Culture profoundly shapes our ideas about mental illness, which is something psychologist Nev Jones knows all too well.
Culture profoundly shapes our ideas about mental illness, which is something psychologist Nev Jones knows all too well.
todays bird
Sade Olutola
RMH

Love Begins
Peter Solarz

祝日 / Permanent Vacation
No title available
d e v o n
NASA

roma★
cherry valley forever
we're not kids anymore.

titsay
hello vonnie
Claire Keane

shark vs the universe
Alisa U Zemlji Chuda
Mike Driver
sheepfilms

❣ Chile in a Photography ❣
seen from Canada

seen from United States
seen from Germany

seen from United States
seen from Poland
seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from Spain
seen from United States

seen from Poland

seen from Germany

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Poland
seen from Malaysia

seen from Bangladesh
seen from Germany
seen from United States
@dheasekararum
Culture profoundly shapes our ideas about mental illness, which is something psychologist Nev Jones knows all too well.
Culture profoundly shapes our ideas about mental illness, which is something psychologist Nev Jones knows all too well.
Things I learned while changing path from psychology to technology product development. And how I'm trying to combine what I got from the two worlds.
T-Rex Trying to Use a Web cam…
#TRexTrying
The Recycling of Souls – moving short film about a Polish recycling plant that employs people with learning disabilities and mental health issues.
Di Balik Sanguinis, Melankolis, Koleris, dan Phlegmatis
Sebetulnya tulisan mengenai tipe ‘kepribadian’ sanguinis, phlegmatis, koleris dan melankolis ini merupakan kumpulan twit saya pada tanggal 29 Juli 2012. Berawal dari kebingungan saya setiap kali ditanya mengenai empat tipe kepribadian tersebut oleh teman-teman yang memiliki latar belakang pendidikan non-psikologi. Selama 6 tahun kuliah, saya sebetulnya tidak pernah ‘ngeh’ dari mana asalnya tipe2 ‘kepribadian’ sanguinis, phlegmatis, koleris dan melankolis.
Di buku manapun yang saya pelajari pun sepertinya tidak membahas mengenai teori ini. Sebetulnya secara samar-samar saya ingat sempat disinggungnya mengenai teori ini saat mempelajari mata kuliah Sejarah Aliran Psikologi di semester pertama, namun demikian saya tidak ingat ada uraian yang cukup lengkap mengenai teori ini (atau jangan-jangan saya-lah yang tidak dapat memahami bahasa buku tersebut yang memang agak ‘njelimet’ dibandingkan bahasa buku teks lain selama saya berkuliah. Buku tersebut memang cuma bisa tertandingi oleh buku teks mata kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan dalam hal keruwetan bahasa).
Setelah saya membaca The Psychology Book, akhirnya saya tahu bahwa istilah 4 tipe kepribadian sanguin, phlegmatis, koleris, dan melankolis ternyata datang dari Claudius Galen, seorang filsuf sekaligus dokter yang hidup pada tahun 129-200 Masehi. Ide Galen untuk menjelaskan mengenai kepribadian manusia berangkat dari teori Yunani kuno tentang mekanisme tubuh berdasarkan distribusi cairan tubuh (humourism) yang dikemukakan seorang filsuf yang juga cukup familiar namanya di buku teks mahasiswa psikologi, yaitu Empedocles. Apabila kita tarik mundur sedikit, kita akan tahu bahwa Empedocles pernah mengemukakan bahwa distribusi cairan tubuh kita merupakan representasi dari proporsi 4 elemen dasar (earth, air, fire, dan water) dalam tubuh. Memang terdengar agak absurd, namun orang-orang pada masa tersebut menerima teori yang berpendapat bahwa tubuh kita mengandung elemen-elemen dasar tersebut.
Namanya juga filsuf, apabila kita bayangkan di jaman tersebut kan kita tidak punya pedoman dalam menjelaskan fenomena alam. Ini justru cikal bakal munculnya pola berpikir ilmiah, dimana seseorang dapat berpendapat didasarkan argumentasi-argumentasi tertentu dan orang lain dapat membuktikan atau justru mengembangkan hipotesis orang tersebut lewat pencarian fakta. Hippocrates, yang juga lebih dikenal sebagai “Father of Medicine” melakukan hal ini, ia bahkan mengembangkan model medis dan anatomi dari teori Empedocles tersebut.
Berangkat dari teori tersebut, 200 tahun kemudian Galen mengemukakan bahwa ada hubungan langsung antara proporsi banyaknya cairan tubuh tertentu dengan aspek-aspek kepribadian manusia. Aspek kepribadian yang dimaksud misalnya seperti kecenderungan emosi dan tingkah laku kita dalam berbagai konteks peristiwa, atau ia sebut juga sebagai “temperamen”. Menurut Galen, kalau salah satu cairan tubuh (humour) porsinya lebih banyak dalam tubuh, maka salah satu tipe kepribadian juga akan tampil dominan pada orang tersebut.
Galen mengemukakan, orang Sanguinis adalah mereka yang punya kadar darah lebih banyak dalam tubuh[1] Orang dengan tipe kepribadian Sanguinis cenderung hangat (warm-hearted), ceria, optimis, PD, namun juga egois. Sedangkan orang Phlegmatis adalah mereka yang punya lebih banyak kadar lendir dalam tubuh[2]. Orang dengan tipe kepribadian ini cenderung tenang, cool, rasional, dan konsisten namun juga lamban dan pemalu. Orang Koleris adalah mereka yang punya kadar cairan empedu lebih banyak dalam tubuh[3]. Karakteristik orang Koleris menurut Galen adalah bersemangat, antusias, enerjik, dan passionate. Terakhir, orang Melankolis adalah mereka yang punya kadar black bile lebih banyak dalam tubuh[4]. Orang dengan tipe kepribadian melankolis cenderung lebih mudah sedih dan depresi (mood-nya lebih gloomy), artistik dan puitis.
Dengan adanya pandangan dasar bahwa keseimbangan cairan tubuh mempengaruhi kepribadian manusia, maka Galen percaya permasalahan kepribadian/temperamental manusia bisa diatasi dengan pendekatan fisik, seperti diet dan latihan fisik yang tepat.Galen bahkan beberapa kali menangani orang yang datang dengan keluhan sebagai orang yang ‘terlalu egois’ dengan cara mengeluarkan sejumlah darah orang tersebutkarena menurut Galen, ‘egois’ adalah salah satu karakteristik tipe temperamen Sanguinis yang disebabkan oleh terlalu banyaknya kadar darah dalam tubuh.
Cara Galen waktu itu adalah dengan memotong daging orang tersebut atau mengambil darahnya lewat pembuluh darah (sama seperti sekarang saat kita ambil darah untuk cek laboratorium).Pandangan ini bertahan di dunia kedokteran sampai masa Reinassance, hingga ditemukan ada lebih dari 200 kesalahan Galen dalam menyusun sistem anatomi. Meskipun agak absurd dan error, pandangan Galen ini menjadi awal berkembangnya teori kepribadian dalam psikologi modern.
Misalnya, tahun 1947, Hans Eysenck menyimpulkan bahwa aspek temperamen dalam kepribadian seseorang memang memiliki dasar biologis. Dari situ Eysenck kemudian mengembangkan trait kepribadianneuroticism dan extraversion. Walau pendekatan Galen dianggap pseudo-science, ilmu psikologi modern sepakat dengannya soal adanya hubungan antara masalah mental dengan fisik. Hingga kini, sebagian besar ilmuwan psikologi modern juga berpendapat bahwa gangguan psikologis atau kecenderungan kepribadian orang memiliki landasan biologis.
Dengan demikian, saya harap pembaca juga mengerti mengapa saya seringkali jadi agak bingung juga jika ditanya atau diminta untuk memberikan diagnosis mengenai ‘aku ini tipe sanguinis, melankolis, koleris, atau phlegmatis?.’
Alasan saya:
Pertama, saya tidak mungkin membedah sang penanya terlebih dahulu untuk tahu mana cairan tubuh yang lebih dominan dalam tubuh sang penanya.
Kedua, dasar pandangannya mengenai keseimbangan cairan tubuh juga sudah kurang tepat dan dibuktikan oleh sains pada masa itu.
Ketiga, saya pribadi agak kurang sreg dengan pengelompokan kepribadian manusia jika tujuannya belum jelas.
Saya khawatir nantinya saat sudah mengetahui kecenderungan kepribadian dengan sejumlah traits-nya malah membuat orang yang bersangkutan membatasi diri sendiri. Contohnya, saat orang mengetahui kecenderungan kepribadiannya adalah pencemas dan ekspresif dalam emosi, orang tersebut bisa saja membenarkan segala perilakunya yang mungkin mengganggu orang lain dalam lingkungannya atau justru menghambat dirinya untuk berkembang dengan alasan bahwa perilaku tersebut sudah merupakan “sifat dasarnya” sehingga ia tidak berusaha menyesuaikan diri dengan lebih baik. Oleh sebab itu, saya sebisa mungkin menghindari memberikan label atau diagnosis terhadap orang lain kalau nantinya malah jadi membatasi atau tidak membantu orang tersebut ;)
Demikian sharing saya tentang tipe ‘kepribadian’ sanguinis, koleris, phlegmatis, dan melankolis-nya. Semoga dapat memberikan tambahan materi belajar bagi kita semua :)
Sumber :
Collin, Catherine, dkk. 2012. The Psychology Book– Big Ideas Simply Explained. London : Dorling Kindersley Limited
http://heyinishanti.blogspot.com/
http://chirpstory.com/li/15116
http://en.wikipedia.org/wiki/Galen
PS : Terima kasih Teh Cune yang sudah merangkum twit-ku dan menyusunnya dengan rapi dalam blog-nya
————————————————————————————————————————— [1] “Sanguin” berasal dari bahasa Latin “sanguineus” yang artinya “yang berhubungandengan darah”
[2] “Phlegm” berasal dari bahasa Yunani kuno “phlegma” yang artinya “cairan lembab dan dingin dalam tubuh”
[3] “Choler” berasal dari bahasa Latin “cholera” yang artinya “cairan kuning-hijau dihasilkan liver (cairan empedu)”
[4] “Melancholy” berasal dari bahasa Yunani “melas chole” yang artinya “cairan yang dihasilkan oleh ginjal”. (Maap ga nemu padanannya dalam bahasa Indonesia -S)
Psikologi dan Dunia Kesehatan
Teman-teman yang pernah baca post saya ini mungkin belum tahu memangnya apa yang bisa dilakukan oleh seorang psikolog dalam dunia kesehatan. Tulisan kali ini mencoba untuk memberi gambaran untuk pembaca mengenai cabang ilmu psikologi kesehatan
Selama ini kita terbiasa untuk menghubungkan perawatan kesehatan dengan dokter. Bila kita sedang sakit atau membutuhkan saran mengenai cara menjaga kesehatan, kita umumnya akan pergi ke dokter. Ternyata, selain dokter masih ada praktisi atau ahli dengan latar belakang bidang ilmu lain yang juga berperan penting dalam membantu kita merawat kesehatan agar tetap optimal. Praktisi kesehatan tersebut antara lain seperti perawat, ahli gizi, apoteker, dan tidak ketinggalan pula ahli dengan latar belakang bidang ilmu psikologi. Tidak percaya? Pernah dengar mengenai cabang ilmu psikologi kesehatan?
Pada artikel “Hati-hati Dengan Ahli Psikologi. Apakah Dia yang Kamu Butuhkan?” yang terbit pada 4 Mei 2012 lalu sempat dijelaskan dengan singkat mengenai cabang ilmu psikologi yang satu ini. Cabang ilmu psikologi kesehatan mempelajari tentang cara menjaga kesehatan dan proses yang terjadi saat individu menghadapi kondisi kesehatan tertentu. Bagaimana sebetulnya peran praktisi psikologi kesehatan dalam bekerjasama dengan praktisi kesehatan dari bidang ilmu lain?
Fokus pekerjaan praktisi psikologi kesehatan saling beririsan dengan bidang ilmu kesehatan yang lain, misalnya saja dengan ilmu kedokteran, ilmu kesehatan masyarakat, juga ilmu keperawatan dan farmasi. Sejauh ini, pendekatan medis dengan dasar biologis memang telah menunjukkan manfaat yang sangat besar dalam dunia kesehatan manusia, misalnya berhasil menaklukkan penyakit endemik (cth: polio, TBC, malaria) atau mengembangkan antibiotik maupun vaksin-vaksin pencegah penyakit. Meskipun demikian, para praktisi kesehatan tidak dapat mengenyampingkan fakta bahwa di luar kecanggihan alat-alat kedokteran maupun perkembangan obat-obatan dan metode penanganan penyakit terbaru, faktor individu atau ke-khas-an dari “person” yang mengalami segala proses yang menyangkut perubahan status kesehatan mereka adalah penentu utama dari efektifnya penerapan metode maupun alat-alat canggih tersebut dalam meningkatkan kesehatan maupun kesejahteraan hidup manusia itu sendiri.
Bila kita perhatikan lebih lanjut sekitar kita, mungkin kita pernah bertanya-tanya mengapa terkadang terdapat dua orang dengan akses yang sama ke layanan kesehatan, namun salah satu diantaranya lebih sering jatuh sakit dibandingkan lainnya. Perbedaan diantara keduanya bisa saja terkait dengan riwayat kesehatan maupun faktor biomedis lain. Meskipun demikian, ternyata terdapat pula faktor-faktor psikologis yang seringkali luput dari perhatian kita. Faktor-faktor psikologis yang berhubungan dengan status kesehatan individu tersebut yang biasanya menjadi fokus dari para praktisi psikologi kesehatan. Beberapa faktor yang berhubungan erat dengan kondisi kesehatan antara lain seperti kecenderungan individu untuk memiliki gaya hidup tertentu (lifestyle) maupun memiliki kepribadian tertentu.
Praktisi psikologi kesehatan menaruh perhatian pada bagaimana gaya hidup tertentu dapat menjadi faktor risiko (risk factor) kemunculan suatu penyakit. Faktor risiko adalah karakteristik atau kondisi tertentu yang berhubungan dengan kemunculan suatu penyakit, namun belum tentu berperan sebagai penyebab langsung dari kemunculan penyakit tersebut. Meskipun faktor risiko bisa saja merupakan keadaan yang sifatnya genetis maupun biologis, gaya hidup bisa menjadi faktor psikologis (dan sosial) yang juga menjadi salah satu diantaranya. Sebagai contoh, perokok berat dan jarang berolahraga seringkali dihubungkan dengan sejumlah penyakit kronis seperti penyakit jantung, kanker, dan stroke. Para praktisi psikologi kesehatan akan mencoba mencari tahu mengapa individu cenderung memilih untuk melakukan gaya hidup tertentu yang nantinya bisa mempengaruhi status kesehatan mereka dibandingkan gaya hidup lain.
Selain gaya hidup, penelitian-penelitian dalam psikologi kesehatan juga telah berhasil menunjukkan bahwa tipe kepribadian tertentu berhuungan dengan kondisi kesehatan individu. Sebagai contoh, tipe kepribadian yang mencakup kecemasan yang tinggi, depresi, kemarahan dan kekerasan, atau pesimisme umumnya menjadi faktor risiko yang sering dihubungkan dengan penyakit jantung. Emosi-emosi yang muncul saat individu mengalami stres juga dapat menjadi faktor risiko yang berhubungan dengan kondisi kesehatan mereka serta sejauh mana mereka berhasil pulih dari suatu penyakit. Hubungan antara kepribadian individu dan kondisi kesehatannya bukanlah hubungan sebab-akibat satu arah. Kondisi kesehatan individu juga dapat berpengaruh terhadap kepribadiannya, dimana individu yang mengalami penyakit bisa saja mengalami emosi negatif yang jika terus menerus terjadi tanpa penanganan bisa saja mengubah kepribadian individu tersebut, menjadi lebih pesimis atau justru menjadi seseorang yang lebih tangguh. Oleh sebab itu, peran praktisi psikologi kesehatan di sini sangat penting untuk membantu individu melakukan penyesuaian diri terhadap status kesehatannya berdasarkan cara yang paling efektif bila dilihat dari tipe kepribadiannya, misalnya saat membantu penyesuaian diri pasien stroke dan keluarga yang merawatnya.
Hal lain yang juga menjadi fokus para praktisi psikologi kesehatan adalah gejala-gejala penyakit medis yang muncul karena kondisi psikologis seseorang, atau umumnya dikenal dengan istilah ‘psikosomatis’.Kondisi seperti ini bisa dialami oleh siapa saja, seperti saat kita merasa sakit perut yang tidak kunjung selesai walau tidak ditemukan adanya gangguan dalam fungsi pencernaan atau fungsi organ biologis lain. Ternyata setelah diamati lebih lanjut, saat itu kita sedang merasa sangat cemas akan suatu perubahan besar dalam hidup, misalnya seperti pernikahan, baru saja mengalami kehilangan, promosi jabatan dan sebagainya yang tanpa kita sadari dapat memunculkan gejala penyakit. Apabila sudah menjadi suatu bentuk gangguan, dalam DSM-IV TR (Diagnostic and Statistical Manual) kondisi ini dikelompokkan sebagai gangguan Somatoform.
Salah satu perspektif yang populer dalam psikologi kesehatan adalah biopsikologi, yang mengemukakan bahwa kesehatan atau kesejahteraan fisik individu saling berhubungan erat dengan kesejahteraan mentalnya. Berdasarkan hal tersebut, salah satu pelopor dalam Psikologi Kesehatan, Matarazzo, menggambarkan fungsi Psikologi Kesehatan sebagai kontribusi dari disiplin ilmu psikologi yang didasarkan pada pendekatan ilmiah dan profesional terhadap hal-hal berikut:
1) Promosi gaya hidup sehat (health promotion), praktisi psikologi kesehatan dapat membantu merancang program promosi maupun edukasi kesehatan yang sesuai bagi masyarakat, baik bagi para siswa maupun orang dewasa. Misalnya seperti kampanye anti rokok, atau kampanye pencegahan HIV Aids dengan menggunakan kondom bekerja sama dengan praktisi kesehatan dari bidang ilmu lain maupun pihak institusi seperti sekolah dan sebagainya. Bahkan praktisi yang bergerak di bidang psikologi kesehatan ini bisa membantu kita untuk menyusun pola hidup sehat yang mencakup diet dan membantu mengubah pola pikir kita soal diet tersebut. Tentunya bekerja sama dengan praktisi kesehatan lain seperti ahli gizi.
2) Pencegahan dan perawatan terhadap penyakit, praktisi psikologi kesehatan dapat membantu menyusun program-program pencegahan maupun perawatan terhadap penyakit melalui pendekatan psikologis. Contohnya seperti memperkenalkan metode relaksasi dan pemecahan masalah untuk membantu pasien darah tinggi agar tidak terlalu tegang dalam menghadapi stres sehari-hari, membantu proses penyesuaian dan rehabilitasi bagi pasien stroke seperti menentukan kegiatan yang dapat dilakukan, bagaimana mengatur pola makan, membantu pasien dan keluarga untuk menyalurkan emosi negatif mereka, dan sebagainya
3) Identifikasi penyebab kemunculan penyakit dan diagnosis kondisi kesehatan individu/disfungsi lain, praktisi psikologi kesehatan dapat membantu praktisi kesehatan lain untuk menentukan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kemunculan suatu penyakit dari sisi psikologis, seperti kepribadian pasien, gaya hidup, dan sebagainya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Praktisi psikologi kesehatan juga dapat membantu sejauh mana individu sesuai dengan metode perawatan tertentu
4) Analisis dan peningkatan terhadap sistem perawatan kesehatan dan penyusunan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan industri kesehatan (health-policy), praktisi psikologi kesehatan dapat membantu untuk menganalisis sejauh mana fasilitas perawatan kesehatan yang ada, seperti rumah sakit, puskesmas, anggota praktisi kesehatan, biaya perawatan, maupun sistem perawatan kesehatan yang ada dapat berfungsi secara optimal bagi proses perawatan kesehatan masyarakat. Dalam hal ini, praktisi psikologi kesehatan membantu memberikan rekomendasi bagi pembuat kebijakan, memberikan pelatihan-pelatihan terkait kondisi psikologis individu terhadap praktisi kesehatan maupun kader puskesmas, dan sebagainya.
Setelah membaca artikel ini, sepakat bukan bahwa tidak hanya dokter saja yang bisa membantu kita dalam menangani masalah kesehatan? Sayangnya, di Indonesia sendiri belum terlalu banyak psikolog yang berkecimpung di bidang psikologi kesehatan ini.
Referensi:
Dimatteo, M.Robin. 1991. The Psychology of Health, Illness, and Medical Care—An Individual Perspective.Belmont, California: Brooks/Cole Publishing Company
Ogden, Jane. 2007. Health Psychology—A Textbook. New York: McGraw-Hill
Sarafino, Edward P. 2002. Health Psychology—Biopsychosocial Interactions (4th ed.). New York: John Wiley & Sons, Inc.
Gambar diambil dari sini
-Question submitted by Anonymous
—
Dannielle Says:
Me personally? I lay in bed and stare out the window, take deep breaths and sleep in later than normal. I write in my journal, i play minor chords on my guitar, i ignore everyone, i put things off, i stop giving a shit, i think everything is...
How Does It Feel?
Hello there,
As some of you might have figured, I had gone through my thesis defending day. It wwas on June 21st and I was lucky enough Ramda was in Jakarta so he could be with me during the event and helped me with my preparation. If some technical difficulties with the computer were not to be considered, the preparation and the process itself went well. I, surprisingly, was able to present my research fluently and my thesis supervisors were cooperative enough to help me through the day. Wita and Silmy were there waiting for me and Ramda gave me white lilies, like what I’ve always wanted. My mention tab on twitter was flooded with congratulations and for the very first time within the last 8 months, I could breathe easily for a day.
How does it feel?
Just like others immediately asked me after acknowledging the news.
Sometimes, to be asked of how you feel towards an event can bring some complex and deep thinking process. Just like this one I got here. How do I feel?
Well, it was one fine day on June and I definitely was grateful to be able to finish my study on time. But graduation is an event which brought you a whole range of intense emotions. As for me, the day had becoming a symbol of my next step towards adulthood. There is this euphoric moment of happiness and excitement on one side, yet there is also this depressive state filled with doubts and insecurities of life on the other side.
Of course I am happy knowing I can now find a job to support my family and not having to pay another 13million IDR for another academic term. I also get excited of how it will be to have a professional career and meeting new people. It is certainly easier for me now to take further steps in life when I don’t have any academic responsibility anymore. Meanwhile, I am now getting back my leisure time to read whatever books I want to read, write more often, and doing exactly everything I want to do as long as it doesn’t cost me too much money.
But a change is still a change. It brought you the feeling of fear of the unknown. Everything is no longer familiar. I can no longer have KLD #17 around me like how I used to. New tasks and responsibilities will come and new skills will need to be gained. Life will becoming even more harsh in adulthood, that’s what they said. Lots of decision making and problem solving skills will be needed to get through it. Lots of painful loss will be there.
Will I be able to find a convenient job? Or am I good enough for that? Will I be able to take care of my family? Will I still be envious towards my friends whose life I consider easier? Will I be able to finally find what I really need? Will I still feel lonely? Will I finally understand my own feelings? Will I ever be able to let go?
There are these mixed up emotions hence I couldn’t simply answer the question of how I feel right now.
The gorgeous white lilies Ramda gave me
What comes next?
Will one ever get acquainted to the surprise(s) life brings?
D!
Dibikinin Ramda dalam rangka berhasil bekerja sama selama setahun terakhir :3
Here is a Science fair project presented by a girl in a secondary school in Sussex . In it she took filtered water and divided it into two parts. The first part she heated to boiling in a pan on the stove, and the second part she heated to boiling in a microwave. Then after cooling she used the water to water two identical plants to see if there would be any difference in the growth between the normal boiled water and the water boiled in a microwave. She was thinking that the structure or energy of the water may be compromised by microwave. As it turned out, even she was amazed at the difference, after the experiment which was repeated by her class mates a number of times and had the same result.
It has been known for some years that the problem with microwaved anything is not the radiation people used to worry about, it’s how it corrupts the DNA in the food so the body can not recognize it.
Microwaves don’t work different ways on different substances. Whatever you put into the microwave suffers the same destructive process. Microwaves agitate the molecules to move faster and faster. This movement causes friction which denatures the original make-up of the substance. It results in destroyed vitamins, minerals, proteins and generates the new stuff called radiolytic compounds, things that are not found in nature.
So the body wraps it in fat cells to protect itself from the dead food or it eliminates it fast. Think of all the Mothers heating up milk in these ‘Safe’ appliances. What about the nurse in Canada that warmed up blood for a transfusion patient and accidentally killed him when the blood went in dead. But the makers say it’s safe. But proof is in the pictures of living plants dying!!!
On Relationships
“…..”
“oh, hi”
“……”
Beberapa minggu terakhir ini saya cukup sering berinteraksi dengan teman-teman lama (atau tidak terlalu lama). Sebagian pernah jadi orang-orang terdekat bagi saya, baik itu sahabat, atau mereka yang sempat merencanakan masa depannya bersama dengan saya, berbagi hidupnya dengan saya. Saya ngobrol-ngobrol dengan mereka, membaca timeline twitternya, mendengarkan musik atau mencuri baca buku rekomendasi mereka dan aktivitas sosial lainnya.
Rasanya menyenangkan bisa saling bertukar kabar dengan beberapa teman. Walau demikian, saya menyadari ada perasaan lain yang terselip di dalam hati saya saat dan setelah saya berinteraksi dengan mereka. Sedikit banyak ada kesan ‘asing’ yang saya tangkap dari mereka. Padahal sebagian besar di antara mereka yang berinteraksi dengan saya bukanlah teman-teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Beberapa diantaranya adalah teman-teman yang berasal dari angkatan yang sama sewaktu S1 dari universitas tempat saya belajar sekarang. Satu diantaranya bahkan pernah menjadi orang terpenting dalam hidup saya, setelah keluarga inti saya.
Sungguh mengherankan memperoleh kesan asing dari orang-orang yang sempat jadi bagian terpenting dalam hidup saya.
Kalau dipikir-pikir saya tidak pandai dalam menjaga hubungan dengan orang lain, sejak dulu sampai sekarang. Segala jenis hubungan. Baik itu persaudaraan, pertemanan, atau hubungan romantis. Nggak tahu kenapa, tapi sepertinya setiap hubungan sosial yang saya miliki sekarang masih terjaga karena adanya usaha lebih dari pihak lain yang terlibat dalam hubungan tersebut, jika bukan karena adanya kesamaan letak geografis, zona waktu, atau kepentingan. Tapi mungkin memang demikian adanya, seiring dengan berjalannya waktu mungkin kita bertumbuh. Dan seiring dengan kita bertumbuh, suka tidak suka kita akan berubah.
Mungkin perasaan asing itu timbul karena mereka berubah, demikian pula saya. Memang tetap orang-orang yang sama, namun sebagian dari kita punya pekerjaan baru, menikah, melanjutkan sekolah, mendengarkan aliran musik yang baru, membaca buku-buku dengan tema yang berbeda, dan lain sebagainya. Mungkin gosip yang sebelumnya kita anggap seru tidak lagi menarik, mungkin sesuatu yang dulunya membuat kita tertawa kemudian tidak lagi lucu, mungkin yang dulu membuat kita begitu patah hati tidak lagi berarti, mungkin semua yang dulu ada kini tidak lagi penting.
Ada pepatah yang bilang, sometimes when we grow up, we outgrew people we love.
Dan perpisahan terjadi secara sederhana saja, karena kita tidak lagi punya tujuan yang sama.
As I think it this way, I learn that human relationships are impressively fragile, but it has never been futile. Thousands of chances lie within every encounter. Every relationship, good or bad, bring its own lessons. And for the brief moment being given, we should be presence, to feel, to appreciate, to experience, and simply to be there.
Thankful for they are priceless.
Before the mighty time takes them away.
- D! -
Meredefinisikan Mimpi
The Half and Half Man
“I wrote this book for my five-year-old self. Isn’t that a bit sad, you might ask, giving something to yourself that took 17 years to afford? And I can’t argue with that. It is sad. But this is a sad book. Don’t get fooled by the cheery cutesy graphics. This is a really sad book – not sad in the way people dying is sad, but sad in the way a kiwi never learning how to fly is sad. You see, it’s about how life is all to do with compromise. When you’re born, you compromise on being someplace better. You arrive with these dreams and wishes and ambitions that slowly crack at the edges as reality shows up and you have to grow up to grow up. You have to take care of your mom and dad, you have to make time for family, you have to do this and that, and in the blink of an eye you’re no longer young and have more veins on your ankles than laugh lines on your face to show for it. I’m not saying this because it’s a very bad thing. It’s not even a very good thing. What it is, is a very real thing. That’s why I wanted to give this book to me. Not just to me, but to all the dreamers in the world, to show them what can happen if they’re not careful with their dreams, to get them to get their game faces on to fight for their corner of the world. It is a sad and short life we are given, and dreams aren’t always kind to timelines.”
*this is a long post and you have been warned*
Beberapa minggu yang lalu, Ramda memberi saya link buku cerita bergambar yang ditulis (dan digambar) oleh Jonathan Chan . Seperti yang tertulis di atas, buku ini bercerita tentang bagaimana hidup dipenuhi dengan kompromi. Buku ini bercerita bahwa pada saat-saat tertentu, seiring dengan tumbuh dewasanya seseorang, seseorang harus berkompromi dan rela melepaskan mimpinya karena mimpi tersebut tidak lagi sesuai dengan kehidupan nyata yang harus ia jalani sehari-harinya. Secara umum, meskipun dipenuhi dengan grafis yang sangat indah dan penuh warna, ini adalah buku yang cukup sedih dan depresif. Setidaknya buku ini bisa membuat teman-teman seusia saya yang mungkin sedang sibuk mencari kerja dan membangun hidup kemudian menjadi galau, apalagi mereka yang sudah lebih dulu mengalami quarter life crisis (omong-omong, kalau ada yang tertarik mengenai isu ini bisa menghubungi teman saya Inayah Agustin yang kebetulan meneliti tentang isu tersebut untuk tesis-nya).
In one way or another, just like everybody else who’s now in their 20′s years of life, the book has caught me to think and evaluate how I have been living my life lately.
Orang-orang yang kenal saya cukup dekat mungkin tahu betapa inginnya saya berkecimpung di dunia psikologi kesehatan dan berkontribusi di bidang pendidikan, entah dalam bentuk apa, tapi terakhir kali saya ingat saya masih ingin sekali menjadi dosen sekaligus praktisi. Awalnya, minat saya kepada dua sektor tersebut lebih banyak didasari oleh isu pribadi, sebagian dari pembaca mungkin sudah tahu bahwa ibu saya meninggal karena kanker payudara. Walau demikian, ketertarikan tersebut semakin tumbuh mengingat kedua hal tersebut merupakan kunci kualitas hidup individu, masyarakat, dan tentunya bangsa. Lama kelamaan, rasanya saya semakin ingin memberikan apa yang saya bisa ke dalamnya agar keduanya menjadi lebih baik lagi. Terlebih setelah menjalani masa-masa praktek di institusi-institusi, saya semakin melihat bahwa pelayanan dan fasilitas dalam dua sektor tersebut masih sangat kurang memadai. Saya bahkan bermimpi suatu hari membangun sebuah klinik dengan pelayanan kesehatan yang terintegrasi (terdiri dari dokter, ahli kesehatan masyarakat, ahli gizi, perawat, psikolog, dan sebagainya sehingga selain pelayanan kesehatan juga tersedia edukasi mengenai kesehatan bagi pasien dan caregiver-nya) dengan biaya jasa yang sangat minim bahkan gratis bagi mereka yang lebih membutuhkan.
Meskipun demikian, teman-teman saya mungkin juga sudah tahu bahwa saya harus memendam mimpi dan keinginan saya tersebut dalam-dalam sejak peristiwa ayah saya terkena seranganstroke. Sejak saat itu, saya sebagai anak pertama bertanggung jawab atas seluruh keperluan rumah tangga dan mengatur pemasukan. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, sama sekali tidak mudah mengatasi seluruh persoalan yang terjadi di rumah saya. Saya harus membayar hutang-hutang ayah, harus mencari tempat tinggal, harus membantu biaya sekolah adik-adik saya, harus membiayai kebutuhan hidup sehari-hari sekaligus perawatan ayah saya, dan sebagainya, let alone get married and build a family with the man I love. Dan memang semuanya harus, karena dalam hal ini saya tidak punya pilihan. Tentunya untuk melakukan semua hal tersebut saya membutuhkan uang dalam jumlah yang (sangat) besar untuk ukuran anak seusia saya, dan kita sama-sama tahu, bekerja sebagai pengajar atau staf rumah sakit tidak bisa memberikan apa yang saya butuhkan saat ini. Ada kewajiban yang lebih penting dan perlu saya selesaikan terlebih dahulu.
Terkait dengan hal tersebut, kira-kira dua minggu yang lalu sebuah e-mail masuk ke dalam inbox saya. Ternyata e-mail tersebut datang dari pembimbing skripsi saya. Beliau menginformasikan bahwa skripsi saya: Kualitas Hidup Penderita Kanker Payudara yang Telah Mengalami Mastektomitelah melalui proses peer-review untuk diterbitkan dalam jurnal Fakultas Psikologi Universitas Atmajaya. Buat orang lain mungkin hal tersebut adalah hal kecil dan biasa, buat saya berita tersebut membuat hati saya terlonjak senang. Mengapa? Karena ini berarti kesempatan saya untuk menyampaikan apa yang saya tahu terkait dengan topik skripsi saya tersebut kepada audiens di luar kampus saya sendiri kemudian terbuka lebar. Selain itu, berhubung saya sudah lama ingin menjadi seorang dosen sekaligus praktisi di bidang psikologi kesehatan, tentu hal ini memberikan peluang lebih besar bagi saya untuk berkorespondensi dengan mereka yang mungkin memiliki minat serupa, dan tentu saja saya akan memperoleh kredit untuk penelitian saya dalam hal ini. Salah seorang reviewer juga sempat mengemukakan bahwa topik penelitian saya menarik dan belum cukup banyak yang meneliti hal tersebut sehingga bisa saja dikembangkan lebih lanjut.
Seiring pula dengan adanya berita tersebut, saya dapat kabar bahwa beberapa rumah sakit buka lowongan untuk psikolog. Selain itu, muncul pula program Pencerah Nusantara , sebuah gerakan yang mengajak para dokter, dokter gigi, perawat, psikolog dan pemerhati kesehatan masyarakat, untuk memberikan 1 tahun untuk ditempatkan di pusat pelayanan primer di berbagai daerah di Indonesia untuk melakukan reorientasi peran layanan kesehatan primer. Singkatnya, seperti Indonesia Mengajar, namun bergerak di bidang Kesehatan. Pendaftaran program ini dibuka mulai 4 Mei 2012 dan akan berakhir tanggal 11 Juni 2012.
Tentu saja saya merasa sangat excited, sekaligus juga sedih, dan mungkin juga marah.
Excited karena saya melihat semakin banyak kesempatan bagi seorang lulusan S2 profesi Psikologi Klinis seperti saya untuk berkecimpung di bidang kesehatan. Sekaligus juga sedih dan marah, karena saya harus menunda keterlibatan saya tersebut. Menunda entah sampai kapan, atau bahkan apakah akan ada lagi kesempatan serupa bagi saya di waktu-waktu yang mendatang.
Mungkin ini salah satu yang disebut sebagai berkompromi dengan hidup. Tentang bagaimana mimpi-mimpi kita belum tentu dapat terwujudkan semuanya. Serapi dan sesempurna apapun kita merancang dan mempersiapkannya. Mungkin juga ini waktu buat saya untuk kembali bertanya ke dalam diri saya, apakah mimpi itu buat saya.
Buat saya, sebuah mimpi hidup dan menjadi penting bagi kita karena mimpi tersebut punya makna.
Apa makna mimpi tersebut bagi saya?
Apakah saya benar-benar ingin membuat sistem pelayanan kesehatan dan pendidikan di negara saya menjadi lebih baik? Atau saya sebetulnya ingin memuaskan rasa ingin tahu saya (yang terus menggelegak dan saya harap tidak kunjung padam) mengenai proses meninggalnya ibu saya karena suatu penyakit kronis? Atau rasa ingin tahu saya terhadap kematian itu sendiri dan bagaimana kita mempersiapkannya? Apakah ini justru sebagai cara saya untuk melakukan kompensasi terhadap rasa bersalah saya terhadap ibu soal bagaimana saya tidak pernah cukup waktu untuk merawat dan memahami beliau ketika beliau masih ada (dan mungkin sekarang juga berkembang menjadi rasa bersalah terhadap ayah saya, berhubung beliau sekarang juga jatuh sakit)? Apakah ini wujud rasa marah saya karena saat ibu sakit saya merasa beliau tidak mendapatkan perawatan yang cukup baik, seperti apapun ayah saya berusaha?Apakah ini semata keinginan pribadi saya agar menginspirasi adik-adik saya sebagai panutannya? Atau jangan-jangan mimpi tersebut muncul sebagai cara untuk memperoleh kebanggaan diri, pemberi rasa iri pada orang lain?
Mungkin ini bukan waktu saya mewujudkan mimpi.
Mungkin ini waktu saya untuk memahami.
Mungkin ini waktu saya untuk kembali me-redefinisikan mimpi.
-D!-
apakabar nih dunia persilatan pascasarjananya?
Semakin menggila Feb! :D
go on, surprise me, ask me anything
lebih penting mana menurut lo, Tuhan atau Agama?
Tuhan :]
go on, surprise me, ask me anything
LDR itu berat ga sih dhe?
Wah, pertanyaan tentang LDR :D Sebetulnya tergantung masing-masing orang ya. Dibilang berat ya ada beratnya juga karena ga bisa ketemu sering-sering ya. Jarak fisik memang variabel yang cukup penting, tapi kembali lagi ke masing-masing orang. Mau jauh atau dekat jarak fisiknya, kalau hatinya tidak merasa 'dekat' dan komunikasinya nggak lancar, tetap ga berhasil juga. Saya ngomong gini karena pernah merasakan pacaran satu kampus yang ketemu dan teleponan setiap hari. Nggak berhasil juga tuh. Jadi, menurut saya, mau jaraknya jauh atau dekat, dua-duanya pantas diperjuangkan sepenuh hati kok kalau memang sayang dan niat :]
go on, surprise me, ask me anything
formspring.me
go on, surprise me, ask me anything http://www.formspring.me/dheasekararum