Ketika Seorang Suami Dicintai..
Jadilah seorang suami yang ketika ia bertanya kepada istrinya, "Apa yang membuatmu mencintaiku?" dan sang Istri menjawab:
"Engkau tak pernah memandangku kecuali dalam keadaan tersenyum dengan tatapan mata yang meneduhkan, mengingatkanku tentang kisah dari shahabat Jarir bin Abdullah bin Al-Bajari tentang akhlak Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam yang senantiasa tersenyum. Pandanganmu begitu engkau jaga, hingga tak pernah ku melihat atau kudengar dari orang lain, engkau meliarkan pandanganmu kepada wanita selain mahrammu.
Aku menyukai caramu ketika melihatku melakukan kesalahan, menegur dan mengingatkanku dengan tutur kata yang baik. Sebab cinta itu adalah ketika engkau sangat khawatir murka Allah tertuju kepada orang yang engkau cintai. Dan engkaupun memintaku melakukan hal yang sama, jika aku melihat kesalahan ada padamu. Sehingga kita bertumbuh bersama dalam suasana 'wata'aawannu 'alal birri wattaqwa'.
Aku menyukai caramu menjaga kebersihan diri, juga ketika kumendengar alasanmu berpakaian yang tak melebihi mata kaki, sebagai ikhtiar menunaikan sunnah katamu. Engkau yang senantiasa menjaga wudhu dan tak pernah kudapati bau yang tak sedap ada padamu, senantiasa wangi.. sehingga menyejukkan penciuman dan mataku.
Aku menyukai caramu ketika akan beranjak tidur, mengenggam tanganku dengan lembut dan menuntunku, hingga rasa malas untuk mengambil air wudhu itu hilang. Kemudian bertanya kepadaku, "Apa ada yang membuatmu marah hari ini? Jika iya, bersihkan kemarahan itu dari dadamu sebelum kita tidur. Jika masih ada.. mohon pertolongan Allah Ta'ala agar kita mampu memaafkan, bukankah kita pun suka jika Allah mengampuni kita?"
Aku menyukai caramu membangunkanku di sepertiga malam, dengan cara melantunkan ayat-ayatNya ditelingaku dengan begitu lembut, hingga selesai pada penggalan ayatNya dan berbisik, "Ayo shalat malam, istriku.." dan aku menyukai rutinitasmu membaca Al-Qur'an dan mentadabburi Al-Qur'an menunggu adzan subuh bersamaku setelah selesai shalat di sepertiga malam.
Aku menyukai caramu ketika berpesan saat pamit untuk pergi shalat subuh berjamaah, "Jangan dulu membersihkan rumah ataupun memasak sebelum aku pulang dari masjid.. kita lakukan bersama-sama, istriku cukup bantu untuk melakukan yang ringan-ringan saja."
Aku menyukai caramu ketika menunjukkan kecemburuanmu. Kecemburuan yang timbul dari keimanan, memintaku untuk tidak memposting fotoku di sosial media, menjagaku dari mata yang tak halal untuk melihatku, juga untuk menjaga orang yang engkau sayangi dari bahayanya penyakit 'ain tersebab pandangan mata.
Akupun menyukai caramu menunjukkan kecemburuanmu saat aku berjalan bersamamu, ketika engkau melihat ada lelaki yang memandangku.. engkaupun melindungiku dengan tubuh tegapmu, hingga lelaki itupun tidak lagi bisa memandangku, kemudian mengenggam tanganku seakan engkau sedang menunjukkan bahwa aku adalah "milikmu".
Aku menyukai caramu yang tak pernah lupa mencium keningku dan mendoakan agar Allah Ta'ala senantiasa menjagaku ketika engkau akan pamit untuk mencari nafkah.
Aku menyukai caramu ketika pulang kerumah, mengucapkan "bismillah" dan salam, kemudian berkata dan memelukku "Hi wifey, how was your day? I missed you..."
Aku menyukai caramu ketika memakan masakanku, dengan cara menghabiskannya dan tak pernah sedikitpun mencela masakanku, meski pernah keasinan. Yang engkau lakukan adalah tersenyum dan menunjukkan wajah yang lucu.. sampai akupun tertawa dan menyadari kesalahanku. Aku menyukai caramu yang selalu berterima kasih setelahnya, namun sungguh, bagiku itu tidaklah sesederhana yang terlihat.
Karena itu, aku mencintaimu karena engkau mencintai ku karena Allah, aku mencintaimu karena kebaikan agama dan akhlak yang ada pada dirimu. Jazakallaahu khairan, karena telah bersedia membersamai dan membimbingku untuk bersama-sama menggapai ridha-Nya."