Tentang Alqur'an: Kapan Terakhir Kali...
Aku pikir, betapa seringnya sebagian dari kita salah jalan ketika mencari sesuatu, lebih tepatnya, mencari kebenaran. Adalah tentang orang-orang yang non muslim yang mendapatkan hidayah dari Allah untuk kemudian masuk islam. Lihat saja beberapa video yang berseliweran di YT, adalah mereka orang-orang yang mendapatkan semilir angin yang memanggil untuk kembali pada fitrahnya. Entah dari sikap muslim yang ia temui di negaranya, dari pertanyaan-pertanyaan hidup yang belum mendapatkan jawaban, juga dari kenyataan tentang islam yang ternyata tidak seperti yang digambarkan di media dan lain sebagainya. Dan yang hampir selalu mereka lakukan sebelum kemudian memutuskan untuk membaca dua kalimat syahadat adalah membuka alqur'an. Ya, membaca ayat-ayat yang terkandung di dalamnya -meski lebih tepatnya adalah translasi dari alqur'an-, akan mengantarkan mereka pada satu persatu jawaban atas berbagai pertanyaan yang dimilikinya.
Ya, adalah mereka yang menggali al qur'an, membaca untuk mencari kebenaran, membaca dengan membuka mata hati, hingga Allah pun kemudian dengan kehendak-Nya menurunkan petunjuk kepada mereka.
Tapi, yang kemudian menjadi masalah adalah ketika orang-orang yang mengaku dirinya muslim, bahwa tuhannya adalah Allah, Rasulnya adalah Muhammad, dan tentu saja meyakini bahwa Al Qur'an adalah kalam-Nya yang diturunkan sebagai mu'jizat nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam; ternyata justru 'asing' dengan kitab ini. Iya, mengaku islam, tapi lidahnya kelu ketika membaca alqur'an. Atau, lisannya bisa saja membacanya tiap hari bahkan dengan target sekian lembar atau sekian juz, tapi apakah ia sudah berusaha mengerti apa yang sejatinya dibaca? Apakah ia tahu pesan apa yang Allah sampaikan lewat kalam-Nya?
Ya, yang dimaksud asing disini adalah asing dengan apa yang sebenarnya disampaikan oleh Allah. Asing dengan syari'at Allah yang sudah tertulis di dalamnya. Bahkan, asing pula dengan jalan dan solusi kehidupan yang sejatinya sudah terpapar dan juga terangkum di dalamnya.
Bahkan, yang lebih menyedihkan adalah sebagian orang yang mengaku muslim, tapi justru lebih akrab dengan hal-hal yang datang bukan dari islam, dan menjadikannya solusi atas segala aspek kehidupan. Misalnya: filosofi timur-barat-selatan -atau mana saja-, berbagai -isme yang berkembang belakangan, ilmu psikologi modern untuk mengatasi anxiety, dan lain sebagainya; yang sayangnya tidak semua sesuai dengan ajaran islam.
Apakah mengakrabkan diri dengan berbagai ilmu yang berkembang hari ini salah? Apakah kemudian kita harus mencukupkan diri dengan hal-hal yang berbau islam saja? Bukan, bukan begitu maksudku. Yang hanya ingin aku kemukakan disini adalah tentang kita yang jarang 'membuka alqur'an' sehingga belum benar-benar menjadikan alqur'an sebagai solusi pertama atas berbagai permasalahan. Padahal, Al Qur'an justru menjadi jawaban utama bagi orang non islam -atau siapapun yang haus- atas berbagai pertanyaan dan masalah hidup, yang kemudian mengantarkan mereka pada memeluk agama islam. Agak mengherankan, bukan?
Ibarat kita yang sibuk menghidupkan lampu, padahal tepat di atas kita masih ada matahari yang bersinar terang. Apakah sanggup cahaya lampu mengganti cahaya dari sinar matahari?
Terakhir, satu pertanyaan yang utamanya ditujukan pada diri sendiri adalah:
Kapan terakhir kali membaca dan menelaah ayat al qur'an? Tidak hanya sebatas membaca arabnya saja -yang seringkali tak paham artinya-, tapi juga mencari berbagai kandungan dari ayat serta berusaha memahaminya.
Bukan berarti tilawah alquran bukanlah hal yang baik, justru ialah langkah pertama untuk akrab dengan alqur'an. Akan tetapi kapan hendak naik ke level yang berikutnya? Wallah a'lam.