The Truth About Someone Who Left
Ponselku yang berada di samping bantal tidurku bergetar, tanda ada pesan yang masuk. Aku tutup novel yang sedang aku baca lalu aku raih ponselku untuk melihat notifikasi apa yang masuk.
You have one new message.
Senyum yang dulu sering tersungging di bibirku kini tidak pernah lagi hadir begitu melihat notifikasi namanya di ponselku. Aku tahu aku seharusnya tidak merasa seperti itu, apalagi kepada pacarku sendiri.
“Hei, lagi apa?” Begitu isi pesan yang dia tulis untukku.
“Baca novel, kamu?” Balasku kepada pesannya.
“Oh oke. Have fun.” Balasku dengan datar.
“Ok.” Pesan itu aku biarkan terbaca tanpa aku balas. Aku menghela napas panjang. Hari ini, aku sudah berbohong kepadanya. Saat dia bertanya apakah aku marah kepadanya karena dia sibuk main PS, aku bilang kalau aku tidak marah kepadanya.
Sebenarnya aku sudah tidak lagi peduli.
.
Esoknya, aku dan dia pergi ke coffee shop favorit kami berdua dalam rangka merayakan hari jadi yang ke-3. Dulu kami sering menghabiskan waktu di sana, entah sekedar hanya untuk minum kopi ataupun mengerjakan tugas kuliah masing-masing. Namun, semenjak kita berdua lulus tahun lalu, kami menjadi jarang datang ke sana karena sudah sibuk dengan pekerjaan baru kami. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk merayakan anniversary di sana.
Setelah memesan minuman favorit kami di kasir, kami duduk di spot favorit kami yang terletak di dekat jendela.
“Aku ke toilet dulu ya,” ucapnya setelah menaruh tas ranselnya. Aku hanya mengangguk. Aku memutuskan untuk bernostalgia sambil menunggu minuman kami selesai dibuat.
Aku merasa ada yang berubah padahal tidak ada yang berubah dari coffee shop ini dari pertama kali kami datang ke sini sampai sekarang. Semua masih terlihat sama tetapi aku merasakan ada yang berbeda.
Mungkin aku sedang stress dengan pekerjaan.
Aku begitu terlamun dengan pikiranku sampai tidak menyadari bahwa dia sudah kembali dari kamar mandi. Aku baru saja ingin mengobrol dengannya tetapi nama kami dipanggil karena pesanan kami sudah siap. Aku segera mengambil pesanan kami di kasir. Begitu aku kembali ke tempat duduk kami, dia malah sedang sibuk mengeluarkan laptop dari ranselnya.
“Kok bawa laptop?” tanyaku sambil meletakkan minumannya di samping laptopnya.
“Iya, maaf ya Sayang, aku ada deadline kerjaan. Maaf banget ya. I promise I’ll make it up to you, okay?”
Aku mengharapkan ada rasa marah yang muncul di dalam hatiku tetapi yang aku temukan hanyalah rasa kesal karena sudah buang-buang waktu datang ke sini. Bukankah aku seharusnya marah besar dengan pacarku karena malah sibuk dengan pekerjaannya saat merayakan hari jadi kami?
“Okay.” Hanya itu yang bisa aku ucapkan untuk menutupi kebingungan yang sedang melanda diriku ini.
Sambil memperhatikan dia yang sibuk dengan pekerjaannya, aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri.
Kenapa di saat seharusnya aku marah saat dia lebih memilih pekerjannya dibanding aku, aku malah diam saja?
Mengapa aku sekarang biasa-biasa saja ya jika dia mengirimkan chat untukku? Kemana perginya senyum sumringah yang selalu menghiasi wajahku saat melihat namanya di notifikasi?
Am I falling out of love with him?
Apakah karena itu aku merasakan ada yang berbeda tadi?
Pertanyaan-pertanyaan itu semakin memperkuat bahwa ada perubahan dalam diriku yang tidak aku sadari sampai sekarang. Di hari jadi kami yang ke-3, aku menyadari bahwa aku sudah tidak lagi jatuh cinta dengan pacarku sendiri.
Semenjak itu, aku malah semakin menjauhi dirinya secara perlahan. Terkadang aku sengaja tidak mengangkat telponnya dengan berpura-pura sedang tidur atau sibuk, terkadang aku membalas pesan dari dia hanya seadanya. Aku mengharapkan dia kesal atau marah kepadaku karena sikapku yang seperti menghindarinya. Tapi nihil.
Janjinya yang mau menebus kesalahannya karena terpaksa memilih mengerjakan pekerjaan kantor daripada merayakan hari jadi kami juga tidak dia tebus sampai sekarang. Dia malah semakin asik dengan kesibukan barunya tanpa menyadari aku yang semakin jauh darinya.
Aku merasa seharusnya aku mencari cara agar tetap bisa jatuh cinta padanya. Agar bisa tetap dekat dengannya. Namun, melihat dari tidak adanya kesadaran dari dia akan keacuhanku, aku jadi malas untuk berusaha menumbuhkan rasa itu agar tetap ada.
Kata “putus” kini terngiang-ngiang di kepalaku. Tetapi.. bukankah kami sudah terlalu jauh untuk mengakhiri segalanya? Apalagi dulu kami memutuskan untuk berpacaran memang ke arah yang serius sampai kami berdua siap lahir batin untuk lanjut ke jenjang pernikahan. Sebagian dari diriku juga sejujurnya masih sayang dengannya. Bukankah banyak orang yang bilang kalau dalam setiap hubungan akan ada naik turunnya? Mungkin inilah ‘turun’ yang dimaksud oleh orang-orang itu.
Let’s give this another chance.
Kami kembali ke coffee shop itu dua bulan setelah hari jadi kami.
Namun kali ini, aku akan memutuskannya.
I’ve tried everything to stay in love with him.
Tried anything to give this relationship another try.
Tapi aku tahu kalau hubungan ini sudah menemukan jalan buntu. Mengapa kita harus tetap bersama jika ternyata hatiku malah semakin jauh denganmu?
“Mengapa kita bisa sampai berada di titik ini?” tanyanya padaku.
“Aku tidak tahu,” jawabku. “Maaf.” Air mataku keluar mengalir di kedua pipiku.
Dia hanya mengangguk lalu menarikku ke dalam pelukannya. Dia memelukku sangat erat dan aku membiarkannya karena aku tahu pelukan ini akan jadi pelukan terakhir darinya.
Setelah melepasku, dia hanya tersenyum miris dan bertanya, “Apakah kita bisa menjadi orang asing?”
Sambil menghapus air mataku, aku bergumam, “Sepertinya tidak.”
Lalu dia tertawa kecil dan saat itu aku bisa melihat sosok dirinya yang dulu pernah sangat aku cintai.
I used to love you so much. But I’m sorry, I’m not in love with you anymore. Tambahku dalam hati.
Mungkin memang lebih baik seperti ini.
Aku yakin kita berdua pantas untuk mendapat kebahagiaan.
Tetapi tidak dengan tetap bersama.
Tidak lagi dengan satu sama lain.
Now playing: Maroon 5 - Better That We Break
Bolbbangan4 & 20 Years of Age - We Loved