu masalah usaha. Seberapa besar usaha anda untuk mencinta.
Butuh usaha untuk mencinta. Maka tak jarang, ada yang tak bisa mencinta, walau awalnya sudah tersebut kata suka.
Suka tak berarti cinta. Untuk mencinta, anda perlu usaha. Untuk saya, hal tersebut sulit tak terkira.
Kala dahulu pernah merasa, namun berakhir kecewa. Maka saat telah berusaha, tak ada cinta yang dirasa.
Maka maafkan, jika cinta tak pernah ada. Mungkin usaha terdahulu, telah berujung pada rasa yang telah terpaku.
Karena mencinta tak semudah itu. Menyapa, lalu bertemu. Setelahnya? Tetap harus butuh waktu.
Namun sepertinya saya tak punya lagi waktu. Setelah semua yang berlalu. Cinta ini masih kelabu.
Kisah Kemarin
Izinkan aku kembali bercerita. Ini tentang kisahnya, yang mungkin juga kisah seseorang yang sedang bercerita. Tentang perasaannya, yang mungkin juga perasaan seseorang yang sedang bercerita.
Kemarin, saat tetesan hujan itu membasahi tangan-tangan kita yang sedang meminta, seorang sahabatku bercerita tentang masa lalunya. Tentang betapa sulitnya ia berhadapan dengan orang itu dimasa kini. Padahal dulu, tawa adalah kudapan manis mereka setelah masa lalu yang hambar. Aku mencerna setiap kalimat yang ia ucapkan, mencoba mengerti perasaannya karena aku tak punya akal untuk menghiburnya. Setidaknya, aku cukup jadi pendengar yang baik untuknya.
Dulu, saat masih bisa mulut orang itu menyapa sahabatku, saat itu pula mulut sahabatku mengeluarkan cerita bahagia bersamaan dengan senyum manisnya. Aku tentu ikut bahagia. Tapi itu dulu, sebelum orang itu pergi meninggalkan bahagia. Itu dulu, sebelum masa kini kembali terasa hambar untuk sahabatku. Itu dulu, sebelum cerita bahagianya tak lagi ku dengar.
Orang itu, satu-satunya yang mampu membuka kembali buku cerita cinta dan mengisinya dengan bahagia, tiba-tiba meninggalkan buku itu tanpa ia beri titik di kalimat terakhirnya. Mungkin kah ada jawaban bila sahabatku memberinya tanda tanya? Tapi, bukan kalimat tanya yang terakhir dituliskan orang itu. Melainkan kalimat bahagia.
Lalu, haruskah menunggu orang itu kembali untuk melanjutkan ceritanya? Sehari, dua hari, sebulan, dua bulan, berbulan-bulan sudah buku itu dibiarkan begitu saja. Hingga keduanya menjadi asing ketika bertemu kembali. Hingga keduanya menjadi seolah tidak ada yang pernah terjadi, seolah tak pernah ada tawa, seolah tak pernah ada tinta yang mengisi buku cerita cinta itu.
Rasa sahabatku seperti ada yang menahannya. Membuatnya tak bisa membuka kembali buku cerita itu meski ada orang lain yang inign mencobanya. Sahabatku telah memilih untuk diam, menanti takdir memberikan yang terbaik di waktu yang terbaik. Kalaupun orang itu adalah yang terbaik, ia pasti akan kembali melanjutkan ceritanya dalam buku cerita yang sama, bukan? Walau ada waktu dan perasaan yang di korbankan.