Anak dan Ego, part 1: Aku yang membuat dia bisa.
Dulu aku bertanya-tanya ketika membaca arti QS. At-Taghabun [64]: 15, disebutkan bahwa "Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar".
Kenapa ya kok disini anak disamakan dengan harta? Yaitu sebagai cobaan?
Ternyataaaa banyak hal dari anak yang pada akhirnya akan berkaitan dengan ego kita. Berikut adalah hal pertama yang aku temukan :)
––
Memiliki anak selama 3 bulan ini adalah hal yang sangat menakjubkan. Selalu ada hal baru nyaris setiap hari. Tiba-tiba bisa senyum, tiba-tiba bisa mengoceh, dan masih banyak lagi. Ini baru 3 bulan, belum nanti 2 tahun, 7 tahun, atau 23 tahun; melihatnya berlari untuk pertama kali, masuk SD, atau lulus kuliah.
Sebagai orang tua baru, rasanya aneh melihat pencapaian anak sekecil apapun; senang sekaligus bangga. Senang dan bangga, secara natural terjadi ketika kita melihat orang yang kita sayangi berhasil melakukan sesuatu. Tapi mungkin ada juga bangga yang lain–ketika pikiran, "Aku berhasil mengajarinya!" bisa saja terselip.
Nah saat mau bangga sama diri sendiri, tiba-tiba terlintas pikiran, "Eh ini aku lagi berbangga diri gak ya?". Karena seperti kita tahu, semua hal yang terjadi dalam hidup kita terjadi atas kehendak Allah.
Tapi kalo gitu masa sih usaha kita ga diitung sama sekali? Mending tidur-tiduran aja gak sih, gausah ngestimulasi anak? Toh kalo Allah berkehendak juga dia bakal bisa2 aja?
Nah hal ini yang sempat menjadi pertanyaanku. Gimana yah cara mengembalikan semuanya ke Allah tanpa mendiskreditkan usaha kita?
Bengong2, tiba2 kepikiran sebuah framework :)) Ketika anak mendapatkan suatu pencapaian, yang bisa kita lakukan:
Tahap 1: Mengapresiasi anak.
Ketika anak berhasil melakukan sesuatu, ia adalah pelaku dari pencapaian tersebut. Karena itu hal pertama yang harusnya kita lakukan adalah mengapresiasi usahanya. Jangan sampai ketika anak mendapatkan pencapaian, yang muncul pertama kali malah rasa bangga terhadap diri sendiri. Ego!
Tahap 2: Mengapresiasi diri sendiri.
Mungkin ada bagian dari waktu dan usaha yang kita curahkan untuk mengajari anak kita hingga ia sampai pada pencapaiannya. Apresiasi itu :)
Tahap 3: Mengembalikan kemampuan kita pada Allah
Naaah siapa yang memampukan kita untuk mengajari anak kita? Tentuuu saja Allah! Pencapaian anak, kemampuan kita, semua terjadi tidak lepas dari izin Allah.
Jadi segituuu pikiran random kali ini. Sampai sejauh ini, aku berusaha menerapkan framework tersebut ketika melihat anak mendapatkan suatu pencapaian. Mudah2an bisa menyelamatkanku dari rasa ujub tanpa mengerdilkan usaha sendiri :) Semoga baik, semoga Allah mampukan!
Berlin,
09.10.2024
Jadi ikutan refleksi juga meskipun belum punya anak. Jadi sadar juga, bukan cuma anak, pasangan juga bisa jadi ujian. Kehidupan berpasangan adalah serangkaian momen-momen saling menyesuaikan diri, tarik menarik kebiasaan dan nilai-nilai dalam hidup. Nilai baik menurut ku belum tentu baik bagi suamiku begitupun sebaliknya.
Jika dikembalikan ke sumber nilai, yakni apa yang Allah turunkan dalam Al Quran dan direfleksikan dalam kehidupan Rasul, kita akan memahami beberapa nilai yang kita anggap baik bisa jadi belum baik. Pun jika nilai yang aku dan pasanganku yakini sama-sama benar, terdapat banyak sekali gradasi warna dalam hal mengimplementasikannya.
Pasangan adalah pengingat paling utama. Maka, saat melihat pasangan berubah karena apa yang aku sampaikan, atau dia melihatku berubah karena yang dia sampaikan--betapa itu semua adalah karuniaNya.
kemampuan menyampaikan dengan baik -> karunia (apresiasi diri)
kemampuan menerima nasihat dengan baik -> karunia (apresiasi pasangan)
kemampuan untuk berubah menjadi lebih baik -> karunia (bersyukur)
Setuju sekali dgn tulisan Teh Uwi. Makasih yaa teh :)
Sukaaa banget!! <3 Makasih laras udah nulis buah pemikirannya tentang hal ini. Semoga kita dimampukan Allah untuk terus bersandar kepada-Nya ya :)













