Salah
Tidak akan membuka topik soal judul lagu salah satu musisi Indonesia. Hanya sedang bertanya pada diri sendiri apa yang salah dari semua ini.
Paham, atau mungkin aku salah paham. Bahwa egoisme satu sama lain akar dari ini semua. Keduanya merasa kesepian, namun keduanya tidak mau menerima perasaan itu. Malahan salah satu dari mereka menolak perasaan itu yang malah berakhir dengan sesuatu yang dianggap "obat" dari semuanya. Tidak masalah jika keduanya "sembuh", layaknya simbiosis parasitisme salah satunya merasa dirugikan. Entah iya, atau hanya "mataku" saja yg agak "kabur".
Satu pihak "meminum obat", lainnya diam tak berdaya. Bukan, ini bukan soal keinginan dan kemauan tetapi memang tiada yg bisa dilakukan kecuali diam.
Juga bukan dokter sehingga tidak bisa mengobati "penyakit" semacam ini. Sungguh, kalaupun keduanya harus meminum "obat" yang sama -"obat" yang kubuat sendiri- keduanya sama-sama tidak suka rasa "pahit". Keduanya tidak suka menunggu apalagi menunggu kesembuhan tiba pelan-pelan.
Diakui oleh diri sendiri, aku juga salahsatu orang sakit itu. Sama-sama merasakan rasa sakit yg dirasakan keduanya. Tetapi sama seperti pasien yang meminum "obat" kesembuhan didepan mata yang begitu cepat begitu menggoda. Tentu saja, orang sakit tidak mungkin mengobati orang sakit.
Sekian, lanjut lagi nanti, terlalu larut ketika masa observasi tidak baik, kecuali bayangan dari hasil observasi ini sudah mulai nampak. Tidak. "Obat" yang kubuat harus ikut aku minum. Agar tahu, gimana khasiat dari "obat" racikan orang sakit.
—Diatas kasur biru, pukul 10 lebih 21 menit, Jumat ketiga bulan Oktober 2019. Suasana sangat tidak menyenangkan, dicampur rasa takut luar biasa—








