Postingan ini Khusus saya buat karena saya kangen OTFA.
Semoga bisa menghibur sesama warga SAI yang juga merindu.
Pertama kalinya, saya dapat amanah mendampingi anak-anak di kelas kecil. Selama ini saya kebanyakan bertapa di Saung Ujung, nempel terus sama anak-anak saya di SD6. Jadi, kali ini saya ganti mode lebih haluuus karena yg akan saya temani adalah sekumpulan anak kelewat imut, saya gak boleh ngegas layaknya kalo lagi sama SD6 hahaha.
Kelompok kami namanya "Kelompok Jeruk". Ada Alifia, Naura, Rumaysa (murid SD1) dan Wulan (murid SD2, pindahan).
"Tenang aja Bu, ini kalem2 semua kok, aman" begitu pesan Fasilitator SD1 ketika mengantarkan ke-4 anak ini bertemu dengan saya. Benar saja, mereka ini memang sebegitu sweet-nya. Rumaysa sangat murah senyum, Naura dan Alifia pemalu tapi nempel terus, dan Wulan gak sedikitpun canggung meski dia murid baru dan harus merasakan pra OTFA bareng adek kelas.
Sejuk hati ini lihat mereka #sholawatinshaaay
------------------------------------------------------------------------------
Tiba saatnya kami main di lahan tetangga, Studio Alam (Studal) TVRI. Kalau sekolah kami dibilang seperti hutan, maka Studal TVRI adalah rimba, lengkap dengan perbukitan yang cocok untuk trekking. Anak-anak sengaja dikenalkan dengan medan untuk trekking di sini sebelum terjun ke gunung yang sesungguhnya saat OTFA nanti.
Yang kami lakukan di sini adalah "bermain", dengan menyelesaikan games di tiap Pos. Nah, Pos 1 dan Pos 2 itu posisinya masih "di bawah", kami hanya perlu jalan dan medannya masih datar. Tapi, untuk bisa sampai ke Pos 3, anak-anak harus mulai mendaki.
Panitia sudah menyiapkan tali yang bisa dipakai untuk berpegangan, sebab untuk ukuran anak-anal ini mestilah pegang tali karena medannya cukup curam untuk tubuh mungil mereka. Di sinilah mulutku dipaksa mengeluarkan kumpulan kata motivasi, sok iya banget macem Mario Teguh hahaha. Gimana engga, 2 dari 4 anakku auto mau nangis pas lihat medannya. Lalu keluarlah kata itu...
"aku takuuut" disusul mata yang siap turun hujan.
------------------------------------------------------------------------------
Setelah melakukan khotbah no jutsu beberapa menit, akhirnya kubiarkan dulu 2 anak ini (Rumaysa dan Naura) mengatur emosi dan mengumpulkan keberanian. Kalo Wulan sih aman, dia dari awal memang paling ngebet pengen ngerasain yang beginian. Saya justru takut nih anak bablas saking semangatnya.
Melihat Wulan bisa naik tanpa kesulitan, Alifia diam-diam memperhatikan dan berhasil menyusul naik. Dari atas, Wulan seketika berubah jadi Naruto, yang doyan semangatin temannya biar gak nyerah "Ayooo Rumaysa, Naura, pegang aja talinya, jangan liat ke bawah" takjub juga saya, dalam hati bersyukur ada asisten buat koar2 wkwkwk.
Alifia yang gak banyak bicara pun ikutan semangatin teman-temannya, naiklah Rumaysa dan Naura pelan-pelan. Di tengah jalan Naura sempat sedikit terpeleset, tapi tangannya masih memegang tali dan posisinya aman. Rumaysa beberapa kali berhenti, tapi tetap naik walau pelan. "Kakinya jangan injek itu, liciin" dari atas Wulan teriak, live report. Sebenarnya, di kanan-kiri jalur itu ada Fasilitator yang siap jaga. Ketika akhirnya sampai di atas, mereka kami sambut dengan tepuk tangan dan air minum. Lalu Naura nyengir dan Rumaysa loncat kegirangan karena sudah berani naik. Semuanya high five. Ini sempat kurekam tapi entah di mana videonya sekarang wkwkwkwk. Wulan gak sabar untuk lanjut jalan, jadi dia mimpin di depan. Anak ini semangatnya memang luar biasa. Ketiga adik kelasnya manut di belakangnya.
------------------------------------------------------------------------------
Pos selanjutnya cukup jauh dari posisi kami saat ini. Kami harus "turun" untuk bisa lanjut, kali ini tidak ada tali. Untuk ukuran bocah, tentu saja jalanan menurun ini bukan medan yang biasa. Rumaysa dan Naura menolak untuk lanjut dan mulai menangis. Di tengah-tengah membujuk mereka, Wulan tetiba berlari turun ke bawah. Aduh, jantungan aku lihatnya.
"Tunggu di situ Nak, jangan ke mana-mana!" Aku teriak dari atas.
Alifia menatapku, seolah meminta izin mau nyusul Wulan ke bawah. Setelah mendapat oke, Alifia turun pelan-pelan, dengah perlahan mengikuti bekas injakan kaki supaya tidak terpeleset.
Setelah memastikan Alifia mendarat dengan aman, aku kembali fokus ke Rumaysa dan Naura. Belum ada tanda-tanda tangisnya akan reda. Khotbah no jutsu sudah kebal, gak masuk ke telinga mereka. Dua anak ini harus bisa kubujuk untuk turun, sebab opsi lain (menggendong) tentu mustahil. Aku gak sekuat itu ... yang ada malah kami jatoh berjamaah. Duh gimanaa ini. Belum kelar otak ini diajak mikir, dari bawah Wulan teriak "Ibu, aku mau pipis"
Yassalamualaikum . . . Subhanallah . . .
Toilet terdekat dari posisi kami tidak bisa dibilang dekat. Belum sempat aku meresponnya, Wulan agaknya bisa baca pikiranku.
"Nanti aja deh bu, aku masih bisa tahan"
Dengan mengucap hamdalah, aku beri dia senyuman lega. Oke, nambah PR. Kelar bujuk Rumaysa-Naura, harus cepat cari toilet.
Aku gak terpikir cara lain. Set, tangan dua anak itu kugenggam dan jepit, lalu kami duduk nempel bertiga.
Syuuur~ kami meluncur begitu saja seperti lagi turunin perosotan.
------------------------------------------------------------------------------
Rumaysa dan Naura samar-samar cekikikan, itu muka masih basah tapi sedihnya alhamdulillah musnah. Bisa ditebak sekotor apa bagian belakang rok celana kami. Hari itu, aku merelakan rok jeans-ku berbekas noda coklat tak sedap dipandang mata, di bagian bokong #susaaahilangnyaaaa #ikhlas
Kami berhasil sampai di sekolah lagi dengan ngebut ke toilet karena kebeletnya Wulan nular ke kami semua.
Time skip, malam harinya...
Kami menginap di sekolah, tepatnya pakai tenda di lapangan parkiran mobil. Ini sudah waktunya untuk tidur. Setelah toiletting, sikat gigi dan wudhu, kami mengatur tata letak di dalam tenda agar bisa tidur senyaman mungkin meski ukuran tendanya ngepas. Dari kiri ke kanan ada Wulan, Naura, Alifia dan Rumaysa.
Tepat di sebelah Rumaysa, berjejer carrier mereka. Wulan, Naura dan Alifia sudah sibuk memasang sleeping bag masing-masing.
"Sleeping bag-ku ada di paling bawah, susah ngambilnya" keluh Rumaysa.
Naura yang sudah selesai memasang sleeping bag-nya, langsung mengambil inisiatif, ia keluarkan semua isi tas Rumaysa hingga sleeping bag-nya bisa diambil.
Rumaysa nyengir dan mengucap terima kasih, Naura masuk ke dalam sleeping bag dan Rumaysa merapikan kembali barangnya yang berceceran. Wulan belum juga selesai dengan persiapan tidurnya. Anak ini membuatku takjub karena yang dibawanya adalah kain seprei, bukan sleeping bag. Duh gusti, cem mana ni..
------------------------------------------------------------------------------
"Sebenernya aku punya sleeping bag yang kayak gini (kata Wulan sambil menunjuk sleeping bag Naura), tapi aku bawa ini aja buat alas, soalnya aku kepanasan. Ini sleeping bag versi tipis" jelasnya.
Aku lalu berdeham menahan tawa, tak tahan dengan kepolosannya.
"Wulan, ini namanya seprei. Bukan sleeping bag. Seprei dipasang di kasur, kalau sleeping bag itu kantung tidur" (kutahan mulutku, hanya kuucap dalam hati, takut Wulan tersinggung dan kami perang mulut wkwkwkwk)
Alifia baru saja akan masuk ke dalam sleeping bag nya ketika Rumaysa kembali minta tolong. "Yaudah kamu masuk, nanti aku restleting-in". Akhirnya, Rumaysa masuk ke dalam sleeping bag-nya lebih dulu dengan bantuan Alifia. Alifia jadi yang terakhir masuk ke dalam sleeping bag.
Setelah memastikan posisi tidur mereka sudah oke, serta tiap anak sudah kubaluri minyak kayu putih, kami melantunkan do'a pengantar tidur.
Menyadari sudah tidak lagi ada tempat untukku, Rumaysa bertanya "Ibu nanti tidur di mana?"
"Ibu gak tidur. Jagain kalian" jawabku pelan.
Faktanya, aku ketiduran juga nantinya wakakak #maafyaNakk
------------------------------------------------------------------------------
"Ibu jagainnya di luar tenda?" Tanya wulan
"Bu, aku baru pertama kali tidur gak bareng Mama" kata Naura
Belum kurespon, Naura berkata lagi "Gapapa deh, belajar tidur sendiri"
"Kan kita ber-4" kata Wulan polos
Lalu kami ketawa cantik, hihihihi
Untungnya, gak lama setelah itu mereka betul-betul langsung terlelap.
Terdengar suara dari luar, "Dalam 5 menit, semua PAK harap berkumpul di Masjid"
Jadi aku keluar dan menuju Masjid untuk briefing PAK. Setelah briefing, aku mampir ke tenda kami dan posisi mereka masih sama. MaasyaaAllah, anak-anak boboknya pulas sekali. Pasti kecapekan mereka.
------------------------------------------------------------------------------
Pukul 2 pagi, Naura bangun karena mau ke toilet, aku jadi khawatir anak ini nanti jadi susah tidur lagi, apalagi baru pertama kali gak tidur sama Mamanya. Tapi Alhamdulillah, dia bisa langsung terlelap lagi setelah buang hajat.
Selanjutnya, aku yang harusnya masih berjaga, nyatanya tepar dan masuk alam mimpi, aku bangun karena mimpi jatoh, terus "DEG" seketika mata kebuka